Change Is Gendut

Change Is Gendut
Tindakan Kevin


__ADS_3

"Kak se... senior Kevin tunggu." Teriak Naira sambil melepaskan genggaman tangan Kevin terhadapnya.


"Kenapa Naira? Kenapa kamu melepaskan tanganku? Kita harus pergi ke ruang guru untuk melaporkan pembulian terhadap dirimu saat ini. Kalau tidak...."


"Aku sudah perna melaporkannya." Ujar Naira dengan memalingkan pandangannya kepada Kevin.


"Apa kamu bilang?" sontak Kevin kaget mendengar apa yang Naira ucapkan.


"Aku sudah perna melaporkan hal ini terhadap guru dan termasuk kepada Kepala Sekolah kita. Tapi kamu tahukan Imel itu adalah anaknya Kepala Sekolah di SMA ini. Jadi mereka hanya mengacukanku tanpa bertindak. Dan kamu tahu lebih parahnya, pembulian terhadapku makin bertambah parah. Jadi sudah cukup kak senior Kevin, kakak tidak usah peduli padaku. Aku tidak mau pembulianku bertambah parah lagi." Ujar Naira dengan wajah sedih terlihat di matanya.


"Tidak bisa Naira, kalau aku membiarkannya mereka akan terus membulimu sampai kamu lulus di Sekolah ini." Sambil memegang kedua pundak Naira."


"Kalau begitu, berhenti kakak senior Kevin mendekatiku!" sambil menundukkan kepala.


"Apa maksudmu Naira? Aku nggak mengerti maksud perkataanmu, kenapa aku harus berhenti mendekatimu?"


"Karena alasan lain aku dibully adalah karena Kak senior Kevin! Kak senior tahukan mereka itu tidak suka aku dekat dengan kakak. Jadi kumohon berhenti mendekatiku." Teriak Naira dengan airmata yang mengalir dipipinya.


"Begitu ya! Ternyata aku penyebab kamu seperti ini. Hehe... kamu tidak usah khawatir Naira, kamu ikut saja aku keruang guru dulu ya." Sambil memaksa senyum dipipinya.


"Hiks... hiks... maaf aku kak senior Kevin, aku malah berteriak padamu. Tapi sepertinya hal itu tidak usah dilakukan kak senior, lebih baik kita hidup dijalan masing-masing." Tersenyum dengan airmata dipipinya.


"Padahal aku baru saja mendapatkan teman yang perhatian kayak kak senior Kevin. Tapi aku dan dia harus berpisah begini. Tapi ini mungkin jalan yang terbaik bagi aku dan kak senior Kevin. Dengan hidup dijalan masing-masing aku tidak perlu mendengarkan lagi pernyataan perasaannya, karena aku takut aku tidak bisa melawan perasaan hati perempuanku ini dan malah menerimanya nantinya. Jika menerimanya, aku takut perasaan kak senior Kevin terluka pada saat dia mengetahui tentang aku yang sebenarnya. Jadi inilah yang terbaik buat aku dan dia sekarang." Gumam hati Naira.


"Hehe tidak apa-apa Naira. Pokoknya kamu ikut saja aku Naira." Menggenggam tangan Naira dan membawa Naira keruang guru.

__ADS_1


Di depan pintu ruangan guru.


Tok... tok... tok... Bunyi suara ketukan pintu di ruangan guru.


"Permisi buk, pak Kepala Sekolahnya ada buk?"


"Eh... Kevin dan Naira? Ada perlu apa ya dengan bapak Kepala Sekolah."


"Hehe... ada yang ingin saya omongin kepada Kepala Sekolah buk." Ujar Kevin.


"Oh... begitu, silahkan Kevin dan Naira masuk diruangan Kepala Sekolah disana, kebetulan bapak Kepala Sekolah lagi sendirian diruangannya. Ibu permisi dulu ya mau bunyiin bel masuknya." Ujar guru tersebut sambil meninggalkan Kevin dan Naira.


"Baik buk." Sahut Naira dan Kevin secara serentak.


Bel masukpun berbunyi sedangkan Kevin dan Naira sudah berada diruangan Kepala Sekolah.


"Saya tidak akan basa-basi lagi pak, saya sudah dengar dari Naira, kalau Naira perna melaporkan tindakan pembulian di Sekolah oleh anak bapak dan rombongannya namun bapak tidak menanggapinya." Dengan tatapan tajam kearah Kepala Sekolah.


"Wah... omongan kosong macam apa ini Kevin, kalau begini kalian seperti mengidentifikasi bapak tanpa bukti ya? Dan kamu Naira bapak tidak sangka ya, anak polos kayak kamu berani menfitnah anak bapak?" sambil mengekspresikan tampang tidak tahu apa-apa.


