
Tok... tok... tok... bunyi ketukan pintu.
"Halo Naira selamat pagi." Sambil tersenyum.
"Pagi kak senior Kevin." Dengan wajah bete.
"Dilihat dari ekspresimu hari ini kamu lagi badmood ya Naira?" dengan pandangan polos ke Naira.
"Begitukah? Sepertinya aku lagi kurang enak badan ni kak senior Kevin." Memaksa tersenyum dihadapan Kevin.
"Aduh senior bodoh, kemarin kamu sudah menyatakan perasaan kepadaku di Rumah Sakit dan menciumku. Terus sore harinya kamu nelpon aku dan mengatakan kamu akan berjuang mendapatkan perasaanku, terus saat saya mau menjelaskannya kamu malah mematikan telpon tersebut tanpa mendengar pendapatku dulu. Dan sekarang kamu datang pagi-pagi ke Rumahku seperti tidak ada peristiwa terjadi dan malah tersenyum begitu. Dasar senior menyebalkan." Gumam hati Naira.
"Kalau kamu kurang enak badan begini, mending kamu nggak usah ke Sekolah hari ini, aku juga akan absen hari ini. Jadi aku bisa merawatmu." Sambil tersenyum.
"Ha? Kak senior Kevin sudah gilakah? Aku cuma kurang enak badan dikit saja, bukan berarti aku tidak bisa pergi ke Sekolah hari ini. Dan kakak senior jangan mengatakan hal yang memalukan." Dengan ekpresi bete.
"Wah... sepertinya Naira hari ini lagi sensitif ya, nggak kayak biasanya yang lugu dan pemalu. Jangan-jangan kamu lagi...."
Belum sempat Kevin menyelesaikan perkataannya, Naira menutup mulut Kevin dengan tangannya.
"Sst... kakak ni, kalo jadi orang jangan terlalu pekalah, akukan malu." Pipi Naira makin memerah.
"Aduh sial kenapa dia tau kalau aku lagi PMS. Gara-gara aku mengalami gejala kayak gini, aku lebih sensitif terhadap orang-orang. Dan lebih gilanya lagi, kak senior bodoh ini malah mau mengatakannya dengan santai didepanku. Kau tau betapa sakitnya hal yang kurasakan saat ini. Kalau mau tahu cobalah berada di posisiku, menjadi seorang perempuan." Gumam hati Naira dengan wajah kesal.
"Haha... ya sudah Naira, kalau gitu ayo ikut aku." Mengambil tangan Naira dan membawanya pergi dari Rumah.
"Eh... kita kemana?"
"Kemana lagi ke Sekolah lah". Ujar kevin dengan tanpang senyum diwajahnya.
Di tengah-tengah perjalanan menuju ke Sekolah.
__ADS_1
"Tunggu disini ya Naira. Aku mau kesuatu tempat!"
"Hey... Kakak senior mau kemana?" ujar Naira.
"Sudah tunggu saja disini! Sembari kamu tunggu aku, lebih baik kamu duduk disini dulu ya Naira. Jangan kemana-mana ya." Meninggalkan Naira sambil berlarian.
"Duh dasar senior itu seenaknya saja."
"*Hmm... hari ini begitu cerah ya, sampai-sampai angin bertiup kencang saat ini. Duh... sungguh dinginnya pagi ini. Tapi kalau difikir-fikir lagi, aku tidak tau alasan kenapa kak senior Kevin menyukai perempuan wujud gendutku seperti ini? Aku sudah melihat didepan mataku sendiri dia tidak ada keraguan untuk menyatakan perasaannya pada perempuan gendut ini. Tidakkah ini terasa aneh? Aku harus bertanya terhadapnya, kenapa dia bisa menyukai perempuan gendut seperti aku saat in*i?" Gumam hati Naira yang sedang memikirkan hal tersebut.
"Aduh dingin." Reaksi terkejut Naira refleks saat merasakan suatu benda menempel di pipinya.
"Hehe... dari tadi aku panggil kamu Naira, kamu tidak menjawab aku. Kamu lagi mikirin apa?" sambil memberikan sesuatu kepada Naira.
"Aku hanya lagi memikirkan sesuatu kak senior Kevin. Eh? Apa ni?"
"Minumlah... katanya kebanyakan perempuan yang lagi badmood, meminum air Yogurt ini jika lagi mengalami datang bulan kayak kamu saat ini." Sambil tersenyum.
"Gimana? Sudah enakan?"
