Change With Sistem: AI Technology

Change With Sistem: AI Technology
AI Technology •20•


__ADS_3

SPESIAL CHAP UNTUK PENUTUP SEASON 2 INI, STAY TUNE...


𝙷𝚊𝚙𝚙𝚢 𝚁𝚎𝚊𝚍𝚒𝚗𝚐 ♡♡♡


"..... Lin, bisakah aku mengajakmu ke acara keluarga?"


"Kenapa tiba-tiba hm..?"


Beberapa hari berlalu dengan cepat dan tanpa sadar hubungan mereka semakin dekat dan hampir seperti sebelumnya. Gatra memaksa Zeline untuk serumah dengannya, tentu dengan putri mereka tercinta, ia memohon membuat Zeline tak ada pilihan selain menerimanya.


Gatra sangatlah manja dan semakin posesif terhadap Zeline dan juga Alaska.


"Ayahku mengajak kita ke makan malam keluarga, dan jika kali ini aku tak membawa dirimu, dia akan menjodohkan ku dengan wanita lain"ucapnya tepat di samping telinga Zeline.


Zeline menutup mulutnya dan kini wajahnya sudah memerah sampai ke telinga.


"...Geli~"


"Mau kan? aku tak mau di jodohkan dengan orang lain.."Pintanya dengan nada memelas.


"Hei, kemana Gatra yang dingin?"


"Sudah meleleh karna cinta padamu~"


Gatra mengalihkan posisinya menjadi dia berada diatas Zeline. Dipandanginya wajah Zeline dengan lekat, tatapannya sangat lembut.


Tersirat raut khawatir dan takut kehilangan disana barang sedetik.


"..Kalau aku menolak~?"Goda Zeline dengan senyum miring yang tercetak diwajahnya.


"....."


Gatra langsung menempelkan bibirnya dengan milik Zeline dan ********** habis, tatapannya kesal, ia tampak marah.


"Mhppp---!"


Gatra menggigit kecil bibir Zeline membuatnya membuka mulut itu dan membiarkan lidah Gatra menelusuri mulutnya.


Dia mengalungkan tangannya di leher Gatra secara spontan. Gatra menekan kepalanya membuatnya semakin dalam.


"....Gatra~ H-henti---"


Ucapannya juga langsung dipotong dengan cumbuan panas yang di berikan oleh Gatra. Zeline menatap Gatra gemas, tenaganya tak sanggup mendorong Gatra menjauh.


"...A-aku a-akan berikan ja-jawa----ban--!! ngh-!!"


Gatra menggigit bibir Zeline membuat sedikit darah keluar dari sana, Zeline meringis sakit membuat Gatra juga terkejut akan hal itu.


Ia langsung menjilat darah yang keluar dan ******* bibir itu lembut. Meski perih namun Zeline menghargai hal itu.


Gatra tampak seperti anak kecil yang baru saja Puber membuatnya sedikit bersalah karna membuatnya marah. Diusapnya surai hitam legam itu dengan lembut.


"Baiklah, lagi pula aku juga tak mau menyerahkan dirimu ke orang lain"


Gatra tampak sangat tampan jika dilihat dari dekat. Wajahnya yang tampan dengan kulit putih, tahan yang tegas, hidung mancung, mata yang tajam dengan irisnya yang bewarna Hazel.


"Terima kasih..., atas semuanya"Ucap Zeline tanpa sadar.


"Hm..?"


"Maafkan aku yang egois..., Maafkan aku yang terlalu mudah salah paham bahkan berprasangka buruk terhadapmu... dan memisahkanmu dengan putri mu sendiri"


"Is not your false"Gatra mendekatkan wajah kepada Zeline yang menatapnya lembut.


"Mulai sekarang, tak ada kata maaf diantara kita"


Tangan Gatra merogoh kantongnya dan memasangkan sesuatu ke jari manis wanitanya. Sebuah cincin dengan berlian berwarna merah dan dilapisi emas.


"Ini..."


Chu~


Di ciumnya telapak tangan perempuan itu dengan lembut. Zeline memerah karnanya.


"Be my bride...., Lin.."


"...Aku menerimanya.."


Zeline mengalungkan lengannya ke leher Gatra dan mereka melakukannya.


"I..Love..You~"


Malam itu, suasana memanas. Hanya terdengar suara ******* dan sentuhan 2 kulit dari 2 insan yang saling mencintai.


