Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan

Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan
Bab 15


__ADS_3

"Jangan Khawatir dengan segala hal karena ada Aku yang selalu menjaga Cia..".


-Neo Zydan -


Setelah malam itu, Perasaan Cia selalu diselimuti rasa khawatir dan takut. Takut jika Caesar Gin semakin nekat mencari tau tentang kondisinya. Ia duduk di tepi sofa sembari melihat ke arah jendela. Pagi ini semua terasa begitu kalut dalam fikirannya.


Apakah dirinya harus menghubungi Nadira ya?


Entahlah, dia sangat membutuhkan ketenangan dari sahabatnya..


Seseorang menepuk bahunya. Cia dengan wujud mbok ijah menoleh ke belakang. Melihat Neo yang membawakannya makanan dan segelas susu hangat.


"Lu makan dulu. Ngapain sih dari tadi melamun? " Tanya Neo


"Enggak apa-apa.. ". Jawab Cia dengan tersenyum tipis


"Huft, Ya udah gua siap-siap sekolah dulu ya.. ". Pamit Neo yang dibalas dengan anggukannya


Neo pun meninggalkan Cia tuk bersiap-siap pergi ke sekolahnya. Ia merapikan alat tulisnya dan memasukkan bukunya ke dalam tas ransel miliknya. Memakai kaos kaki dan menenteng tasnya. Ia keluar dari kamar dan masih melihat Cia yang masih termenung tanpa menyentuh makanannya sama sekali.


Neo duduk kembali di samping Cia "Ngapain nggak dimakan? Kenapa masih melamun? " Tanya Neo memberikan perhatiannya


Cia menggeleng pelan dan tersenyum tipis pada Neo. Lagi-lagi jawabannya adalah "Ra popo" yang artinya Enggak apa-apa. Neo menghela nafas dengan berat "Ya udah deh gua bakal temenin si mbok di sini. "


"Eh nduk ra sekolah toh? " Ujar Cia dalam bentuk mbok ijah tanpa sadar mengucapkan bahasa daerah si mbok ijah


"Ha? Mbok ngomong apa sih? " Tanya Neo bersungut ria


Cia dalam wujud mbok ijah menjitak kepalanya "Naon atuh ra ngertos bahasa na. Kamu sekolah tapi gak ngerti bahasa daerah.. ".


"Ya udah sini sini tulis saja daripada denger si mbok ngomong pake bahasa daerah.. ". Pinta Neo pada sosok mbok ijah di depannya


Cia dalam sosok mbok ijah menulis dengan sedikit kaku karena wujudnya. Ia menuliskan sebuah kalimat yaitu "Emang lu gak sekolah? "


Neo pun membalasnya dan menulis balasannya di bawah tulisan Cia "Enggak, Gua mau bolos demi lu.. ".


Cia dalam wujud mbok ijah mendelikkan matanya pada Neo "Ngapain bolos? Mending sekolah aja. " Ujar Cia yang kini suaranya kembali lagi


"Iya terserah gua dong. Gua mau santai di rumah.. ". Jawab Neo dengan santai


"Ya udah deh terserah lu.. ". Balas Cia bangun dari duduknya


Neo menarik tangan Cia yang dalam wujud mbok ijah "Mbok mau kemana? "


Dengan memegang pinggangnya Cia dalam bentuk mbok ijah menoleh "Mau ke kamar.. ".


"Ah dari pada ke kamar Lu mau gak jalan-jalan keluar.. ". Ajak Neo memberikan tawaran untuk Cia


"Bodoh! mana mungkin jalan dengan wujud seperti ini. Bisa encok gua.. ". Balas Cia


"Nanti sore kita jalan-jalannya. Sekarang ayo kita buat kue gimana? Mau gak lu?" Tawar Neo pada Cia


"Kue apa? " Tanya Cia


"Kue brownis oreo kukus. Kemaren gua sempet liat di Reels..". Jawab Neo


"Oh ya udah ayo aja.. ".


