
"Kak se... senior Kevin." Dengan tanpang malu-malu.
"Iya Naira, kenapa?" sambil tersenyum.
"I... it... itu, kapan kakak akan melepaskan pelukan ini?" muka Nairapun sudah memerah.
"Hehe... maaf ya, aku terlalu terbawa suasana sehingga lupa melepaskan pelukan kita." Melepaskan pelukan tersebut.
"Iya kak senior tidak apa-apa. Tapi sepertinya kakak senior Kevin seharusnya pergi saja kembali ke Sekolah. Aku tidak mau kakak ketinggalan mata pelajaran gara-gara aku. Lagi pula kakak sekarang kelas 3 SMA, kan. Jadi kakak harus belajar yang giat untuk bisa masuk Universitas yang bagus. Apalagi kalau bisa pergi ke Universitas ke luar negri seperti Jepang atau Amerika. Kakak senior Kevin pasti makin keren dan tentu saja makin sukses nantinya, hehe...."
"Aku tidak mau kuliah kesana." Tampang Kevin mulai memperlihatkan kesedihannya.
"Eh? Kenapa kakak senior tidak mau kuliah disana? Lagi pula kakakkan orang yang berprestasi di Sekolah. Apalagi kakak itu terkenal kutu bukunya di Sekolah. Jadi kakak harus semangat, aku pasti mendukungmu." Sambil memegang kedua tangan Kevin.
"Aku gak mau kesana." Semangat Kevin semakin patah saat Naira mengatakan hal tersebut.
"Kenapa tidak mau sich kak? Kakak itu...."
Belum sempat Naira menyelesaikan ucapannya, Kevin menyodorkan bibirnya kebibir Naira dengan cepat. Sehingga Naira terkejut.
Cup... Sebuah ciuman terjadi.
Deg... deg... deg bunyi detak jantung Naira yang semakin kencang, pipinya memerah dan sudah tidak bisa dia sembunyikan lagi, sehingga Naira mencoba melepaskan ciuman tersebut.
"Eh? Apa ini?" apa yang kakak senior Kevin lakukan?" sebuah airmata jatuh membasahi pipi Naira.
"Ini adalah alasan aku tidak mau pergi kuliah keluar negri. Meskipun aku direkomendasikan oleh Sekolah nantinya, aku akan menolaknya. Karena dirimu Naira. Aku sungguh mencintaimu, jadi berhentilah membuat aku jauh darimu. Kumohon Naira!" tatapan Kevin mulai serius memandangi Naira dengan wajah yang sedih.
"Kakak it... itu tidak mungkin terjadi." Naira mengalihkan pandangannya kebawah.
"Kenapa tidak mungkin? Aku harus tahu alasanya! "tetesan airmata Kevin jatuh dipipinya karena firasat penolakan cintanya terhadap Naira akan terjadi sesuai perkiraannya.
"Karena alam tidak bisa menyatukan kita kak senior Kevin. Alam akan menolak hubungan kita. Walaupun sekarang aku ini perempuan, tapi nyatanya aku ini sebenarnya adalah laki-laki yang kena kutukan. Jadi berhentilah mengatakan hal itu padaku kak senior bodoh. Kamu tahu, saat ini aku memiliki perasaan yang sama dengan perempuan. Jika aku memihak perasaan perempuan ini, aku pasti menerima perasaan kamu bodoh. Tapi hal ini tidak boleh terjadi, ini hal yang salah. Karena walau bagaimanapun aku ini lelaki yang dikutuk menjadi perempuan gendut. Gumam hati Naira, yang saat ini dia tidak mampu menahan airmata bersalahnya saat ini.
"It... itu... karena aku adalah seorang.... "
Saat Naira menjelaskan alasan penolakan Kevin terhadapnya, ibu Rita datang seketika.
__ADS_1
"Halo Kevin, bagaimana... eh? Naira sudah sadar ya. Kenapa kalian menangis?" ibu Rita datang menghampiri dua muridnya itu dengan kebingungan.
"Tidak buk, tidak ada apa-apa. Saya sangat bahagia saja akhirnya Naira sudah sadar buk." Ujar Kevin.
"Oh... begitu ya, kalau begitu Kevin kamu bisa kembali ke Sekolah. Lagi pula kamukan murid kebanggaan Sekolah. Ibu tidak mau rekomendasimu kuliah keluar negri gagal karena terlalu lama meninggalkan pelajaran."
"Tapi buk Nairakan masih butuh...."
"Aku tidak apa-apa kak senior Kevin, lagi pula sudah ada ibu Rita disini. Mungkin sore nanti aku kayaknya bisa pulang dari Rumah Sakit ini. Karna sepertinya keadaanku sudah mulai membaik." Ujar Naira sambil mengalihkan pandangannya kepada Kevin.
