Cerita Cinta Najendra

Cerita Cinta Najendra
Sebuah Bukti


__ADS_3

Di sebuah cafe yang bernuansa ala-ala anak jaman kekinian, dua orang yang tidak mengenal itu saling bertatap mata.


Setelah melihat kekehan dari orang di depan nya, Jendra menghembuskan nafas nya kasar, mau apa sih pikirnya.


"Seperti yang saya katakan tadi, saya kakak kandung Nadiana Putri Mahesa atau yang bisa di sebut gadis kecil kesayanganmu?" Lagi-lagi sebuah kekehan terdengar di rungu Jendra


Jendra memutar bola matanya malas "cih" gumam nya pelan tapi masih terdengar orang Saga


"Apa bukti bahwa anda benar-benar Kakak kandung Nadia?" Ucap Jendra dengan menaikan sebelah alisnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Jendra, Saga menjentikkan jarinya seolah membuat isyarat pada orang lain.


Seorang laki-laki perkawanan gagah dengan bersetelan formal kini menghampiri mereka.


"Silahkan tuan" memberikan sebuah kotak di atas meja tepat di depan Saga, Saga hanya mengangguk sebagai jawaban lalu laki-laki itu pergi kembali ke belakang Saga.


Dan Baru Jendra sadari ternyata sedari tadi laki-laki itu duduk tepat ada di belakang Saga.


Jendra memandang sebuah kotak yang berada tepat di depan Saga, yang entah apa isinya.


"Ingin tau?" Tanya Saga dengan menaikan sebelah alisnya.


"Saya tidak punya banyak waktu untuk bermain-main, Nadia masih harus berada dalam pengawasan saya" jawab Jendra dengan penuh ketegasan di setiap perkataannya.


Mendengar jawaban dari Jendra Saga hanya menyunggingkan sedikit bibirnya, lekas membuka kotak tersebut.

__ADS_1


Saga menghembuskan nafasnya kasar sesaat setelah ia membuka kotak itu, ia mengambil sebuah foto yang di hiasi sebuah pigura di pinggirnya.


Ia menaruh foto itu tepat di depan Jendra, Dengan sigap Jendra membawa itu ke dalam penglihatannya, terdapat sebuah foto yang sudah sedikit buram di makan usia, satu orang lelaki dan perempuan yang menggendong balita mungil dan anak laki-laki yang tersenyum lebar berada di depan mereka.


Tampak sekali keharmonisan keluarga keluarga itu tanpa sadar Jendra mengusap foto itu lembut.


"Orang dewasa yang berdiri di foto itu ibu saya dan ayah saya, anak laki-laki yang tersenyum itu saya, dan balita itu adalah Nadia" ucap Saga tenang


Jendra kembali mendongakkan kepalanya, menatap Saga dengan alis yang bertaut, ia menaruh bingkai foto itu di atas meja.


"Itu gak bisa jadi bukti yang kuat, jelas bisa saja kamu memakai foto orang lain untuk mengelabui saya"


Mendengar jawaban dari Jendra, Saga kembali membuka kotak itu dan mengambil secarik kertas di sana, lalu ia memberikan lagi kertas itu kepada Jendra.


ia menatap kertas itu secara intens menelisik satu persatu nama yang berada di barisan kertas kartu keluarga itu.


Satu dari nama lainya kini menjadi pokus nya, Nadiana Putri Mahesa, berada di urutan paling bawah setelah nama Saga Prasetya Mahesa di atasnya, matanya beralih ke sebuah deretan angka tanggal lahir, dan tepat ia melihat tanggal lahir Nadia, tanggal lahir yang tepat seperti tanggal lahir Gadis itu.


Kini ia di buat bimbang dengan secarik kertas tersebut, bukan tidak menutup kemungkinan ia di tipu, bukan menutup kemungkinan jika ia sedang di perdaya, lelaki itu kembali menegakan tubuhnya.


"Anda pikir dengan hanya dua bukti ini saya bisa percaya? Bukan menutup kemungkinan jika anda membuat kartu keluarga palsu dan menuliskan nama Nadia disana, saya tidak bisa mempercayai anda begitu saja tuan Saga" ucap Jendra dengan sebuah penekanan di setiap kalimatnya.


