
Sang lelaki bermata tajam itu kini bagai kesetanan, membawa laju motornya tanpa memperdulikan keselamatan dirinya.
Setelah berhasil mendapatkan data orang yang sengaja mencelakai Nadia, Jendra benar-benar murka, dengan anggota inti yang saat ini masih setia berada di belakang motor besarnya.
Mereka sampai pada titik alamat yang Daffa dapatkan, mata tajam nya siap menghunus lawan nya kali ini.
"Lo salah berhadapan sama gue bajingan" mengepalkan tangannya di atas tangki motor, Jendra menuruni motornya dengan cepat.
Namun sebuah tangan menahan pundak gagah itu.
"Tahan, jangan gegabah, kita liat apa yang dia lakuin"
Sang wakil ketua berbicara.
15 menit
20 menit
30 menit
45 menit
Tidak ada tanda-tanda sang musuh muncul di hadapannya.
Dering ponsel sang ketua berbunyi, menandakan seseorang memanggil nya lewat benda pipih itu.
"....."
"Kenapa?"
"...."
"Gue otw"
Anggota yang mendengarkan sang ketua nya menerima telpon itu mengernyitkan kening.
"Za Awasi sampe dalang nya keluar, gue harus ke RS"
"Ada apaan"
Tanpa menjawab pertanyaan sang wakil ketua, lelaki itu menarik pedal gas motornya, sepanjang perjalanan beberapa kali ia mengerutkan keningnya, berusaha mencerna apa yang orang itu katakan lewat telepon tadi.
Setelah sampai di depan rumah sakit itu ia segera berlari menuju tangga darurat, setelah melihat lift yang di penuhi orang itu hanya akan membuang waktu.
Berlari dengan segenap kekuatan kakinya, walaupun kakinya masih terbilang belum sembuh karena timpaan balok besar di bangunan tadi.
"Ri, gimana"
"Bang, gue gak tau yang pasti tapi tiba-tiba dia masuk ke ruangan Nadia tanpa ngomong permisi ke gue atau pun anak-anak"
__ADS_1
Lelaki itu mengernyitkan kening nya, mendengar penuturan sang adik, saat di lokasi pengawasan musuh nya tadi , Riri lah yang menelpon nya, memberi tau bahwa ada seorang lelaki yang masuk tanpa ijin ke ruangan rawat Nadia.
"Yang gue takutin dia salah satu orang yang nyelakain Nadia di bangunan, tapi anehnya juga dari tadi gue liatin dia gaada pergerakan aneh, dia cuman duduk di kursi liatin Nadia"
"Biar gue masuk"
Tanpa mendengar jawaban dari Riri, lelaki itu memasuki ruang rawat Nadia
Melihat seseorang berpakaian formal berada tepat di depannya memunggunginya, Jendra memperhatikan setelan rapi sang lelaki misterius di depan nya.
"Ada keperluan apa anda dengan adik saya?" Jendra memulai pembicaraan nya kepada lelaki misterius yang duduk memunggunginya.
Satu putaran membuat wajah sang lelaki itu terlihat, tapi nyatanya Jendra benar-benar tidak mengenali lelaki di depan nya ini, siapa dia?
"Dia adik saya. Kamu siapa?"
Duar!
pernyataan macam apa itu sangat tidak masuk akal pikirnya
"Bukan kah harusnya pertanyaan itu terdapat untuk anda?, Saya yang membawa Nadia ke Rumah Sakit ini lalu anda datang tiba-tiba mengakui bahwa Nadia adik anda?"
"Najendra right? Kamu tidak terlalu buruk ternyata, mungkin lain kali kita bisa berbicara mengenai Saya"
Lelaki misterius itu terbangun dari duduknya, merogoh sebuh dompet di saku celananya, menarik secarik kertas.
"Kartu nama saya, hubungi saya jika anda ingin tau saya siapa"
Menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan pening, apa lagi ini pikirnya, ia mengambil sebuah kartu nama yang sempat lelaki misterius tadi berikan.
Menatap dalam kartu nama itu, lalu menatap sang gadis kecil yang masih terbaring di atas brangkar rumah sakit.
Menghampiri gadis itu dengan perlahan, mendudukkan dirinya di kursi yang sempat lelaki misterius tadi duduki.
