
Hari minggu adalah hari dimana Caesar harus menepati janjinya pada Cia. Cia menjalani hari minggu nya dengan hati yang amat bahagia karena akhirnya ia memiliki kesempatan untuk dinner dengan Caesar setelah sekian lama.
“Untung bisa di majuin jadwal photoshoot nya. Makasih banyak yaa mbak Nia, lu emang the best lah” ucap Cia sambil memberikan dua jempolnya. Pak Issac tersenyum dan mengangguk.
“Gue langsung ngeh kalo Caesar bakal ngajak lo pergi makan. Setidaknya itu bikin mood lu nggak anjlok gara-gara kagak jadi pergi pas weekend begini. Bisa berabe gua kalo mood lo sampe down” kata Pak Issac
“Awh, gue jadi makin sayang sama lo deh” seru Cia sambil berusaha memeluk Pak Issac . Pak Issac menerima pelukan dari Cia.
“Udah pelukannya. Makan dulu yok sebelum pemotretan. Gue tau lu pasti laper”
“Lu emang paling ngertiin gue, mbak. Yok lah, tadi gue sarapan roti doang selembar”
“Salah sendiri bangun kesiangan” ejek Pak Issac yang membuat Cia mengeluarkan tanduknya.
“Yahh ini kan hari minggu mbak. Hari dimana gue bisa bangun jam berapapun sesuka hati gue. Lah gara-gara ada kerjaan pas weekend gini bikin gue nggak tahu hari” keluh Cia. Pak Issac menggeleng kecil.
“Rejeki jangan di tolak. Kan mayan bayarannya, meskipun harus sakit punggung dulu”
“Yahh yaudah deh”
Lanjut ke sesi photoshoot, Cia melakukan pemotretan dengan sangat baik dan lancar. Sehingga sesi tersebut tak berlangsung hingga petang, namun hanya hingga pukul empat sore.
“Kan enak kalo mood lo bagus gini, kerja jadi lancar dan cepet selesai. Lo jadi ada waktu istirahat sambil nunggu waktu buat dinner lo sama Caesar” celetuk Pak Issac setelah berterima kasih dengan tim fotografer yang pamit untuk pulang.
“Iya mbak, seneng banget gue”
“Gue anterin balik ke apart lo ya. Lo rebahin diri lo, mandi, dan siap-siap dinner sama Caesar. Jangan tidur, soalnya lo kalo dandan lama banget”
“Iyee manajerku tercintaa” kata Cia gemas.
Minggu malam datang. Caesar menepati janjinya pada Cia untuk makan malam bersama. Cia sudah tampil cantik dengan dress pendek berwarna merah dan make up natural favoritnya. Ia mengenakan aksesoris berupa tas jinjing merk Louis Vuitton berwarna putih dan sepatu hak tinggi merk Saint Luarent berwarna senada dengan dress nya.
Pukul tujuh tepat, Caesar membunyikan bel apartemen Cia. Cia yang sudah siap, segera melesat keluar untuk menemui sang kekasih hati. Baru saja Cia mengunci pintu apaertemen nya dan akan menggandeng tangan Caesar, ada seorang nenek tua yang menghampirinya.
“Halo neng Cia. Saya mbok Nur yang waktu itu titipin sekotak nasi buat neng. Saya fans berat neng. Saya juga bawa sekotak nasi buat neng, tolong diterima” pinta nenek itu yang ternyata bernama mbok Nur.
__ADS_1
Caesar yang merasa acaranya diganggu pun mencerca mbok Nur. “Eh mbok, kami ini mau keluar beli makan makanan enak dan mahal, bukan makan makanan kampungan buatan lo itu ya!”
Cia merasa tak tega melihat mbok Nur dihina seperti itu. Cia hanya bisa mengeluarkan napas berat.
“Neng Cia, tolong terima nasi kotak buatan saya. Saya jauh-jauh dari kampung untuk mengantarkan ini” mohon mbok Nur. Cia mengangkat tanganya untuk menerima nasi kotak buatan mbok Nur. Tapi tangan Cia ditepis keras oleh Caesar seolah ia tak ingin tangan cantik Cia ternodai oleh benda kampungan yang dibawa mbok Nur. Cia melotot, namun pelototan Caesar lebih menakutkan. Cia jadi merasa terintimidasi.
“Saya tau kalau neng sangat menikmati masakan saya, jadi saya mohon terima ini” mohon mbok Nur sekali lagi. Cia bergeming, sedangkan Caesar mulai kebakaran jenggot
“Kami ini mau pergi dinner, sana bawa pulang lagi kotak nasi itu. Cia nggak akan sudi makan makanan buatanmu!” teriak Caesar yang bergema di lorong apartemen. Cia berusaha menenangkan Caesar dengan mengelus dadanya.
“Neng saya mohon terima kotak nasi ini” mohon mbok Nur dengan nada memelas. Caesar yang sudah kepalang geram, mengambil kotak nasi itu dan membuangnya sembarang. Caesar juga mendorong tubuh mbok Nur hingga tubuh rentanya jatuh tersungkur.
“Lo buang-buang waktu kami tau! Udah ayo sayang kita tinggalkan dia” ajak Caesar sambil menggandeng Cia. Namun mbok Nur dengan cepat memegangi kaki Cia agar ia tak pergi.
“Neng jangan pergi dulu, tolong terima kotak nasi ini” Cia yang sudah merasa kesal dengan sikap mbok Nur, langsung menendang mbok Nur yang mencengkeram erat kaki Cia. Mbok Nur kesakitan karena tendangan Cia. Namun hatinya lebih sakit karena ia diperlakukan dengan buruk oleh idolanya sendiri.
