
"Gelap... kenapa semua terlihat gelap? Aku dimana sekarang? Seseorang tolong aku, aku takut gelap!" dengan eskspresi ketakutan sambil memegang kepalanya dengan kedua telapak tangannya.
"Kak Daniel." Sapa sosok seorang perempuan dengan rambut panjang yang memiliki wajah imut sambil tersenyum manis kepada Daniel kemudian meninggalkan lelaki tersebut.
"Jenny... Jenny...." teriak Daniel yang mengejar sosok perempuan tersebut yang memakai gaun putih, kemudian sosok perempuan tersebut yang tidak lain adiknya pun menghilang dengan sekejap.
"Jennyyyy... " teriak Daniel yang terbangun dari tempat tidurnya yang membuat airmatanya keluar.
"Hiks... hiks... ternyata cuma mimpi yang sama lagi. Oh ya! Kemarin aku menyatakan perasaanku terhadap Naira dan melakukan tindakan yang bodoh hingga Naira lari meninggalkan aku sendirian kemarin." Gumam hati Daniel kemudian dia bangun dari tempat tidurnya, lalu dia mencoba mengusap matanya, untuk menghapus air matanya yang membengkak akibat menangis dari mimpi buruknya.
Kalian tahu, hampir setiap saat aku memimpikan hal yang sama dan membuat rasa bersalah pada adik tiriku yang bernama Jenny. Mimpiku tersebut membuat tiap malam saya mengingatkan memori akan masa lalu dengan adik tiriku yang bernama Jenny. Jenny adalah gadis yang periang dan sangat imut dulunya, hingga aku membuat senyumannya itu luntur karena perasaanku yang semakin kuat terhadapnya dan juga membuat fisik kecantikannya pudar dan hingga dia menjadi perempuan penyendiri. Hal ini dikarenakan kesalahanku melihat dia sebagai sosok sebagai perempuan, bukan sebagai adik tiriku yang seharusnya aku sayangi. Pada saat itu adikku Jenny masih kelas 1 SMP dan aku Kelas 2 SMP.
"Kak Daniel! Oi kak Daniel sini lihat kameranya dong." Ujar perempuan dengan rambut pendek sebahu dengan memiliki wajah tampak imut.
"Jenny, hey adik bodoh kenapa kamu memoto sesuka hatimu? Kamu tahu hal ini membuatku malu tahu." Jawab Daniel dengan tampang memerah dipipinya karena malu.
"Hehe... kakak ini norak kali, hmm... kalo dilihat kakakku ini semakin hari semakin tampan juga ya. Hehe... sayangnya kita ini kakak adik." Sambil mendekatkan mukanya dengan muka Daniel.
"Hey... berhenti kamu membuatku malu begitu, kamu ini selalu saja merepotkanku. Dasar gadis pendek." Mencoba mencubit pipi Jenny yang sedang mendekatkan wajahnya sekarang, agar Daniel bisa menghindar dari keisengan adiknya tersebut.
"Cih... kak Daniel gak asik, walaupun aku pendek gini. Aku ini masih dalam masa pertumbuhan tau, hanya saja pertumbuhanku gak seperti kakak yang ketinggian kayak Jerapah. Pokoknya yang salah itu kak Daniel." Oceh Jenny dengan memasang wajah cemberut dihadapan kakaknya sendiri.
"Hehe... ia-ia kakakmu ini yang salah, jadi kamu puas?"
"Hehe... tentu saja!" jawab Jenny dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Kya... kak senior Kevin." Teriak gadis-gadis saat melihat Kevin yang lagi berjalan dengan santainya menghampiri Daniel.
"Wah... siapa ini? Ternyata Kevin sikutu buku, ternyata kamu semakin hari semakin populer saja ya." Ujar Daniel ekspresi mengejek.
"Sudahlah, aku gak mau berdebat denganmu hari ini. Hari ini aku mau mengerjakan tugas kelompok denganmu. Hari ini kita yang akan persentasi, jadi kamu pelajari ini." Sambil memberikan materi kepada Daniel.
"Aduh susah sekali, aku gak ngerti sama sekali ni." Sambil melihat semua materi yang akan mereka persentasikan.
"Kalau gitu ayo kita pelajari sekarang. Dan kamu, sepertinya aku harus meminjam kakakmu ini dulu." Dengan tatapan datar terhadap Jenny.
"Hehe... iya kak senior Kevin." agak ketakutan saat melihat Kevin.
"Hey sikutu buku sialan! Jangan membuat adikku takut dengan wajah datar jelekmu itu." Sambil memukul pundak Kevin dengan buku.
