
"Bentuk sebuah kasih sayang bukanlah tentang memiliki tapi bagaimana dia bersikap. Dan sikap dingin gua adalah bentuk sayang gua padamu Cia.. ".
-Neo Zydan Wiratama -
Faradina hadir di rumah Neo baru beberapa jam, namun sudah membuat rumahnya seperti pasar. Suasananya ramai, bahkan untuk ukuran jumlah orang yang hanya tiga di dalam rumah, ini terlalu ramai. Cia dan Faradina banyak berbicara, bercanda, tertawa, dan berteriak. Neo hanya bisa menghembuskan napas, menggeleng, dan memutar bola matanya saat Cia dan Faradina sangat berisik. Neo ingin sekali menolak dengan tegas permintaan Cia tadi, yaitu meminta agar Faradina bisa menginap di rumahnya. Namun Cia berhasil meluluhkan ego nya. Ia tak bisa menolak saat hal itu bisa membuat Cia sangat bahagia
Cia agak tolol, tapi dia cantik banget. Bisa-bisanya gue deg-deg an gara-gara wanita tolol macam dia.
“Neoo, lu bantuin bakar-bakar dong. Diem bae lu ah!” teriak Cia pada Neo yang hanya diam sambil bermain handphone.
“Males. Tugas cowok cuma makan” jawab Neo tanpa melihat Cia maupun Faradina. Cia malah memaksa Neo untuk berdiri. Namun Neo menahan dirinya agar tak berdiri.
“Apaan sih?” pekik Neo.
“Lo cowok ato bencong?” maki Cia. Neo mNeotot, Faradina terkekeh.
“Cowok lah” jawab Neo singkat.
“Buktiin kalo lo cowok” tantang Cia sambil memberikan capitan memasak kepada Neo. Neo langsung merebut capitan itu dan berdiri.
“Makasihh dede emesh” seru Cia bernada manja. Neo tersenyum miring. Cia duduk untuk mengistirahatkan kakinya.
“Duduklah, Diraaa. Biar diambil alih sama Neo” suruh Cia sambil memijat kakinya yang pegal.
“Lu gakpapa kalo gue duduk bareng Cia?” tanya Faradina yang tak enak hati.
“Gakpapa, lo duduk aja” jawab Neo sambil melanjutkan memanggang sosis. Faradina pun meletakkan kuas memasaknya.
“Ini bumbunya, biar makin enak rasanya” ucap Faradina. Neo hanya mengangguk sekali. Faradina pun menghampiri Cia dan duduk bersamanya.
“Nahh gitu dongg kerjaa. Enak aja lo cuma diem duduk. Kalo lu mau enaknya doang, gimana lu mau kuat di dunia yang lebih kejam?” sindir Cia. Faradina terkekeh lagi, sedangkan Neo bersungut-sungut setelah mendengan perkataan Cia.
“Udah lahh Ray, kalian itu udah kayak suami istri tauk” lerai Faradina yang membuat Cia dan Neo otomatis menoleh ke arah Faradina. Faradina cuma cengengesan.
“Lu tuh yaa dir, gue kan udah punya Caesar Gin yg tampan rupawan dan mapan. Gua mah ogah sama anak kecil bau kencur kek dia” sanggah Cia sambil menatap Neo dengan wajah ogah-ogahan. Neo hanya memutar bola matanya dan kembali fokus dengan sosis bakarnya.
Cia, Cia. Lu tuh naif banget sumpah. Tapi justru gue malah seneng.
Andai gue punya bukti kalo pacar lu yang brengsek itu berselingkuh, dia pasti udah jadi milik gue.
Eh anjir ngapain gue mikir kek tadi?
Udah Neo, fokus!
Neo menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran yang tadi mengusik pikirannya.
“Eh Ray, lu beneran gak lagi selingkuh sama si berondong itu kan? Cakep loh, kali aja dia banyak duit” bisik Faradina. Cia menggeleng kuat.
“Big no, Diraaa. Gue males sama cowok sedingin suhu udara kutub selatan. Lagian, Caesar Gin aja udah cukup banget buat gue” jawab Cia dengan volume rendah. Mau serendah apapun volume suara mereka berbicara, Neo tetap bisa mendengarnya.
Pria bangsat itu gak pantes buat dapetin Lu Cia!