“Bagus Cia. Dia pantas mendapatkan itu” celetuk Caesar yang bangga dengan reaksi Cia terhadap sikap mbok Nur.
“Neng, jangan mau pacaran sama cowok itu. Dia bawa pengaruh buruk buat neng” nasehat mbok Nur pada Cia. Caesar semakin jengkel dengan mbok Nur. Caesar jadi ikut menedang mbok Nur, namun dengan tenaga yang lebih kuat dibanding tendangan Cia.
“Udah sana pulang aja mbok. Bawa pulang kotak nasi kampungan lo itu. Kami mau pergi dinner, udah telat sepuluh menit buat ladenin lo doang” hardik Cia sambil menggandeng tangan Caesar.
Mbok Nur sudah berada diambang batas sabar. Ia langsung mengucapkan kutukan pada Cia dengan lantang. “Cia! Saya bersumpah kamu akan segera merasakan apa yang saya rasakan!”
DEG!
Dada Cia terasa berhenti sepersekian detik, lalu berdetak normal. Melihat Cia yang pandangannya tiba-tiba kosong, Caesar langsung mencium tangan Cia. Cia tersadar dan menoleh ke arah Caesar.
“Udah nggak usah dipikirin omongannya si tua renta itu. Dia hanya sedang tersulut emosinya, pasti asal mengucapkan. Berbahagialah karena akhirnya kita dinner setelah sekian lama kita dipadati jadwal yang tiada habisnya” hibur Caesar. Cia tersenyum lebar.
Selesai dinner, Caesar mengantar Cia kembali ke apartemen Cia. Cia mengganti pakaiannya dan mengistirahatkan fisik dan jiwanya. “Bagaimana kalau ucapan si mbok tadi benar-benar terjadi padaku?” tanya Cia pada dirinya sendiri. “Ah ngapain di pikirin, toh cuma bunga kemarahan itu” kata Cia enteng. Cia tertidur pulas setelah berkegiatan seharian
Hari selanjutnya berjalan lancar hingga pukul sebelas siang. Saat melewati pukul dua belas siang, tubuh Cia merasa bahwa ia sudah sangat kelelahan. Cia meminta izin ke toilet pada kru. Cia bergegas menuju toilet dan mendapati dirinya berubah menjadi seorang nenek-nenek yang memiliki keriput di mana-mana. Ingin sekali Cia berteriak saking kagetnya. Namun niat itu ia urungkan karena pasti akan langsung terdengar oleh kru dan beberapa teman sesama artis. Cia akhirnya memutuskan untuk kabur dari lokasi syuting. Ia berhasil lolos tanpa ketahuan
Disaat kabur dari lokasi syuting itulah Cia dan Neo bertemu. Pertemuan yang amat menjengkelkan.
__ADS_1
Flashback off...
“Jadi begitu, terserah lo mau percaya ato nggak. Yang penting gue udah bicara jujur apa adanya” ujar Cia mengakhiri ceritanya. Neo masih tercengang dengan rangkaian kejadian yang dialami Cia.
“Jadi lo kena kutukan dari nenek itu?” pertanyaan Neo dijawab dengan anggukan oleh Cia.
“Iya, dan gue nggak tau dimana sekarang nenek itu berada. Pingin banget gue minta maaf dan minta cabut kutukannya dari gue. Sumpah kalo kayak gini terus nyiksa woi. Karier yang gue bangun susah payah bisa anjlok nantinya” keluh Cia.
“Kalo wujud lo udah balik gini, kenapa lo nggak pulang ke apart lo?”
“Kalo gue balik, dan ada satu aja wartawan yang tau wujud gue pas berubah, abislah gua anjing!” jawab Cia.
“Iya juga sih, lo kan artis yang lagi naik daun. Nggak heran kalo ada seenggaknya satu ato dua wartawan yang stay nungguin lo di lobby”
“Itulah makanya gue masih perlu buat tinggal bareng sama lo. Yaa? Pliss. Dan juga tolong ikutin gue kemanapun gue pergi pas malem. Takutnya kalo gue berubah jadi nenek-nenek di waktu yang nggak tepat, gue bisa kabur berdua. Kabur sendirian nggak enak. Plus bantuin gue cari keberadaan si nenek pemilik asli tubuh ini” mohon Cia. Neo nampak berpikir. Lalu telintas pemikiran sangarnya.
“Okay. Kalau gitu bagaimana kalu kita membuat perjanjian?” tawar Neo.
“Apa itu? Lo mau duit? Gue kasih, anjir”
“Nggak, duit bokap gue udah banyak”
“Trus lo mau apa?”
“Kita buat perjanjian. Gue akan izinin lo tinggal di rumah gue dan gue akan ikutin kemanapun lo pergi plus bantuin lo nyari nenek-nenek yang lo maksud tadi, asal lo mau bantuin gue masalah domestik, kayak masak, nyapu, ngepel. Gimana?” tawar Neo. Mata Cia otomatis terbelalak sangat lebar.
“WAH!! YANG BENER AJA LO BANGSAT!! LO MAU JADIIN GUE BABU LU? SIALAN!!” teriak Cia.
“Yaa kalo lo nggak mau, gakpapa. Lo bisa keluar dari rumah gue sekarang” usir Neo sambil mengibaskan tangannya. “Buh, nih anak songong amat” kata hati Cia. Cia menghelas napas berat sambil berpikir.
“Yaudah gue bersedia. Tapi lo harus tepatin janji lo” kata Cia pasrah karena tak ada pilihan lain. Neo menyeringai.
“Baiklah, deal?” tanya Neo sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Deal!” seru Cia sambil menyambut tangan Neo dan mereka berjabat tangan.
__ADS_1