Huh apa-apaan ini, dikira gue bodoh apa


Saga hanya menatap datar atas jawaban Jendra ia mengetuk-ngetuk meja beberapa kali, kembali menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Anda cukup keras kepala rupanya" Ujar Saga


Jendra hanya mendengus sebagai jawaban, lelaki bermata hazel itu mengangkat tubuhnya dari kursi hingga menimbulkan bunyi derit dari kursi itu karena terdorong oleh tubuhnya jangkungnya.


"Anda hanya membuang waktu saya untuk melihat bukti yang sangat tidak masuk akal ini"


Sangat membuang waktu memang pikirnya dengan semua hal yang tidak masuk akal ini, ia sedikit percaya tak percaya ketika melihat secarik kertas fotocopy yang sudah usang itu, tapi ia yang bahkan tidak tau bagaimana Nadia dan keluarganya, ia hanya tidak ingin percaya begitu saja, pasalnya ini menyangkut keselamatan gadis itu, tidak menutup kemungkinan juga jika ini hanya sebuah jebakan dari orang yang sama yang sudah membuat gadis itu kini terbaring di rumah sakit, masalah kini kian berdatangan, Lelaki bajingan yang sudah menyakiti Nadia, lalu tiba-tiba ia di datangkan masalah dengan hilangnya Nadia dan menemukan Nadia dalam keadaan mengenaskan.


Yang membuat gadis itu harus berjuang mati-matian untuk kembali sehat seperti sebelumnya, lalu sekarang, tiba-tiba lagi ia di datangkan dengan seseorang yang mengaku sebagai kakak kandung Nadia, Gila bukan!


Hah kepala Jendra rasanya ingin meledak saja!! belum lagi rasa khawatirnya pada Nadia kian membesar ketika sudah 3 hari gadis itu setia dalam kondisi Kritis nya, dokter hanya mengatakan harus tetap mengawasi gadis itu, ia akan segera sadar dari kritis nya, tapi nyatanya sampe skrg ia tidak mendapatkan Nadia membuka matanya


Ia tidak ingin mempercayai siapapun saat ini, pasalnya Jendra saja tidak tau bagaimana kehidupan keluarga Nadia atau bahkan siapa saudaranya, sejak pertemuan pertama sampai sekarang Nadia sangat enggan menceritakan tentang silsilah keluarganya atau bahkan secarik masa lalunya.


Masa lalu yang membuat ia kian di gerogoti oleh trauma, kembali mengingat ucapan demi ucapan yang sempat Riri beberkan mengenai penyakit Nadia, Post traumatic stress disorder, trauma apa di masa lalunya yang selalu membuat bayang-bayang mengerikan di setiap jengkal kehidupan Nadia, hingga membuat gadis itu harus bolak balik ke psikiater hanya untuk menyembuhkan luka di masa lalunya, luka yang mungkin sejak dulu kian menganga setiap hari dan tidak kunjung mengering.


Bahkan mungkin saat ini ia lagi-lagi harus di hadapkan dengan trauma atas kejadian kemarin, Jendra hanya berharap itu tidak menjadi luka baru untuk Nadia, ia hanya ingin Nadia hidup layaknya seorang gadis pada umumnya.


Yang tidak pernah mengingat sebuah masa lalu yang sangat kelam, yang tidak lagi harus memasuki lingkungan rumah sakit jiwa, tidak lagi menelan pil pahit yang harus ia minum agar ia merasa ia baik-baik saja.


Jendra pergi tanpa pamit, tapi saat langkahnya ingin menjauh dari Saga, sebuah perkataan membuat ia terpaku dan terpaksa memberhentikan langkahnya.


"Mungkin sebuah tes DNA bisa membuat anda percaya Tuan NAJENDRA AJI DARTAMA"


mata Jendra membola kala mendengar nama itu, dengan segera ia membalikkan tubuhnya menghadap kembali lelaki yang mengaku sebagai kakak kandung Nadia.

__ADS_1


__ADS_2