...----------------...


Mereka memasuki pekarangan rumah kediaman tuan besar Gradipta. Alaska turut diajak serta saat itu, Zeline menggenggam erat roknya.


Gatra yang menyadari akan hal itu langsung mengusap tangan Zeline agar membuatnya lebih rileks, ia mendekatkan diri ke tubuh wanitanya itu.


"Hei, jangan gugup. Jika kau melakukannya dengan baik, aku janji akan melakukannya dengan lebih lembut malam ini~"Goda Gatra yang mampu membuat empu itu menunduk malu dengan telinga yang memerah.


"Kita sudah sampai"


Gatra keluar lebih dahulu lalu menuntun Zeline dan Alaska untuk turun.


Ternyata sudah ada yang menunggu mereka depan pintu sana. Mereka dipersilahkan masuk dan duduk di meja makan.


"Saya akan panggilkan Tuan Besar"


Mereka menunggu cukup lama, Alaska entah kenapa ditempatkan berhadapan dengan Gatra yang artinya disampingnya akan di tempati oleh 'Tuan besar' itu.


"Kalian terlambat 5 menit"Suara serak dengan nada yang tegas itu membuat Zeline tegang seketika apa lagi saat lelaki paruh baya itu duduk tepat di depannya.


"Ayah, jangan terlalu formal seperti itu, kau menakuti Zeline dan Alaska"


Tatapannya bukannya mengendor namun malah semakin lekat membuat mental seorang pemimpin GZ AI ciut seketika.


"....."

__ADS_1


"Kakek...?"


Gatra tak percaya sang anak sangat berani hingga membuka pembicaraan dengan kata sapaan 'Kakek' pada sang ayah.


Keheningan tetap terjadi.


"Hahahaha....."


Tawa lelaki itu cukup membuat 2 orang perempuan disana kaget karnanya. Lelaki itu bahkan sampai menutup mulutnya untuk. menghentikan tawanya.


"Hah..."Gatra tampak menghela nafas membuat Zeline khawatir bahwa lelaki itu sebenarnya mentertawakan dirinya.


"Wajahmu saat tegang sangat lucu, itu membuatku tak bisa berhenti tertawa hahahaha"


Zeline memerah, Alaska menghela nafas persis seperti yang dilakukan oleh Gatra


"Pilihan yang bagus, Gatra. Kau benar benar memilih wanita yang tepat.."Ucap sang ayah kepada anaknya sembari tersenyum tipis.


Tubuh tinggi dan dominan gagah itu masih tertawa ringan.


"Jangan mempermainkan mereka seperti itu....!"Kesal Gatra. Ini salah satu sikap ayahnya yang tak disukainya, selalu bercanda dengan mengeluarkan aura penekanan.


Kruuuk---


Kini giliran Alaska yang malu akibat suara perutnya sendiri, Wajahnya sudah memerah membuatnya mengalihkan pandangan ke arah lain. Sedangkan 3 orang dewasa lainnya menahan tawa mereka akibat itu.


"Dia Alaska, Alaska Zakeisha Gradipta. Anakku dan Zeline.."


"Haha aku sudah tau, dia sangat mirip denganmu"


"Emm... T-tuan maafkan saya yang selama i-ini--"


"Ayah, panggil aku ayah. Kau sudah melahirkan ku seorang cucu namun masih memanggilku Tuan"Ucapnya lembut.


Alaska melihat makanan di depannya malu malu, ia takut perutnya akan berbunyi lagi hingga akhirnya sang ayah menyadari hal itu.


"Tolong siapkan makanannya"ucap Gatra.


"Ck. Kau masih sama seperti dulu, ku kira akan berubah setelah bertemu anak dan Wanitamu"Keluh Lelaki itu.


"Kau mau membuat anakku mati kelaparan? pembicaraan ini bisa di lanjut nanti, kan?"ucapnya dingin membuat Zeline tak percaya seberapa renggang hubungan Ayah-anak itu.


"Iya juga sih..."


Mereka makan dengan lahap, apa lagi Alaska yang sudah habis sedari tadi dan sekarang sedang makan makanan penutup dengan santai.


"Anakmu tampak seperti tupai~"Ucap Lelaki itu sembari memegang pipi bulat yang kini penuh dengan makanan.