"Tapi lu makan dulu tuh sereal yang gua bikinin buat lu. Sedangkan gua siapin bahan-bahannya." Jawab Neo


"Baiklah..".


Cia pun duduk kembali dan melahap sereal bikinan Neo. Sebelum melahap serealnya Cia menuangkan setengah gelas susu hangat ke dalam serealnya. Mengaduknya dengan rata. Setelah dirasa tercampur ia pun melahapnya. Neo di dapur mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak kali ini sembari melihat Cia yang sedang makan dari kejauhan.


Mungkin hanya  cara sederhana inilah yang bisa ku lakukan untukmu Cia..


Agar dirimu tak lagi khawatir dan takut lagi..


\~\~\~\~


Cia berjalan dengan tubuhnya yang terbungkuk-bungkuk. Neo segera membantunya dan menyediakan kursi untuk Cia. Neo menaruh seluruh bahan di lantai dan dirinya duduk di samping Cia.


"Ada tiga jenis bahan yaitu Fanta, biskuit Oreo dan margarin untuk dioleskan di cetakannya agar tak lengket nantinya." Jelas Neo memberikan keterangan pada Cia. Cia mengangguk paham.


"Lanjutnya tinggal hancurkan oreonya sampai lembut baru deh tuangkan fanta secukupnya dan aduk sampai rata. Terus oleskan margarin di cetakan kemudian tinggal tuangkan adonan ke cetakannya. Proses akhir kukus deh.. ". Terang Neo menjelaskan segala hal prosesnya. Cia hanya bengong melihat Neo yang luwes menjelasan padanya


"Woi lu paham gak mbok?" Ucap Neo


"Iye iye gua paham. Ya udah ayo kita mulai bikin! "Balas Cia


Akhirnya mereka mulai melakukan proses membuat kue brownis. Meniru setiap cara yang dijelaskannya. Setelah semua proses ia lakukan Neo meletakkan adonan yang ada di cetakan untuk dikukus. Sembari menunggu kukusan Neo mengajak Cia tuk bersih-bersih rumahnya karena melihat kondisi Cia yang masih termenung.


"Ya udah ayo kita siram-siram dulu.. ". Ajak Neo


"Haih ini kan jam 2 sore. Lagian panas juga.. ". Tolak Cia


"Udah ih daripada melamun mulu mending kita beraktifitas. Mumpung gua lagi bolos juga.. ". Ucap Neo menarik tangan Cia.


"Enggak mau. Mending rebahan.. ". Tolak Cia


Tanpa basa-basi Neo menggendong tubuh Cia tuk keluar "Kyaaa Neoo.., Lepasin.. ".

__ADS_1


"Udeh diem.. ".


Neo membuka pintu rumahnya dan menurunkan Cia di depan halaman rumahnya. Mengambil pipa air dan memasangkan pada kran.


"Nih Lu siram bunga gua lebih enak dan tenang.. ". Ucap Neo memberikan pipa air pada Cia


Cia mengambilnya dan menyirami bunga milik Neo. Tapi dia masih saja diam dengan raut wajah yang masih sama seperti tadi. Setelah menyirami bunga ia menaruh kembali pipa air di tanah "Udah ya, Gua mau bersih-bersih dulu.. ".


Cia dalam wujud mbok-mbok berlalu meninggalkannya. Neo masih memikirkan cara untuk menenangkan Cia dan mengubah mood Cia. Agar Cia tak merasa takut lagi.


Apa gua ajak aja ke taman ya?


Ya udah deh entar saja ku ajak dia!


\~\~\~\~\~


Di sisi lain..


Hari pertama Yolanda dan Caesar Gin memata-matai Cia dan Neo. Mereka berdua berencana untuk membuntuti Cia dan Neo saat mereka pulang ke rumah Neo.


Cia berangkat syuting setelah wujudnya kembali menjadi dirinya yang asli. Seperti biasa, ia berangkat ditemani oleh Neo dan di antar oleh sopir pribadinya. Neo menunggu Cia yang masih bersiap-siap di dalam rumah.


