
Kehidupan ternyata tidak semudah yang di bayangkan, setelah tau tentang kehidupan Nadia di belakang nya, Jendra membulatkan tekad nya untuk menjaga gadis kecil itu.
Masih memandang langit setelah kepergian Riri, Jendra menghembuskan nafas nya kasar, emosi dalam dirinya masih belum hilang, ia marah, marah pada dirinya sendiri yang bahkan tidak tau Nadia mempunyai beban seberat itu, beban yang gadis itu pikul sendiri tanpa berbagi beban pada siapapun, entahlah se kelam apa masa lalu gadis itu hingga membuat nya ada di titik ini.
Rencana selanjutnya dalam pikiran adalah menyelesaikan permasalahan ini satu persatu, entah itu tentang Nadia dengan lelaki yang di sebut bajingan oleh Riri atau fokus untuk kesembuhan Nadia.
Bangkit dari duduk untuk melangkahkan kaki kembali ke dalam kamar Nadia, membuka pintu dengan perlahan, melihat dua wanita terpenting dalam hidupnya tertidur dengan posisi berpelukan, senyum tipis terbit dari bibir nya.
Mendudukkan bokongnya di sofa yang sempat Nadia tempati tadi, ia mengambil ponsel di saku celana nya.
"Halo"
"....."
"Beresin semuanya, kumpulin bukti-bukti yang kuat, gue gak mau Nadia terus-terusan di sakitin"
"....."
"Gue butuh bukti secepatnya"
"......"
"Terserah cara lo gimana, gue gak mau mengotori tangan gue buat hajar cowo bajingan itu"
Panggilan terputus, ia sudah maju satu langkah untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.
<( ̄︶ ̄)\>
Sinar matahari menyapa di balik tirai jendela kamar Nadia, ia terusik karena sinar matahari itu menembus ke dalam kamarnya, mengucek matanya berkali-kali untuk menghilangkan kantuk, menengok ke samping melihat sahabatnya yang masih terlelap dalam tidurnya memeluk guling.
Mengarahkan pandangan nya ke depan, melihat Seorang lelaki meringkuk tertidur pulas di sofa panjang tempat biasa ia duduk, menatap lembut lelaki yang saat ini sedang tertidur pulas.
"Kalian sampe gak pulang buat jagain gue"
Bangun dari tidur nya, hanya melewati kedua orang yang masih tidur tidak ada niat untuk membangunkan karena tau mereka lelah saat ini.
Berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia melihat pantulan dirinya di cermin, menghela nafas, melihat guratan hitam di sekitar matanya, mengambil sebuah salep mata untuk menghilangkan guratan itu.
Gemercik air sedikit mengganggu tidur Jendra, ia membuka matanya melihat ke arah kamar mandi, melihat Nadia yang sudah tidak ada di tempat tidur.
__ADS_1
Suara putaran kenop pintu mengalihkan pandangan nya, gadis yang semalam membuat ia kalang kabut kini menatap matanya, senyuman pertama di pagi ini terbit untuknya.
"Kenapa bangun?" Tanya Nadia
"Udah siang" jawab Jendra dengan suara khas bangun tidur nya
"Hari Minggu, gapapa kalo bangun siang"
"Itu Lo ngapain bangun?" Tanya Jendra
"Kebangun, tadinya mau tidur lagi, tapi liat kakak udah bangun gak jadi kayanya" jawab Nadia sembari duduk di samping Jendra
Mengusap pucuk kepala Nadia lembut, tapi sepersekian detik kemudian Jendra mengacak pelan rambut Nadia, membuat sang empu memajukan beberapa senti bibirnya.
"Anj*g pagi-pagi malah bucin"
Suara itu mengalihkan pandangan mereka berdua ke arah suara, siapa lagi jika bukan Riri yang pagi-pagi sudah mengumpat.
"Ganggu banget monyet " Sinis Jendra dengan melemparkan bantal yang berada di dekat nya kepada Riri.
