
"Hey Naira! Tunggu." Teriak Daniel yang mencoba mengejar Naira.
"Hei Daniel sialan, apa kau menyukai Naira?" ujar Kevin yang memegangi tangan Daniel dan membuat Daniel berhenti mengejar Naira.
"Apa kamu bilang? Kamu sedang bercanda ya Kevin!"
"Aku bilang kamu suka Naira, kan?" kali ini tatapan tajam Kevin tertuju kemata Daniel.
"Apa kau gila? Bagaimana mungkin aku menyukai wanita seperti itu? Dan lagi pula mana mungkin aku berhianat sama temanku sendiri."
"Baguslah kalau begitu, aku kira kamu menyukai Naira. Dan satu lagi."
"Cih... apalagi!" sambil mengoceh.
Bruak! sebuah pukulan mengengai muka Daniel hingga Daniel jatuh.
"Hey Kevin apa kau gila? Kenapa kau memukulku? Kan aku sudah menjelaskannya bodoh." Teriak Daniel sambil mencoba berdiri.
"Kamu kira aku bodoh, walau kita sudah lama tidak bertemu. Aku sudah mengenalimu dari dulu Daniel sialan! Dan satu lagi, aku tidak peduli kalau kamu memang menyukai Naira, yang membuat aku pengen menghajarmu saat ini adalah beraninya kamu membuat dia seperti itu." Teriak Kevin sambil mengepal baju Daniel dengan kuat.
"Kalau hal itu, sepertinya aku memang salah! Aku seharusnya tidak begitu terhadap Naira. Jadi kalau kamu ingin pukul aku, silahkan!" ujar Danel sambil mengalihkan pandangannya dengan ucapan nada rendah.
"Bruaak! Satu pukulan yang mengenai pipi Daniel.
"Cih... aku memukulmu, karena kamu pantas mendapatkannya. Dan satu hal lagi, sepertinya aku tidak butuh bantuanmu soal memikat hati Naira itu. Jadi pergilah minta maaf kepada Naira. Kalau tidak, jangan harap aku mengampunimu lagi!" ujar Kevin sambil meninggalkan Daniel di ruangan musik tersebut.
__ADS_1
"Cih... Daniel sialan itu, beraninya dia membuat situasi seperti ini. Dan sepertinya Naira mempunyai perasaan terhadap Daniel, kalau dia tidak punya perasaan, kenapa Naira sampai-sampai menangis berlarian karena perkataan pernyataan bocah sialan itu? Sepertinya aku kalah dari Daniel sialan itu. Tidak-tidak, pokoknya aku belum menyerah soal Naira, aku harus bisa mendapatkan perasaan Naira." Gumam hati Kevin sambil mengingat kejadian sebelumnya yang membuat perasaanya sedih.
"Sekarang aku harus mencari Naira dulu, oh ya dia suka di...." Kevinpun pergi menuju tempat dimana Naira suka pergi.
"Daniel brengsek! Beraninya dia mempermainkan perasaanku ini. Melihat dia berhasil mengerjaiku, pasti dia kesenangan tuh. Tapi gara-gara aku memiliki perasaan yang sama dengan perempuan juga, hal ini membuat aku baperan sama Daniel bodoh itu. Aduh... memalukan, kenapa aku harus menangis segala sich? Dan kak senior Kevin ada di ruangan musik itu dan melihatku menangis berlarian. Tapi kenapa kak senior Kevin ada di ruangan musik itu ya dan kenapa dia bersembunyi disitu?" gumam hati Naira yang sedang bingung memikirkannya.
"Nyam... nyam... terserah yang penting aku makan dulu." Bunyi suara kunyah Naira yang sedang asik menyantap makanannya.
"Hihi... ternyata kamu disini Naira, padahal aku berencana menghiburmu setelah dikerjai oleh Daniel sialan itu." Ujar Kevin sambil tersenyum dan duduk di samping Naira.
"Eh... kak senior Kevin? Bagaimana kakak tahu aku di Kantin? Dan kakak nggak usah bahas yang tadi lagi, sangat memalukan." Ujar Naira yang matanya kini agak membengkak karena menangis.
"Hehe... baiklah! Tapi haruskah aku memberi tahumu dari mananya aku tahu kamu disini? Lagi pula aku lapar juga tahu, inikan jam istirahat murid-murid tentu saja semua murid pergi ke Kantin. Nyam... enak juga baksonya." Sambil menyantap bakso Naira tanpa permisi terdahulu.