"Ba... bapak Kepala Sekolah... a... aku..." ujar Naira dengan tampang ketakutan dan tidak tau harus bilang apa.


"Naira kamu diam saja ya, biar saya yang menyelesaikan masalah ini. Jadi kali ini kamu percayakan saja padaku." Sambil tersenyum kearah Naira.


"Baik kak senior Kevin." Ujar Naira sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"*Kenapa aku ketakutan begini? Padahal aku ingin membela diri. Apa karena mentalku juga lemah gara-gara tubuhku sekaran*g?" gumam hati Naira.


"Haha... aku tidak menyangka di Sekolah ini memiliki Kepala Sekolah selicik bapak yang melindungi anaknya melakukan tindakan kriminal terhadap teman sekelasnya. Apakah aku harus buat pelaporan ya?" sambil berdiri mendekati kepala sekolah.


"Wah... jadi kamu mau menghina putriku dan menfitnahnya melakukan hal sekejam itu ya. Kalau kamu mau melapor, lakukan saja!"


"Baiklah, aku tidak akan basa-basi lagi. Bapak ingatkan, dulu sebulan lewat bapak perna memanggilku kesini karena ada rekomendasi kuliah keluar negri dengan beasiswa besar untuk murid pintar seperti saya, kan?" dengan senyuman setengah dibibirnya.


"Apa maksudmu itu Kevin?" ekspresi Kepala Sekolah mulai serius.


"Haha... bukannya saya sempat menolaknya, dan bapak juga menyuruh guru-guru disekolah ini membujuk saya menerima beasiswa tersebut. Tapi buk Rita menyangkal sekarang saya menerima tawaran bapak, namun kenyataan sebaliknya bukan!"


"Jadi apa hubungannya perihal kau memfitnah anakku ini dengan penolakan beasiswa keluar negri tersebut?"


"Tentu saja aku melakukan tawaran Barter yang menggiurkan ini kepada kepala sekolah tersayang ini! Bapak taukan beasiswa ini sangat berpengaruh terhadap sekolah ini. Kalau saya menerima beasiswa tersebut sekolah ini akan terangkat namanya bukan? Hal ini bisa membuat pemicu anak konglomerat banyak yang ingin masuk ke Sekolah disini karena bisa membawa murid kuliah keluar negri tersebut dengan beasiswa, padahal orang-orang susah lo masuk ke Univesitas tersebut. Dan bukankah itu tujuan bapak susah payah memaksa saya kesana agar nama baik bapak terangkat juga karena saya!" sambil menyeringai.


"Wah... nggak kusangka kamu Kevin, kamu memang murid terjenius di Sekolah ini. Sampai hal terperinci kayak gitu bisa kamu analisa juga, jadi apa yang harus aku lakukan untuk menghukum putriku tersebut dan teman-temanya. Agar kamu bisa menerima beasiswa tersebut?" senyuman Kepala Sekolah semakin melebar karena apa yang ia dengar.


"Bingo... sudah kuduga, ketamakan kepala sekolah sialan ini bisa dibujuk dengan ini. Dengan begini Naira pasti akan aman dari pembulian tersebutkan? Tapi kalau sudah begini, akhirnya aku pergi juga meninggalkanmu Naira. Padahal aku sudah berkata tidak akan perna meninggalkanmu bukan? Tapi ini caranya agar melihatmu tersenyum di Sekolah dan menebus kesalahan pembulian ini karena aku juga pemicunya." Gumam hati Kevin yang saat ini resah antara bahagia dan sedih dibenaknya.


"Bapak cukup skors saja semua murid yang melakukan pembulian tersebut dan memberi peringatan terakhir kepada mereka, jika mereka melakukan pembulian lagi kepada Naira, keluarkan mereka dari Sekolah ini. oh ya dan satu lagi, jangan lupa setelah mereka selesai skors sekolah tersebut mereka harus membersih toilet selama 5 bulan."


"Apa? Kenapa hukumannya begitu berat?"


"Yah... bapak taukan, saya bisa saja melaporkan hal ini kepada yang berwajib juga sich agar mereka yang bertindak, tapi saya sekarang ini berbaik hati lo melakukan penawaran kepada bapak. Apa jadinya kalau saya melaporkan ini ya? Bisa-bisa bapak dihentikan menjadi Kepala Sekolah lo, tapi saya bisa saja melakukannya sekarang lo tapi saya takutnya hukuman mereka gak seberat yang saya inginkan sekarang. Jadi bagaimana?"

__ADS_1


"Ba... baiklah Kevin saya akan menuruti semua keinginanmu." Keringat Kepala Sekolah mulai bercucuran.


__ADS_2