Change Is Gendut

Change Is Gendut
Sebuah Serpihan Mimpi Kenangan


__ADS_3

"Gelap... kenapa semua jadi gelap?


Eh... anak kecil itu siapa?"


"Ternyata itu aku ya... apa ini didalam mimpiku?"


"Mama hiks... hiks...."


"Aduh anak mama jatuh dari sepeda ya? Cup cup Rey sayang sini." Memeluk Rey.


Ternyata mama dulu perhatian sama aku ya. Tapi semenjak....


"Mama papa hari ini Rey uda umur 15 tahun lo! tadi pas Rey dijalan, Rey lihat ada brosur Festival lo pa, nanti sore acara Festival diadakannya. Mungkin kita bisa rayakan ulang tahunku disana ya. Hehe...." Sambil tersenyum.


"Aduh Rey kamu ini uda besar, ngapain ulang tahun dirayain coba, kau itu anak laki-laki nggak usah pakai dirayain ulang tahun segala. Kamu tahu papa dan mama sibuk sekarang mau persiapan pergi keluar Negri. Kamu tu harusnya belajar yang benar aja dulu."


"Iya pa, Rey ngerti." Pergi dengan muka sedih.


Setelah itu, perhatian kedua orang tuaku hilang bagaikan debu yang di hembus oleh angin. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sehingga saat mereka membawaku pindah keluar negri bersama-sama, aku menolaknya. Aku lebih memilih tinggal di Rumah ini, karena disini ada kenangan perhatian dari mama dan papa. Saat aku masih mereka sayangi dulunya. Untuk apa aku pergi dengan mereka, nantinya pasti mereka sibuk saja dengan pekerjaan mereka. Hingga sedikit demi sedikit, aku menjadi anak pendiam pada usia 15 tahun dan saat itu aku masih anak SMP....


"Hei kalian tengok tu Rey, makin lama dia makin ganteng, kan?" bisikan para gadis.


"Ia kamu benar! Rey kalau diperhatikan dia makin ganteng saja. Tapi dia kok pendiam begitu ya? apa aku deketin aja dia. Mana tahu dia mau jadi pacarku. Hehe...."


"Ih... kamu curang, kalau mau deketin bareng dong. Kalau masalah hati biar dia yang nentukan siapa yang akan dipilihnya."


"Hehe... iya-iya kamu benar, ayo kita kesana." Para perempuan itu pergi menuju ke meja Rey berada.


"Halo Rey." Sapa para gadis-gadis dengan senyum dipipi mereka.


"Ha... hal... halo teman-teman." Sapa balik Rey dengan wajah gugup karena bingung dengan keadaannya yang dikelilingi para perempuan dimejanya.


"Kamu kok di Sekolah dari dulu pendiam saja. Kamu tahu gak, kalo diperhatikan dengan lebih jelas, kamu itu makin lama makin tampan tahu." Ucap salah satu perempuan sambil mendekatkan mukanya kemuka Rey.


"Eh... aku tampan?" muka Reypun memerah seketika.


"Ia kamu tampan banget. Kalau gitu kamu mau berteman dengan kami?" S?sambil tersenyum.

__ADS_1


"Berteman? Tentu saja aku mau." Senyum balik Rey kepada para perempuan tersebut.


Semenjak itu aku yang pendiam di Sekolah menjadi orang yang lebih ceria. Aku perlahan-lahan menjadi pusat perhatian para gadis-gadis. Teman laki-lakipun mulai mendekatiku, hingga saat itu mereka memberiku banyak perhatian kepadaku. Mungkin ini yang namanya kemalangan yang tak selamanya dipihakmu. Keberuntungan pasti suatu saat menjumpaimu. Perhatian dari orang tuaku mungkin aku tidak membutuhkannya lagi, karna perhatian teman-teman sudah cukup bagiku. Tetapi....


"Rey aku suka kamu dari dulu. Jadi aku mohon terimalah perasaanku."


Plak... sebuah tamparan mengenai pipi.


"Apa kau bilang? Rey itu milikku tahu." Sambil membalas tamparan.


"Hey... kalian apa-apaan ini, hentikan! Mencoba menghentikan pertengkaran para gadis tersebut.


"Rey kamu pilih siapa diantara kami? Aku gak bisa berpura-pura lagi, Kami ini ingin jadi pacarmu tahu!" kedua gadis itu mendekati Rey.


"Berpura-pura? Apa maksud kalian?" Rey Kaget mendengar perkataan perempuan tersebut.


