
Berlari di sepanjang koridor rumah sakit, Jendra benar-benar seperti hilang kewarasan saat ini, setelah mendengar bahwa Nadia mengalami kritis dan kondisi yang jauh dari kata baik-baik saja, Nadia memaksa untuk menemui sang gadis.
ia bahkan tidak memperdulikan darah yang mengucur di area punggung tangan nya akibat mencabut jarum infus yang masih bertengger di punggung tangan nya.
Melihat di luar kamar Nadia terdapat Riri yang masih seperti kehilangan kehidupan, Daffa yang setia mendekap gadis itu, dan Haikal yang memejamkan matanya, kehadiran Jendra mengalihkan atensi mereka.
"Dra" Haikal seger bangun dari duduk nya untuk menahan Jendra
"Awas" mendorong tubuh Haikal untuk menyingkir dari hadapan nya.
"Dra tenang dulu Nadia butuh istirahat sekarang" jawab Haikal
"Peduli apa gue anjing" ucap Jendra tanpa mendengar lagi sahutan dari teman-teman nya.
Brak!
Pintu terbuka, menampakan sang gadis yang tubuhnya di penuhi dengan selang medis, Hati Jendra mencelos, ini bagaikan sebuah mimpi, semuanya di luar kendalinya.
"Na?" Lirih nya
Memegang tangan sang gadis yang masih berbalut berbagai alat medis di tangan nya.
"Na? Kuat ya? Gue disini, boleh gue minta jangan nyerah? Bertahan sekuat tenaga Lo, bertahan buat hidup Lo, Lo bisa, Lo kuat"
"Maafin gue Na" ia menunduk kan kepalanya terdengar sebuah isakan dari mulut sang lelaki ketika tangan sang gadis ia tempelkan di pipinya, tangan yang hampir dingin itu menyentuh pipi yang sudah basah terkena bening kristal yang berasal dari mata hazel sang ketua.
Kepala itu menunduk menyembunyikan sebuah tetesan air mata, tidak ingin terlihat lemah di hadapan sang gadis, walaupun gadis itu bahkan tidak tau bahwa Lelaki ini sedang berada di dekatnya, menangis untuknya.
"Lo harus bangun, lo gak boleh kemana-mana, gue bisa gila kalo Lo gaada Na" bahu nya bergetar hebat air mata bercucur dengan deras di atas tangan sang gadis.
Sebuah usapan lembut mengusap punggung lelaki itu, ia menghapus air matanya di sela-sela tundukan nya.
"Dra.."
"Biarin Nadia istirahat dulu, kita bisa nunggu di luar, dokter bilang Nadia gak bisa ganggu sekarang"
Tanpa menjawab sahutan orang itu, Jendra menarik tubuh dari duduk nya, menatap nanar sang gadis yang masih terbaring lemah itu.
Bughh!
"Anjing" sebuah pukulan melayang pada tembok rumah sakit
Arza dengan sigap memeluk tubuh tegap sang lelaki, membantu menguatkan diri, tubuh lelaki itu bergetar dalam pelukan sang wakil ketua, air matanya runtuh, emosinya membuncah kala melihat sang gadis terbaring tak berdaya dalam kamar rumah sakit, gadis yang saat ini berjuang untuk hidupnya.
"Gue gagal Za" ucap sang ketua dalam tangisnya,
Arza enggan menjawab ucapan tersebut, ia hanya bisa mendengarkan keluh kesah sang kuat saat ini, tidak ingin menyahut ataupun menentang perkataan sang ketua, ia tau bahwa lelaki itu sangat hancur saat ini.
"Gue gagal jaga Nadia buat tetep baik-baik aja" lanjutnya
__ADS_1
"Gue pecundang Za"
"Gue hampir gila"
"Jangan ambil Nadia dari gue"
"Dia dunia gue"
"Gue bisa sampe sekarang karena dia Za"
"Gue mohon...
Isakan itu semakin terdengar di setiap runggu anggota inti Aodra yang sejak tadi hanya diam melihat sang Ketua mereka bagikan kaca yang hancur berkeping-keping, semuanya menunduk kan kepalanya tidak ingin melihat betapa hancurnya ketua mereka saat ini, pertama kali dalam hidup mereka melihat sang ketua menangis hebat, menangis karena gadis kecilnya, mereka kini tau seberapa besar dampak kehadiran Nadia dalam kehidupan ketua mereka.
