
"Hidup itu adalah perjuangan dan berjuang untuk hidup. Itulah siklus kehidupan sebenarnya"
- Denada Gracia Clarabelle -
Kehidupan itu perjuangan dan lika-liku. Berjuang untuk hidup dan hidup untuk berjuang. Sedangkan lika-liku adalah cara kita mengenal arti berjuang. Tanpa adanya lika-liku maka hidup tak akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan semua terbukti pada siklus kehidupan manusia.
Banyak orang yang bilang hidup itu enak ketika kita kaya. Bukankah begitu? Dan banyak yang bilang hidup itu bisa kita nikmati ketika kita bisa mendapatkan semua yang kita mau. Terkadang semua pikiran itu hanyalah fikiran yang tak masuk akal dalam benakku. Terlebih ketika kita mau mendapatkan banyak hal tanpa adanya sebuah usaha, lantas untuk apa hidup? Jika usaha kita saja nol?
Ya, itulah prinsip yang ku bangun sejak aku hidup sebatang kara. Berjuang di sela sisa waktuku tuk bekerja dan bekerja. Hingga ku lupa tuk belajar di sekolah. Semua tak ku pedulikan kecuali impianku yang menjadi seorang aktris bintang film.
Aku terus berjalan kesana kemari dari teater satu ke teater lainnya. Berusaha mendapatkan peran di sebuah pertunjukan pentas drama. Hingga semua terbuka pada waktu yang tepat. Ya, Jalan kesuksesanku terbuka ketika ku bertemu dengan seorang sutradara hebat di sebuah event pentas drama yang ku ikuti. Dan di saat itu juga aku bertemu dia. Dia yang menjadi semangat pertamaku dalam meraih karirku.
Dan kini aku percaya dengan segala hal perkataan bundaku tentang keajaiban waktu yang membawaku pada jalan kesuksesanku. Kesuksesan akan datang di waktu yang tepat. Di waktu dimana kamu beriringan dengan usahamu yang tak mengkhianati hasilmu. Dan yakinlah bahwa segala usaha memiliki titik temu dalam setiap langkah manusia. Bukankah begitu?
Perkenalkan namaku adalah Denada Gracia Clarabelle. Seorang bintang yang tengah bersinar di jalan karirnya. Menikmati setiap peran yang dimainkan. Menguras emosi setiap penonton. Membuat mereka terbuai dengan aktingku.
Aku dikenal sebagai aktris yang multitalent. Selain akting, aku juga bisa bernyanyi dan menari. Berkat bakat yang ku miliki, aku mampu melambungkan namaku di seluruh saentero jagat raya. Siapa yang tak mengenal aku? Seorang Cia sang aktris yang penuh dengan segudang prestasi. Seluruh masyarakat pasti mengenalku. Bukan aku menyombongkan diri tapi itulah kenyataannya.
Selain aku memiliki segudang prestasi, aku juga memiliki berjuta-juta fans. Mulai dari para remaja, orang dewasa dan mbok-mbok. Semua kalangan orang telah menjadi fans setiaku. Ya itulah sekilas tentang kisah hidupku.
Lamunanku terputus saat seseorang menyodorkan cup coffe. Ia duduk di sebelahku. Dia Caesar Gin Xaverius, kekasih hatiku. Seorang yang menjadi penyemangatku, mood booster ku. Dia menemaniku sampai sejauh ini. Menggenggam setiap langkah yang ku tuju. Tersenyum penuh kharisma saat aku mengeluh padanya.
"Minumlah, kau sudah bekerja terlalu keras," ucapnya lirih. Ia mengusap pelan rambutku lalu mulai fokus mendalami naskah.
__ADS_1
Ah, selalu saja seperti ini. Dia memang terlalu cuek untuk ukuran seorang aktor, tapi perhatiannya membuat hatiku meleleh. Tindakannya terkadang tak dimengerti namun inilah tantangannya. Membuatku semakin penasaran akan sosoknya.
"Kenapa liatin aku terus? Aku ganteng ya? Emang, hehe," katanya narsis. Ia nyengir, menunjukkan gigi putih yang berderet dengan rapi.
"Enggak, siapa juga yang liatin? Kamu kali yang kepedean," elakku. Cepat aku menenggelamkan wajahku di lembaran naskah sinetron yang tengah ku mainkan ini. Tak main-main, episodenya sampai beratus-ratu. Mengalahkan series novel kesukaanku yang penulisnya amat terkenal itu. Entah apakah akan mencetak rekor atau tidak, yang pasti ini akan menghabiskan waktu bermusim-musim.
Caesar menangkupkan tangannya di pipiku, menatap wajahku yang sepertinya sudah merah sempurna. Persis layaknya tomat yang sudah matang. "Kamu itu kalau mau liatin aku ya gak usah malu-malu gitu, liat tuh wajah kamu udah merah."
Bibirku mengerucut, "siapa juga yang liatin? Kamunya aja yang kegeeran." Caesar tertawa, ia menggelengkan kepalanya lalu mengusap pipiku pelan.
"Kamu itu gengsian ya ternyata."
Aku mengambil naskahku, pura-pura sibuk menekuninya padahal tengah menentramkan hati yang sudah seperti marching band sekolah saja. Mengabaikan Caesar sepenuhnya.
Ingatanku melayang menuju malam pertemuan kami dulu. Di tengah guntur yang menghambat jalan kami pulang setelah teater "Perempuan Bertudung Merah"dipentaskan tadi. Kebetulan ia adalah lawan mainku.