“Woi ****! Lama amat lu! Gue masuk mobil duluan ya! Kunci pintu sama gerbangnya!” teriak Neo tanpa menunggu jawaban dari Cia. Neo lalu berjalan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, pak Asep sudah menunggu mereka berdua.


“Selamat malam pak” sapa Neo saat membuka pintu bagian penumpang samping pak Asep.


“Iyaa mas, selamat malam” balas pak Asep sambil tersenyum.


“Bapak sudah makan malam?” tanya Neo sangat santun.


“Sudah mas, tadi sebelum berangkat kesini” jawab pak Asep. Neo mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka berdua terdiam sebentar, lalu Neo membuka pembicaraan kembali.


“Pak Asep nggakpapa setiap malem harus nganter kita?” tanya Neo yang sepertinya mulai sungkan.


“Nggak papa mas, sudah pekerjaan saya” jawab pak Asep dengan nada kalem. Neo menghembuskan napas pelan. Tak lama, Cia masuk ke dalam mobil dan menyuruh pak Asep untuk segera melajukan mobilnya. Pak Asep melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sampai di area syuting, Cia dan Neo pamit ke pak Asep. Cia juga menyuruh pak Asep untuk parkir di sekitar lokasi syuting. Pak Asep mengiyakan ucapan Cia. Pak Asep memarkirkan mobilnya di lokasi yang berjarak 100 meter dengan lokasi syuting Cia. Pak Asep menunggu Cia dan Neo sambil ngopi.


Neo kembali masuk dan berkamuflase di antara fans Cia yang teriakannya sudah seperti fanchat K-Pop, sangat bersemangat. Neo menggeleng melihat kelakuan fans fanatik Cia.


“Bisa-bisanya gue samain mereka sama fans Twice sama Blackpink” kata hati Neo sambil tersenyum miring. Bagaimana tidak, teriakannya sangat menggema. Bahkan beberapa kru sinetron juga ikut menggeleng sesaat setelah fans Cia meneriaki nama Cia.


“Dah lah, besok gue nungguin di tempat lain aja lah” gumam Neo. Ia sepertinya sudah lelah dengan kelakuan fans fanatik Cia yang menurutnya keterlaluan.


Menemani Cia syuting sudah menjadi salah satu keseharian Neo. Pertama kali menemani Cia syuting, Neo merasa jengkel dengan perjanjian yang mereka buat. Namun makin lama, hal itu membuatnya candu. Neo jadi “ketagihan” untuk menemani dan terus berada di samping Cia.


Syuting hari itu telah usai. Neo menghampiri Cia yang sedang mengobrol dengan Caesar Gin. Neo menyolek pundak Cia yang membuat Cia otomatis menoleh.


“Pulang yuk, gue belum kerjain PR” ajak Neo yang sebenarnya adalah alasan belaka karena ia tak senang jika Cia dan Caesar Gin masih bermesraan. Ia sedikit cemburu.


“Yaudah gue duduk di sana” pinta Neo sambil menunjuk kursi yang berjarak dua sampai tiga meter dari posisi Cia duduk. Cia menyetujui permintaan Neo. Neo duduk lalu memainkan handphone nya sambil mendengarkan percakapan Cia dan Caesar Gin.


“Sayang, saat aku mengantarmu ke toilet waktu itu, kamu kapan keluar kamar mandinya? Aku tungguin di luar toilet tapi kamu nggak muncul-muncul” tanya Caesar Gin pura-pura penasaran. Cia tiba-tiba terdiam karena terkejut dengan pertanyaan Caesar Gin. Cia berusaha mencari alasan terbaik.


“Eumm kemarin aku terburu-buru untuk pulang karena kemarin itu aku sudah melewatkan jam tidurku. Jika aku tidak segera tidur, tubuhkan akan mudah sakit” alasan Cia dapat di terima oleh Caesar Gin. Neo yang mendengarnya hanya tersenyum miring tipis.


