
Seorang laki-laki bersetelan formal itu memasuki kamar rawat inap tanpa permisi, dengan langkah lebar nya ia menghampiri seorang gadis yang tengah tertidur pulas saat ini, laki-laki itu diam dengan napas yang terengah, ia melangkahkan lagi kakinya untuk menyentuh pundak gadis itu.
"Saya harap anda tidak menganggu istirahatnya Tuan Saga" tangan lelaki itu menggantung di udara kala mendengar seseorang yang berjalan menghampiri nya.
Saga, lelaki itu mendapatkan kabar dari asisten nya bahwa sang adik telah telah sadar dari tidur nyenyak nya, tanpa banyak pertimbangan Saga melesatkan mobil nya ke rumah sakit yang di tempati oleh adiknya itu, ia bahkan meninggalkan miting yang harus berlangsung karena mendapatkan kabar itu.
Saga memutar tubuhnya, menatap manik mata Hazel Jendra, Saga menghembuskan nafasnya kasar ia benar-benar tidak bisa membangunkan Gadis kecil itu sekarang, ia melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada di kamar itu, menarik sebuah benda pipih di kantung celananya.
Jendra hanya menatap jengah lelaki yang tidak ia kenali ini, ia mengalihkan kembali pandangannya pada Nadia yang masih terjaga dari tidur nyenyak nya, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dengan membawa sebuah map berwarna coklat di tangan kanannya, laki-laki itu mengisyaratkan Jendra untuk mengikuti nya.
"Saya harap saat saya pergi anda tidak berniat untuk menganggu nya sedikit pun Tuan" ujar Jendra sebelum meninggalkan kamar rawat itu, Saga hanya berdecih menjawab pernyataan dari Jendra "siyi hirip Indi tidik birnit intik minginggi nyi sidikit pin tiin, cih siapa dia orang itu adek gue" Decih sang lelaki bersetelan formal itu ketika melihat Jendra menutup pintu kamar rawat Nadia.
Di sisi lain, Jendra mengikuti langkah seseorang yang menepuk pundaknya tadi, tiba di taman rumah sakit mereka duduk di salah satu kursi panjang yang di sediakan di setiap penjuru taman itu.
"Dia beneran kakak kandung Nadia" ucap seseorang yang sudah membuka map coklat itu memberikan nya pada Jendra
Jendra menelisik satu persatu deretan kata dalam kertas putih itu, tangan nya menggantung di udara dengan memegang kertas putih yang menjadi bukti bahwa Saga adalah Kakak kandung Nadia.
"Lo gak salah kan Za?" Tanya jendra pada seseorang di depannya yang ternyata adalah Arza.
Arza menggelengkan kepalanya "gak salah, semuanya murni gaada yang di palsukan, dia kakak kandung Nadia, Lo bisa tenang sekarang Dra, dia bukan orang yang nyelakain Nadia, ataupun orang suruhan bokap Lo, dia bener-bener fure kakak Nadia"
__ADS_1
Jendra menghembuskan nafas lega satu beban luruh dari pundaknya, rasa takutnya akan orang baru bernama Saga itu menghilang tergantikan oleh rasa tenang.
"Terus selama ini dia kemana? Kenapa pas Nadia celaka dia baru muncul? Lo tau sendiri kan Nadia gak pernah kenalin kita ke siapapun termasuk keluarga nya" ujar Jendra menatap Arza dengan dahi yang berkerut
"Gue gak tau pasti tentang pertanyaan Lo, walaupun gue tau gue gak bisa bilang langsung ke Lo secara gamblang karena gue ngerasa yang berhak ngasih tau Lo disini cuman Saga ataupun Nadia"
Jendra menatap lurus, diam akan jawaban dari sahabatnya ini, memang benar adanya, Arza tidak berhak membicarakan semuanya secara gamblang sekalipun ia tau, karena merasa semua itu tidaklah sopan, Jendra hanya bisa mendapatkan semua informasi dari Nadia ataupun dari Saga tentang semua pertanyaan dalam pikirannya
°°°°°
Kembali ke kamar rawat Nadia, gadis itu ternyata terbangun ketika Jendra pergi dari kamarnya, sebuah mata Hazel bernetra Coklat terbuka perlahan, yang pertama ia lihat adalah sebuah langit-langit kamar rumah sakit, ia menolehkan kepalanya ke kanan, menatap sofa yang sedang seseorang duduki saat ini, manik coklat itu hanya menatap sebentar lalu mengalihkan kembali pandangannya ia yakin bahwa itu adalah Jendra yang menunggu ia bangun dari tidurnya.
