
''Aku mempercayaimu dan aku mau kau melakukan satu hal yaitu jangan pernah melakukan hal yang gegabah. Kau harus menuruti segala hal yang ku katakan, Kau mengerti itu?"
-Neo Zydan Wiratama-
Krik krik..
Suara jangkrik berbunyi dengan keras bersamaan dengan suara hujan yang mengguyur bumi.
Klotak.. Klotak..
Tes... Tes..
Suara hujan mengisi malam hari. Mengisi setiap ruangan. Neo yang tengah tertidur pulas terbangun karena mendapati tetesan air hujan di wajahnya.
"Argh.., lagi-lagi bocor!! Sial!! Seharusnya gua yang tidur di kamar gua dan bukan tidur di sofa haish!! Semua karena perdebatannya dengan si mbok menyebalkan tadi. Argh, Ku harus pindah dari sini. " Eluh Neo mengambil bantal dan selimutnya. Mencoba meminggirkan dari tetesan hujan.
Ia mulai berjalan mengambil tangga di dekat kamarnya. Dengan langkah lunglai dan ngantuk ia berjalan. Masuk ke dalam ruangan dan mengambil tangganya. Pintu kamarnya terbuka sedikit. Saat ia ingin menutup pintu kamarnya Terbesit di pikirannya rasa penasaran. Apakah si mbok tadi sudah tidur ya?
Ia membuka pintu kamar dan masuk tuk memastikan semuanya. Saat ia menyibak dengan pelan selimut yang sedang digunakan oleh sosok seseorang di kamarnya. Memastikan bahwa si mbok telah tertidur. Namun hal yang ia dapatkan malah berbeda. Ia mendapati seorang gadis cantik yang tengah tidur dengan pulas. Gadis itu berbalik dan memiringkan wajahnya ke kanan. Dan semua terlihat jelas di mata Neo.
Tanpa basa-basi Neo menggoyangkan badan gadis itu dengan keras tuk membangunkannya. Neo tak peduli jika gadis itu terganggu tidurnya.
"Bangun woi!! Bangunnn!!! " Ujar Neo dengan lantang
Gadis itu yang tengah mendapatkan guncangan pun terbangun. Ia menggeliat dan membuka matanya "Kya,, ngapain kamu di sini!! "
"Harusnya aku yang tanya!! Tadi yang tidur di sini seorang nenek-nenek dan bagaimana mungkin itu berubah menjadi lu!!? Lu pake ilmu sihir ya! Jawab gua!! " Ujar Neo menarik paksa selimut gadis itu
"Woi lu apaan sih tarik-tarik selimut gua! Gak sopan tau gak! Gua lebih tua dan seharusnya lu bertindak sopan ke gua! Kalo lu mau tau baiklah kita bicara di ruang tamu! Gua ganti baju dulu!! " Balas Cia
"Okey gua tunggu jangan lama-lama! " Ucap Neo mulai pergi meninggalkan gadis itu di kamarnya
Cia bangkit dari kasurnya. Menguncir rambut panjangnya ke atas. Kemudian mengenakan jaket milik Neo. Ia mengaca sebentar dan melihat wajahnya yang telah kembali seperti semula. Ia memang menyadarinya sejak tadi petang jam 6 namun ia tak ingin memberitahu Neo karena Murid itu begitu songong dan mengesalkan.
Huft, Tenangkan dirimu Cia..
Ingat! Kau butuh bantuan dia untuk menemukan solisi kutukanmu dan menemukan mbok Nur..
__ADS_1
Ayo, buat perjanjian sama dia dengan baik ..
Agar semua karir dan kutukanmu bisa hilang..
Cia menghela nafas. Ia harus siap bertemu dengan Neo mau bagaimanapun itu. Saat ia menatap kaca di depannya suara Neo telah memanggilnya dengan keras
"Woi cepet keluar!! Jangan tidur lagi!! Sini jelasin ke gua!! " Teriak Neo
"Hadeh.. Iya iya gua keluar nih.. ".
Cia keluar dari kamar dengan wajah juteknya. Mereka saling duduk berhadapan dengan perasaan kesalnya masing-masing. Neo menopang dagunya dengan tangan kirinya dan menatap Cia dengan tajam.
"Ceritakan padaku bagaimana semua terjadi! Dan aku ingin tak ada kebohongan yang kau sembunyikan dariku. Kamu mengerti bukan?" Tutur tegas Neo pada Cia
Cia mengangguk "Baiklah semua akan ku ceritakan. Dan semua terserah persepsimu mempercayai apa tidak.. ".
"Okey, Cukup basa-basimu dan cepat ceritakan!! " Sanggah Neo
Emosi Cia mendidih ketika melihat sikap Neo yang tak sabaran. Ia mengelus dadanya tuk menahan semua emosinya. agar tak meledak. Mau bagaimanapun dirinya membutuhkan bantuan Neo.
"Okey gua ceritakan langsung.., Semua berawal dari.. ".