Selesainya Cia dan Caesar Gin mengobrol, Cia pamit pada Caesar Gin untuk pulang duluan.


“Baiklah sayang, aku pulang dulu yaa” pamit Cia sambil bangkit dari posisi duduknya. Neo juga ikut bangkit dari posisi duduknya.


“Iyaa sayang hati-hati di jalan yaa” balas Caesar Gin sambil tersenyum. Caesar Gin mengecup singkat dahi Cia. Neo semakin panas melihat Caesar Gin seperti sengaja membuatnya cemburu.


“Bye sayang!” pekik Cia sambil melambaikan tangan pada Caesar Gin. Caesar Gin tersenyum lebar dan membalas lambaian tanga Cia. Caesar Gin langsung menghampiri Yolanda yang sudah menunggunya.


“Sayang, ayo. Hari ini kita buntuti Cia dan laki-laki itu hingga pulang ke rumah ya?” ajak Caesar Gin sambil mengelus lembut tangan Yolanda.


“Untuk apa kita buntuti mereka sampai rumah?” tanya Yolanda bete.


“Agar kita lebih mudah memantau mereka nantinya. Saat kita sudah tahu rumahnya, kita akan lebih mudah untuk kesana lagi. Itu akan membuat kita mendapatkan setidaknya satu foto Cia yang berubah menjadi mbok-mbok” jawab Caesar Gin. Yolanda menyetujui pendapat Caesar Gin, namun dengan bibir cemberut.


“Jangan cemberut terus dong. Senyumnya manaa? Sedikit lagi kita akan melihat kehancuran hidup Cia, sayang” hibur Caesar Gin. Mendengar pernyataan Caesar Gin, Yolanda tersenyum licik.


“Hahaha! Aku sangat senang jika membayangkan karier Cia akan anjlok hingg dasar palung mariana!” seru Yolanda. Caesar Gin tersenyum melihat pujaan hatinya kembali dengan senyumnya.


“Baiklah ayo kita berangkat sekarang, sebelum kita kehilangan jejak mereka” ajak Caesar Gin sambil menarik Yolanda untuk ke mobilnya.


Sampai di mobil, Caesar Gin membukakan pintu untuk Yolanda. Caesar Gin lalu masuk ke mobil, menghidupkannya, dan memacu mobilnya.


“Ah, itu dia!” pekik Yolanda sambil menunjuk ke arah Cia yang akan masuk ke dalam mobil. Caesar Gin lalu mengikuti mobil itu dengan jarak aman. Untung saja pak Asep tak menyadari mobil Caesar Gin yang mengikuti mobilnya.


Rumah Neo letaknya berada di dalam perumahan. Hal itu memudahkan Caesar Gin dan Yolanda untuk berkamuflase menjadi “tamu” dari salah satu tetangga Neo.


Cia dan Neo sudah sampai di tujuan. Cia dan Neo turun dari mobil. “Terima kasih banyak yaa pak” ucap Neo dan Cia bebarengan. Pak Asep membalas dengan senyuman lalu berkata, “Iyaa mas, mbak, sama-sama”. Pak Asep memacu mobilnya meninggalkan rumah Neo.


Sementara itu, Caesar Gin memarkirkan mobilnya di depan rumah tetangga Neo yang berjarak 50 meter dengan rumah Neo.


“Aku sudah tahu bahwa selama ini Cia berbohong padaku” ujar Caesar Gin yang kelihatan santai saat tahu pacarnya membohonginya. Yolanda tersenyum miring mendengar ucapan Caesar Gin.


“Yahh kelihatan lah kalau dia pandai berbohong” gumam Yolanda menyetujui ucapan Caesar Gin tadi.


“Baiklah, cukup sampai disini yaa sayang. Kita perlu istirahat juga. Nanti dan besok kita memata-matai mereka mulai pukul tiga sore, bagaimana?” usul Caesar Gin pada Yolanda.

