
"Dra" seorang gadis berambut sebahu itu menggoyangkan lengan besar seseorang yang tertidur dengan posisi kepala yang ia simpan di tumpukan tangan nya
"Dra bangun" Ucapnya lagi dengan setia menggoyangkan lengan itu agar lelaki terbangun dari tidurnya
Mata Hazel itu perlahan terbuka, ia mengangkat kepalanya agar tegak, menoleh kan kepalanya menatap seseorang yang sudah membangunkan ia dari tidurnya nyenyak nya.
"Lo pulang deh Dra lo udah dua hari gak pulang, tidur di rumah" ujar orang itu menatap Jendra
Jendra hanya menggeleng sebagai jawaban ia kembali memposisikan dirinya untuk menjemput kembali mimpi yang tadi sempat hilang.
"Ih Jendra pulang gak Lo" Ujar Riri dengan jari yang menunjuk kesal, sudah sangat sulit di bangunkan dan susah di kasih tau itulah Jendra
"Gue gak mau Carissa, paan si lo ah berisik" Jawab Jendra mendelik
"Lo mau mati sebelum Nadia sadar ya?" Tanya orang itu dengan tatapan matanya yang tajam Jendra
Jendra tidak menjawab sepatah katapun ocehan Riri, ia masih setiap menelungkup kan kepalanya di antara kedua tangan nya.
__ADS_1
"Lo mau pulang atau gue laporin sama Om kalo kemaren Lo ngerokok hah?" Ujar Riri dengan sedikit ancaman di dalam perkataan nya
"Cih, si paling anak om" Jawab Jendra berlalu dari hadapan Riri dan mengambil jaket yang ia simpan di sofa, meninggalkan kamar itu untuk kembali ke rumah, lebih baik ia menurut pada Riri dari pada ia harus di marahi habis-habisan oleh ayah nya karena ketahuan merokok bukan?
Riri memang kerap kali melaporkan kenakalan lelaki itu pada ayahnya, pasalnya ia sangat dekat dengan ayah dari lelaki itu, Jadi apapun kenakalan yang Jendra lakukan pasti sampai di telinga paruh baya yang menyandang sebagai ayahnya itu, tidak selalu Riri melaporkan apapun tentang Jendra pada ayahnya, hanya sesekali ketika Riri merasa Jendra sudah di luar batas dan sudah sangat sulit untuk di larang.
Walaupun terlihat bengis, lelaki itu termasuk anak yang patuh pada orangtuanya walaupun terkadang ia pun menentang keras apapun yang orang tuanya lakukan jika ia tidak menyukai nya, seperti tentang dirinya yang tiba-tiba muncul di media dan di hebohkan bahwa dirinya anak tunggal Dartama.
Ah ia sangat benci itu, di pandang orang hanya karena ia anak tunggal dari keluarga kaya raya, jika ia bukan anak tunggal Dartama apa ada yang memunculkan nya di media? Tidak bukan.
Lelaki itu sangat benci ketika ia di hormati hanya sebagai anak tunggal Dartama, ia hanya ingin bahwa dirinya di hormati karena ia pantas di hormati bukan hanya dengan iming-iming Anak tunggal kaya raya belaka.
Setelah kepergian sang lelaki, Riri mendudukkan bokongnya tepat di kursi yang sempat Jendra duduki tadi, menatap wajah sahabatnya yang sampai saat ini tidak ada kemajuan apapun, ia hanya bisa berharap keajaiban datang, membawa kembali senyum yang sudah hilang.
"Nad... lo harus tau sehancur apa gue sama Jendra kemaren, gue sama dia hampir gila gara-gara lo Nad, dan lo tau? Untuk pertama kalinya Jendra nangis habis-habisan di depan anggota nya, Aodra Nad, nanti setelah lo siuman gue sama Jendra bakal kenalin siapa itu Aodra" gadis itu menghembuskan nafasnya, memegang tangan sahabatnya yang sedikit dingin itu.
