Change With Sistem: AI Technology

Change With Sistem: AI Technology
AI Technologi •21•


__ADS_3

Happy reading❤️❤️


Di kediaman Zakeisha, Zeline sudah berangkat ke kantor nya sejak pagi, Alaska juga sudah diantar oleh Diablo ke SD-nya, Tapi karna Alaska masih ngambek, sepanjang jalan ia tak membuka suara.


"Aska kenapa?"Tanya Nick yang menyadari bahwa temannya itu sedang cemberut.


"Tidak ada, Aska hanya ingin kesal"


Pernyataan itu membuat Diablo menggelengkan kepalanya pelan


"Mana ada orang yang ingin kesal Alaska"


"Ada tuh, contohnya Aska kan?"Ucap Nichole polos.


"Kalian ini"


Sampai di SDnya mereka langsung masuk ke dalam sekolah karna hanya boleh mengantar sampai gerbang saja.


"Jangan kesal lagi ya, Aska, Nick Nichole aku titip ya Aska yang ingin ngambek ya.."Sindir Diablo


"Apaan sih Diablo"


Setelah masuk ke dalam bangunan sekolah itu, Nick, Nichole dan Alaska berpisah karna kelas mereka berbeda, Alaska sebagai murid termuda di kelas 4, dan Nick juga Nichole sebagai murid termuda di Kelas 2.


"Huh menyebalkan, Mereka selalu datang bersama aku jadi tak bisa melakukan rencana itu"Gumam seseorang yang entah bagaimana bisa terdengar sampai ke telinga Alaska


"Siapa?"


Para perempuan itu langsung terlonjak kaget karna Alaska tiba tiba berada di samping mereka.


"Rencana apa? Jangan anggap karna ku masih kecil makanya aku tak bisa melawan"Ucap Alaska dengan nada datar.


"Siapa yang kau maksud Alaska??"


"Malah balik nanya, justru aku yang nanya"


"Tidak ada koq! kau aneh!!"Perempuan itu mendorong Alaska lalu pergi berlari entah kemana.


"Cih, pengecut, bilangnya saja lebih tua, tapi pikirannya sepicik Ayam"Gumam Alaska agak kesal.


"Hey kau tidak sadar ya?"Alaska berbalik, suara yang sangat ia kenal yaitu suara milik Lelaki yang menjadi temannya di sekolah ini.


"Alvino Lavian, apa maksudmu??"Tanya Alaska sambil bersedekap dada.


"Gak ada, tapi yang mereka maksud itu kamu,.kalau mau tau"Ucapnya sambil terfokus pada buku didepannya.


"Belajar apa lagi? tak cukup kah jadi Peringkat 2??"Tanya Alaska dengan maksud menyindir.


"Ya, aku ingin mengalahkan mu dan memenangkan taruhan itu"


Seketika pipi Alaska memerah mengingatnya, Umurnya memang masih 7 tahun tapi dia sudah tau apa itu Taruhan dan sebagainya.


"Kau menganggap itu serius?!"Wajahnya sudah bak tomat yang ingin meledak.


"Mau kutunjukkan? kau kan sudah menandatangani suratnya"Alaska ingat tapi ia mengelak.


Kriiiiing...!!!


Dengan kesal yang bertambah, Ia duduk di bangkunya dan membanting tas, yang mana tempat duduk disitu berdasarkan peringkat.


"Wajahnya merah itu loh"Goda Lelaki yang kerap dipanggil Alno oleh Alaska itu sendiri.


"Apaan sih! dasar albino!"Bukan karna sembarangan mengucapkannya tapi memang kulit Alvino Lavian putih seperti salju dan rambutnya juga berwarna putih, matanya biru muda terang. Jika melihatnya dibawah matahari, maka kalian perlu 2 sekaligus kaca mata hitam.


Tampan-Alaska


Banyak yang menyukai Alvino Lavian ini, tapi ia tak peduli, yang ia pedulikan hanya pelajaran yang sedang ia tempa sekarang, dan tentunya satu orang lagi.


"Kau sudah sarapan dengan baik??"Tanya Alvino tanpa menolehkan wajahnya.


"Ya, kenapa??"

__ADS_1


"Wajahmu pucat??"


"Masa??"


Saat istirahat, Alaska meminta Alvino untuk menemaninya ke kamar mandi dan Alvino menunggu di ambang pintu kamar mandi itu.


"Eh iya ya bener bener pucat"


"Kan sudah kubilang"


Pada akhirnya Alvino menarik Alaska untuk ke kantin dan memaksanya makan yang banyak, saking banyaknya perut Alaska sudah membuncit.


"Hueee Alno, Aska gak kuat lagi"


Sang empu malah terkekeh pelan mendengar rengekan dari orang di sampingnya ini.


"Yasudah, Kita kembali yuk"




"Bagaimana??"Tanya Gatra kepada seorang perempuan di depannya, ya siapa lagi kalau bukan Zaza a.k.a Zeline



"Apanya??"



"Anakmu, bagaimana kabarnya? katanya kau ingin membawanya kesini"Ucap Gatra mengingat perkataannya beberapa hari lalu.



"Dan juga aku sudah menemukan 'dia' dan anak ku"




"Lalu bagaimana tanggapannya??"Tanya Zeline pura pura sibuk dengan pekerjaan yang ia kerjakan sekarang.



"Ya, seperti yang sudah lama sekali kau katakan, Ia akan menolakku"ucap Gatra sedih.



"Yappari..." (Sudah kuduga)



Keheningan selalu terjadi jika mereka berdua bersama, hanya ketikan laptop yang menjadi nada yang membuat semangat bekerja.



"Mana peri peri itu? biasanya ada disini"Kata Gatra sambil melirik melihat semua sudut ruangan yang mana ia tak menemukan beberapa manusia kecil itu, Hologram deng.



"Feth dan Geline?? Mereka sedang membantu projects baru ku yang akan dimulai"



"Apa??"



"Kau akan tau saat melihat pembuatnya"Ucap Zeline sambil tersenyum di balik topeng.


__ADS_1


"Tapi sebelum itu kau harus berbaikan dulu dengan 'Dia' agar aku bisa tenang menunjukkan siapa yang membuatnya"Ucap Zeline sambil menjulurkan lidahnya.



Gatra tersenyum kecil.



"Ya, akan kucoba"



Gatra berkonsultasi kepada Zaza alias Zeline tentang apa saja yang akan disuka oleh seorang perempuan.



"Dia suka Pria romantis mungkin? manja, Posesif, tegas, bergantung padanya saat dirumah, dan bisa dijadikan tempat curhat ataupun senderan."ucap Zeline yang tanpa sengaja mengucapkan seluruh isi hatinya.



"Ya setidaknya itu yang kumau"



Gatra merasa senang setelah mendengar itu, tapi wajah dinginnya tak luntur barang setetes saja.



"Terimakasih, kau teman yang baik"



"All time"



Gatra beranjak dari tempat duduknya, ia membuka pintu dan sebelum pintu itu tertutup Ia berkata.



"Aku tau itu keinginanmu"



Zeline yang mendengar hanya bisa menggeleng heran karna Gatra yang sangat nampak sekali kepekaannya.



"Aku lupa bilang kalau aku gak terlalu suka cowok yang banyak omong kosong nya ya.?"



**Season 1, End**


~~~~~~~\>


\*\*Maaf kalau chap ini pendek.



Like


komen


share


follow



TBC\*\*...

__ADS_1


__ADS_2