Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan

Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan
Bab 6


__ADS_3

"Jangan pernah meremehkan ucapan seseorang karena semua bisa terjadi tanpa kau sadari''.


- Mbok Yati-


"Kutukan"


Mungkin sebagian manusia sudah tahu definisi kata itu , seperti nasib sial , guna-guna atau rasa benci yang tertampar merah dalam bentuk kata. Terkadang kata dan artinya itu cukup  menjadi suatu keajaiban yang menakutkan dan sangat di percaya akan terjadi dalam anggapan kata-kata yang sudah di ucapkan seseorang.


Tak menakutkan bagaimana semua nya sudah menjadi kenyataan bahkan menjadi suatu kepercayaan yang mengental untuk sebagian manusia di bumi ini , mau pun itu masa lalu bahkan untuk masa depan . Kutukan memang seperti mantra yang tak pernah meleset sedikit pun apalagi yang di ucapkan nya buruk terucapkan oleh se seorang yang hati berbalut sakit dan pedih di panasakan dengan bara dendam yang tak berkesudahan membuat kutukan yang di ucapkan se seorang itu menjadi kenyataan.


Sungguh tak bisa di hindari bila kita tak pandai menjaga lidah atau perilaku yang membuat seorang itu bisa mengucapkan nya, yah mungkin saja dia sakit hati bahkan membenci mu karena ulah mu kepadanya . Kita tak tahu apa tindakan dan ucapkan kita sudah benar atau tidaknya kita tak tahu bukan? Menjadikan itu sebuah boomerang untuk kita , mereka mengutuk dengan ucapan mereka sebagai balasan yang tak ingin berkesudahan .


Bayangkan bertapa menakutkan nya kutukan dengan dendam fisik bahkan itu lebih berbahaya dari sekedar kata yang di ucapkan se seorang itu karena itu bisa mengancam nyawa mu dan masa depan mu . Tapi semua itu bisa saja tak terjadi bila kita benar dan membenarkan apa yang sebenarnya tidak benar kepada si pengutuk itu. Jaga lah lisan dan prilaku mu. Karena kutukan ibarat angin tak terlihat tapi kau bisa merasakan nya.


Berbicara tentang kutukan, tak pernah ada yang tahu. Lisan memang sulit dijaga, karena itulah kutukan lahir. Kutukan berasal dari lisan yang tersulut emosinya. Hahh, sulit untuk mengatakan bahwa kutukan itu tidak nyata dan hanya mitos belaka. Kebanyakan orang lebih sering menyebutnya dengan “karma” daripada “kutukan”. Tak sedikit orang menganggap kutukan itu sebuah kejadian asli karena ada buktinya yaitu cerita tentang malin kundang. Namun ada beberapa orang juga yang tak percaya akan kutukan. Mereka berpikir, kutukan itu tak pernah nyata adanya.


Namun, kutukan itu benar-benar terjadi pada Denada Gracia Clarabelle, seorang wanita muda nan cantik. Di setiap inci dia berjalan, pasti ada saja yang mengelu-elukan namanya bahkan ada yang meminta berselfie ria dengannya. Cia selalu menerima penggemarnya dengan baik dan ramah. Ia hanya punya mereka, Caesar, dan mbak Isa sekarang. Merasakan cinta dari para penggemarnya membuat Cia semakin menghormati mereka.


Kutukan itu terjadi pada Cia karena umpatan salah satu penggemarnya, yaitu mbok Yati, yang saat itu Cia perlakukan dengan buruk. Cia melakukan itu karena ia berada dibawah pengaruh Caesar, kekasih hatinya. Cia baru menyadari apa yang ia lakukan itu salah saat sudah menjauhi posisi mbok Yati yang mereka berdua tinggalkan untuk dinner. Pikiran Cia langsung dipenuhi oleh ucapan mbok Yati yang mengutuk dirinya. Caesar menenangkan Cia agar ia tak terpengaruh perkataan mbok Yati yang menurutnya sepele. Tapi ternyata, perkataan mbok Yati bukanlah omong kosong belaka. Cia kena batunya, kena imbasnya. Kutukan itu tepat sasaran.


