Change Is Gendut

Change Is Gendut
Yang Terlupakan


__ADS_3

"Sial... susah banget mendapatkan baju ukuranku sekarang. Oh ya, kayaknya baju itu pas dech dengan ukuranku yang sekarang."


Pergi ke pemilik toko baju...


"Buk... baju ini boleh saya coba?"


"Oh... Tentu saja dek, silahkan dicoba. Tempat ganti pakaian perempuan ada disana." Sambil tersenyum dengan pelanggannya.


"Eh? Aku harus ganti pakaian ke tempat ruang ganti perempuan sekarang? Gila beruntung bangetnya aku." gumam hati Rey yang sosok saat ini adalah sebagai perempuan gendut.


Croot... mimisan keluar dari hidung Rey.


"Dek? kamu tidak apa-apa? Kamu mimisan tu."


"Hehe... tidak apa-apa buk. Aku hanya merasakan kemalangan hidup ternyata harus disyukuri juga. Kalo gitu saya permisi ya buk." Pergi menuju tempat ganti pakaian.


"Kok aku merasa hawa-hawa jahat sama perempuan itu ya? Kok tubuhku merinding jadinya?"


Ditempat ganti pakaian perempuan...


"Gak kusangka gue harus make beginian, Sial." Oceh Rey yang sedang mengganti pakaian.


Ditempat ganti pakaian seberang Reypun menguping pembicaraan gadis yang sedang mengganti pakaian.


"Kya... yang warna pink cocok buat kamu."


"Benarkah?"


"Iya... Apalagi itumu uda tumbuh luar biasa dari pada aku, bikin iri."


"Kya...."


"Hehe... ternyata perempuan ganti pakaian seperti itu ya."


Truut... truut... Suara bunyi deringan Handphone Rey.


"Apa, Mama telpon? Bagaimana ini, gak mungkin aku mengangkatnya telpon dari mama saat ini. Apalagi suaraku suara perempuan. Tidak! Aku harus mengangkat telponnya, karna aku membutuhkan uang saat ini untuk membeli semua pakaian ini. Lagi pula aku bilang saja aku pacarnya Rey. Terus aku bilang Rey lagi butuh uang."

__ADS_1


Menghela napas. "Huff... halo tante ini pacarnya Rey. Rey lagi tidak ada disini."


"Eh... Apa maksudmu Naira? Mama gak suka candaanmu saat ini. Rey? Rey itu siapa?"


"Apa? aku nggak salah dengar, kan? Mama bilang aku ini Naira dan dia tidak kenal dengan anaknya yang bernama Rey." Gumam hati Rey.


"Aduh... kamu ini ya Naira bikin mama pusing saja. Rey itu pacar kamu ya? kamu ini belajar yang benar saja dulu."


Airmata Rey jatuh saat dia mengetahui bahwa posisinya saat ini dikenal sebagai seorang Naira yang oleh ibunya saat ini bukan Rey. Dan yang membuat hatinya Rey sakit adalah sosok dia saat menjadi seorang laki-laki telah terlupakan oleh ibunya."


"Hiks... mama sudah dulu ya aku lagi sibuk."


"Hei Naira kamu nangis? Kamu belum...."


Tut... tut... Rey mematikan hpnya.


Rey berlari kekasir dengan tergesah-gesah untuk membayar semua pakaian yang dia beli. Lalu menuju ke rumahnya.


"Aku harus cek sesuatu dari rumahku. Gak mungkin mama bilang aku Naira, kan? Masak mama gak kenal Rey anaknya sendiri."


Saat tiba dirumah Rey langsung mengecek album foto keluarganya. Saat itu kaki Rey gemetaran dan tidak dapat berdiri.


Rey berlari hingga terjatuh saat mencari sebuah kebenaran yang dialami saat ini.


"Ini tidak benarkan? apa-apaan semua ini."


Disaat itu Rey menyadari bahwa kehidupannya telah dirubah. Dari Rey memiliki wajah tampan yang terlupakan oleh semua orang menjadi Naira memiliki tubuh gendut dan jelek.


"Hiks... kenapa hal ini terjadi padaku? apa ini kutukan darimu Jenny karna aku penyebab kamu terbunuh. Tapi kenapa aku harus mengalami hal seperti ini ha? suara isak tangisan Rey tak bisa ditahan lagi.


Tintong... bunyi suara bel.


"Siapa yang datang Malam gini ya?" membukakan pintu rumah.


