
"Ibu tanya sekali lagi, apa benar kalian membuli Naira?" teriak ibu Yasmin kepada Imel dan rombongannya.
"It... itu mana mungkin terjadi. Hey! Naira katakan kepada Ibu Yasmin kalau itu tidak benar." Ujar Imel dan menatap kearah Naira.
Nairapun hanya diam dan menolehkan pandangannya kepada Imel.
"Haduh... kepala ibu jadi pusing jadinya karena tingkah lakumu ini Imel. Walaupun kamu ini anak Kepala Sekolah, etikamu harus dijaga juga. Sebenar ibu ingin mengajak kalian ke kantor Kepala Sekolah setelah selesai pelajaran ibu nantinya. Tapi karena kamu bikin ribut begini, sepertinya kalian berlima ikut ibu ke ruang Kepala Sekolah sekarang!" teriak ibu Yasmin sambil memarahi Imel dan 4 orang rombongannya.
"Baik buk." Ujar Imel dan rombongan dengan menundukkan kepalanya karena malu karena teman sekelasnya memperhatikan mereka.
"Kalau begitu, ibu tinggalkan kalian dulu yang berada di kelas ini dan kalian yang masih berada dikelas, kalian kerjakan tugas soal halaman 48 sekarang juga. Kalau begitu ibu pamit dulu. Dan kalian ikut ibu keruangan Kepala Sekolah sekarang."
Buk Yasminpun pergi meninggalkan kelas 2 bersama Imel dan gerombolannya.
"Hei Naira." Ujar Daniel.
"Kenapa lagi? Apa belum puas kamu ngisengin aku?"
"Wah... sepertinya putri salju sudah ingat denganku sekarang! Atau kamu pura-pura tidak ingat. Apa kamu menghindar aku karena hal ini?" sambil tersenyum.
"Berhenti tersenyum dihadapanku seperti itu, dan kalau kamu sudah tahu alasan aku menghindarimu sekarang. Jadi berpura-puralah kita tidak kenal dihadapan banyak orang. Karena aku tidak ingin menjadi pusat pembulian karenamu." Ujar Naira dengan menatap sayu kepada Daniel.
"Oh... jadi Naira ini di Sekolah sering di bully oleh teman-temannya ya, tapi kenapa...." Gumam hati Daniel.
"Tapi kenapa kamu hanya diam saja, apa kamu tidak ada teman membantumu?" tanya Daniel dengan tatapan yang sekarang berubah jadi serius.
"Begitulah, siapa yang mau berteman dengan perempuan gendut seperti aku. Mereka di kelas ini mungkin menganggap aku ini seperti tidak ada di kelas ini. Jadi buat apa mereka membantuku, toh... kalau aku jadi mereka aku akan berperilaku sama, hanya melihat seseorang di bully tanpa membantunya. Karena aku ini sungguh menjijikkan, bukan?" ujar Naira dengan kesedihan diwajahnya.
"Cih... ternyata orang di kelas ini lebih menjijikkan dari kamu ya Naira." Teriak Daniel yang membuat orang di kelas terkejut dengan ucapannya.
"Apa maksudmu anak baru." Ujar salah satu murid yang berada di kelas tersebut.
__ADS_1
"Hey apa kalian tuli? Aku bilang kalian ini sangat menjijikkan." Teriak Daniel dengan lebih keras dari sebelumnya.
"Apa kau bilang? Sini kau brengsek kalau mau jadi preman disini, aku tidak peduli kalau kamu itu murid pindahan baru dari mananya." Ujar murid tadi dengan tatapan marah kepada Daniel.
"Hey kau yang menantang aku? Siapa namamu brengsek?"
"Wah... apa ini, murid baru sialan! Kamu malah tanya nama aku? Baiklah kalau itu maumu. Nama gue Bagas, gue ketua kelas disini dan juga aku nggak suka melihatmu dari tadi karena nebar pesona saja di kelas ini."
"Apa kau bilang!" teriak Daniel dengan amarah yang siap memukul Bagas.
"Cukup!" teriak Naira sambil menggengam tangan Daniel.
"Hey Naira apa yang kamu lakukan? Menjauhlah dariku, aku ingin memberi pelajaran kepada ke ketua kelas kalian yang nggak berguna ini."
