
Cia dan Neo sudah sampai di rumah Neo. Neo memasukkan motornya ke dalam teras depan rumahnya. Mereka melepas helm dan jas hujan mereka. Mereka pun masuk ke dalam rumah.
“Jangan lupa janjimu” kata Neo mengingatkan Cia agar tak lupa membuatkannya makanan yang enak untuk ia makan.
“Iyee. Bawel nya ya ampun” olok Cia sambil berlalu menuju dapur. Cia membuka kulkas untuk melihat persedian makanan di rumah Neo. Cia tercengang dengan apa yang dia lihat. Cia langsung berbalik badan untuk memarahi Neo.
“Lo ini bodoh ato gimana sih?” tanya Cia pada Neo yang sedang menonton televisi.
“Apaan sih tiba-tiba lu tanya begitu?” tanya balik Neo yang tak menengok pada Cia sama sekali.
“Ini ngapain lu masukin roti ke kulkas? Ya keras dong jadinya!! Goblok!!” ucap Cia yang tiba-tiba berteriak sambil melempar bungkusan roti tawar ke Neo. Neo yang mendapat pukulan tepat di kepalanya langsung menoleh dan mNeotot ke arah Cia.
“Yaa karena gue takut rotinya berjamur. Salah satu cara biar menghambat itu kan dengan dimasukkan ke dalam lemari es. Ini gue yang terlalu pinter ato lo nya yang kagak lulus sekolah?” tukas Neo. Cia semakin geram dengan pola pikir Neo.
“Yaa masa lo makan roti keras? Kagak rontok tuh gigi?” tanya Cia heran. Neo menjawab dengan gelengan kepala.
“Gigi gue aman-aman aja kok” jawab Neo sambil menunjukkan barusan giginya yang bersih dan rapih. Cia menggeleng pasrah.
“Yaudah sini in rotinya” suruh Cia.
“Ogahh, ambil sendiri” tolak Neo sambil kembali melihat televisi.
“Lu mau gue masakin ato nggak sih?” tanya Cia dengan nada kesal khas nya.
“Ya mau lah anjir, lu kan udah janji” jawab Neo.
“Yaudah sini in rotinya. Kasih nya yg baik ato gue nggak mau masakin buat lo” pinta Cia. Neo mendengus kesal. Neo mengambil kasar bungkusan roti tawar di sampingnya dan bangkit dari posisi duduknya. Neo menyerahkan roti itu pada Cia.
“Makasih banyak dede emesh” goda Cia sambil menerima roti tawar itu dari tangan Neo dan berlalu meinggalkan Neo yang geregetan melihat tingkah Cia.
Cia lanjut mempersiapkan bahan untuk dimasak. Setelah menerima roti dari Neo, Cia membuka kembali kulkas untuk mencari bahan yang ia butuhkan dan ternyata ada. Ia mengeluarkan telur dua butir, susu cair, keju slice dan sosis. Cia juga mengambil setoples gula dari lemari atas. Cia merilekskan ototnya dan bersiap untuk memasak.
Cia sudah selesai memasak. Ia tak butuh waktu lama untuk membuat french toast andalannya. Cia menyeka keringatnya dan meletakkan semua hasil kerjanya di piring. Cia juga sudah menuangkan sedikit saos sambal untuk cocolan french toast sosis.
Cia menghampiri Neo yang masih asyik menonton televisi. Cia menjitak kepala Neo. Neo menoleh sambil mengelus kepalanya.
“Aww! Apaan sih?” pekik Neo yang masih kesakitan.
“Lo masih mau masakan gue ato nggak? Kalo nggak gue habisin semuanya” titah Cia.
“Yaa masih mau lah, anjir! Mana? Bawa sini aja, gue males makan di meja makan” suruh Neo. Cia mengernyitkan dahinya.
“Hellooo, enak aja lo. Udah gue masakin, masih aja ngelawan yaa. Ambil sana, biarin gue duduk sebentar. Capek” ucap Cia sambil mendaratkan pantatnya ke kursi di samping Neo. Neo mendengus kesal dan beranjak dari tempatnya.
Neo sudah mengambil piring berisi delapan potong cheese french toast dan empat gulung sausage french toast. Neo duduk di samping Cia yang asyik menonton televisi.
“Apa bedanya yg kotak sama yg di gulung?” tanya Neo sebelum mengambil makanannya.
“Udah nggak usah banyak bacot lo, makan tinggal makan juga” jawab Cia yang kelelahan memasak di dapur.
Neo mengambil roti yang kotak terlebih dahulu. Ia memakannya polosan. Di gigitan pertama, Neo langsung takjub dengan rasanya. Neo terus mengunyah gigitan pertamanya. Cia menyeringai melihat reaksi Neo yang sepertinya puas dengan masakan Cia.
“Woaahhh. Enak, enak!” seru Neo sambil menghabiskan sepotong roti di tangannya. Raya kembali tersenyum miring setelah mendapat pujian dari Neo. Cia tersenyum miring setelah mendengar pujian keluar dari mulut Neo
“Lu bisa puji orang juga ternyata” celetuk Cia. Neo menoleh heran.
“Ya bisa lah anjir. Gue itu jujur orangnya, kalo nggak enak yaa nggak enak, kalo enak yaa enak. Ngapain juga bohong. Kalo soal rasa, lidah gue nggak bisa bohong” balas Neo sambil mencomot roti yang digulung. Neo lalu memakan sebagian. Ia menganggukkan kepalanya lalu mencocolkan roti itu ke saos sambal. Ia langsung melahap sisanya. Cia hanya menggelengkan kepalanya.
