Change Is Gendut

Change Is Gendut
Kebingungan Naira


__ADS_3

"Terimakasih ya buk Rita, telah mengantar saya ke Rumah. Maaf ya buk, saya jadinya merepotkan ibu." Sambil memberikan hormat kepada buk Rita.


"Aduh... Naira kamu gak usah sungkan-sungkan segala. Lagi pula ini sudah jadi tanggung jawab ibu sebagai gurumu di Sekolah. Kalau begitu ibu pamit ya Naira."


"Iya buk hati-hati dijalan." Ujar Naira sambil menyalami tangan gurunya.


Ketika ibu Rita sudah pergi dari Rumah Naira. Nairapun masuk ke Rumahnya dan menuju kekamarnya sambil tiduran di kasurnya.


"Haduh.. hari yang melelahkan, sudah berapa minggu ini aku menjadi perempuan gendut ini ya? Banyak hal yang terjadi selama aku menjadi seorang perempuan, dimulai kasus pembulianku di Sekolah, sampai hal yang paling gila aku alami yaitu ditembak oleh kakak seniorku sendiri." Nairapun membayangkan peristiwa yang terjadi di Rumah Sakit tersebut sambil memegang bibirnya.


Deg... deg... deg... Bunyi detak jantung Naira.


"Tidakku sangka kak senior Kevin akan melakukan hal itu padaku, dan pada akhirnya aku dan dia berciuman. Rasa bibir kak senior Kevin begitu lembut ternyata." Gumam hati Naira yang kini pipinya memerah.


"Aduh... apa yang aku fikirkan sich? kenapa aku malah membayangkan hal mesum kayak begini. Tidak-tidak, hal ini nggak boleh terjadi, aku inikan tetap saja lelaki yang normal yang menyukai seorang wanita, walaupun sekarang tubuhku ini seorang perempuan gendut. Tapi, tetap saja saat ini aku memiliki hati seorang perempuan yang menyukai terhadap seorang lelaki. Sial, pokoknya aku harus melawan tindakan menyukai laki-laki pada diriku saat ini."


Trut... trut... trut... bunyi suara Handpone Naira.


"Siapa sich yang nelpon sore-sore begini? eh... kak senior Kevin? tapi sejak kapan nomornya ada di Handphoneku? nggak salah, aku nggak perna kasih tau nomorku kepadanya dan dia dapat nomorku dari mana sich? tapi masalah terpenting saat ini aku dan dia sudah...." mengangkat telpon dari Kevin dengan memejamkan matanya.


Deg... deg... Bunyi suara detak jantung Naira.


"Ha... halo kak se... senior Kevin." dengan tampang malu-malu saat mengangkat telpon dari Kevin.


"Iya halo Naira! Fyuh... syukurlah, ternyata kamu mengangkat telponku Naira."


"Eh... kenapa kakak senior berfikiran kayak gitu? lagi pula kakak yang menyelamatkan aku saat pinsan di Sekolah dan juga menemaniku di Rumah Sakit hingga aku sadar. Jadi apa alasannya aku tidak mengangkat telpon dari temanku sendiri."


"Teman ya? Sepertinya aku sudah tau jawaban pernyataan perasaanku di Rumah Dakit. Hehe... sepertinya aku ditolak lagi oleh Naira." Sambil mengeluarkan suara kesedihannya.

__ADS_1


"Kak senior Kevin... maaf."


Suasana didalam telponpun mulai canggung.


"Naira kamu tidak usah fikirkan hal itu. Lagi pula aku menelponmu cuma ingin tahu keadaanmu sekarang. oh ya Naira, kamu pasti terkejutkan kalau handphonemu uda ada nomorku didalamnya. Hehe... soalnya aku mengotak atik Handphonemu saat di Rumah Sakit, kemudian aku menyimpan nomormu di handphoneku juga. Maaf ya!" Kevinpun mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar suasa jadi tidak canggung.


"Keadaanku saat ini sudah lebih baik kak senior Kevin. Aku juga mau mengucapkan terimakasih kepada kak senior telah menolongku. Hehe... kalau masalah itu tidak apa-apa kok kak, lagi pula kitakan teman. Jadi sudah sewajarnya kita mempunyai kontak teman masing-masing."


"lagi-lagi kamu mengatakan hal yang sama ya. Teman ya? Tapi aku tidak akan perna menganggapmu sebagai teman Naira. Karena hal itu mustahil aku lakukan. Pokoknya aku akan lebih berjuang mendapatkan perasaanmu itu. Jadi sampai jumpa besok ya."