Semua berawal dari hari sabtu. Hari dimana waktu weekend Cia dari dunia kerja. Namun semua sia-sia ketika dirinya mendapati bahwa ada pemotretan dadakan film yang akan ia mainkan. Jujur dirinya sangat kesal namun mau bagaimanapun Cia harus professional. Semua persiapan weekendnya pun pupus sudah. Namun semua tergantikan ketika Caesar kekasihnya meluluhkan hatinya di telfon. Ketika ia masih memberi pesan ke kekasihnya tentang jadwal pemotretannya yang harus ia lakukan secara mendadak malah Cia langsung mendapat panggilan dari kekasinya. Ia begitu bahagia ketika layar ponselnya bergetar dengan nama kekasihnya yang tertera. Ia dengan cepat mengangkat telfon dari kekasihnya sambil merapikan riasan make upnya.
“Halo sayangku yang cantik nan rupawan” panggil Caesar di seberang. Cia tersenyum malu mendengar salam dari kekasih hatinya.
“Iyaa halo sayang” balas Cia.
“Apakah malam ini sesi pemotretanmu sudah selesai?”
“Belum tau, kayaknya malam ini lembur deh. Aku udah capek banget padahal, pingin banget pulang cepet” Cia merengek pada Caesar.
“Capek itu wajar kok. Itu artinya kamu sudah berjuang keras. Semangat yaa sayang” ucapan semangat dari Caesar membuat Cia sedikit bangkit. Cia tersenyum tipis setelah mendengar pujaan hatinya memberikan semangat padanya
“Terima kasih sayang”
“Sama-sama. Kalau besok malam, apakah kamu ada jadwal?”
__ADS_1
“Bentar aku tanyain dulu ke Mbak Isa” Cia menjauhkan handphone nya. Terdengar suara Cia yang sedikit berteriak pada Mbak Isa untuk menanyakan jadwalnya besok. Setelah mendapat jawaban dari Mbak Isa, Cia kembali mendekatkan handphone nya.
“Sayang banget aku ada jadwal pemotretan untuk launching produk body care milik temanku. Apa kamu mau mengajakku pergi?”
“Sebenarnya aku ingin mengajakmu dinner. Kalau kamu masih ada jadwal, okelah tunda aja dulu” ujar Caesar dengan nada sedih.
“Jangan sedih dong. Aku tanya in ke mbak Nia deh itu jadwal bisa di undur ato nggak” Cia menjauhkan handphone nya lagi dan menanyakan pada manajernya apakah schedule besok malam bisa ditunda. Mbak Isa berucap bahwa schedule pemotretan nya tidak bisa di undur.
“Kata Mbak Isa nggak bisa di undur, sayang. Maaf banget yaa” tutur Cia meminta maaf pada Caesar. Seolah tahu apa yang Cia inginkan, Mbak Isa berubah pikiran. Ia mengatakan bahwa jadwal nya bisa dimajukan menjadi siang hingga petang.
“Sayang, kata Mbak Isa jadwal pemotretan nya bisa di majuin jadi siang. Bagaimana? Jadi kan kita dinner?” tanya Cia yang sudah mengharapkan fine dining bersama Caesar.
“Haha baiklah besok pagi biar aku reservasi resto nya yaa” jawab Caesar yang mengerti bahwa Cia membutuhkan dirinya.
“Resto apa itu?” tanya Cia penasaran. Akan tetapi Caesar malah melontarkan jawaban yang membuat Cia semakin penasaran.
“Ada dehh. Liat aja besok” goda Caesar.
“Ih kamu mah gituu sama aku yaa” Cia terpancing dan seketika ngambek. Caesar tertawa di seberang sambunga telepon.
“Hahaha aduhh sudahlah sayang jangan ngambek. Aku mau surprise in kamu. Masa surprise di kasih tahu, nggak jadi surprise dong” ucapan Caesar tak mendapatkan respon dari Cia.
“Cia sayang, jangan ngambek dong. Mau pemotretan masa cemberut, senyum” bujuk Caesar.
“Baiklah sayang, ini aku sudah tersenyum” balas Cia yang masih sedikit kesal.
Suara mbak Lia terdengar memanggil Cia untuk persiapan pemotretan sesi selanjutnya. Cia menjawab panggilan mbak Lia.
“Sayang, sepertinya sesi pemotretan selanjutnya di mulai lima menit lagi” pamit Cia pada Caesar.
“Okay sayang. Matikan lah teleponnya”
“Kamu aja yang matiin, kan tadi kamu yang telepon aku duluan” suruh Cia. Caesar pun pasrah.
“Baiklah, semangat sayangku, Denada Gracia Clarabelle” sekali lagi, ucapan semangat dari kekasih hatinya membuat Cia kembali bersemangat menjalani harinya.
“Terima kasih sayang. Bye!” pamit Cia.
__ADS_1
“Bye sayang” balas Caesar lalu mematikan sambungan teleponnya. Cia langsung berlari ke arah Mbak Isa sambil menunggu sisa waktu.