
"Kak senior Kevin tunggu!" teriak Naira memanggil Kevin yang berjalan lebih cepat dari pada Naira.
"Ada apa Naira? Bukannya semua sudah selesai. Antara aku dan kamu." Menghentikan langkahnya dengan menatap wajah Naira dengan penuh kesedihan.
"Kenapa kakak harus melakukan pengorbanan seperti itu ha? Bukannya kakak tidak ingin kuliah keluar negri? Aku tidak apa-apa kok, jadi berhentilah mengorbankan keinginan kakak demiku!" teriak Naira dengan airmata yang jatuh dipipinya.
"Hei... kenapa kamu berteriak seperti itu? Nanti orang-orang di Sekolah dengar lo." Sambil mengalihkan pandangannya dari Naira.
"Sakit... sangat sakit... kenapa hatiku sakit sekali saat ini? Perasaan ini, kenapa jadi seperti ini? Saat aku melihat muka senior Kevin yang seperti ini hatiku terasak sesak dan juga hatiku terasa dicabik-cabik oleh sesuatu." Gumam hati Naira sambil mengusap dadanya.
"Hiks... hiks...K kakak senior jangan mengalihkan pembicaraan kita, aku cuma ingin kita jaga jarak saja. Bukan berarti aku mau kakak mengorbankan keinginan kakak senior demi aku." Tangisan diwajah Naira tak bisa dia tahankan sehingga Naira menangis didepan Kevin.
"Hei Naira! Aku bilang jangan menangis seperti itu, nanti didengar oleh semua murid Sekolah ini loh?" mencoba mendekati Naira dengan tanpang yang merasa bersalah.
"Hiks... kenapa kakak senior tidak menjawab pertanyaanku? Apa kakak mau aku menjadi seseorang yang merasa bersalah ha? Jadi kumohon tolong jangan lakukan itu. Kakak bisa membatalkan barter dengan Kepala Sekolah tersebut dan pergi ke Universitas yang kakak inginkan. Kemudian berbahagialah dengan jalan pilihan kakak senior sendiri maka aku tidak akan merasa bersalah dengan kakak senior, jadi kumohon Kakak senior Kevin!" sambil memaksa senyuman dipipinya.
"Tidak Bisa, hal itu tidak bisa kulakukan Naira. Bagaimana bisa saya membatalkan Barter dengan Kepala Sekolah sialan itu, jika kamu akan terus kena bully di Sekolah ini. Dan alasan aku untuk tinggal di Indonesia tidak ada lagi, kamu tahu kenapa aku melakukan barter ini? Karna kamu Naira, seperti apapun perjuanganku mendapatkan perasaanmu tetap saja sama. Kamu tidak perna mencintaiku, jadi sebenarnya aku adalah seorang pengecutkan Naira! Dengan alasan barter ini, aku bisa menyelamatkanmu dari pembulian dan malah membuatmu merasa bersalah sekarang. Tapi kenyataannya aku ingin melarikan diri darimu. Karena aku sepertinya benar-benar mencintaimu Naira, hanya kamu Naira yang aku cintai dan mungkin tidak ada wanita lain dihatiku untuk sekarang atau masa yang akan datang." Mendekati Naira dan memeluk Naira dengan seerat-eratnya.
"Hangat... pelukan kak senior Kevin begitu hangat dan nyaman sekali. Ah... sepertinya aku akan kalah dari perasaan perempuanku saat ini. Apa aku terima saja perasaan kak senior Kevin saat ini? Sehingga aku tidak membuat jalan pilihannya hancur seperti ini karena aku. Tapi sepertinya keegoisanku ingin memilikinya semakin kuat dan... deg... deg... deg... detak jantungku semakin berdetak kencang. Apa dia dengar ya detak jantungku sekarang?" Gumam hati Naira sambil membalas pelukan hangat dari Kevin dan membuat pipi Naira menjadi merah.
"Wah apa ini? Ternyata teman masa kecilku lagi asik-asik pelukan di Sekolah ini ya? Nggak kusangka sikutu buku uda jadi seperti ini ya, apa aku panggil kamu sekarang sikutu buku mesum?"
Ketika mendengar suara seseorang yang akan menghampiri mereka. Naira dan Kevin sontak kaget dan melepaskan pelukan mereka masing-masing dengan begitu cepat.
"Da... daniel? Kenapa kamu ada disini?" dengan ekspresi kaget diwajahnya.