Saga yang sedang pokus pada benda pipih di tangan nya kini mendongakkan kepalanya, menatap seseorang yang masih setia tidur di kasur itu, mata Saga membola kala melihat Nadia telah bangun dari tidurnya, tanpa pikir panjang, lelaki itu bangkit dari duduknya menghampiri Nadia yang masih setia menatap langit-langit kamar itu.
"Di kamu udah bangun?" Ujar Saga menyentuh pundak sang gadis
Dahi Nadia berkerut kala mendengar sebuah sebutan panggilan yang tak asing di telinga nya "Di" Jendra tidak pernah memanggil nya dengan sebutan itu, dan suara ini, bukan suara Jendra, dengan perlahan ia menatap manik mata seseorang yang sudah menyentuh pundaknya.
Manik mata itu bertubrukan dengan manik mata elang seseorang yang cukup berarti dari hidupnya, mata yang masih lemah otomatis membola.
"Di ini Abang"
__ADS_1
Dengan secepat kila Nadia bangun dari tidurnya ia tidak memikirkan rasa sakit sedikit pun dari tubuhnya, ia hanya ingin menjauh dari orang itu.
"Di ini Abang, kamu kenapa?" Ujar Saga dengan mendekati tubuh mungil Nadia
"Stop! Abang ngapain kesini lagi hah? Abang mau bunuh aku sama kaya ayah? Abang mau perlakuin aku sama kaya ayah?" Jawab Nadia dengan jari telunjuk nya yang menggantung di udara.
"Di, kamu salah paham, ayo selesai in semuanya sekarang, Abang gak gitu Di" Saga melangkah kan kakinya untuk mendekati sang adik, tapi naas Nadia berhasil menjauhi nya, Gadis itu tidak memikirkan rasa sakit di tubuhnya walaupun di setiap pergerakan nya ada sebuah rintihan disana.
"Cih, Abang bahkan gak jauh beda dari ayah, setelah sekian lama kita pisah, Abang pernah cari Didi? Abang pernah cari keberadaan Didi? Engga kan? Kenapa setelah Didi kaya gini Abang baru cari Didi?" Gadis itu memegang dadanya yang sakit kala melihat jelas manik mata itu, manik mata seseorang penting di hidupnya, sekaligus manik mata seseorang yang berhasil membuat hidupnya hancur berkeping keping.
"Abang cari kamu kemanapun Di, kenapa kamu ngilang gitu aja? Kenapa kamu milih buat jauh dari ayah bunda? Abang cari kamu kemanapun, tapi nihil satu tahun Abang cari kamu tanpa hasil apapun, kamu pergi gitu aja tanpa denger penjelasan dari Abang" lelaki itu berusaha mendekati kembali tubuh lemah, yang saat ini berpegangan pada sebuah meja untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
"Penjelasan apalagi? Gaada semuanya percuma dari dulu yang mau aku mati ternyata bukan ayah aja tapi Abang juga, sakit bang sakit, Abang ngehiantin kepercayaan Didi selama ini, cuman bunda yang bisa Didi percaya, Abang sama bajingan nya kaya a-yah" Sebuah isakan terdengar di akhir kalimat Nadia, sebuah bening kristal jatuh tanpa permisi membasahi pipi putih itu.
Nadia meremas ujung bajunya Erat, ia benar-benar emosi saat ini, ia tertunduk dengan isakan dari bibirnya, tangan itu bergetar hebat, ia tidak bisa menahan lagi tubuhnya, tubuhnya ambruk di lantai kamar itu, ia menangis dalam duduknya, Saga lagi-lagi melangkah kan kakinya, ia terkejut melihat Nadia yang ambruk dengan tangan yang bergetar hebat.
"Stop! Jangan pernah nyentuh aku seujung kuku pun"
"Di Abang jel-
Sebuah suara pintu yang di buka kasar mampu memotong ucapan Saga, seseorang berdiri disana dengan tangan yang terkepal sempurna, matanya yang sudah sangat merah menahan amarah.
__ADS_1