__ADS_1


“Aku setuju! Kita tuntun dia menuju jalan kehancurannya” kata Yolanda sangat licik. Caesar Gin tersenyum melihat ambisi Yolanda.


Pukul tiga sore, Caesar Gin dan Yolanda sudah stand by di sekitar rumah Neo. Hingga pukul lima sore, namun mereka belum mendapati kalau Cia keluar dari pintu depan rumah Neo.


“Dia kok nggak keluar yaa? Ini udah mau malam” keluh Yolanda. Caesar Gin menenangkan Yolanda dengan mengelus punggung Yolanda.


“Sebentar lagi pasti mereka akan berangkat ke lokasi syuting” gumam Yolanda.


“Masih ada hari esok sayang. Semoga mereka keluar besok” celetuk Caesar Gin.


“Yahh semoga saja” kata Yolanda pasrah.


“Baiklah kalau begitu, kita berangkat ke lokasi syuting sekarang yaa” kata Caesar Gin dengan lembut sambil mengelus kepala Yolanda. Yolanda hanya mengangguk. Caesar Gin lalu melajukan mobilnya menuju lokasi syuting mereka.


Neo dan Cia kembali berangkat ke lokasi syuting di antar oleh pak Asep. Sampai di lokasi syuting, pak Asep parkir di tempat biasanya, sementara Neo dan Cia turun.


“Gue kali ini nungguin lu bawah pohon sana aja ya” ucap Neo sambil meunjuk ke arah pohon yang berada sedikit jauh di belakang para kru sinetron.


“Lah ngapa? Udah bukan termasuk jajaran fans gue nih?” tanya Cia kepedean. Neo memasang wajah jijiknya, padahal dalam hatinya berkata bahwa ia bukan lagi cinta sebagai fans tapi cinta sebagai seorang pria.


“Dih, ogah gue jadi fans lu. Lagian mereka kalo neriakin nama lo udah kayak lagi konser band rock tau nggak? Kesetanan” ejek Neo. Cia tersenyum miring, mengejek ucapan Neo.


“Yang penting mereka loyal sama gue” ucap Cia bangga. Neo memutar bola matanya. Ia sudah muali kebal dengan sifat kepedeannya Ciaa.


“Udah sana cepet syuting, gua capek debat sama lo” suruh Neo. Padahal ia sangat senang kalau Cia selalu ada didekatnya.


“Okay. Serah lu aje lah” kata Cia sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Neo berjalan meninggalkan Cia yang sudah bergabung dengan teman-temannya.


Neo duduk di bawah pohon dengan deburan angin yang menerpa wajahnya. Mata Neo terpejam, menikmati ketenangannya sejenak. Baru saja ia membuka mata, pemandangan yang tak ingin ia lihat muncul di jangkauan pandangnya. Ia melihat Caesar Gin dan Yolanda sedang bermesraan di sudut lokasi yang tak banyak orang lihat. Mata Neo terbelalak. Ingin sekali ia mendekati Caesar Gin dan memukul wajah brengseknya itu. Namun ia mengurungkan niat itu setelah berpikir tentang resiko yang akan ia tanggung nantinya. “Jika Cia sampai tahu bagaimana kelakuan asli pacarnya..., ah, aku tak bisa membayangkan bagaimana terluka hatinya” kata hati Neo.


Hari esok tiba. Pukul tiga sore, Caesar Gin dan Yolanda sudah berjaga di tempatnya. Mereka memperhatikan setiap gerak-gerik Cia dan Neo.


\~\~\~\~


Disisi lain..


Setelah Neo melakukan segala hal untuk mengusir ketakutan dan kekhawatiran Cia tentang kejadian kemaren Neo berinisiatif mengajak Cia pergi ke taman. Neo mencoba mengajak Cia untuk pergi ke taman perumahan untuk mencari udara segar. Awalnya Cia menolak, namun setelah dibujuk oleh Neo, Cia akhirnya mau untuk pergi bersamanya.


