Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan

Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan
Bab 7


__ADS_3

Kutukan yang terjadi pada Cia membawanya pada pertemuan dengan remaja tengil. Pertemuan dengan seorang remaja yang menawarinya sebotol air minum membuat Cia tertegun, dia terlihat baik dan sedikit menyebalkan. Seorang remaja berparas tampan yang memiliki belahan rambut dan poni miring.


“Mbok, mbok baik-baik saja?” Tanya remaja yang baru saja mengejek Cia


“Heh, jangan panggil gue mbok, gue masih muda” dengus Cia tak terima


“Wah, semangat muda yang bagus mbok. Tapi kalo boleh jujur, mbok emang terlihat sangat tua” ejeknya sekali lagi


“Lo bener, gue harus nemuin nenek tua itu”


“Mbok kerampokan?”


“Duh, bukan itu maksud gue. Boleh pinjem HP lo?”


“Ada”


“Oh ya nama lo siapa?” Tanya Cia kepada remaja yang masih duduk di sebelahnya


“Neo, Neo Zydan Wiratama”


“nama gue Cia”


Cia menelpon seseorang disebrang sana namun masih tak ada jawaban, ia sudah mencoba beberapa kali tetap saja pemilik nomor itu tak bisa ia hubungi, apa yang harus ia lakukan? Jika terus seperti ini, apa yang sudah ia bangun dengan susah payah akan berakhir saat ini juga. Cia memandangi laki-laki di sebelahnya


,


“Um, lo bisa bantu gue?”Tanya Cia dengan masih kebingungan


“Bantu apa? Mungkin bisa mbok”


“Udah gue bilang jangan panggil gue mbok, gue gak setua itu”


“Hahaha mbok menolak tua rupanya. Tapi itu bagus” ledeknya dengan wajah polos itu


“ Kayanya emang gue harus jelasin semuanya, biar lo bisa bantu gue”


Cia dengan susah payah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, pemuda itu semakin mengerutkan dahinya. Memang terdengar seperti lelucon tua, Cia pun tak percaya ia akan mengalami hal seperti ini, melihat ekspresi Neo, Cia semakin ragu akan tetapi tak ada pilihan lain selain meminta bantuan pemuda itu.


“Gimana?”


“Tunggu, lo bilang lo kena kutukan?”


“Iya”

__ADS_1


“Dan lo minta gue nampung lo gitu?”


“Cuma buat sementara, gue harus menemui nenek tua yang udah bikin gue kaya gini”


“Gak, gue gak bisa”


“Tapi gue udah ceritain semuanya, gue mohon”


“Cerita konyol kaya gitu?, bisa jadi lo bohongin gue”


“Gue bersumpah, gue bakal buktiin sama lo kalo gue ga bohong”


“Hah, sebenernya kenapa sih sama dunia. oke, gue bakal bantu lo tapi dengan syarat”


“Apapun itu”


Perjanjian antara Neo dan Cia sudah terjalin, pemuda itu bersedia membantu Cia asal dengan syarat dan Cia menyanggupi tawaran tersebut. Permainan yang sesungguhnya akan dimulai, Cia sadar bahwa jalan yang ia lalui tidaklah mudah tapi ia tak punya pilihan. Takdir memang sedang bercanda, semesta membuatnya tak berdaya dan Cia tidak boleh menyerah. Demi dirinya, mimpinya dan semua yang sudah ia terima selama ini. Tekad Cia memang tak usah diragukan, ia akan mengembalikkan semuanya.


Neo Zydan Wiratama adalah siswa menengah atas, Cia memutuskan untuk tinggal bersamanya setelah perdebatan yang lumayan panjang. Wajar jika lelaki itu ragu dengan semua cerita Cia, sebagai manusia normal akal nya bahkan sulit untuk mencerna setiap hal yang ia terima. Rumahnya tidak terlalu besar, berbeda dengan kediaman Cia. Meskipun begitu, Cia tetap menerimanya lebih tepatnya terpaksa untuk menerimanya.


“Ini kamar lo” tunjuk Neo sembari melepaskan jacket yang ia kenakan tadi


“Mana orang tua lo?” Tanya Cia yang masih celingukan memerhatikan setiap sudut rumah Neo


“Lo tinggal sendiri, dari kapan?”


“Pertama masuk sekolah, orang tua gue ga disini”


“Oh” hanya itu yang bisa Cia katakan.


“Di ujung sana kamar gue, jangan pernah masuk kalo gue ga izinin lo masuk” tegas Neo


“Lagian ngapain gue masuk kamar lo, tapi makasih ya lo mau nampung gue disini buat sementara” balas Cia dengan raut wajah malas


“Terserah, gue masih ragu sama cerita lo tapi karena gue anak yang baik, nolong orang tua bukan hal buruk menurut gue.” Ujar Neo dengan ucapan yang sarkas


“Sialan, lo masih tetep manggil gue orang tua, hah” kesabaran Cia ada batasnya dan laki-laki ini terus mengganggunya.


“Lo pikir lo terlihat  muda sama kondisi lo sekarang?” tanya Neo bernada menyindir


Apa yang Neo katakan memang benar, ia terlihat tua. Justru aneh jika Cia membantah pernyataan itu, raut wajah Cia berubah sayu menyadari perkataan Neo beberapa detik lalu. Tak pernah terbesit sekalipun dalam ingatan nya bahwa hal konyol seperti ini terjadi, Cia mengusap wajahnya dengan gusar bukan saatnya ia meratapi hal yang sudah terjadi. Ia harus mencari jalan keluarnya.