Sosis bakar ala Neo sudah siap. Masih ada sepotong besar daging yang harus di bakar. Neo meletakkan piring berisi sosis bakarnya lalu memberikan piring itu ke Cia dan Faradina tanpa banyak bicara. Neo kembali ke panggangan untuk membakar daging terakhir yang lebarnya hampir selebar layar laptop.
“Dirakuu, lu bersihin apart kita dengan baik kan?” tanya Cia sambil mencomot sosis di depannya.
“Tentuu, gue melakukan pekerjaan domestik dengan baik dan benar” jawab Faradina sangat percaya diri.
“Btw, Caesar Gin nyariin gue tiap hari nggak?” tanya Cia yang sangat penasaran.
“Yahh nggak juga sihh, paling nggak seminggu tiga sampe empat kali lah” jawab Faradina di sela kunyahannya.
“Ahh kalo gue nggak kena kutukan ****** ini, gue udah puas hati buat berduaan sama Caesar Gin” ujar Cia sambil membayangkan hal itu terjadi.
Ya, kalo lo nggak berubah, gue gak akan bisa ketemu bidadari kayak lo, Cia Farasya!
“Yaa ngapain sih lu pake jahatin fans lo. Lo ada di titik sekarang juga karena fans lu anjir. Belagu sih lu, kena batunya kan” ejek Faradina. Cia mendengar hal itu langsung memukul kencang punggung bagian atas milik sahabatnya hingga berbunyi “BAK”. Faradina langsung menyentuh area itu dan meringis kesakitan.
__ADS_1
“Woy ilahhh sakit goblok!” teriak Faradina kesakitan. Cia terkekeh melihat sahabatnya meringis kesakitan karena pukulannya.
“Itulah akibatnya karena lu udah ejek gue” kata Cia.
“Itu fakta, Ciaa. Cobalah pikir, kalo lo nggak punya fans, lu nggak akan bisa menggapai impian lu “ jawab Faradina. Cia terdiam setelah mendengar ucapan Faradina tadi. Tiba-tiba Neo bergabung dengan mereka untuk duduk dan memakan sosis serta meyahuti perkataan Faradina.
“Sahabat lo gak salah. Lo nya aja yang bulol” sahut Neo. Cia dan Faradina sontak menoleh ke arah Neo yang sedang memakan sosis.
“Paan?” tanya Neo.
Faradina menyeringai lalu mengajak Neo untuk high five. Namun tangan Faradina sekali lagi tidak dihiraukan oleh Neo. Neo memilih untuk tetap melanjutkan kegiatan makannya. Faradina lalu menurunkan tangannya dengan kecewa.
Neo lalu mengecek handphone nya. Ia melihat room chat grup untuk kerja kNeompoknya besok. Ia melihat jadwal yang ditentukan oleh temannya, pukul sembilan pagi di sekolah. Neo mengernyitkan dahinya dan bertanya dalam hati, “Emang hari minggu sekolah buka ya?” Neo mengusulkan kalau kerja kNeompoknya di rumah salah satu temannya saja agar lebih mudah dan nggak kerja dua kali. Namun semua temannya menginginkan kerja kNeompok di sekolah, karena ada wifi gratis. Neo menghembuskan napasnya pelan, sedikit kesal, lalu menyetujui keinginan teman-teman kelompoknya.
“Besok gue kerkel jam sembilan” celetuk Neo.
“Okay” balas Cia sesingkat mungkin.
“Lo jangan khawatirin Cia, kan ada gue” sahut Faradina setelah melihat raut wajah Neo yang terlihat khawatir.
“Iya” balas Neo singkat sambil menghilangkan raut wajah khawatirnya.
Sial! Kenapa sih wajah gue keliatan kalo gue lagi khawatir? Bodo lah!
Acara barbeque party mereka sudah selesai di pukul dua dini hari. Faradina dan Cia melanjutkan pajamas party tanpa Neo. Pajamas party mereka berupa menonton serial drama korea favorit mereka berdua. Dan Neo tak suka menonton drama korea. Neo memilih untuk istirahat dan tidur. Ia mempersiapkan tenaga dan pikirannya untuk kerja kelompok esok hari.
Cia dan Faradina menonton drama korea hingga berteriak histeris, menangis sesenggukan, tertawa terbahak-bahak, dan baper hingga terjungkal. Tak terasa waktu hampir waktu matahari terbit. Cia pun bersiap untuk berubah seperti power ranger.