Mengusap anak rambut sang gadis.
"Gue harap ini bukan bahaya buat Lo Na"
Ocehan demi ocehan keluar dari mulut Jendra, tidak ia hentikan mulutnya walaupun ia tau gadis di depannya ini bahkan tidak mendengar apapun atau mungkin bahkan tidak tau bahwa di depannya ada lelaki yang sangat menghawatirkan nya.
Perlahan ocehan itu menghilang terganti dengan dengkuran halus yang berasal dari Jendra. Lelaki itu tertidur pulas di sisi Nadia
Di sisi lain, anggota inti kini sudah kembali ke rumah sakit dengan tergesa.
"Ri mana Jendra"
"Di dalem"
Arza segera memasuki ruangan rawat Nadia bermaksud memanggil sang ketua, tapi baru satu langkah ia memasuki ruang rawat itu, ia segera menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Pemandangan di depan nya saat ini membuat ia harus menunda lagi bicaranya.
Memutar tubuhnya kembali lalu duduk bergabung dengan anggota inti lain serta Riri disana.
"Ada?" Tanya mereka
"Gak bisa di ganggu"
"Kenapa?"
Tanpa menjawab ia mengeluarkan ponsel genggamnya lalu memperlihatkan sebuah Poto Jendra yang tengah tertidur di samping Nadia, ia sempat memotret ketuanya itu sebelum melangkahkan kakinya keluar.
Hembusan napas anggota terdengar dari rungu Arza, lelaki itu hanya bisa terkekeh mendengar hembusan napas anggota nya.
"Jadi di tunda?" Tanya Haikal pada Arza
"Ya udah bangunin Sono"
"Mbung ah sieun di teungeul" (gak mau takut di pukul), Haikal bergidik ngeri
"Yaudah berarti di tunda goblok" maki Arza
"Dalang nya udah ketangkep?" Tanya Riri pada Arza
"Belum, masih gue pantau, tapi udah ada beberapa target yang perlu di selidiki, gue yakin yang sekarang kita dapet bukan dalang nya, tapi antek-anteknya"
"Gue harap dalang nya segera di temuin, jeblosin ke penjara, kalo perlu suruh Jendra bunuh orang itu"
"Gue yakin Jendra gaakan segan-segan mau siapapun dia"
Semua anggota mengangguk membenarkan perkataan sang wakil ketua, pasalnya Jendra adalah ketua yang tidak pernah memberi ampun pada orang yang melukai orang tersayangnya.
Mengingat dulu Riri adik sepupunya pernah hampir di lecehkan, dan Jendra lah yang menghabisi lelaki bejat itu, sedikit saja Jendra tidak menahan emosi, mungkin lelaki bejat itu sudah tidak ada di dunia sekarang, tapi nyatanya Jendra membiarkan lelaki itu hidup walaupun lelaki bejat itu harus menghadapi koma selama 4 bulan lamanya.
"Tadi Jendra balik kesini kenapa?" Arza balik bertanya
"Ada cowo misterius yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Nadia, gue gak tau dia siapa, tiba-tiba dia masuk tanpa permisi ke gue sama anak-anak" Terang Riri menjelaskan
"Cowo?"
Riri mengangguk sebagai jawaban.
"Gue perhatiin dia sampe Jendra kesini, tapi gaada yang aneh di pergerakan nya, dia cuman duduk liatin Nadia"
"Terus pas Jendra dateng gimana" Pertanyaan itu terlontar dari Bintang
"Gue gak tau apa yang mereka bicarain tapi setelah beberapa menit Jendra masuk, cowo itu langsung keluar terus pergi"
"Lo bisa jelasin perawakan dia gak?" Tanya Haikal dengan raut wajah yang sangat ingin tau
__ADS_1
"Baju nya setelan jas gitu, formal kaya vibes CEO, tinggi nya sama kaya Jendra, ganteng, terus dia masih muda, seumuran bang Bintang sih kayanya" tuturnya lagi
Anggota inti lagi-lagi memutar otak menerka-nerka siapa orang yang Riri sebutkan, yang saat ini satu-satunya orang yang bisa ia tanya hanya Ketuanya, tapi ketuanya bahkan sedang dalam mode tidak bisa di ganggu.