"Wah... Enak, benar juga ya. Sekarang moodku agak mendingan. Kok kamu ini bisa tau segalanya sich? Dimulai semua mata pelajaran disekolah sampai hal mengenai hal perempuan seperti ini kamu tahu."
"Benarkah? Aku tidak menyadari kalau aku orang seperti itu." Ujar Kevin.
"Cih... kamu nyebelin."
"Hehe... sepertinya moodmu uda bagus lagi Naira. Kalau gitu ayo kita berangkat ke Sekolah, nanti kita telat lo." Menggenggam tangan Naira sambil tersenyum.
"Eh?"
"Sepertinya kak senior Kevin tahu ya semua hal. Termasuk perihal tentang perempuan, pasti dia melakukan pacarnya dulu dengan baik. Nggak seperti aku dulu yang hanya menyakiti mereka karena keegoisanku dulu." Gumam hati Naira yang saat ini malu dengan posisinya saat ini.
__ADS_1
Di lokal 2 SMA.
"Kak senior Kevin, kakak sepertinya harus pergi dech sekarang. Aku nggak usah diantar sampai ke lokalku segala." Ujar Naira yang sedang ketakutan karena dia menyadari murid perempuan sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Baiklah kamu hati-hati ya." Sambil tersenyum dan meninggalkan Naira.
Ketika Kevin sudah memang sudah pergi meninggalkan Naira, gerombolan Imel langsung menjumpai Naira dimejanya.
"Hei gendut! Sepertinya kamu makin dekat aja ya sama kak senior Kevin." Sambil menjambak rambut Naira.
"Hiks... hiks... maafkan aku Imel, saya dan kak senior Kevin cuma...."
"Hentikaaan." Teriak Kevin yang muncul tiba-tiba.
Imel dan rombongan terkejut dan melepaskan jambakan dari rambut Naira dan menjahui Naira.
"Ka... kak se... senior Kevin? Kenapa kakak ada disini?" ujar Imel dengan wajah ketakutan.
"Jadi perkiraanku benar, ternyata orang yang membuat Naira pinsan adalah kamu Mel? Kalian tahu aku berpura-pura pergi dari sini agar aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri kalian melakukan tindakan sekeji ini terhadap Naira!"
"Eh? Kak senior, kakak salah paham kami cuma...." dengan tanpang gugup.
"Cuma apa ha? Cuma membully-nya? apa kalian tidak punya hati? Kalian tega membully orang yang tidak tahu apa-apa demi kesenangan dan keegoisan kalian." Teriak Kevin.
"Kak senior kevin..." ujar Naira yang sedang menangis.
"Hiks... hiks... kenapa kakak senior begitu sangat peduli padaku sich? Aku seperti orang jahat yang terus menyakiti perasaannya saat dia berusaha menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku malah menghancurkan perasaannya. Aku seperti orang jahat tahu, jadi aku mohon jangan terlalu baik padaku kak senior bodoh. Karna aku tidak akan tega menolak perasaanmu lagi saat kau menyatakan perasaanmu padaku lagi. Tapi aku nggak boleh begitu, karna aku dan kakak senior tidak akan perna bisa bersatu. Karna alam akan menghukum kita kalau aku egois melakukan hal itu." Gumam hati Naira yang saat ini hatinya merasa sakit karena kebaikan Kevin terhadapnya.
"Naira sekarang kamu ikut aku, kita harus laporkan hal ini terhadap guru-guru dan kalian semua yang ada di kelas ini, kalian sama saja kayak sampah yang menjijikkan. Kalian semua hanya diam saja saat teman kalian dibully seperti ini." Sambil memegang Naira dengan kuat-kuat dan membawanya pergi.
"Saat Kakak senior kevin menggenggam tanganku dan menyelamatkanku dari pembulian. Perasaan perempuanku saat ini berdetak sangat kencang ketika melihatnya saat ini. Aku sudah mencoba meniatkan hal itu tidak boleh terjadi dan harus melawan perasaan itu. Tapi, kenapa perasaan ini semakin dalam? Kumohon kak senior Kevin, berhentilah untuk lebih peduli padaku seperti ini. Tidak bisakah kau peduli denganku dengan cara biasa saja seperti sahabat pada umumnya, bukan seperti orang yang lagi membantu pasangan yang ia cintai pada umumnya? Aku takut... takut.. takut sekali kalau aku tidak bisa melawan perasaan perempuanku ini. Kalau hal ini terjadi, apa yang harus aku lakukan untuk melawan rasa sukaku ini?" Gumam hati Naira dengan kesedihan yang pahit yang dia rasakan.
__ADS_1