“Dirakuu, lo habis ini bakal liat wujud kutukan gue. Plis jangan teriak ato over reaktif, okay?” tanya Cia meminta persetujuan dari Faradina. Faradina mengangguk mantap. Ia sudah penasaran dengan wujud Cia yang berubah menjadi sosok nenek-nenek seperti yang Cia ceritakan.
Dalam waktu setengah jam, diri Cia menampakkan keriput di sana sini. Faradina kaget bukan main. Ia menutup mulutnya agar tak berteriak histeris.
Cia sudah berubah sepenuhnya. Cia tersenyum pada Faradina. Faradina menahan teriakan dan tangisannya.
“Cia, lu..., sumpah?” pekik Faradina yang masih menutup mulutnya. Cia mengangguk pelan.
“Iyaa Diraa, ini gue. Dan ini lah wujud kutukan gue” jawab Cia lalu tersenyum tipis. Faradina soantak langsung memeluk sahabatnya itu.
“Harusnya ini hilang kalo kutukannya bisa tercabut” jawab Cia masih memeluk Faradina. Faradina melepaskan pelukannya dan mengelap air matanya.
“Yaudah gue bantuin cari si pengutuk itu yaa” pinta Faradina dengan wajah memelas. Cia menyetujui permintaan Faradina. Faradina senang dan kembali memeluk tubuh Cia yang penuh keriput.
“Pantesan kok lu minta jadwal syuting diganti jadi malem hari” duga Faradina. Cia tersenyum dan mengangguk.
“Tapi apa boleh gue ikut lo cari si pengutuk itu?” tanya Faradina yang sangat sayang dengan sahabatnya.
“Yaa boleh laahh. Lo gak izin pun pasti gue ajak, sumpah” jawab Cia
“Tapi apa Neo mengizinkan?” tanya Faradina agar ragu.
“Halah bocil kek gitu biarin aja lah. Dia pasti nurut kalo gue rayu” tukas Cia sambil mengibaskan tangannya.
“Aawwhhh thank you so much Ciakuu” pekik Faradina.
“Your welcome Dirakuu” balas Cia.
“Baiklah, ayo kita tidur. Tolong matikan lampunya biar aku tutup gordennya” suruh Cia. Faradina lalu mematikan lampu dan menjatuhkan dirinya di kasur. Cia pun mengikuti Faradina untuk merebahkan dirinya diatas kasur. Mereka menarik selimut untuk bersiap tidur.
“Pintunya nggak ditutup?” tanya Faradina.
“Nope, biar Neo bisa dengan mudah mengawasiku. Takutnya ada orang tak dikenal menculikku saat dia lengah” jawab Cia. Faradina hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Baiklah. Sleep well, Cia” pamit Faradina.
“Sleep well too, Faradina” balas Cia. Mereka berdua segera memejamkan mata mereka dan mereka langsung tertidur.
Saat Cia dan Faradina tidur, Neo terbangun. Ia langsung meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
“Wuah, jam berapa sekarang?” tanya Neo yang pasti ia jawab sendiri.
“Jam delapan. Mandi dulu deh, sekalian ngintip Cia masih tidur apa udah bangun” gumam Neo sambil bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju kamar. Neo mengintip Cia dan Faradina yang masih tertidur pulas dengan posisi berpelukan.
Cia, Cia. Andai gue bisa tuker posisi sama sahabat lo, gue udah bisa kali tidur bareng lo sambil pelukan kayak gitu.
Eh Neo! Ngapain gue mikirin hal mesum kayak gini? Bodoh !
Pikiran Neo yang tadi langsung ia buang jauh-jauh. Neo lanjut berjalan ke kamar mandi.
Selesai mandi, Neo membuat sarapan untuk dirinya sendiri karena ia yakin kalau Cia dan Faradina akan membeli makanan di luar.
Neo memakan sarapannya dan melihat jam, pukul sembilan kurang lima belas menit. Neo langsung menghabiskan sarapannya dan mengintip kamar Cia sejenak. Cia dan Faradina masih tertidur.
“Gue pamitnya lewat chat aja deh” gumam Neo. Ia lalu bergegeas untuk memakai kaos kaki dan sepatunya. Ia menyambar kunci motor dan helmnya. Neo langsung menghidupkan motornya dan segera melajukannya.
Pukul sebelas. Faradina terbangun dari tidurnya. Ia melihat Cia dengan wujud mbok-mboknya.