"Hiks... hiks... sudah cukup Daniel, aku tidak ingin kau seperti aku. Aku ingin kau...." Ujar Naira dengan tangisan airmata yang tidak bisa ia tahan.
"Ke... kenapa aku seperti ini? Kenapa aku bisa luluh dari perintah perempuan ini. Dan lagi, aku tidak tega melihat dia menangis karena aku." Gumam hati Daniel dengan menatap kearah Naira.
"Apa kau bilang?" ujar Bagas dengan tatapan marah kepada Daniel.
Tin tong... bunyi bel Sekolah yang menandakan jam istirahat.
"Wah... apa ini? Sepertinya jam istirahat sudah dimulai ya, ayo Naira kita pergi. Kamu bukannya harus jadi pemanduku berkeliling di Sekolah ini?" sambil tersenyum kearah Naira dan menggenggam tangan Naira kemudian membawa Naira keluar dari kelas tersebut.
"Hey! Tunggu, urusan kita belum selesai, kenapa kau acukan aku seperti orang gila, sialan. Hey mau kemana kau? Urusan kita belum selesai." Teriak Bagas.
Naira dan Danielpun meninggalkan Bagas tanpa memperdulikan omongan Bagas tersebut.
"Ja... jad... jadi bisakah kau melepaskan tanganku? Kita sudah menjauh dari mereka bodoh." Ujar Naira dengan tatapan marah kepada Daniel.
"Ups... benar juga ya! Hehe..." sahut Daniel sambil melepaskan tangannya dari Naira.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong bukannya kamu itu teman kecil kak senior Kevin, seharusnya kamu harus kelas 3 dong sekarang, kenapa malah harus masuk ke kelas yang sama denganku?" ujar Naira dengan wajah bete.
"Hihi... kamu itu lucu ya Naira, apa segitu penasarannya kamu mengenai aku? Kalau kamu ingin tahu, akan aku jawab pertanyaanmu itu."
"Cih... tidak usah, untuk apa aku...."
"Karena kamu! Alasan aku kita sekelas sekarang, adalah kamu." Dengan tatapan serius kearah Naira.
Deg... deg... bunyi detak jantung Naira.
"Apa ini? Kenapa detak jantungku begini? Kalau dilihat dia memang sangat tampan. Tidak-tidak, yang jelas dia adalah orang yang nyebelin. Dan lagi pula aku ini laki-laki." Gumam hati Naira dengan tampang memerah di pipinya.
"Haha... lihat itu! Pipinya Naira memerah saat aku bilang alasannya karena dirinya. Sungguh muka yang lucu, harus aku foto mukamu saat ini." Tawa Daniel sambil mengejek.
"Dasar anak sialan!" teriak Naira sambil menginjak kaki Daniel.
"Aw... aw... sakiit, hehe... aku becanda kamu kok segitunya ya." berusaha membujuk Naira yang kini sedang marah terhadapnya.
"Aku tidak peduli! Lagi pula tugasku hanya mengajakmu keliling ke Sekolah ini." Ujar Naira sambil menahan rasa kesalnya.
"Benarkah kamu tidak peduli? Hehe... syukurlah, lagi pula aku duduk di kelas ini karena aku bukan murid pintar."
"Apa maksudmu Daniel?"
"Apa kamu kecewa kalau aku tidak sepintar atau sejenius Kevin? Mungkin bisa dibilang aku ini, murid yang malas pergi Sekolah dan biasanya tidur di kelas. Dan aku ini memang seumuran dengan Kevin, hanya saja aku sempat tinggal kelas. Jadi aku merasa tersinggung kalau kamu manggil aku dengan Daniel lo!" sambil tersenyum kearah Naira.
"Begitukah? Maaf kak Daniel?" ujar Naira dengan tatapan bersalah.
"Hihi... ternyata dia cukup lucu juga di kerjai ya, apalagi tampang polosnya ini. Jadi semakin ingin kukerjai ni anak. Hmm... dan akhirnya aku mengatakan sejujurnya kalau aku perna tinggal kelas sama gadis ini, walau aku gak semuanya aku jelaskan sich. Kenapa aku harus menjelaskan segala ya?" Gumam hati Daniel sambil menatap kearah Naira.
"Hei... Daniel sialan berhenti kamu menatap Naira seperti itu." Teriak Kevin dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Oh... ternyata Kevin ada disini ya." Ujar Daniel dengan senyuman diwajahnya.