__ADS_1
"Hmmm? Jadi perempuan gendut ini ya, yang kamu maksud di Cafe kemarin? Wah! buahaha... Kevin perutku... hahaha seseorang tolong perutku sakit karna tidak bisa menahan tawaku!" dengan tampang mengejek.
"Hei Daniel sialan, berhenti mengejek Naira. Kalau kau melakukannya lagi kau tahu akibatnya, tidak peduli kau sahabat dekatku, aku akan membunuhmu. Jika kau menyakiti dia!" dengan tampang serius.
"Eh? Jadi benar dia? Aduh... maaf ya. Ngomong-ngomong sepertinya kamu uda berhasil mendekatinya Kevin, jadi sepertinya kamu tidak perlu bantuanku." Sambil tersenyum.
"Ha... apa dia bilang Kak senior Kevin? Bantuan mendekati?" tiba-tiba pipi Naira memerah saat mendengar ucapan Daniel.
"Hey... Kau sialan! Hentikan ocehan sembranganmu itu." Ujar Kevin kepada Daniel dengan tanpang jengkel.
"Hehe... wah lihat ini! Teman kutu bukuku terlihat sedang jengkel kepadaku. Oh ya, perempuan gendut ini namanya Naira, kan?" sambil tersenyum kearah Naira.
"Eh... it... itu, benar nama saya Naira kak." Sambil menundukkan kepalanya.
"Hmm.... tapi kalau saya lihat lebih dekat, mukanya Naira ini cukup imut ya! Apalagi sikapnya yang pemalu seperti ini. Waw sangat gemesin!" sambil mendekatkan mukanya kemuka Naira sehingga membuat Naira menjauhkan mukanya karena malu.
Plakk!! sebuah bunyi tinju mengenai muka.
"Aw... sakit! Dasar kutu buku mesum, kenapa kau memukulku?"
"Sudah ku bilangkan jangan ganggu Naira, apalagi kau mendekatkan muka kotormu itu kewajah Naira." Mendekatkan mukanya ke muka Daniel dengan ekspresi mengancam.
"Kya... ampyuuun Kevin." Sambil memohon ampun dengan ekspresi konyol.
"Pfft... Haha... eh? Maaf aku tertawa karena melihat tingkah konyol kalian, sepertinya kalian memang sahabat yang dekat ya! "sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hahaha" bunyi tertawa Daniel dan Kevin saat melihat Naira tertawa.
"Kalau begitu sepertinya aku harus pamit dulu ya kak senior Kevin. Mungkin aku harus kembali ke kelasku. Dan kamu namanya Daniel, kan? Mungkin ucapanmu banyak ngelantur dan bikin perasaan orang salah paham dengan tingkahmu. Tapi kamu sepertinya orang baik! Kalau begitu aku pergi ya dan kak senior kevin kasih tau dia tentang Sekolah kita ya. Bye!" Nairapun meninggalkan Daniel dan Kevin sambil berlari.
"Deg... deg... apa ini? Kenapa pipiku jadi merona begini? Apa karena kata-katanya bilang aku orang baik? padahal aku bukan orang seperti itu." Gumam hati Daniel dengan terus menatap Naira yang sedang berlari.
"Hei! Berhenti kau menatapnya seperti itu sialan." Sambil memukul pundak Daniel.
"Aduh... iya-iya aku mengerti, sepertinya kamu sudah berhasil mendapatkan perasaan perempuan itu. Yah... walau dia gemuk tapi dia cukup imut sich, dan dia juga memiliki sisi yang menggemaskan." Sambil tersenyum kearah Kevin.
"Wah... apa ini, sekarang kamu memujinya saat dia sudah pergi. Tapi kalau masalah perasaanku, sepertinya aku ditolak lagi olehnya." Dengan ekspresi wajah murung.
"Apa! Dia menolakmu? Dan berkali-kali dia menolakmu?"
"Yah... sepertinya dia tidak menyukaiku." Sambil mengeluh.
"Haha...." tawa Daniel.
"Apa ini? Kau mengejekku lagi?" dengan tatapan jengkel.
"Hey bukannya kamu perna memohon kepadaku di Cafe untuk menolongmu mendekati perempuan di Sekolahmu? Kamu tahukan aku ini pengalaman kalau masalah memikat hati perempuan, jadi aku akan membantumu." Sambil tersenyum kearah Kevin.
"Benarkah?" Ujar Kevin sambil menelan air ludahnya.
__ADS_1