
"Jadi inilah perlengkapan alat musik di Ruangan musik disini kak Daniel, disini ada beberapa Gitar yang bisa digunakan. Dan yang paling aku sukai disini adalah Piano kak, Hehe... sayangnya aku tidak pandai main Piano, jadi kalau pas lagi kelas musik, aku sering lihat orang main Piano." Sambil berjalan kearah alat musik tersebut dan kemudian Naira menoleh kearah Daniel.
"Begitukah? Sepertinya sangat menarik ya." Sambil tersenyum kearah Naira dan mendekatkan mukanya ke muka Naira.
"Eh? Kak Daniel, kenapa muka kakak dekat begini dengan mukaku?" ujar Naira dengan ekspresi kaget di wajahnya.
"Kenapa? Memang muka kita terlalu dekat ya? Kalau terlalu dekat itu, harusnya muka kita itu menempel, kan. Tapi sepertinya sekarang belum menempel ni. Jadi bisa dibilang muka kita nggak berdekatan, kan?" senyum Daniel.
Deg... deg... deg... bunyi detak jantung Naira.
"Apa ini? Kenapa situasinya jadi begini? Detak jantungku, kenapa bisa begini sich? Apa aku benar-benar sudah gila sekarang. Bukan hanya dengan kak senior Kevin saja, tapi kenapa hal ini juga terjadi bersama dengan kak Daniel ngeselin ini sich? Nggak boleh! Hal ini tidak boleh terjadi. Pokoknya aku harus menghindari kak Daniel secepat mungkin. Kenapa perasaan perempuanku saat ini bisa segampang ini menyukai laki-laki sich?" Gumam hati Naira sedang panik.
"Wah... sepertinya muka Naira memerah ya, saat ini. Apa kamu kurang sehat ya? Sini aku periksa sebentar kepalamu Naira, mungkin saat ini kamu lagi demam." Ujar Daniel yang kini mencoba memegang kepala Daniel.
"Ka... kak Daniel?" balas Naira sambil memejamkan mata dan mencoba mengelakkan kepalanya dari Daniel.
"Oke... sepertinya aku bisa menyelinap di ruangan musik ini tanpa ketahuan oleh Naira dan si Daniel sialan itu. Yosh, aku harus cari mereka berada di mana? Eh... bukankah itu Naira dan Daniel sialan itu? kenapa si b*jing*n itu menyentuh Naira seperti itu? Hey Daniel sialan! Berhenti kau menyentuh calon pacarku itu." Gumam hati Kevin dengan ekspresi sangat kesal sehingga tanpa sadar, Kevin menendang sesuatu dari ruangan musik tersebut sehingga membuat suara ditempat persembunyiannya.
Poom... bunyi salah satu alat musik yang ditendang oleh Kevin sehingga Kevin merasa cemas dan berusaha menyembunyikan dirinya.
"Apa itu?" ujar Naira sambil memandang kearah suara yang ia dengar.
__ADS_1
"Sst... sudah-sudah tak usah kau hiraukan Naira, palingan itu tikus yang lagi kawin saja. Kau tahukan tikus bisa bertindak mesum juga lo, jadi ayo kita lanjutkan yang tadi." Jawab Daniel sambil menyeringai karena rencananya sesuai dengan apa yang direncanakannya dan mencoba mendekati Naira.
"Kak... sepertinya kak Daniel terlalu dekat ni kak, nanti jika ada orang datang dan melihat kita seperti ini, bisa-bisa mereka malah salah paham nantinya kak Daniel." Keringat Naira mulai bercucuran karena merasa malu yang dilakukan Daniel.
"Tidak apa-apa, sebenarnya ada yang ingin aku omongin juga sama kamu Naira." Sambil tersenyum.
"Kak Daniel mau ngomong apa? Sampai kita harus berdekatan seperti ini?"
"Hihi... melihatnya seperti ini dia semakin imut juga ya! Dan Kevin kamu kira aku tidak tahu kamu lagi sembunyi disana ha. Aku sedang menunggumu ni, biar kamu keluar dari persembunyianmu itu. Agar aku bisa mengejekmu nantinya, pasti seru! Dan lagi pula melihat ekspresi Naira seperti ini, Dengan muka memerah dipipinya itu, aku yakin dia suka kepadaku. Apa aku kerjai dia ya?" Gumam hati Daniel.
"Naira aku ingin menanyai sesuatu kepadamu!" dengan tatapan serius.
"Eh? It... itu tentang musik, kan?"
"Kak Daniel it... itu... saya...." mencoba mengalihkan pandangan.
