
Season 2.
Tema::How to get him back(?)
Hari sudah malam, Zeline, Zena dan Alaska sedang berkumpul di meja makan, Zeline sudah menjelaskan ke Zena bahwasanya Alaska jalan jalan bareng teman-teman nya di sekolah.
Dan Zena percaya begitu saja.
"Ibu, boleh nambah??"
"Boleh donk, masa gak boleh"
Alaska mengambil nasi secukupnya lalu memasukkan lauk yang terpangpang di depannya.
"Tadi gimana jalan jalannya??"
"Seru banget, nenek!! tadi kita main kincir angin, abis itu....."Zeline membiarkan Alaska menceritakan hal itu, tapi jangan sampai ada kata 'Ayah' nya.
"Ibu aku ke kamar dulu ya"
"Iya, biar Aska saja yang cuci piring"ucap Zena sambil tersenyum ke arah anaknya.
"Lho? Nek, koq Aska??"
"Hukuman karna bikin nenek khawatir"
"Nenek...!"
Zena tergelak mendengar rengekan sang cucu di sertai kekehan kecil dari atas sana (bukan Kunti tapi Zeline ya)
"Feth, bisa buka fitur shop??"
[Memangnya kau mau beli apa, Line??]
Zeline tak menjawab, dia memencet tombol bertuliskan 'alat' lalu menemukan yang ia cari dengan cepat.
"Feth, aku ingin beli ini"
[Untuk apa kau membeli cetak biru portabel itu??]
Geline lagi lagi tak mendapatkan jawaban, ia menggerutu sambil bersedekap dada.
"Nanti kau akan tau Geline"
[Membeli:: Cetak biru Small-fliip GJX]
[Mengurangi 5.000 point' system']
Zeline memasukkan alat itu ke sebuah kotak yang sudah terdapat pita diatasnya, juga tentunya sudah di bungkus dengan kertaa kado bermotif sistem.
"Feth, ulang tahun Aska 1 Minggu lagi kan??"
[Iya, masa kau yang ibunya lupa??]
Zeline menggeleng, setelah selesai menyiapkan kado itu ia masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.
air nya sudah ia siapkan sedari tadi, mungkin sekarang sudah dingin. "Segarnya..."ia melakukan ritual malamnya. mandi.
"Hah..."Helaan nafas panjang keluar dari mulut perempuan ini, tanpa sadar ia terlelap di dalam bak mandinya. Terlelap hingga mencapai alam bawah sadarnya.
...••••••...
"*Ini dimana??"
"Zeline??"
"Siapa itu?"
"Dimana kau?!"
"Suara apa ini?? kenapa ada suaranya disini?!"
"Hei kau, jangan bercanda kumohon!!!"
"Zeline kumohon kembalilah.."
"Gatra??"
"Kumohon, kembalilah....hiks.."
"Hei, kenapa kau ada di rumahku?!"
"Argh!!!!!! Zeline!!! maafkan aku!! kumohon jangan bersembunyi!!"
"A-apa ini??"
"Kembalilah. Maafkan aku. Kembalilah*.."
Bruuk!
"Gatra!!!"
__________________
"*Dimana lagi ini??"
"Bagaimana kabarnya??"
"Belum Tuan"
"Sudah kubilang cari yang benar!!"
"Maaf, tapi setiap kami mulai menemukan jejaknya, selalu hilang kembali"
"Cari dengan benar, jangan harap ada hari libur"
"Ma-maaf Tuan.."
__ADS_1
"Gatra?? Kenapa dia begitu??"
"Zeline dimana kamu sebenarnya?? sudah hampir 1 tahun..."
"Kembalilah..."
"Jangan pergi lagi, aku tau aku salah.."
"Zeline, aku ingin menceritakan semuanya agar kau tidak salah paham lagi..."
"Kau pergi karna kau kira aku menghianati mu kan??"
"Aku akan jelaskan semuanya.."
"Kumohon kembalilah, Zeline-ku..."
"Gatra*..."
________________
"Zaza, kau mirip dengan mantan pacar ku"
"Benarkah?? padahal aku memakai topeng lhooo"
"Matamu sangat mirip dengannya"
"Kau ini"
"Apa kau adalah dia??"
"Apa? bagaimana bisa??"
"Haha aku bisa mengetahui wajah terkejutmu seperti apa sekarang ini"
"Kau ini ada ada saja, fokus hey fokus"
"Tenang, hatiku hanya untuknya. Kau tak perlu merasa risih"
"Aku sudah merasa risih dari awal"
"Hah? benarkah?"