Tangan mungil kini mengusap kepala sang ketua lembut, mengetahui tangan siapa, Arza segera memberikan dekapan itu pada sang pemilik tangan.
ia berikan dekapan yang sangat erat kepada lelaki bermata hazel itu, sebuah dekapan semangat, sebuah dekapan memberi kekuatan untuk lebih kuat lagi, ia mengusap Surai Lelaki itu lembut, memberikan kenyamanan, meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Bang, liat gue" Riri, sang adik sepupu yang sedari tadi hanya diam menyaksikan seorang Laki-laki yang menangis tanpa henti, hatinya teriris melihat bagaimana hancurnya lelaki itu sekarang.
"Yakinin hati lo, yakinin pikiran lo buat berpikir bahwa Nadia baik-baik aja, gue yakin Nadia bakal baik-baik aja dan lo juga harus yakin kalo Nadia bakal baik-baik aja, Lo harus percaya, dia kuat, dia gak selemah itu, Lo bahkan tau hidup dia kaya gimana, dia gaakan nyerah buat hidupnya bang, Gue tau lo hancur sekarang, gue tau ini di luar kendali lo, tapi lo gak bisa nyalahin diri lo sendiri" gadis itu menghembuskan nafasnya kasar dan menatap manik mata sang sepupu yang sudah sangat merah "Disini bukan lo aja yang hancur, gue, mereka, semua anggota Aodra hancur, hancur ngeliat lo lemah kaya gini" lanjutnya lagi
"Temuin dalang di balik semua ini, hajar dia, ancurin dia, kalo perlu siksa dia sampe mati, Gue gak pernah nyuruh lo buat bunuh orang, tapi kalo nyawa sahabat yang udah gue anggap adek gue yang jadi taruhannya, gue ikhlas lo jadi pembunuh bang" lanjutnya dengan sebuah sorot mata tajam
"Pergi, sekarang, temuin dalang dari semua ini, biar gue yang jaga Nadia" ucap Sang gadis dengan menepuk pundak yang lebih tua.
Mendengar ucapan sang adik, kepala yang sejak tadi tertunduk itu kini bangkit, menegakan kepalanya, tatapan nya dingin, sangat tajam, mungkin setiap orang yang melihat bagaimana tatapan dingin sang ketua itu, akan bergidik ngeri.
Jika sang ketua sudah mode seperti ini siapa yang bisa menentang? Tidak ada.
Sebuah senyuman terulas dari bibir Arza, ini yang ia tunggu, sang ketua bangkit dari rasa sakitnya, mata hazel itu siap menghunus lawan nya.
Semua inti Aodra pergi meninggalkan rumah sakit setelah memastikan bahwa ada Anggota Aodra yang menemani Riri.
Kini mereka berada di ruang yang sama ketika Daffa mencari keberadaan Nadia, Daffa yang sedari tadi bertugas menerobos semua akun email kontak yang berasal dari hp Nadia.
Sang hacker itu tau bagaiman ia harus melakukan tugasnya saat ini. Mengutak-atik setiap tombol keyboard laptop yang berada di depan nya Daffa beberapa kali menghembuskan nafas kasar.
Arka yang menyadari ada yang tidak beres dengan Daffa.
Puk
Tepukan sebuah tangan di bahu Daffa, lelaki itu melihat ke arah tangan sang penepuk.
"Bisa?"
"Ada satu kontak yang bikin gue curiga, susah buat di akses, kayanya udah di persiapin"
"Jadi?
__ADS_1
"Tenang, gue coba dulu"
Jendra hanya berdehem sebagai jawaban, lelaki itu kini mengusap wajahnya gusar setelah melihat beberapa berita artikel tentang Nadia
Bangsat, kenapa media sampe tau
"Dra" atensi melamun nya teralihkan, ketika Daffa berhasil menerobos akses masuk ke dalam email tersebut.
"Mati Lo anjing"
Tangan sang ketua itu terkepal sempurna
"Siapin anggota"
Oh iya aku mau sekalian ngasih cast nya disini yaa
Najendra Aji
Nadiana Putri Mahesa
Arzana Dirgantara
Carissa Dara Shana W
Bintang Adiwijaya
Daffa Prasetya
Haikal Narendra
Alfaro Pratama
__ADS_1
Btw gays ini aku masukin yang menurut aku peran paling penting dulu ya, buat yang lain nya nanti nyusul ;)