"Apasih yang mereka bicarakan? Sial aku tidak mendengar percakapan mereka, kalau aku keluar sekarang! Daniel pasti akan menertawakanku sebagai penguntit. Tapi disisi lain aku tidak mau Naira didekati oleh cowok brengsek seperti Daniel itu. Apalagi melihat mereka dekat seperti itu. Apa jangan-jangan Daniel itu suka sama Naira? tapi itu nggak mungkin, tipe Daniel itu bukan seperti Naira. Jelas dia suka wanita yang cantik dan seksi. Terus kenapa dia melakukan tindakan seperti itu? Sial, aku tidak bisa mengambil keputusan untuk keluar dari sini." Gumam hati Kevin yang tanpak gelisah.
"Aku sepertinya suka kamu Naira." Tanya Daniel sambil tersenyum dan kini muka mereka lebih dekat dari yang sebelumnya.
"Apa? Apakah yang kak Daniel bilang? Su... suka aku?"
__ADS_1
"Ia benar, mau berpacaran denganku?" ujar Daniel dengan santai.
Deg... deg... bunyi detak jantung Naira.
"Kenapa? Kenapa seperti ini? Seharusnya aku tidak boleh begini, kan? Perasaanku terhadap laki-laki saat ini mulai terbuka kepada semua laki-laki, termasuk kak senior Kevin dan kak Daniel. Hal ini tidak boleh terjadi, tapi kenapa hati ini sakit jika aku menolak seperti seseorang yang aku sukai. Tapi kenapa aku bisa suka sama Daniel ini dan juga kak senior Kevin? Apa yang harus kulakukan?" Gumam hati Naira yang kini tampak gelisah.
"It... itu kak! Sepertinya...."
Belum sempat Naira menyelesaikan jawaban atas pernyataan Daniel kepada Naira. Daniel memotong ucapan Naira.
"Wah... apa ini? Kau beranggapan aku serius ya? Aku tuh cuma suka wanita yang cantik dan seksi. Aku cuma bercanda tahu! Mana mungkin aku suka perempuan kayak dirimu. Hey Kevin kau bersembunyi disanakan? Sepertinya aku yang kalah dari permainan kubuat sendiri. Jadi keluarlah, aku mengaku kalah ni!" ujar Daniel sambil menghela napas.
"Cih... ternyata kamu mengerjai aku ya Daniel brengsek! Dasar bocah sialan bikin aku muak saja dengan mukamu itu, yang sering ngerjai aku." Ujar Kevin sambil keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju kearah Naira dan Daniel.
Plak! Sebuah tamparan keras mengenai pipi Daniel. Sehingga Kevin terkejut melihat hal tersebut.
"Hiks... hiks... apa kamu puas?" ujar Naira yang menangis karena perasaannya di permainkan.
"Aduh... sakit, hey Naira kamu kenapa? Kan aku cuma bercanda." Ujar Daniel sambil memegang pipinya.
"Candaanmu itu terlalu konyol tahu, sehingga aku ingin memukulmu. Bagaimana kamu bisa mempermainkan perasaanku seperti ini? Aku tahu aku bukan wanita seperti yang kamu inginkan, tapi kenapa kamu mempermainkan aku seperti ini?" ujar Naira sambil berlari meninggalkan Daniel dan Kevin diruangan musik tersebut sambil menangis.
__ADS_1
"Hiks... hiks... sakit... ternyata sakit ya saat perasaanmu dipermainkan seperti ini, padahal sebenarnya hal ini bagus jikalau si brengsek itu cuma bercanda saja denganku. Tapi tetap saja, perasaan perempuanku ini merasa sakit kalau dipermainkan seperti ini. Kamu tahu kak Daniel sialan, walaupun kita baru bertemu satu hari ini. Kamu telah membuat perasaan perempuanku ini jatuh hati kepadamu! Karena kamu yang membelaku saat aku dipermainkan dikelas saat kamu baru masuk di Sekolah ini. Kamu juga orang menyenangkan dan juga ngeselin, tapi kenapa kamu mempermainkan perasaanku seperti ini? Kak senior Kevin, sekarang aku sudah tahu rasanya disakiti. Tapi, kenapa harus begini? Kenapa aku merasa sakit seperti ini? Jenny kapan kutukan ini berakhir? Aku tidak sanggup menanggunginya. Karna aku takut melakukan sesalahan, yaitu jatuh hati kepada seseorang lelaki yang seharusnya tidak boleh terjadi. Walau bagaimanapun aku ini tetap saja lelaki yang dikutuk." Gumam hati Naira .