
"Terimakasih buk Yasmin, sekarang ibu bisa pergi."
"Baik pak Kepala Sekolah kalau begitu saya pamit dulu." Sambil memberi hormat kepada ke Kepala Sekolah dan langsung meninggalkan Imel dan rombongannya keruangan Kepala Sekolah.
"Ayah! Apa maksudnya ini? Kenapa ayah melakukan ini terhadap kami? Dan yang anehnya lagi, ayah malah memanggil kami dengan kasus pembulian di Sekolah." Ujar Imel.
"Kamu diam!" teriak Kepala Sekolah sambil memukul meja didepannya sehingga membuat Imel dan teman-temannya terkejut.
"Hiks... hiks... ayah?" tangis Imel yang menampakkan kesedihannya kepada ayahnya sendiri.
"Haduh... sepertinya saya terlalu memanjakanmu selama ini Imel, kamu ingatkan waktu laporan Naira sebelum ini, ayah harus berusaha menutupi perilaku kalian berlima ini dengan tidak mudah. Ada beberapa guru yang mendengar peristiwa laporan dari Naira sebelumnya. Ayah harus memohon menutupi mulut mereka dan tentunya ayah harus mengeluarkan banyak uang gara-gara tingkah kalian." Ujar Kepala Sekolah sambil menghela napas.
"Jadi ayah tega membuat anak ayah ini dan teman-temanku mendapatkan hukuman?"
"Hey... di Sekolah kamu memanggil aku ayah? Panggil aku bapak Kepala Sekolah." Teriak kepala sekolah.
"Hiks... hiks... baik pak." Jawab Imel sambil menundukkan kepalanya.
"Bapak sudah tidak bisa menyelamatkan kalian lagi. Kalian tahu, gara-gara kalian Naira dan Kevin datang untuk mengancam akan melaporkan tindakan bapak kepihak berwajib, jika bapak tidak menindak lanjuti hukuman ini kepada kalian sebagai tersangkanya. Jadi mulai hari ini, kalian berlima akan bapak skors selama seminggu dan ini adalah ketahap peringatan terakhir buat kalian. Jika kalian melakukan tindakan ini kalian akan diberhentikan di Sekolah ini." Sambil menatap wajah murid tersebut dengan tatapan tajam yang penuh amarah.
"Hiks... hiks... ayah hukumannya kok bisa langsung keperingatan terakhir? Kenapa bukannya peringatan pertama? Dan kenapa hukumannya seberat ini?" tangis Imel dan teman-temannya Imel hanya menundukkan kepala sambil diam dan menangis karena tidak bisa melawan.
"Ini sudah menjadi perjanjian ayah dan Kevin, jadi kalian tidak usah membantah. Apa kalian mau saya dipecat di sekolah gara-gara tindakan kalian? Dan satu hal lagi, kalian harus membersihkan toilet setiap 4 kali dalam seminggu selama 5 bulan." Teriak Kepala Sekolah dengan emosi yang memanas di wajahnya.
"Baik pak kami mengerti." Ujar Imel dan rombong secara serentak.
"Bagus! Kalau begitu kalian bisa pergi dari sini dan kalian akan diskors mulai hari ini. Jadi pulanglah!"
"Rombongan Imelpun pergi meninggalkan ruangan Kepala Sekolah dengan wajah kesal."
"Sial... kenapa kita mendapatkan hukuman seperti ini sich Mel?"
__ADS_1
"Ini semua gara-gara si gendut itu, gara-gara dia kita kena hukuman berat seperti ini!" ujar Imel sambil mengepal tangannya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" ujar Sindy.
"Kalian tenang saja, pokoknya kita tidak boleh gegabah. Kita harus merencanakan sesuatu untuk memberi balasan dengan si gendut itu. Aku takut kalau kita menyerang si gendut itu dengan gegabah, bisa-bisa kita akan di keluarkan di sekolah ini." Senyum seringai Imel sambil memikirkan rencana kejahatannya bersama teman-temannya.
.
.
"Hey Daniel sialan berhenti menatap Naira seperti itu." Teriak Kevin sambil menuju kearah Naira dan Daniel berada.
"Wah... tak kusangka si kutu buku mesum menemukan kita disini!" sambil tersenyum.
"Hei... aku bilang berhenti memanggilku seperti itu!" ujar Kevin yang merasa sangat kesal.
"Hmm... kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Apa kau bilang?" mengepal baju Daniel dengan sekuat tenaganya.