"Bohong. wajahmu sangat lucu jika kaget."
...••••••...
"Hah.. hah.. hah..."
Zeline terbangun, ia masih berada di bathtub, airnya bahkan sudah dingin, lebih dingin dari sebelumnya.
"Hanya mimpi"
Ia bergegas keluar dari kamar mandi sebelum masuk angin, memakai baju dan bergegas tidur.
"Hanya mimpi.."
Di pagi hari yang cerah, seorang lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Gatra Gradipta sedang melakukan ritual paginya. Joging.
Teriakan para penggemarnya atau lebih tepatnya orang yang terpesona olehnya tak luput dari pendengaran nya.
"Tch! berisik"
Ia memutuskan untuk pulang dari pada gendang telinga nya harus pecah karna omongan para people di sekitar nya.
"Tuan, air mandinya sudah saya siapkan"
"Sudah kubilang berhenti melakukan itu, Reca"
Gatra menatap tajam pembantu perempuan yang baru saja dikirimkan oleh Sang Ayah, ia benar benar tak tau lagi pikiran sang ayah memberinya pembantu yang masih sangat sangat muda seperti ini.
__ADS_1
"Maaf"
"Dan juga, perbaiki pakaian mu, ******"Ya, pakaiannya tak pantas di sebut sebagai pakaian pembantu, baju yang melekat di tubuh, bagian atas yang terbuka, dan juga basah karna menyiapkan airnya.
"Maaf"
Gatra bosan mendengar kata maaf dari pembantu menjengkelkannya ini, rasanya ia mau membuang pembantu ini ke kali.
"Ayah yang menyebalkan"
Gatra menatap bingkai foto yang terpasang fotonya dan Zeline di sana, di kamar mandinya.
"Kurang putri kecil kita ya??"
Sedih tentunya ia rasakan namun bukan prioritas utamanya sekarang ini. Pertama ia harus mendapatkan Zeline kembali.
"Apa yang di suka ya? Kalau Zaza suka yang seperti itu, apakah Zeline juga? nama mereka kan mirip"
Gatra benar benar resah sekali, kepalanya seakan mau copot memikirkan cara untuk mendapatkan Zeline.
Ada Stopggle kan??? bodoh
"Ah iya, aku cari di Stopggle aja"ia segera menyelesaikan mandinya lalu pergi mencari handphone nya. Wallpaper nya?? Anaknya tentu saja, dan untuk beranda kalian pasti tau siapa kan??
"Yang orang suka ini"
"Artinya Zeline suka kayak gini"
"Tapi kayak gini juga bagus"
"Ini juga"
"Tapi orang lain suka"
"Kan harus yang beda"
"Kalau tipe Zeline pasti kayak gini"
"Tapi koq murah banget??"
"Huaaaa gak membantu sama sekali!!"
Reca yang hendak mengetuk pintu terlonjak kaget.
'Tuan Gatra kenapa??"
tok tok tok
"Tuan, makanan sudah siap"
Seketika moodnya kembali hancur melebur tak tersisa.
"Sudah kubilang, masakan mu menjijikan"
"Tapi saya yakin kali ini pasti enak!!"
"Berani berteriak kepada majikan hah??!"
Ceklek
"Tuan.."
Gatra meneguk ludahnya kasar, Rica. Dia memakai bh dan celana 1/3 lutut.
"Tuan, kau benar benar tak mau makan....?"
"Re-ca.."
Ucapan Gatra yang terbata bata mempu membuat Reca tersenyum, "Mau kubantu??"
"J-a-l-a-n-g"
"Huk!!"
Gatra mencekik leher Reca kencang hingga sang empu tak mampu bersuara, nafas pun juga susah.
"Kau ingin aku menyentuh dirimu yang bahkan sudah di sentuh duluan oleh ayah ku??"Gatra tersenyum smirk.
Reca bergetar hebat, ia tak tau bagaimana Gatra atau tuannya itu bisa tau.
"Di perut ini pasti sudah ada anak dari seorang yang entah siapa makanya kau mendekatiku agar menyuruhku mengakui anak itu, iya kan?!"
Reca menggeleng kuat.
"Bagaimana kalau ku pukul perut mu, lalu menjatuhkan mu dari tangga??"
Air mata Reca mengalir deras.
"Masuk ke kamarmu, kau tak akan boleh keluar selama 3 hari!!"
Reca terbatuk batuk lalu lari, pergi kekamarnya.
Segera Gatra mengunci pintunya dari luar.
"**Jangan harap bisa keluar dari sini, Reca"
Like
komen
share
follow
__ADS_1
TBC**...