"Aduh Rey... mana ada perempuan berteman sesama lelaki kalau perempuan itu gak ada maksud lain. Kami di Sekolah itu mengagumimu tahu. Jadi sebelum yang lain menyatakan perasaannya terhadapmu lebih baik kami berdua menyatakannya duluan. Jadi kamu pilih siapa diantara kami berdua?" lebih mendekatkan wajahnya ke Rey.


"Eh... it... itu." Rey yang kebingungan pergi meninggalkan kedua gadis tersebut.


"Apa salahku? salahmu tahu."


"Ih... salahmu bukan salahku."


"Salahmu."


"Salahmu tahu."


"Tidak salahmu."


(Begitu aja terus mbak sampe kiamat. 😒 Perempuan tak bisa disalahkan).


Ketika itu aku baru menyadari dari perkataaan perempuan tersebut. Perhatian mereka selama ini hanya kepalsuan. Teman-teman laki-lakiku pun sama, mereka berteman denganku karena para perempuan banyak mendekatiku sehingga aku bisa mendekatkannya kepada mereka. Waktu berlalu, mejaku penuh surat cinta dan coklat. Aku tidak tahu harus bagaimana. Jadi aku punya cara agar perhatian mereka terus tertuju padaku. Aku harus menerima perasaan mereka semua, yaitu berpacaran beberapa minggu dengan mereka dan memutuskan mereka. Jadi mereka tidak akan bertengakar lagikan? Dan perhatian mereka pasti tidak akan hilang kepadaku. Waktu terus berlalu, aku semakin menyukai perhatian mereka curahkan terhadapku saat ini. Berpacaran dan berteman adalah kebahagian baru buatku. Sehingga aku melupakan kepura-puraan mereka sebelumnya. Kemudian Rey yang sekarang bukan Rey yang dulu lagi. Itulah keegoisan manusia.


"Hey... Rey sayang."


"Ia Imel Sayang." Sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Imel sayang? Hei gendut kau mau mati ya." Sebuah pisau siap menusuk Rey.


"Tidaaaak...."


Nairapun bangun dari mimpi buruknya.


"Naira kamu sudah sadar?" menghampiri Naira sambil memegang tangan Naira.


"Kak senior Kevin? Aku ada dimana?"


"Kamu sekarang di Rumah Sakit. Buk Rita dan aku pergi membawamu kesini karena kamu katanya jatuh hingga pinsan. Apa benar kamu terjatuh? atau jatuhmu itu disengajakan oleh seseorang?"


"Eh it... itu...."


"Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada kak senior Kevin. Kalau aku bilang, mungkin pembulianku makin parah dari ini." Gumam hati Naira.


"Hehe... iya aku jatuh sendiri kok. Eh... ngomong-ngomong katanya kamu bareng buk Rita kesini. Tapi ibu Rita kemana?" Mengalihkan pembicaraan agar kevin tidak menanyai masalah pembuliannya.


"Oh... ibu Rita pergi keluar beli sarapan. Dari kemarin dia belum makan, makanya aku yang jagaiin kamu sekarang."


"Oh... git...."


Belum sampai Naira menyelesaikan ucapannya, Kevin mendekati Naira dan memeluk Naira dengan erat-erat.


"Hiks... hiks... Naira untung kamu tidak apa-apa aku sangat khawatir tau." airmata Kevinpun jatuh karena tak tertahankan melihat Naira dan seketika Kevin memeluk Naira.


"Eh... kak senior, apa yang kakak lakukan? Nanti dilihat orang-orang lo, mereka bisa salah paham." Muka Naira memerah saat Kevin memeluknya.


"Siapa yang peduli, aku ingin seperti ini saja sebentar. Kamu tahu, ini salahmu yang bikin aku khawatir." Memasang muka cemberut dihadapan Naira.


"Haha...." Tawa Naira.


"Kenapa kamu ketawa? Tidak lucu tahu." Ujar Kevin.


"Hehe... tidak apa-apa kok." Senyum Naira.


Sekarang aku mengingat semua serpihan kenangan burukku itu. Alasan aku mempunyai sifat kesombongan pada diriku, yaitu ketamakan pada diriku yang haus akan perhatian terhadap semua orang. Jenny maafkan aku telah membuatmu seperti itu. Kamu mempunyai perasaan yang samakan denganku? yaitu ingin dicintai dan diakui oleh orang-orang. Sekarang sudah ada orang mencintaiku dengan tulus yaitu Kak senior Kevin. Aku akan menjadi teman baiknya mulai sekarang. Dan berhenti hidup dengan masa lalu kejam itu. Dan Jenny aku akan menebus kesalahanku terhadapmu. Tapi sekarang aku bingung cara menebusnya. Mungkin suatu saat aku tau cara menembus kesalahanku itu. Dan Jenny maafkan kesalahanku waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2