"Ternyata si mesum sekarang semakin kuat ya." Mencoba membalas kepalan ke baju Kevin.
Plakk!!! Sebuah tamparan mengenai kedua pipi Daniel dan Kevin.
"Aduh... sakit Naira." Ujar kedua pemuda tersebut sambil memegang pipinya dengan tingkah konyol.
"Ini salah kalian berdua, telah membuat keributan disini. Apa kalian ini masih anak SD ha? Bertengkar karena hal kecil dan membuat heboh Sekolah ini. Kalian tahu, apa kalian tidak malu dilihat sama semua murid disini dengan kekonyolan kalian?"
"Lihat itu mereka berdua, ganteng-ganteng kok bertengkar seperti orang konyol gitu sich." Bisik para murid yang lewat.
"Ia benar, ganteng-ganteng tingkahnya kayak anak bloon." Bisik balasan murid yang lewat.
__ADS_1
Tuiing! Tiba-tiba Kevin dan Daniel berdiri membeku ditempat karena mendengarkan bisikan memalukan terhadap mereka.
"Kalau begitu, renungi nasib kalian berdua. Aku mau pergi dulu." Ujar Naira sambil meninggalkan berdua.
"Hei... Naira bukannya kamu punya tugas menjadi pemanduku berkeliling kearea Sekolah ini." Ujar Daniel sambil memegang tangan Naira.
"Kalau itu saya bisa menggantikan Naira kok, jadi kamu tidak usah merepotkan Naira." Ujar Kevin sambil mencoba melepaskan pegangan tangan Daniel ke tangan Naira.
"Apa ini? Aku nggak mau dipandu oleh si kutu buku mesum kayakmu, nanti kau malah mengambil keperjakaanku saat ada kesempatan." Ujar Daniel sambil mengeledek.
"Apa kau bilang Daniel sialan?" teriak Kevin merasa kesal.
"Sudah-sudah, sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain memenuhi tugasku saat ini. Jadi kak Daniel ayo kita pergi sekarang!"
"Hihi... ayo Naira." Sambil melihat kearah Kevin dengan tatapan kemenangan yang mengejek.
"Cih... Daniel sialan, beraninya dia meledekku seperti ini. Sial, awas saja kau aku akan membalasmu." Gumam hati Kevin.
Naira dan Danielpun pergi meninggalkan Kevin sendirian disana.
"Oke Daniel, kalau ruang olahraga letaknya disini, kalau kamu...." Naira menjelaskan semua perihal mengenai sekolah secara detail, namun Daniel tidak terlalu memperhatikan dan mendengarkannya.
"Hmm... apa aku keterlaluan sama Kevin tadi ya? Kenapa aku sebegitunya ingin cewek gemuk ini jadi pemanduku? Lagi pula akukan tidak terlalu peduli dengan hal beginian. Cih... kenapa aku berlebihan kayak begini sich? Eh, tunggu itu siapa? Yang mengintip aku bersama Naira dari kejauhan. hmm... apa mungkin?" gumam hati Daniel sambil tersenyum menyeringai karena mengetahui siapa orang yang memperhatikan mereka.
"Hei Naira sepertinya kita masuk di ruang musik itu saja ya, aku penasaran ruangan itu ada beberapa alat musiknya?" ujar Daniel sambil membawa Naira ke ruangan musik.
"Eh... kenapa kita harus kesana? Lagi pula waktu aku membawamu keliling hampir habis. Aku tidak mau menyia-yiakan jam istirahat berhargaku dengan mu." Oceh Naira sambil mengeluh.
"Sudah-sudah, ikuti saja! Atau gini saja, kalau kamu nemenin aku didalam kamu tidak perlu membawaku melihat ketempat lain lagi di Sekolah ini."
"Begitukah? Baiklah, kalau begitu ayo masuk."
__ADS_1
Naira dan Daniel masuk ketempat tersebut, senyuman Daniel melebar karena rencananya sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Cih... kok malah masuk keruangan musik itu sich, gara-gara Daniel sialan tu, aku menjadi seperti orang penguntit saja. Pokoknya aku nggak boleh ketahuan. Kalau Daniel mengetahui apa yang aku lakukan sekarang, mau ditaruh mana mukaku sekarang. Sial, ini semua gara-gara Daniel sialan itu membuat aku seperti ini. Gumam hati Kevin yang penuh kekesalan dengan Daniel.