"Hey itu baksoku, kak senior Kevin pesan aja kalau mau."
"Maafkan aku kak senior Kevin! Gara-gara aku kak senior Kevin harus pergi kuliah ke luar negri. Padahal kak senior pasti ingin masuk ke Universitas yang kak senior inginkan."
"Hehe... kamu tidak usah minta maaf segala, lagi pula aku tidak ada punya keinginan masuk ke Universitas manapun kok. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah, yang penting kamu selamat dari pembulian itu." Ujar Kevin sambil menenangkan perasaan bersalah Naira.
"Padahal aku ingin melupakan hal itu, tapi Naira malah membahasnya. Setidaknya aku masih bisa melihatmu disini beberapa bulan lagi sampai aku memang benar-benar pergi dari sini." Gumam hati Kevin yang merasa sedih dalam hatinya.
"Terimakasih kak senior Kevin jika tidak ada kakak, mungkin aku sudah jadi bahan pembulian selama aku bersekolah disini." Sambil tersenyum.
"Ia Naira." balas senyuman kepada Naira.
__ADS_1
"Oh ya kak senior Kevin, kenapa kakak ada di ruang musik tadi? Dan kenapa kakak pakai sembunyi segala disana?" sambil memandang Kevin dengan ekspresi keheranan.
"Ah it... itu..." keringat Kevin mulai bercucuran karena berusaha mencari alasan tepat.
"Aduh... kenapa Naira menanyakan hal itu sich? Apa yang harus aku bilang ya? Nggak mungkin aku bilang yang sebenarnyakan, karena aku menguntitnya karena aku cemburu sama si Daniel sialan itu. Ayo Kevin berfikir mencari alasan yang tepat." Gumam hati Kevin.
Tin tong... bunyi suara bel Sekolah yang menandakan jam istirahat Sekolah sudah berakhir.
"Eh... jam istirahat uda habis? Padahal baksonya masih ada sisanya." Eluhan Naira yang menatap baksonya yang masih tersisa.
"Hehe... sepertinya kita harus ke kelas, ayo kita berangkat!" ujar Kevin dengan senyum dipipinya.
"Baiklah kak senior Kevin." Naira dan Kevinpun pergi meninggalkan kantin dan membayar makanan yang Naira pesan.
"Yes! Syukurlah bel Sekolah berbunyi pada waktu yang tepat, sehingga topik tadi tidak dibahas lagi. Terimakasih guru yang membunyikan bel Sekolah, kau memang guru terbaik pokoknya." Gumam hati Rey dengan penuh rasa syukur.
"Oh yak kak senior Kevin masalah yang...."
"Naira, sepertinya aku harus ke kelas duluan ya. Soalnya aku baru ingat, sekarang aku yang presentasi di kelasku sekarang. Kalau begitu sampai jumpa." Ujar Kevin sambil meninggalkan Naira dengan keadaan panik.
"Haduh... lagi-lagi aku bertindak kayak orang bodoh, aku menghindari Naira gara-gara dia membahas tentang aku yang menguntit mereka. Sial ini gara-gara Daniel sialan itu." Gumam hati Kevin yang meninggalkan Naira dan pergi ke kelasnya dengan ekspresi malu diwajahnya.
"Eh? Sepertinya kak senior Kevin sibuk. Tapi padahal aku cuma ingin mengucapkan terimakasih atas masalah pembulianku yang dia selamatkan. Sepertinya aku harus memberikan sesuatu yang disukainya sebagai ucapan terimakasihku kepadanya. Tapi apa ya? Aduh... aku tidak tahu harus memberi apa, siapa ya orang yang tahu tentang kak senior Kevin ya?" sambil memikirkan sesuatu dibenaknya sehingga Naira tidak sadar seseorang sudah ada didekatnya.
"Hey Naira." Mengibas-ngibas tangannya kearah muka Naira.
__ADS_1
"Eh?" Nairapun terkejut saat dia tersadar dari pemikiran halusinasinya dan berlari meninggalkan orang tersebut tanpa membalas sapaan orang tersebut.
"Sial... sepertinya dia memang marah kepadaku, bagaimana cara aku meminta maaf kepada Naira ya?" ocehan Daniel yang menepik kepalanya karena merasa bersalah kepada Naira atas kejadian di tempat ruangan musik.