
"Baik anak-anak! Karena ibu sudah menerangkan cara mengerjakan soal di buku Matematika tersebut. Jikalau ada murid yang bingung masalah dalam penjumlahan atau yang lainnya, bisa ditanyakan sama ibu sekarang!" ujar ibu Rita yang menerangkan pelajaran Matematika di kelas 2 SMA.
"Kenapa Naira sebegitu marahnya padaku ya? Padahal aku cuma bercanda. Dan satu hal lagi, saat aku menyapanya tadi, dia malah mengabaikanku dan pergi tanpa membalas sapaanku. Sepertinya kali ini aku harus benar-benar minta maaf." Gumam hati Daniel yang saat ini hanya fokus pada kejadian dia dan Naira tanpa mendengarkan penjelasan pembelajaran yang diberikan ibu Rita di depan kelas.
"Baik anak-anak kalau gitu ibu pergi dulu, karena tidak ada yang ingin bertanya silahkan jawab semua soal di buku kalian." Ujar buk Rita sambil meninggalkan kelas.
"Baik buk." Balas semua murid di ruangan kelas tersebut kecuali Daniel yang berada dalam pemikirannya sendiri.
"Hmm... Naira kamu lagi ngapain?" ujar Daniel yang tidak tahu mengenai tugas yang diberikan ibu Rita.
Naira hanya diam dan mengacukannya tanpa memperdulikan Daniel, Naira hanya fokus kepada tugas yang diberikan kepada semua murid di kelas.
"Sepertinya dia benar-benar marah padaku, sampai-sampai dia mengacukan omonganku. Apa yang harus kulakukan agar dia bisa bicara lagi denganku dan memaafkan aku ya?" Gumam hati Daniel yang sedang memikirkan rencana agar Naira tidak mengacukan ucapannya lagi.
"Ya sudah Naira kalau kamu mengacukanku lebih baik aku nyanyi saja ya. Mungkin dengan nyanyianku ini, kamu bisa memaafkanku." Celoteh Daniel dengan memanyunkan mulutnya agar Naira bisa terhibur, kemudian Danielpun menyanyikan sebuah lagu dengan keras.
Naira gendut perut bulat....🎶
Naira gendut perut bulat....🎵
Naira gendut perut bulat....🎶
Mendengarkan nyanyian Daniel yang begitu keras, membuat para murid di kelas terkejut saat mereka mendengar nyanyian Daniel. Hingga membuat semua murid di kelas tertawa terbahak-bahak mendengarkan lagu nyanyian dari Daniel.
Buahaha... suara Tawa semua murid yang heboh.
"Hihi... sepertinya kalian suka lagu baru aku bikin ya? Kalau begitu, kalian mau dengar lagu baruku yang Judulnya Si Gendut Lagi Ngambek." Teriak Daniel kepada semua murid di kelas dengan mengangkat satu kakinya diatas meja membuat suasana di kelas semakin heboh.
__ADS_1
"Tentu!" jawab semua murid di kelas dengan tawa.
"Haha... kalau kalian senang, baiklah aku nyanyikan lagu tersebut. Hufft... Naira itu gen....🎶" jawab Daniel dengan semangat dan mengambil pernapasan untuk memulai nyanyian tersebut.
Nyuit! Sebuah cubitan ditelinga Daniel dari Naira, yang saat ini Naira sedang mencoba menahan amarahnya karena banyak orang di kelas.
"Dasar Daniel sialan! Beraninya dia mengejekku dengan nyanyian konyolnya ini, padahal aku sudah cukup bersabar dengan nyanyian pertamanya yang bilang aku gendut dengan perut bulat dan sekarang makin dibiarkan dia makin ngeselin. Malah bikin di tambah lagu yang lebih ngeselin. Pokoknya aku harus bicara dulu sama dia ditempat lain, kalau aku memaki-maki dia sekarang, bisa-bisa fans perempuan di kelas ini menjambakku." Gumam hati Naira yang sedang mencoba menahan amarahnya dan tersenyum manis di depan Daniel.
"Aduh Naira! Sakit tahu, kenapa kamu mencubit kupingku seperti ini?" ujar Daniel dengan tanpang polos seperti tidak tahu menahu kalau nyanyiannya itu mengejek Naira.