"Baiklah kalau begitu buk, saya permisi kembali ke Sekolah. Dan Naira semoga kamu cepat sembuh ya." Sambil memaksa senyum diwajahnya.
"Baik Kevin kamu hati-hati." Ujar buk Rita.
Kevinpun pergi meninggalkan Naira dan ibu Rita tersebut. Diapun pergi dari Rumah Sakit tersebut sambil memegang bibirnya.
Diperjalanan menuju ke Sekolah.
"Ah... bodohnya aku! Kenapa aku langsung senekat itu ya? Bibirku dan bibir Naira bersentuhan, hehe...
Plak... sebuah bunyi kaleng minuman mengenai kepala.
"Aduh sakit, sial... siapa sich yang menendangi kaleng minuman ini sich?" memperhatikan lingkungan sekitar untuk mengetahui pelakunya.
"Ah... bodohnya kamu Kevin. Seharusnya kamu bersabar lagi bodoh." Sambil berteriak.
"Hei kamu! Kalau melempar minuman kaleng harus hati-hati dong. Kamu tahu, kepalaku kena sama minuman kalengmu sialan." Menuju Kearah pelaku pelempar minuman kaleng tersebut sambil memegang pundak pelaku yang menendang minuman kaleng itu.
"Apa sich... eh?" Kevin membalikkan pandangannya kearah orang memegang pundaknya dan terkejut apa yang dia lihat.
"Kevin? Kamu Kevin, kan?"
"Kamu Daniel, kan?" ujar Kevin.
"Hehe... iya gue Daniel teman masa kecilmu dulu. Nggakku sangka kita bertemu seperti ini. Tapi pertemuan kita saat ini membuat kepala gue sakit lo." Sambil memasang tampang jengkel.
Hehe... sepertinya itu sebuah kesalahan. Kalau gitu ayo kita ke Cafe seberang sambil menembus kesalahan gue." Sambil memasang tampang tidak tau apa-apa.
__ADS_1
"Baiklah sepertinya kamu menyogokku dengan minuman murah kayak dulu." Sambil mengeluh.
"Hehe...."
Di tempat Cafe mereka kunjungi.
"Kapan kamu kembali kesini, Daniel? Terakhir kita komunikasi dulu, katanya kamu tidak akan balik ke Indonesia. Apa penyebabmu balik kesini?" tatapan serius Kevin.
"Haha... apa ini? Kevin seorang yang mudah tersenyum ini, kok malah jadi serius? Kamu nggak usah khawatir. Aku bukan Daniel seperti dulu lagi. Aku sudah berubah kok, tenang saja. Oh ya, kamu ngapain kayak orang bodoh tadi sampai menendang minuman kaleng hingga mengenai kepalaku?
"Cih... malah mengalih topik pembicaraan. Tidak ada, aku hanya lagi kesal saja pada diriku sendiri. Jadi tak usah dibahas."
"Wuahaha... Seorang kevin yang kutu buku bisa kesal pada dirinya? Hei ini aku gak sedang bermimpi, kan? jumpa kamu kayak gini?" tertawa terbahak-bahak sambil mengeledek Kevin.
"Hei... berhenti mengejekku, aku lagi serius ni. Iya-iya kamu pasti senang melihatku seperti ini. Jadi kau harus bantu aku dong." Memasang tampang datar.
"Cih... permintaan macam apa itu, dengan tanpang datar gitu? harusnya kamu memohon gitu dong."
"Baiklah, aku mohon... kamu puas."
"Hei Kevin tadi aku becanda lo, kenapa kamu melakukannya? Tapi ya sudalah, karena aku teman baikmu. Jadi permintaanmu itu apa?"
"Ajari aku memikat seorang gadis."
"Ha... apa kamu bilang? memikat gadis?" Daniel terkejut apa yang dikatakan seorang Kevin dihadapannya.
"Iya... ajari aku bisa menaklukan hati perempuan, kamukan banyak pengalamannya kalau masalah ini. Jadi kamu bantu aku dong." Mengalih pandangan karena Kevin tidak bisa menahan perasaan malunya saat ini.
Wah... sungguh keajaiban, ternyata kamu bisa jatuh hati terhadap seseorang perempuan. Biasanya perempuan yang ingin dekat denganmu malah kau tolak. Hehe... sekarang kau ingin berusaha mendekati seorang perempuan? Secantik dan seseksi apasih dia sich, sampai-sampai kamu butuh pertolonganku segala?"
"Kalau itu rahasia dong. Pokoknya kamu bantu aku dulu." Sambil tersenyum.
"Cih... baiklah." Ujar Daniel
"Aku jadi penasaran perempuan seperti apa yang membuat seorang Kevin bisa seperti ini." Gumam hati Daniel.
__ADS_1