“Udah, lo malah bakal jadi tua beneran kalo kaya gitu” ejek Neo tanpa rasa bersalah

__ADS_1


“Bocah sialan” umpat Cia dengan wajah yang memerah


“Udah dong mbok, iya gue minta maaf. Lo muda kok, M.U.D.A”


“Awas lo ya, bocah tengik”


“Eits! Nggak kenaa” olok Neo sambil menghindari serangan Cia. Cia mulai geram dengan Neo. Cia berusaha mengejar Neo. Neo jelas lebih gesit dari Cia yang terjebak dalam tubuh wanita renta. Cia kehabisan napas dengan cepat.


“Hah, hah.. Aduhh kenapa sihh gue harus kesiksa sama raga nenek-nenek. Kan gue jadi nggak gesit lagi. Anjing emang” rutukan Cia sangat menyedihkan. Neo menggelengkan kepalanya.


“Udahlah mbok. Kalo lo emang udah renta jangan di paksain. Lu emang pantesnya rebahan sambil nontonin sinetron yang lagi hype sekarang ini” cerca Neo yang nampak tak kelelahan.


“Anjing, kalo gue balik jadi muda lagi, gue giles pala lu ya” kepala Cia mulai mendidih. Neo hanya tersenyum miring, meremehkan perkataan Cia.


“Kalo lo berani giles pala gue, gue usir lu dari rumah gue” ancam Neo. Cia terdiam tak berkutik. Neo tertawa kecil melihat reaksi Cia.


“Wkwkwk, cupu bat dah, di ancem gini doang aja bergeming. Herman gue”


“HERAN, GOBLOK!! LU SEKOLAH BUAT APA SIH, ANJING?! LU MASUK SMA NYOGOK YA?!” amarah Cia tak terbendung. Neo malah tertawa lepas.


“Hahaha.. Iya gue masuk SMA nyogok, soalnya SMA tempat gue sekolah tuh masuk yayasan kakek gue” ucapan Neo terdengar asal bagi orang lain, tapi tidak bagi Cia.


“Anjir pantesan, jalur dalam” hinaan Cia malah membuat Neo tersenyum. Cia yang bingung, sedikit memiringkan kepalanya.


“Yaa nggak lah anjir. Gue cuma bercanda. Aduuhh mbok, mbok. Jangan kaku kayak kanebo kering lahh. Diajak bercanda malah kena mental” caci Neo. Cia makin kesal dibuatnya. Andai ia bisa mengeluarkan jurus api, mungkin saja ia sudah membakar habis rumah Neo.


“Lagian, gue tinggal sendirian di rumah ini juga kemauan gue sendiri. Gue mau mandiri, biar nggak manja terus sama bokap nyokap” jelas Neo. Cia hanya mengangguk-angguk kecil.


“Gue kira lo masih anak mama” ejek Cia sekali lagi.


“Ah udahlah mbok, gue mau ganti baju dulu. Kamar lu disitu ya. Kamar mandi ada di deket dapur. Inget, jangan masuk ke kamar gue tanpa izin gue” larang Neo sambil menunjuk ke arah kamar tamu.


“Iye bawel. Lo jadi cowok bawel bat dah. Btw, ntar gue pinjem baju lo ya. Gue kagak bawa baju ganti”


“Idih, emang cukup?”


“Cukup lah, anjing! Gini-gini gue aslinya seksi yaa. Kalo lo liat gue pas berubah nanti, lu gak akan bisa alihin pandangan lu ke cewek lain, yakin gue!”


“Jangan sok iye dah lu, mbok. Di bilang udah tua yaudah, nggak usah ngelak,”


“Serah lo aja lah. Capek gua dengerin bacotan lo” ucap Cia mengakhiri adu mulut mereka. Cia masuk ke dalam kamar yang di tunjuk oleh Neo. Cia cukup takjub dan kaget dengan ruangannya. Bersih dan rapi, bukan seperti cowok pada umumnya.


“Keren juga kalo dia bisa bersihin seisi rumah sendirian” gumam Cia. Ia merebahkan dirinya di atas kasur single bed. “Aduduuhh, gini yaa rasanya encok. Sumpah penderitaan ini berasa kayak siksa neraka” ujar Cia sambil memegangi pinggangnya. “Hahh... Harusnya kemaren gua nggak kasar sama mbok-mbok itu. Yaa mana tau kalo akhirnya bakal begini” pikir Cia. “Tidur sebentar enak juga” Cia memejamkan matanya dan ia tertidur dalam posisi encok.

__ADS_1


Neo yang melihat Cia tertidur dengan pintu terbuka membuat ia berpikir, “Apa benar yang dikatakan oleh Cia bahwa dia benar-benar terkena kutukan? Hal yang bener-bener di luar nalar. Gue kira kutukan cuma mitos ato legenda”. “Ah ya, sekalian cari baju yang bisa dia pake” gumam Neo sambil berbalik arah menuju kamarnya. “Ada beberapa, lumayan lah. Tapi apa dia nggak ganti pakaian dalam ya? Anjing, jorok banget, bangsat” gumam Neo sambil memisahkan baju yang akan dia pinjamkan pada Cia. “Hmm... Sepertinya dia bisa aku jadiin babu sebentar” pikir Neo sambil menyeringai.


__ADS_2