“Sumpah masih berasa kalo dia pake kostum” kata hati Faradina. Ia lalu bangkit dari kasur dan segera ke kamar mandi untuk mandi.
Selesainya Faradina mandi, ia melihat Cia yang terbangun dan duduk di atas kasur.
“Lo mau sarapan apa?” tanya Faradina.
“Gue pingin bubur” jawab Cia secara spontan.
“Okay. Sekitar sini nggak ada pedagang bubur?” tanya Faradina sekali lagi.
“Ada kok di taman kompleks, dua ratusan meter dari sini” sahut Cia lalu meregangkan otot-ototnya.
“Yaudah kalo gitu habis lo mandi kita berangkat beli bubur yaa” ujar Faradina yang secara tak langsung menyuruh Cia untuk mandi. Cia pun bangkit dari kasur dan menepuk pelan lengan sahabatnya itu.
Selesainya Cia mandi, ia langsung bersiap untuk membeli bubur.
“Dandan sesuai umur yaa mbok” goda Faradina.
“Buh si anjir, gak ada kapoknya kemaren gua gebuk ya” ancam Cia. Faradina terkekeh.
“Wkwkwk udahlah turutin aja apa kata gue mbok” goda Faradina sekali lagi. Cia langsung mengangkat tangannya dan melayangkankan pukulannya yang paling keras saat itu. Faradina hanya tersenyum remeh dan menggeleng.
“Masih lebih sakit yang kemaren” ucap Faradina yang otomatis membuat Cia menghela napas.
“Yahh emang bener sih. Kalo pagi sampe sore, tenaga gue berasa kayak di diskon 50% tauk” curcol Cia sambil melihat telapak tangannya yang berkeriput dan merah, bekas memukul punggung Faradina.
“Resiko, jalanin aja sambil kita cari cara biar kutukannya bisa tercabut” kata Faradina berusaha menenangkan Cia.
Mereka berdua pun berangkat untuk membeli bubur di taman komplek menggunakan motor milik Faradina. Seluruh mata memandang Cia dan Faradina yang mengobrol seperti sahabat tapi terlihat bahwa gap umur mereka sangat jauh.
Setelah sampai di tujuan, Cia dan Faradina memesan dua bubur untuk dimakan di tempat. Mereka memilih duduk di tempat yang agak jauh dari posisi si tukang bubur. Mereka makan sambil mengobrol dan sedikit tertawa.
“Eh, gue minta nomernya Neo dong” pinta Faradina. Cia mengernyitkan dahinya.
“Ngapain?” tanya Cia.
“Yaa sebagai sesama “penjaga” Cia Farasya, masa nggak punya nomer satu sama lain sih” jawab Faradina disela suapannya.
“Okayy, gue kirim kontaknya ke whatsyoo lo yaa” kata Cia sambil mengirmkan kontak Neo ke room chat nya dengan Faradina.
“Okayy, tengkyuu beb” seru Faradina. Cia mengangguk sambil tersenyum lebar.
Selesainya mereka makan, Faradina ingin pergi untuk membayar bubur mereka sekalian mengembalikan mangkoknya.
“Cia, wait a minute yaa. Gue mau bayar dulu” pamit Faradina.
“Okay Dirakuu. I’ll be waiting you here” balas Cia. Faradina pun pergi meninggalkan Cia. Mereka tidak mengetahui bahwa Caesar Gin dan Yolanda sudah menunggu moment ini untuk menculik Cia
“Sayang, culik Cia sekarang!” suruh Yolanda. Caesar Gin langsung beraksi. Ia berjalan menghampiri Cia yang sibuk dengan handphone nya. Setelah kondisi memungkinkan, Caesar Gin langsung membekap wajah Cia dengan kain lap yang sudah diberi obat bius yaitu klorofom. Cia langsung pingsan di tempat. Caesar Gin menggendong Cia ala bridal style agar tak dicurigai oleh orang-orang disekitar. Caesar Gin lalu memasukkan tubuh Cia ke dalam mobilnya.
__ADS_1
“Ayo sayang kita pulang dan mulai melakukan rencana kita” ajak Caesar Gin pada Yolanda yang sudah sangat gembira.
“Okay sayang. Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran Cia Farasya” sahut Yolanda yang terlihat senyumya sangat merekah. Yolanda dan Caesar Gin masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya dengan kecepatan sedang, meninggalkan Faradina yang masih mengantri untuk membayar bubur.