"Eh? kak senior Kevin tapi...."


Tut... tut... tut... bunyi suara panggilan Handpne dimatikan.


"Malah dimatikan pula. Tapi yang dikatakan kak senior Kevin tadi apa benar ya? Jadi dia akan lebih berusaha mendapatkan perasaanku. Aduh... kenapa pipiku merah merona begini? Tidak boleh, hal ini nggak boleh terjadi. Sial, kenapa perasaan perempuanku ini susah kutolak sich. Sepertinya aku harus mandi dulu. Biar fikiranku lebih tenang."


"Apa ini? Ini darah, kan? Kenapa ada darah di kasurku? Apa jangan-jangan kutukanku yang sebenarnya adalah perempuan gendut yang lagi hamil? kalau difikir-fikir mungkin hal ini masuk akal terjadi, karna tindakanku terhadap Jenny kelewatan. Mungkin aku pantas mendapatkannya. Sial, aku harus memastikannya sekarang." Stres dikepala Nairapun bertambah.


Di tempat toko Apotik.


Aduh... sekarang kutukanku jadi bertambah lagi dech. Masak sekarang aku harus jadi perempuan gendut yang lagi bunting sich? Apa ini yang dinamakan perawan bunting? Tapikan aku belum melakukan hal itu, sial.


Nairapun pergi menuju kepelayan Apotik.


"Buk bisa minta itu".


"Yang mana dek?" ujar pelayan Apotik.


"Yang barang itu buk." Sambil menujukkan barang tersebut.

__ADS_1


"Oh yang ini? Ini dek." Sambil tersenyum kepelanggannya.


"Oh ya buk, cara gunain barang ini gimana ya buk? Soalnya aku lagi keguguran dan darahnya terus mengalir buk, jadi saya sumbat darahnya sekarang pakai kain bekas buk." Memasang tampang polos.


"Apa! Adek lagi keguguran? Dek barang ini digunakan untuk ngetes kehamilan ibu positif hamil atau tidak, kalau uda keguguran kayak gini adek ke Rumah sakit sekarang. Sini saya bantu ibu pergi kesana." Pelayan Apotik tersebut kaget apa yang dia dengar dari Naira.


"Oh jadi begitukah?" ujar Naira dengan memasang tanpang polos yang tidak tahu apa-apa.


"Tapi tunggu, kalau saya lihat dengan teliti. Perut adek memang terlihat bulat. Tapi sepertinya perut adek tidak seperti orang mengandung. Apa adek perna mengalami muntah-muntah atau ngidam?"


"Kalau itu sich tidak perna buk. Tapi saya hanya merasakan perutku agak sakit. Jadi aku menyimpulkan sekarang aku lagi keguguran buk."


"Aduh dek, itu hanya gejala perempuan yang lagi datang bulan pada umumnya. Jadi...."


Belum sampai Pelayan Apotik menjelasakan hal tersebut Nairapun tertawa terbahak-bahak diruang Apotik tersebut sehingga banyak orang memperhatikan mereka.


"Buahahaha... Jadi saya hanya lagi datang bulan buk? Yes aku datang bulaaan!" teriak Nairah.


"Hehe... iya dek, adek lagi datang bulan saja. Jadi yang adek perlukan cuma pembalut yang ada disana." Sambil memasang senyuman yang terpaksa.


Aduh... sabar-sabar, pelanggan sekarang aneh-aneh kelakuannya ya. Masak lagi datang bulan dibilang lagi keguguran. Apa jangan-jangan aku kena prank ya? Kameranya dimana? pokoknya aku harus terlihat cantik dikamera nantinya? Terus aku harus pura-pura kaget saat kameranya datang. Kya... senangnya masuk TV. Gumam hati pelayan toko Apotik.


Diperjalanan Naira pulang ke Rumahnya.


"Aduh... sungguh hal memalukan. Kenapa aku heboh begitu ya? Sampai-sampai ibu pelayan Apotik tersebut berprasangka aku lagi Prank dia. Dan pas aku menjelaskan yang sebenarnya, malah ibu tu mencari kameranya sampai kesudut ruangan. Sial sungguh hal memalukan, kenapa aku gak kefikiran kalau aku lagi datang bulan sich, malah mengansumsi lagi keguguran. Huah... sungguh memalukan." Teriak Naira.


Aduh... sakit, perutku... hiks... sekarang aku bisa merasakan sakitnya datang bulan. Sial!


__ADS_1


__ADS_2