"Hum..!"Alaska menatap kesal karah Lelaki yang berstatus Kakeknya dan menepis tangan itu. Sang Kakek hanya bisa terkekeh kecil.


Sangat mirip dengan Gatra waktu masih kecil...-Ayah Gatra.


"Ayah, apakah disini ada TV?"


"Ada. Tolong antarkan dia ke depan TV dan bawakan camilan"ucap lelaki itu mendahului Gatra yang baru saja membuka mulutnya.


"Baik"ucap pelayan itu dan dengan cepat melakukan apa yang disuruh.


"Kamu bertemu saat SMA, Dia murid terpintar satu angkatan bahkan melebihi Aku"Sela Gatra yang langsung menjawab pertanyaan itu.


"Hei, itu pertanyaan untuk Zeline..!"


"Kalau begitu, Kenapa kau mau saja diajak 'Itu' oleh Freezer 4 pintu ini..? Dia memaksamu..?"sambungnya lagi.


"T-tidak, Ka-kami memang saling menyukai..."


Lelaki itu hanya mengangguk paham.


"Artinya waktu itu memang anakku yang membuat salah paham, bukan karna kau yang di paksa hingga kabur"ucapnya dengan nada yang cukup senang.


"Ayah, jangan menanyakan yang tak penting, ini pertama kalinya bagi Zeline, kau hanya akan membuatnya kebingungan"


"Menginap Lah sampai besok sore, Aku sudah menyiapkan kamar"


"Ti--"


"Iya, Terima kasih"Jawab Zeline dan langsung membuat Gatra mendelik heran lalu memalingkan wajahnya.


"Dan Zeline, Mari berbicara sebentar setelah selesai makan"Lelaki itu bangkit dari duduknya dan pergi dari hadapan mereka.


Zeline meremas pahanya erat, jantungnya berdebar-debar kuat karna gugup.


"Kalau tak mau, kau tidak usah pergi, ayo kita pulang malam ini"ucap Gatra sembari menatap Zeline lembut dan mengusap tangannya.


"T-tidak, aku baik saja"


Zeline pergi dari sana menuju arah yang tadi dilewati oleh orang yang kini berstatus kakek dari anaknya itu. Ia diantar oleh seorang pelayan untuk pergi ke ruangan lelaki itu, bisa dibayangkan betapa besarnya kediaman Gradipta itu.


"Tuan sudah menunggu"


Zeline memberanikan diri masuk dan mengetok pintu tentunya sebelum masuk.


"Masuk"


Jawaban sudah diberikan, Zeline masuk dan menutup pintu setelahnya dan kini sudah berhadapan langsung dengan Ayah Gatra yang kini membelakangi dirinya.


"Berapa..?"


"A-apa--?"


"Berapa yang kau inginkan? 100 juta? 1 milyar? 1Triliun? atau lebih? katakan saja asal kau bisa melepaskan Gatra dan juga anakmu"


Nyuuuut.....


Rasa sakit langsung menyengat hatinya namun di beranikannya diri untuk berbicara.


"Atas dasar apa saya harus meninggalkan keluarga saya..?"


"Atas dasar kehormatan. Nama belakangmu itu sudah jelas bukan Marga, kau hanya wanita yang lahir di keluarga kelas bawah saja kan..? Bukannya niat awal kau mendekati anakku hanya untuk itu..?"

__ADS_1


"Kalau saya menjawab tidak, Ayah juga tak akan percaya kan..?"


"Kuakui kelihaian berbicaramu itu"


"Saya tidak membutuhkan apapun, saya hanya butuh mereka berdua, Ayah boleh melakukan cara apapun untuk mengusir saya dari keluarga Gradipta namun itu tak akan ada yang bisa menyentuh saya"Terang Zeline.


"Hahaha apakah begitu? Memangnya kau siapa hm..? berani meninggikan suaramu di depan ku?"


"Saya pasangan anak anda"


"Saya ayahnya"


"Tapi, hubungan anda dengannya renggangkan?"


"Hah...."


Lelaki itu membalikkan kursinya dan menatap Zeline lembut, dia mengisyaratkan dengan tangannya untuk Zeline agar duduk di depannya.


"Pilih satu. Tinggalkan anakmu dan Gatra, atau relakan Ibumu untuk mati"


"Tidak keduanya"Zeline berubah menjadi dingin.