"Halo Naira, ibu datang karna kamu sudah lama tidak masuk sekolah." Sambil tersenyum.


"Eh... Ibu wali kelasku?"

__ADS_1


Begitulah, guru wali kelasku datang menjengukku karna aku sudah lama tidak datang ke Sekolah dan ingin tahu penyebab aku tidak masuk Sekolah. Dan aku juga menjelaskan juga tentang Rey kepada wali kelasku, tapi wali kelasku tetap saja tidak mengetahui siapa Rey yang aku maksud. Dan pada saat itu aku sudah menyadari, bahwa seorang Rey telah hilang didunia ini. Dan aku harus hidup sebagai perempuan yang bernama Naira. Perubahan terjadi secara alami dalam tubuhku saat ini. Napsu makanku saat ini bertambah dan paling hal gila kualami saat ini adalah aku lebih menyukai produk yang berhubungan perempuan saat ini. Sungguh hal gila yang aku alami saat ini.


"Hm... pagi ini adalah hari pertama aku pergi ke Sekolah sebagai perempuan. Baiklah paling tidak aku bisa menerima kenyataan ini. Setidaknya inilah caraku menembus dosaku sama Jenny." Sambil memasang wajah sedih.


"Hei gendut."


"Imel lama tak jumpa ya. Eh... tunggu kamu bilang apa aku tadi, gendut?" sambil memasang tanpang marah.


"Haha... teman-teman lihat ni gendut sudah berani melawan sama kita, sepertinya harus kita kasih pelajaran. Sindy bagusnya anak ini kita apakan?"


"Hehe... ups... maaf air gue tumpah ni." menyirami air minum kewajah Naira.


"Apa ini? kenapa aku gak bisa melawan mereka? hosh... hosh... akukan dulunya lelaki, kenapa tidak bisa membela diri? Apa karena sosokku saat ini? Aku sangat ketakutan saat ini. Siapapun yang ada disini tolong aku. Kenapa kalian hanya melihatku saja bodoh. Kenapa kalian tidak membantuku?" gumam hati Naira.


Kalian tahu inilah awal mulai pembulian terjadi padaku saat itu, aku hanya pasrah apa yang mereka lakukan kepadaku. Karena ketakutan pada diriku tak sanggup aku lawan. waktu terus berlalu, mereka sering mengerjai aku saat itu. Semua orang yang aku kenal, mulai dari mantan-mantanku, teman laki-laki sesama pemain vollypun mereka merasa jijik padaku saat ini dan melakukan pembulian padaku setiap harinya. Aku perna melakukan pelaporan dengan Kepala Sekolah. Namun karena Imel adalah anak Kepala Sekolah mereka hanya meminta maaf saja tanpa menindak lanjuti kasus ini. Sehingga pembulian padaku bertambah parah dari biasanya. Orang tuaku mereka sibuk dan susah dihubungi.


"Aku mau pindah dari sekolah ini, siapapun tolong aku hiks... hiks...."


Itula asal mulanya aku jadi perempuan gendut yang dibully dan di kenal sebagai Naira di Sekolahku.


.


.


Tok... tok... bunyi ketukan pintu.


"Siapa ya?"


"Halo Naira selamat pagi." Sambil tersenyum manis kearah Naira.


"Eh? Kak senior Kevin? Kenapa kakak datang lagi ke Rumahku?"


"Hehe... kitakan searah pergi ke Sekolahnya. Jadi ayo kita pergi bareng lagi." Sambil memasang tampang malu-malu.


"Baiklah kak senior, ayo kita pergi bareng ke Sekolah." Sambil tersenyum.


Disaat aku butuh pertolongan saat pembulian orang-orang di Sekolah, dialah satu-satunya orang yang menolongku saat itu. Padahal dulunya aku sangat membencinya ketika aku masih menjadi laki-laki. Tapi pada saat itu, dia menolongku dan malah menyatakan perasaan dengan perempuan gendut ini. Apa yang harus kulakukan?

__ADS_1


Tetapi, aku merasa bersyukur saat ini, karna aku tahu siapa yang tulus menyayangi karena kekuranganku saat ini. Bukan menyayangiku karna ketenaranku saat menjadi laki-laki. Mungkin aku sudah menemui satu sahabat yang benar-benar yang sayang padaku apa adanya yaitu kak senior Kevin. Mungkin ini adalah awal perjalanan hidupku untuk merubah segala perbuatanku dulu kepada Jenny, gadis yang aku bunuh saat itu.


__ADS_2