“Tapi lo nggak bisa pake baju “anak muda” lo itu. Lo bakal jadi pusat perhatian” titah Neo.


“Yaa trus gue harus pake baju yang kek mana lahh? Telanjang gitu?” tanya Cia.


“Asli, lo makin kesini makin sinting kayaknya” maki Neo.


Setelah berdebat beberapa saat, Neo dan Cia berangkat ke taman. Jarak dari rumah Neo ke taman sekitar 200 meter. Mereka berjalan kaki menuju kesana.


Caesar Gin dan Yolanda yang melihat mereka berdua keluar rumah, langsung memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan kaki untuk mengikuti Cia dan Neo. Jika menggunakan mobil, sedikit beresiko.


Mereka duduk berdua di bangku taman. Sembari melihat langit yang cerah. Matahari mulai terbenam Neo mengambil tangan Cia.


"Lu jangan khawatir lagi ya.. ". Ucap Neo dengan gengsi


"Ha? Sejak kapan lu peduli sama gua?" Tanya Cia


"Ya sejak lu datang ke kehidupan gua lah. Lagian semua itu kita lakuin karena perjanjian kita haish.. ". Protes Neo


"Hahaha biasa aja kali. Iya iya gua sekarang dah jauh tenang kok.. ". Jawab Cia


"Iya lu jangan khawatir karena gua akan selalu jaga lu.. ". Ucap Neo dengan cepat


"Ape ape? lu bilang ape?" Goda Cia pada Neo


"Tidak ada pengulangan! udah ih liat tuh matahari saja!! " Elak Neo


Cia pun tertawa terkekeh melihat tingkah Neo yang gengsi padanya. Gengsi untuk mengungkapkan rasa pedulinya pada seseorang. Cia menatap Neo sebentar. Melihat ekspresi Neo yang menghindarinya


Makasih Neo..


Makasih sudah menghiburku..


Bahkan tadi kau begitu peduli padaku dan berusaha mengalihkan pikiran khawatirku..


Dan Terima kasih kau telah ada di sampingku..


Thanks for Everything Neo Zydan..


Cia kembali menatap matahari yang mau terbenam. Cia dan Neo berada di taman sampai matahari terbenam. Sesaat setelah matahari terbenam, wujud Cia berubah dari wujud nenek-nenek menjadi wujud aslinya. Caesar Gin dan Yolanda yang melihat itu, terburu-buru memotret dan merekan kejadian itu. Namun hasil yang mereka dapatkan kurang jelas.


“Sayang, hasil fotonya kurang jelas” celetuk Yolanda.


“Hasil videonya juga” tambah Caesar Gin.


“Kita ambil lagi” suruh Yolanda. Baru saja akan mengambil ulang bukti, Cia dan Neo sudah berjalan kembali ke rumah. Yolanda frustrasi.


“ARGH! Anjing sialan!” umpat Yolanda.


“Sabar sayang” ujar Caesar Gin berusaha menenangkan Yolanda.


“Aku nggak bisa sabar sayang! Pokoknya nanti setelah syuting, kita langsung culik Cia! Aku nggak mau tahu!” pekik Yolanda yang mulai naik pitam.


“Iya sayang nanti kita culik Cia setelah syuting” ucap Caesar Gin yang masih berusaha menenangkan Yolanda dengan mengelus kepala Yolanda. Yolanda bersungut-sungut dengan napas yang memburu.

__ADS_1


“Sudah yuk kita pergi dari sini. Kita beli tali dan beberapa peralatan untuk mempersiapkan penculikan Cia. Sekalian kita beli makan” ajak Caesar Gin untuk menaikkan mood Yolanda. Yolanda bangkit dan berjalan tanpa berkata apapun.


Rencana penculikan Cia baru saja di mulai. Akankah rencana Caesar Gin dan Yolanda berjalan dengan lancar? Apakah rahasia Cia akan segera diketahui oleh semua orang?


__ADS_2