"Pilih"


"Tidak keduanya, saya tak bisa melakukan hal itu"


"Ibumu divonis kanker otak stadium 2 asal kau tau"Zeline cukup terkejut namun menetralkan kembali ekspresinya.


"Itu adalah penyakit yang dialami oleh istri anda bukan Ibu saya"


"Kau wanita yang menarik"


"Berikan aku nilai yang kau mau agar kau meninggalkan mereka"sambungnya.


"Tak terhingga"


"Yang nyata"


"Tidak bisa, karna bagi saya mereka itu sangat berharga. Satu adalah Cinta pertama dan terakhir saya dan satu lagi adalah anak yang saya lahirkan dari darah daging saya sendiri"


"Kau tak pantas berada diantara mereka"


"Kalau begitu gantian saya yang bertanya....."


"......berapa banyak uang yang harus saya keluarkan agar anda bisa berhenti mengatakan hal itu...? apakah kau pantas memanggil dirimu Tuan Besar Gradipta jika seperti ini...? Sekarang aku mengerti kenapa Gatra membenci anda"


"......"


"Anda tak bisa menjawab?"


"Kapan rencana kalian untuk mengumumkan hubungan kalian..? Aku tak sabar benar benar menjadi bagian keluarga perempuan ini.."


Tiba-tiba saja suara derap kaki muncul dari samping kanannya dan dari sana Gatra datang ke arah dirinya.


"Aku kira akan berlanjut. Padahal ingin kulihat dia memukul kau"


"Dasar kau ini.."


Zeline bagaikan seorang anak kecil yang melihat orang tuanya berbicara. Dia menanyakan maksud dari semua ini.


Tiba-tiba saja, entah pembicaraan apa yang di katakan mereka, Zeline langsung dipeluk Gatra erat dan menatap tajam Ayahnya.


"Dia milikku"


"Iya iya, Dia memang milikmu"


"Ada apa..?"Bisik Zeline.


Gatra tak menjawab.


"Aku ingin tidur, Gatra, pertahankan gadis itu dan segera resmikan hubungan kalian"


Lelaki itu semakin mendekat ke pintu kamarnya.


"Lalu buatkan aku satu orang cucu lagi"Dan setelah itu langsung menghilang dari balik pintu meninggalkan Gatra dan Zeline yang mana salah satu dari mereka sudah memerah Semerah tomat.


"Minggu depan, Ayo kita menikah"Ucap Gatra langsung tanpa ba-bi-bu lagi. Ia merebahkan kepalanya di paha Zeline dan memutar-mutar cincin yang kini sudah ada di jari Zeline.


"Mendadak sekali"


"Ayah benar, aku tak mau hubungan kita tak resmi seperti ini, maka dari itu ayo kita menikah dan resmikan..."


"...Lalu buatkan Alaska seorang adik "Gatra tersenyum jail sambil memandang Zeline yang makin memerah.


"M-mesum...!!"Teriak Zeline kecil.


"Maaf maaf, Lin~"


"Hum...!"


"Kalau begitu, apa jawaban mu??"


Zeline memalingkan wajahnya malu dan berkata terbata.


"K-kalau kau bilang begitu yasudah, lakukan saja"


Gatra menggendong tubuhnya dan membawanya masuk ke mereka yang sudah disiapkan.


"Kalau begitu ayo lakukan, kali ini aku akan lebih lembut"


"Dasar kau ini.."


**END SEASON 2...!!!!!!!!!


LIA IZIN HIATUS SELAMA 3 MINGGU KEDEPAN KARNA AKAN ADA KEGIATAN TO DI SEKOLAH LIA. CHAPTER INI SPESIAL DENGAN 2000 KATA LEBIH DIKIT LHOO....


BAGI KALIAN YANG SUDAH BACA SEMUA CHAPNYA SAMPAI YANG INI TERIMA KASIH YA ATAS KONSTRIBUSI KALIAN, SAYA JANJI DI SEASON 3 NANTI AKAN LEBIH BAGUS LAGI DAN LEBIH MENARIK.


DOAKAN DAN DUKUNG TERUS BOOK INI SAMPAI TAAAMAAAT BENER BENER YA.

__ADS_1


SEE YOU IN NEXT SEASON. BUBYE**


__ADS_2