"Ia-ia maaf, nama dia siapa?" ujar Kevin.
"Hehe... perkenalkan dia adik gue, namanya Jenny. Gue sudah perna cerita sama lo dulukan, kalau gue punya saudara tiri." Jawab Daniel.
"Ia halo Jenny salam kenal." Senyum Kevin kearah Jenny.
Pada saat itu, entah kenapa melihat Kevin dan adikku Jenny yang saling sapaan. Perasaan cemburuku selalu datang saat Jenny menyapa lelaki selain diriku, entah sejak kapan perasaan cemburu itu berlangsung. Aku tidak tahu! Jadi itulah awal pertemanan Kevin dan Jenny adik tiriku.
Perjalanan pulang ke Sekolah.
"Aduh... hari ini aku mendapat nilai rendah lagi." Ocehan Jenny yang melihat selembaran kertas yang dia pegang.
"Hehe... siapa suruh kamu itu bodoh." Ejek Daniel terhadap adiknya.
__ADS_1
"Is... siapa suruh dapat kakak bodoh juga yang gak bisa ngajarin adiknya semua materi pelajaran di Sekolah." Balas ejekan Jenny sambil menggerutu.
"Hey apa ini, kamu ngajak berantem lagi?" emosi Daniel mulai memuncak melihat sikap adiknya tersebut.
"Wah... apa ini, kakakku yang bodoh ini lagi marah ya?" membalas perkataan Daniel dengan emosi yang sama.
Saat itu, aku dan adikku Jenny berantam yang kekanakkan. Tanpa kami sadari, karena emosi keegoisan kami masing-masing. Kami main dorong dorongan untuk melampiaskan kemarahan kekanakan kami tersebut, sehingga aku dan adikku terjatuh di bawah rumput hijau membuat suasana berubah saat itu. Saat itu adikku Jenny terbaring dibawah sedangkan aku diatasnya saat itu, muka kami saling berdekatan. Desahan napasnya bisa aku dengar sampai-sampai mukaku memerah karena saking dekatnya mukaku dengan muka adikku tersebut.
"Jen... jenny... kamu tidak apa-apa?" ujar Daniel yang saat ini detak jantungnya berdetak sangat kencang.
"Ia aku tidak apa-apa." Jawab Jenny yang malu dan mengalihkan pandangannya dari Daniel.
"Aku minta maaf ya!"
"Eh? Kenapa kakak minta maaf? Lagi pula gak ada yang salah kok." Jenny terkejut saat mendengarkan perkataan dari Kakak tirinya tersebut.
"Hehe... iya- iya kenapa aku minta maaf ya." Sambil tersenyum.
"Terus sampai kapan posisi ini, seperti ini terus?" gerutu Jenny sambil menendang Daniel.
"Aduh sakit... dasar si pendek." Meronta kesakitan saat menerima pukulan dari adiknya sehingga posisi tersebut berubah dan membuat Daniel terlempar sedikit menjauh dari adiknya.
"Pfft... haha." Tawa Jenny.
"Hey... kenapa ketawa? Aku kesakitan atas tindakanmu ini bodoh." Oceh Daniel yang cemberut.
"Haha... tidak, hanya saja aku bahagia mendapatkan kakak nyebelin kayak kak Daniel, aku tidak bisa membayang jika aku tidak bisa bertemu dengan kakak sebaik kak Daniel." Senyum Jenny yang saat itu membuat rambutnya terbang oleh angin dan menunjukkan pesona kecantikannya.
__ADS_1
"Kakak ya? Sepertinya aku tidak bisa menganggapmu sebagai adik lagi Jenny. Entah sejak kapan aku bersamamu, perasaan itu beransur berubah. Aku sudah mencoba membuang perasaan itu, tapi semakin hari perasaan ini semakin kuat. Maksud berkata maaf tadi adalah, maaf sepertinya aku menyerah menganggapmu sebagai adik. Mungkin aku akan berniat menyatakan perasaanku padamu. Walau kita kakak adik, kamu hanya adik tiriku, kan? jadi kumohon jangan menganggapku sebagai kakakmu, tapi tolong anggap aku sebagai seseorang pria sebagai mana seseorang menyukai lawan jenisnya." Gumam hati Daniel yang merasa gelisah difikirannya.
Jadi itulah awalnya semua keberantakan yang aku buat sendiri. Sehingga sedikit demi sedikit, kesedihan yang tak perna aku lihat dimata Jenny. Akhirnya pasti aku lihat karena keegoisanku sebagai kakak yang jahat bagi adiknya.