
"Hey! Apa kau sekarang sudah gila? Aku tidak akan tertipu kedua kalinya sama lolucon yang kamu buat kali ini." Ujar Naira yang mencoba melepaskan posisi pemojokan yang dilakukan oleh Daniel.
"Apa kamu kira aku becanda Naira? Kamu lihat mataku sekarang, apa aku kayak orang yang lagi bercanda sekarang? Aku tanya sekali lagi, kamu suka aku, kan?" menahan Naira dengan sekuat tenaga agar Naira tidak lari dari posisi mereka sekarang.
Deg... deg... deg... bunyi detak jantung Naira.
"Kenapa jadi begini? Apa yang merasuki Daniel kayak gini sich? Aduh... kenapa detak jantungku berdetak kencang lagi saat dia menyatakan perasaannya padaku? Nggak boleh, aku yakin dia mau mengerjaiku lagi. Dia ini kapan seriusnya sich? Setelah aku terjebak perangkapnya, Daniel sialan ini pasti menertawaiku, pokoknya aku menghindar saja dari permainan yang dibuatnya sekarang." Gumam hati Naira yang merasa perasaan aneh menerima pernyataan dari Daniel yang kedua kalinya.
"Tidak... aku tidak suka kamu! Kamu sudah puas dari jawaban yang kamu dengar sekarang. Jadi berhentilah menahanku untuk pergi dari sini, kamu tahu dengan tindakan pemojokan ini terhadapku, bisa-bisa orang lewat salah sangka dan aku tidak mau berurusan dengan fansmu itu!" ujar Naira dengan menatap Daniel lebih serius.
"Tenang Naira disini sepi jadi gakkan mungkin orang lewat. Kalau begitu ayo kita berciuman!" ujar Daniel sambil menelan air ludahnya.
"Apa?" Nairapun terkejut saat Daniel mengatakan hal yang memalukan tersebut.
"Aku serius! Ayo kita berciuman untuk memastikan perasaan kita." Kini pipi Daniel memerah yang menunjukkan kesungguhan dari Daniel saat ini.
"Apa dia sudah gila? Kenapa dia mengatakan hal memalukan seperti ini dengan santainya? Tapi tetap saja aku nggak bisa melakukannya, aku tidak mau melakukan ciuman keduaku oleh kak Daniel. Lagi pula ciuman pertamaku sudah diambil oleh kak senior Kevin saat di Rumah Sakit. Aduh.... kenapa aku memikirkan hal semacam ini pula, aku ini tetap saja seorang lelaki yang normal, hanya saja aku memiliki perasaan perempuan dikarenakan aku sekarang dalam wujud perempuan gendut ini. Tapi dilihat ekspresinya sekarang dia benar-benar serius kali ini. Pokoknya aku harus pergi dari kak Daniel bodoh ini!" gumam hati Naira yang sedang panik memikirkan hal tersebut.
__ADS_1
"Kak Daniel nggak usah bicara yang tidak-tidak dech, kakak tenangkan fikiran kakak dulu. Lagi pula, tipe kakakkan bukan seperti diriku saat ini, kan? Jadi bersikaplah kayak kak Daniel yang menjengkelkan seperti biasanya ya." Jawab Naira dengan tersenyum dan mencoba melepas pemojokan oleh Daniel dengan pelan-pelan.
"Kalau aku bilang pernyataan cintaku pada saat di ruang musik itu nyata, bagaimana pendapatmu Naira?" Teriak Daniel.
"Eh? Maksud kak Daniel? kak Daniel gak usah...."
"Aku bilang pernyataanku diruangan musik itu memang perasaanku yang sesungguhnya! Saat aku mendengar jawabanmu yang sepertinya ingin menolakku, aku malah bilang hal itu candaan bukan? saat aku menyatakan cintaku padamu di ruang musik itu. Karna aku takut mendengar kenyataan kalau kamu memang menolakku dan apalagi kau tahu disitu ada Kevin sahabatku diruang tersebut yang sedang bersembunyi. Jadi aku tidak mau berhianat dengannya juga, namun hatiku tidak bisa berdusta lagi Naira, sepertinya aku melihatmu sebagai perempuan yang aku sukai." Kini airmata Daniel keluar saat dia menyatakan perasaan yang tulus dihatinya membuat kedua pipinya tersebut basah oleh airmatanya.
"Ka... kak Da... da... niel...." jawab Naira yang terbata-bata saat mendengar perkataan perasaan Daniel yang sesungguhnya dan membuat Naira terkejut seketika itu juga.