"Bingo! Akhirnya Naira mau berbicara padaku, walaupun aku kena cubitan sakit ini gak masalah. Yang penting aku bisa berbicara dengannya dulu, tapi kenapa hawa dia sekarang kayak mau membunuh seseorang ya? Apa aku akan mati olehnya hari ini?" gumam hati Daniel dengan tatapan merasa takut dengan hawa menakutkan dari seorang Naira.
"Sepertinya kita perlu bicara sekarang kak Daniel!" dengan senyuman mematikan terhadap Daniel.
"Begitukah? Sepertinya kita tidak perlu bicara untuk sementara ini. Lagi pula aku lagi sibuk audisi di kelas ini." Jawab Daniel dengan mengalihkan pandangan terhadap Naira, karena dia tahu hawa Naira saat ini tidak bersahabat.
"Pokoknya kak Daniel ikut aku dulu ya!" tanya Naira dengan ekpresi yang memaksa.
"kalau itu tidak bisa, soalnya kasian para teman-temanku di lokal ini. Mereka ingin mendengarkan laguku ini. Benarkan teman-teman?"
"Benar! kami mau mendengarkan lagu yang lain lagi dari kak Daniel." Ujar para murid di kelas, karena mereka senang dengan keisengan dilakukan Daniel.
"Baiklah, aku menyerah dech! Sepertinya aku tidak bisa meminjam Daniel untuk sementara dari kalian. Tapi, kalau aku tukar Daniel ini dengan wajah Soekarno-Hatta sebanyak lima lembar wajah Soekarno-Hatta apa bisa ya?" ujar Naira dengan mengambil uang di dompetnya.
Ketika Naira mengeluarkan uang lima ratus ribu dikantongnya, mata semua murid berbinar-binar.
"Kalau gitu, Naira dan kak Daniel sampai jumpa ya. Sepertinya kalian memang benar-benar ada hal yang ingin diucapkan yang nggak boleh kami ketahui." Jawab semua murid yang mendorong Naira dan Kevin keluar dari kelas.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi, kak Daniel kami masih fans kakak kok, kami gak akan berhianat karena uang. Tapi karena keadaan yang memaksa kami memilih Soekarno-hatta sementara. Jadi kami akan setia sama kakak, jadi sampai jumpa." Ujar para murid perempuan di kelas dengan senyum.
Seketika Daniel membeku mendengar ucapan murid dikelas dan melihat tatapan Naira yang siap menerkamnya.
"Hiks... hiks... ternyata kalian itu fans penghianat! Masa harga diriku dibeli dengan lima ratus ribu. Seharusnya kalian menolongku saat ini, tapi malah membuatku pergi dengan harimau yang saat ini menerkamku." Gumam hati Daniel yang sedang ketakutan.
"Oh ya Naira, sepertinya kita tidak perlu bicarakan hari ini!" sambil tersenyum dengan keringat diwajahnya.
"Danieel. .." teriak Naira yang marah atas perilaku keisengan yang kini tubuhnya berapi rapi saking Naira menahan amarahnya.
"Hiks... ampun juragan! Hamba yang salah, tolong ampun tindakan hambamu ini yang tidak berdosa ini." Ujar Daniel dengan memohon kepada Naira dengan tindakan konyol dilakukannya.
"Plak... plak dua tamparan dipipi mengenai pipi Daniel.
"Aw Sakit." Kepasrahan Daniel menerima tamparan dari Naira.
"Hihi... sekarang aku lega, bisa menampar Daniel sialan ini! Tak sia-sia aku mengeluarkan uang sebanyak ini. Sepertinya aku harus kembali ke kelasku untuk menyelesaikan tugas dari buk Rita." Nairapun pergi meninggal Daniel karena puas dengan pelampiasannya tersebut.
"Tunggu!" teriak Daniel yang mencoba memegang tangan Naira agar dia menghentikan langkah kaki Naira pergi darinya.
"Apalagi?" jawab Naira dengan ekspresi kesal saat Daniel manahannya.
"Kamu suka aku, kan?" Tanya Daniel dengan dengan tatapan serius dan kini Daniel mencoba menyudutkan Naira dengan tangannya yang berada di dinding.
"Hey... kau gila ya?" jawab Naira mencoba menampar Daniel.
"Kalau begitu ayo kita berciuman untuk membuktikannya." Ujar Daniel yang menghalang tamparan dari Naira.
__ADS_1
"Apa?" Jawab Naira dengan ekspresi kaget dan membuat pipinya memerah.