"Anj*g pagi-pagi dah ngajak ribut lo" membalas Jendra dengan melemparkan guling yang ia peluk tadi.
"Gue pengen sate 10 tusuk" jawab Riri dengan mengacungkan jarinya dengan posisinya yang masih tertidur.
"Siapa yang jualan sate pagi-pagi buta gini ya njing" sewot Nadia ketika mendengar jawaban dari sahabatnya itu, memang benar siapa yang akan berjualan sate di pagi hari? Bukankah sate itu ada si sore hari menjelang malam?
"Udah Na biarin aja dia emang gila, gue aja yang pesen" jawab Jendra mengambil ponselnya
Mengetikkan beberapa pesan di ponsel nya untuk memesan sarapan untuk mereka.
Nadia berjalan ke kamar mandi yang membuat Jendra mengernyit kan keningnya, kenapa balik lagi pikirnya, tapi setelah melihat apa yang gadis itu bawa Jendra terkekeh.
Gadis itu membawa sebuah gayung di tangan nya, satu tangan nya ia masuk ke dalam gayung itu, berada di hadapan Riri Nadia tertawa tanpa suara, tangan yang berada di gayung ia keluarkan dengan air yang menetes di sela-sela jarinya, ia ciprat-ciprat kan air itu ke arah muka Riri yang membuat sang empu mengusap beberapa kali mukanya.
"Diem anjing basah" sewot Riri membuka matanya paksa
"Rejeki lo di patok ayam ya bangsat jam segini belom bangun" jawab Nadia
"Anjir plis lah gue pengen tiduran bentar doang" jawab Riri dengan kembali menarik selimut tebal milik Nadia
__ADS_1
"Gaada ye, bangun lo kebo" Nadia dengan menarik selimut miliknya
"Kak buang aja ke kali deh, suruh bangun aja susah"
"Gelitikin aja Na, bangun pasti" jawab Jendra
Sesuai ucapan Jendra kini Nadia menaikan badannya ke atas kasur untuk menganggu tidur sahabatnya itu, dan benar beberapa kali tangannya menggerayangi daerah pinggang membuat Riri membuka matanya, tertawa bersama sambil saling menggelitik.
Jendra tersenyum melihat gadis itu bisa tertawa lagi pagi ini, hatinya menghangat menyaksikan mereka tertawa seperti tanpa beban, namun siapa sangka gadis yang di sebut-sebut ceria itu menyimpan beban di atas pundaknya sendiri.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka, Jendra bangun dari duduk nya melangkahkan kaki menuju pintu kamar Nadia, orang yang pertama mereka lihat adalah lelaki yang sempat mengantarkan Riri semalam, Arza, lelaki itu membawa beberapa plastik di dua tangan nya.
"Ini gue gak di suruh masuk?" Ucap nya
"Gak, lo ganggu" jawab Riri
"Tuan rumah nya bukan lo ya monyet" sewot Arza
"Hehe iya masuk Aja bang" tengah Nadia
Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Nadia, Arza mendudukkan bokongnya di sebelah Jendra, menaruh plastik-plastik yang berada di tangan nya ke atas meja.
"Nih sate" ucap nya sambil membuka satu plastik berwarna merah.
Bukan hanya Riri nya yang melongo melihat sate itu, tapi juga Nadia yang sama melongo nya dengan Riri.
"Lo dapet sate jam segini dari mana Juki" tanya Riri
"Dari neraka khusus buat lo" jawab Arza
"Diaman ada sate jualan pagi ya anjing, ini daging babi ye?" Tanya Riri
"Iye daging Bagon*g, makan aje enak kok gua makan satu tadi"
"Goblok" kilah Jendra dengan menjitak kepala Arza
"Sampe bener daging babi, kulit Lo gue bikin sate ya njing" lanjut Jendra dengan mengacungkan satu tusuk sate yang isi nya sudah hilang masuk ke dalam mulutnya.
"Aduh ampun pak bos" jawab Arza dengan tawanya
__ADS_1