"Gue denger kemaren ada yang ngaku jadi kakak kandung lo, gue gak bisa mastiin dia bener kakak kandung lo atau bukan, gue tau lo punya kakak, tapi inget gak? dulu lo pernah ngomongin ciri-ciri Kakak lo ke gue, dan dia jauh dari apa yang lo bilang Nad, dia gak cupu, dia gagah, keliatan tegas juga" Riri mengulum bibirnya ke dalam sesaat sebelum ia melanjutkan perkataannya "dan ganteng Nad hehe, Sekarang Arza lagi cari tau kebuktian tentang dia kakak kandung lo atau bukan, gue cuman berharap ini bukan bahaya lagi buat lo ya"
__ADS_1
"Jendra sekarang mulai berubah setelah lo kaya gini, di bahkan gak inget kapan dia makan, kapan di pulang ke rumah, lo udah seminggu di posisi ini, bangun ya Nad kasian Jendra, kasian gue, kasian mereka yang di luar tiap hari gantian buat ngejaga lo, walaupun gue gak pernah denger mereka ngeluh, gue tau mereka cape, gue tau mereka juga pengen lo cepet bangun dan balik kaya semula lagi, dalang dari penculikan lo sampe sekarang belum ketemu Nad, sampe sekarang Jendra pun tutup mata buat nyari siapa dalang dari penculikan Lo, dia bilang.. dia mau denger semuanya dari mulut lo"
"Nad, gue harap semua yang terjadi gak bakal membekas di hati dan pikiran Lo ya, gue tau udah cukup sehancur apa hidup lo, semoga semuanya gak jadi luka baru buat Lo" tutur gadis berambut sebahu itu panjang lebar,
Di sisi lain Jendra sudah sampai di tempat tinggal nya, sudah dua hari ini ia tidak pulang sama sekali, ia bahkan tidak ingat kapan ia makan, jika tidak ada Riri dan teman-temannya yang mengingatkan nya untuk makan, mungkin sedari kejadian lalu Jendra tidak akan bertemu dengan sesuap nasi pun.
Terdengar lebay memang, siapa sih lelaki yang sampai lupa kapan dia makan hanya karena ia mengkhawatirkan seorang gadis, tapi memang adanya dialah Jendra, dengan keadaan Nadia yang tak kunjung ada perubahan Jendra hanya bisa berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja, walaupun mungkin ia harus menerima kenyataan yang pahit di luar pikirannya.
Lelaki itu mengambil sebuah handuk yang ia gantung di belakang pintu, melangkahkan kakinya untuk membersihkan diri, ia butuh menyegarkan diri lalu tidur hari ini, sore nanti ia akan kembali ke rumah sakit untuk kembali memantau perkembangan Nadia.
Hanya membutuhkan sekitar 15 menit untuk Jendra membersihkan diri, ia melangkahkan kakinya menuju ranjang yang mungkin sudah seminggu tidak ia tempati, membaringkan tubuhnya jangkung itu di atas kasur empuknya, mengambil benda pipih yang ia simpan di atas nakas, saat benda pipih itu terbuka, menampilkan gambar seorang gadis cantik yang tersenyum dengan gula kapas yang ada di tangannya, dengan Jendra yang berada di sisinya, Jendra memang sengaja menyimpan foto mereka berdua sebagai wallpaper Handphone nya.
Ia hanya bisa menatapnya gambar itu gusar sebelum sebuah dengkuran halus terdengar, Jendra berhasil menjemput kembali mimpinya yang tadi sempat hilang, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, berharap setelah ia bangun dari tidurnya sebuah keajaiban datang pada gadis kecilnya, membawa kembali senyum yang sudah sangat ia rindukan.
Sebuah dering ponsel berbunyi di atas nakas itu mengganggu tidur seseorang yang sudah sukses memejamkan matanya. Dengan mata yang masih tertutup tangan itu menarik ponselnya dan menarik icon hijau untuk menjawab telpon tersebut.
"Dra cepet ke rumah sakit, Nadia sadar"
__ADS_1
Duar!