Kaki Cia sudah seperti tak menapak lagi. Terhuyung,  gemetar dibuatnya. Aih, ia masih saja tak bisa menerima kenyataan ini. Merasa tak kuat melangkah lagi, Cia mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Ia lelah dan haus, tenggorokannya serasa terbakar. Rasanya ia ingin menangis saja. Ya ampun, bahkan air matanya menolak untuk turun. Membuat perih saja.

__ADS_1


Pelan Cia mengangkat tangannya. Menemukan kulit keriput yang kering membalut tulang. Bagaimana mungkin ia bisa menua dengan begitu cepatnya? Bisa gila Cia memikirkannya.


"Arghhh, sial! Kenapa gak berubah jadi Taylor Swift kek atau Miss Universe gitu yang agak cantikan dikit. Ini malah nenek tua. Kagak bakal bisa ikut kontes kecantikan. Yang ada malah ikut kontes kematian." ejeknya pada diri sendiri.


Bingung akan takdir yang menimpanya.


Cia mengacak rambutnya. Ia yakin tampangnya sudah persis seperti orang gila. Dengan pakaian syutingnya dan rambut acak-acakan. Bahkan ia yakin tampang Nyah Mira, orang gila di daerah tempat tinggalnya lebih baik dibanding dirinya. Setidaknya Nyah Mira bisa tersenyum memamerkan giginya yang kekuningan dengan wajah sumringah. Berbeda dengannya yang terlihat kusut dan kumal.


Menelungkupkan tangannya di antara lututnya, Cia perlahan menganalisis apa yang terjadi dengan dirinya itu. Menelaah apa yang tengah terjadi pada tubuhnya. Apa ia salah makan tadi? Atau tadi roti yang dimakannya mengandung zat berbahaya. Aduh, bagaimana ini?


"Kyaa, gimana ini?" pekik Cia.


"Gimana apanya? Gimana kalau kita kencan gitu?" sebuah suara berat terdengar menimpali.


Cepat Cia mengangkat wajahnya. Ia menemukan sesosok wajah remaja yang menatapnya heran. Bukan sosok Caesar kekasihnya. Cia bernafas sedikit lega.


Cia mendongakkan wajahnya ke atas. Melihat seorang remaja tengah menyodorkan minuman kepadanya.


"Nih mbok minum dulu. Suara mbok serek, haus banget ya sampe ngelantur gitu." Ucapnya dengan nada mengejek. Cia merasa tak senang mendengar ucapannya. Ucapan remaja itu terdengar sarkas dan tak sopan di mata Cia.


Remaja itu menyodorkan sebotol air mineral kemasan. Cia tak mengambil air mineral yang disodorkan remaja itu. Sementara remaja itu meneguk airnya, Cia menatap kosong botol itu. Ia terpana sejenak.

__ADS_1


"Mbok, saya tahu saya itu ganteng. Tapi gak perlu lah terpesona kayak begitu. Mbok udah ada laki. Siapa tadi? Jo? Ah, sepertinya namanya Paijo." kepala remaja itu mengangguk-angguk, ia terkekeh akan spekulasi yang diciptakannya barusan.


Cia mendengus pelan. Ia mengabaikan remaja di depannya. Pikirannya sedang kalut.


"Udah, mbok minum dulu sekarang. Kasian tenggorokkannya. Serek kan?"


Merasa diabaikan remaja itu duduk di samping Cia. Menyelipkan botol berisi air mineral itu ke tangan Cia.


Cia menoleh. Menatap bingung.


"Minum mbok."


"Mau lo apa sih?" tanya Cia kemudian. Ia hanya ingin sendiri.


"Loh kok mbok tau nama aku." Remaja laki-laki itu memandang polos Cia. Matanya berkedip lucu menghiasi wajahnya yang terbilang tampan.


"Gue gak tau nama lo." Hardik Cia. Ia pusing sungguh.


"Itu mbok sebutin lagi."


Cia memutar bola matanya. Sungguh ia kesal.

__ADS_1


Mendapati dirinya yang berubah, Cia masih terpaku dengan kondisi dimana bukan lagi wajahnya yang ia pandangi. Wajah dan kulit keriputnya tanda bahwa ‘kutukannya’ berhasil, apakah orang tua itu senang sekarang? Tanya Cia pada batinnya, bagaimanapun ia harus mendapatkan kembali wajah aslinya.


Bahkan kini ia harus berhadapan dengan remaja ingusan di depannya. Lalu hal apakah yang akan Cia lakukan bersama remaja itu?


__ADS_2