Aku menoleh, menatapnya bingung. Ia menegadah, melihat butiran air yang jatuh dengan sendu. "Mengapa kamu benci hujan? Padahal bulirnya begitu indah, suasananya bahkan begitu syahdu."
Caesar mengalihkan pandangannya pada genangan air di jalanan sana, "Karena hujan itu layaknya kenangan. Ia tak akan pergi meski kita meminta. Ia akan terus begitu sampai berhenti dengan sendirinya."
"Bukankah kita bisa menikmatinya? Kenangan itu ada bukan untuk di buang. Mau bagaimana pun juga, kenangan itu akan tetap ada. Menetap di sudut-sudut hati. Meski kamu berusaha mengusirnya, melupakannya, atau bahkan mengabaikannya, ia akan tetap ada disana."
Caesar terdiam, "Aku mungkin egois, tapi aku ingin bisa melupakannya, seandainya waktu tak mempertemukanku dengan dia."
__ADS_1
Aku menepuk pundaknya, "Yang perlu kamu lakukan hanyalah berdamai dengan semua itu. Kamu tak bisa menyalahkan siapapun. Semangat, suatu hari nanti kamu pasti bisa menerimanya."
Kakiku mulai melangkah, hujan sudah mulai reda. Ya meski agak gerimis, tak apalah, aku ingin segera pulang. Jika diingat lagi, sebelumnya kami bahkan tak pernah bertegur sapa, kecuali saat latihan. Itu pun sekadarnya. Ini adalah percakapan terpanjang kami, untuk saat ini.
Percakapan ini ternyata berkesan di hatinya. Sejak saat itu, ia mulai gencar mendekatiku. Awalnya hanya seputar sharing mengenai apapun. Tentang pandangan kami mengenai dunia. Tentang cita-cita dan impian kami. Entah bagaimana caranya, semesta menuntun kami menjadi dekat.
Yang aku sadari, dia adalah laki-laki pertama yang membuat aku nyaman akan kehadirannya di sampingku. Biasanya aku risih jika dekat dengan laki-laki. Ini berbeda, ada getaran aneh yang muncul setelah sekian lama kita bersama. Tepatnya, sebagai teman biasa. Tidak kurang dan juga tidak lebih.
Tapi itu dulu. Hubungan kami sudah merambah ke ranah selanjutnya. Sebagai sepasang kekasih. Menapaki jalan karir kami bersama-sama. Awalnya dari satu teater ke teater lain. Lalu ikut casting ftv, lolos dan tak disangka malah berujung pada banyaknya tawaran job. Membuat karir kami melesat dengan cepat.
"Come on Cia. Semua akan dimulai dalam 5 menit." oceh mbak Lia. Mengagetkanku saja.
Aku bangun dari dudukku. Siap menjalani aktifitas syuting yang cukup melelahkan. Apalagi harus menghapal teks dialog dengan amat sempurna. Belum lagi mengenai riasan wajah dan pakaian. Memang cukup rumit, tapi ini semua aku nikmati. Bukankah ini yang aku inginkan? Bukankah ini mimpiku dari dulu? Bagian dari janjiku pada bunda. Menjadi seorang aktris film.
Semua ini amat menyenangkan apabila dinikmati. Belum lagi, kalau bertemu fans. Bayangkan saja, dulu aku hanya bisa berkhayal tentang semua ini. Tapi sekarang, ini menjadi nyata. Aku bisa bertemu dengan para penggemar, menyaksikan mereka begitu antusias bertemu denganku. Terkadang aku merasa menjadi orang yang teramat penting. Padahal aku hanyalah seorang pemeran saja di tiap film bahkan sinetron. Serasa menjadi pejabat, hehe. Terkadang ada saja yang mengirimkan hadiah untukku. Terharu pastinya, ya ampun, ini amat mengagumkan.
"Cut," suara teriakkan sutradara menggema. Menandakan proses syuting kali ini telah selesai. Aku memperhatikan sekitar, para staff sibukembereskan peralatan. Ada pula para penggemar —penonton setia sinetron "Cinta Dunia Virtual" — yang tengah berkumpul di pimggir. Aku menggelengkan kepalaku pelan, lucu melihat timgkah mereka yang terlampau antusias. Terlihat sekali kalau mereka amat bahagia.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.15, ini sudah malam rupanya. Hari yang melelahkan. Pelan aku melangkah menuju mobil, sudah tak sabar membaringkan tubuh di ranjang. Beristirahat. Namun langkahku terhenti, seseorang menghadangku. Rupanya ini Caesar.
"Ada apa, hmm?" tanyaku sambil memperhatikan mukanya yang terlihat penat.
"Sehabis ini, istirahat yang cukup ya. Jangan bergadang dan jangan lupa mimpiin aku," Caesar mengusap kepalaku lalu mencium keningku pelan. Bisa ku dengar teriakkan histeris dari para penggemar yang berkumpul di belakang kami. Cukup, ini tidak bisa dibiarkan lagi. Pipiku sudah kepalang merah, sudah seperti kepiting rebus saja.
__ADS_1
Tanganku mengusap pelan pipi Caesar lalu melangkah masuk ke mobil, "Sampai jumpa,"
Caesar melambaikan tangannya, mengamati pergerakkan mobilku sampai menghilang di ujung belokkan. Bisa ku lihat ia tengah dikerubuti oleh wartawan dan penggemar tentu saja. Sekilas aku merasa kasihan, ia pasti lelah ditambah kondisi ini membuatnya pusing. Semoga ia bisa mengatasinya.