"Kenapa aku tidak bisa melepaskan pelukan kak Daniel, aku merasa kak Daniel bukan seperti kak Daniel yang aku kenal baru-baru ini. Dia saat ini seperti seseorang lagi kehilangan sesuatu, tapi entah apa itu. Aku bisa merasakannya karena pelukannya terasa seperti orang kehilang sesuatu." Gumam hati Naira dan mencoba membalas pelukan Daniel.
"Kak Daniel sepertinya aku...."
"Kamu tidak usah menjawab perasaanku sekarang Jenny."
"Eh?" Nairapun terkejut saat Daniel memanggil namanya dengan sebutan Jenny, wajah Naira tiba-tiba memucat ketika dia mengingat seseorang yang perna dia bunuh tersebut. Sehingga dia mendapat kutukan tersebut.
__ADS_1
"Maaf Naira, aku malah memanggil kamu dengan sebutan Jenny. Kamu tidak usah khawatir dia cuma adikku kok, jadi kamu tidak usah berfikir macam-macam ya. Aku sekarang benar-benar memandangmu sebagai perempuan yang aku sukai." Jawab Daniel sambil melepaskan pelukannya dari Naira dan menjelaskan nama yang salah dia ucapkan tersebut, agar Naira tidak salah paham.
"Tunggu! Apa maksud kak Daniel dengan Jenny itu adalah adik kak Daniel?"tanya Naira yang terbata-bata dan merasa takut akan hal yang dia dengar dari Daniel tadi.
"Kamu tidak usah perdulikan itu, lagi pula adikku sudah meninggal beberapa bulan lewat. Aku datang kesini cuma ingin mencari kebenaran kematian adikku, katanya adikku mati karena dia di bully di Sekolah ini. Masalah pelakunya belum diketahui, makanya aku mencari tahu kebenaran kematian adikku itu. Tapi jujur kamu sangat mirip dengan sosok adikku itu, jadi aku tidak bisa menahan perasaanku saat pertama melihatmu disini. Jadi kamu jawab saja pernyataan perasaanku saat kamu benar-benar yakin denganku ya Naira!" ujar Daniel dengan senyum manis dipipinya.
"Kenapa kak Daniel menyukaiku? Apa jangan-jangan karena aku mirip dengan adik kakak yang bernama Jenny itu? Hal ini tidak masuk akal." Tanya Naira yang ketakutan dalam pembicaraan tersebut dan kaki Naira berusaha menutupi kegemetarannya saat itu.
"Maaf Naira kamu jangan salah paham, Jenny itu adik tiriku, aku memang sempat menyukai Jenny. Walau bagaimanapun aku ini sudah menjadi saudara tiri Jenny. Tapi aku yakin kalau perasaanku ini memang menyukaimu seutuhnya."
"Tapi tetap saja!" airmata Nairapun mulai keluar dipipinya.
"Apa maksudmu Naira?" jawab Daniel dengan kebingungan.
"Kak Daniel menganggapku sebagai sosok Jenny, kan? Kalau diibaratkan aku sekarang ini sebagai pengganti Jennykan dimata kak Daniel?" teriak Naira sambi melarikan diri dari hadapan Daniel.
"Hey Naira tunggu, bukan begitu maksudku! Aduh... bodohnya aku, kenapa sampai memanggil nama Jenny dihadapan Naira. Sekarang aku bikin dia menangis lagi. Jenny aku akan membalas dendam atas kematianmu yang penuh ketidak adilan ini. Kalau aku menemukan pelakunya dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal dari apa yang dibuat. Kamu tahu Jenny, alasanku kembali ke Indonesia ini adalah mencari kebenaran atas kematianmu saat ini. Dan juga sepertinya aku menemukan seseorang yang mirip dengan dirimu dan bodohnya aku bilang, alasan aku menyukainya karena dia mirip denganmu Jenny. Tapi aku sudah bertahun-tahun mencoba melupakan perasaanku padamu Jenny, tapi tetap tidak bisa. Tapi kenapa kamu mati seperti ini Jenny? Aku tau kita tidak akan perna bisa bersama karena kita saudara tiri, namun setidaknya kamu harus hidup bahagia didunia ini. Hiks... hiks...." tangis Daniel yang tak tertahankan mengingat adik tirinya yang bernama Jenny yang mati dengan ketidak adilan tersebut.
__ADS_1