Cia mengambil satu potong roti kotak lalu ia cocolkan ke saus sambal. Neo yang melihat kelakuan Cia, spontan merasa jijik.
“Lu agak gila ato gimana sih? Kan itu rasanya manis, emang enak ya kalo dicocol sambel?” tanya Neo. Cia menoleh sebentar ke arah Neo, lalu memakan utuh satu potong roti itu.
“Enak kok. Enak banget malah. Coba aja” jawab Cia setelah mengunyah habis makanan dari mulutnya. Neo menggeleng dan masih memasang wajah jijiknya. Cia tersenyum kecil.
“Cobalah. Lu nggak akan tahu gimana rasanya kalo belum coba” suruh Cia. Neo kembali menggeleng.
“Haisshhh, kelamaan!” seru Cia sambil mengambil sepotong roti yang manis lalu ia cocolkan ke dalam saus dan menyaupkannya ke Neo. Neo menolak dengan cara menghindar.
“Ish coba aja duluuu. Buka mulut lo” suruh Cia sambil berusaha memasukkan roti tersebut ke dalam mulut Neo. Neo otomatis mengatupkan mulutnya kuat-kuat.
“Ih ya tuhan. Ini gak akan buat lo mati, percaya deh sama gue. Buktinya gue aman-aman aja kan” kata Cia. Neo masih saja mengatupkan mulutnya.
__ADS_1
“Duh, lu manja banget dah. Buka mulut lo cepet!” pekik Cia yang mulai kesal. Neo tetap mengatupkan mulutnya dan menggeleng.
“Ohh, lu suka dipaksa yaa” goda Cia sambil mendekati Neo. Neo akan bangkit tapi ia kalah cepat. Cia sudah menahan tubuhnya untuk berdiri. Cia berdiri tepat di hadapan Neo.
“Cepet buka mulut lo” ucap Cia dengan nada mengintimidasi. Neo yang merasa terancam mau tak mau menuruti kemauan Cia yang sedang berubah menjadi psikopat. Neo membuka mulutnya sedikit.
“Yang lebar!” seru Cia. Neo spontan membuka mulutnya lebar-lebar. Cia langsung menjejalkan roti yang sedari tadiia pegang ke dalam mulut Neo. Neo mengunyah roti itu sambil memejamkan matanya dalam-dalam, takut ada sesuatu. Namun, semakin lama ia mengunyah, justru rasanya semakin nikmat. Neo menoleh ke arah Cia sambil menautkan kedua alisnya.
“Gimana? Enak kannn?” tanya Cia yang sudah menghilang aura psikopatnya.
“Iya loh, gila. Kaya rasa banget. Gue nggak nyangka bisa se enak ini. Rasanya kek mau meninggoy” komentar Neo. Cia tersenyum senang.
“Makanya jangan ragukan lidah gue” sombong Cia. Neo mendengus setelah mendengar kesombongan Cia. Mereka lanjut untuk menghabiskan makanan mereka.
Habis sudah makanan mereka. Cia bersandar di kursi, memberi ruang untuk perutnya. Neo yang sedang memperhatikan Cia hanya menggeleng heran melihat kelakuan wanita yang jauh lebih tua dari dirinya itu
“Woah udah lama banget gue nggak sebangga ini setelah makan masakan gue sendiri” gumam Cia. Neo notis ada sesuatu di mulut Cia.
“Lo kalo makan selalu belepotan gini ya?” tanya Neo saat melihat ada sisa saus di ujung bibir Cia. Neo langsung mengelapnya dengan ibu jarinya. Cia tertegun sebentar setelah mendapat perlakuan dari Neo. Cia yakin pipinya sedikit memerah.
Setelah mendapatkan kesadarannya kembali setelah sekian detik, Cia memarahi Neo.
“Anjing! Beraninya lu pegang-pegang wajah gue!” teriak Cia. Wajah Neo tampak tak berekspresi, hanya mengedipkan matanya beberapa kali.
“Yailah bersyukur dikit kek udah di bersihin tuh saos nya. Nggak tau terima kasih” sewot Neo. Cia kembali dibuat kesal oleh kelakuan Neo yang sangat menjengkelkan.
“Yaudah, makasih” ucap Cia terpaksa. Neo tersenyum miring.
“Yang ikhlas!” suruh Neo. Cia sudah bersungut-sungut. Namun Cia mengurungkan Isatnya untuk marah. Ia justru berpikiran untuk menggoda Neo.
“Makasih banyakk dede emesh yang manjah” goda Cia dengan nadanya yang ngondek. Cia kemudian mencolek dagu Neo. Neo tak menyangka kalau Cia akan melakukan itu padanya. Ia mNeotot pada Cia, memintanya untuk berhenti.
“Ada apa dede emeshku? Mau jatah?” goda Cia. Neo menggeleng kuat setelah mendengan ucapan Cia.
“Lo makin lama makin nggak waras yaa” olok Neo. Cia tertawa kecil seperti banci-banci diluaran sana.
“Jangan malu-malu atuh. Kalo mau mah bilang aja” kata Cia yang masih menggoda Neo. Neo menelan ludahnya. Ia seperti berada di kandang macan yang siap menerkam.
“Hahaha yaudah lah gue tidur duluan ya. Bye!” pamit Cia sambil berlalu meninggalkan Neo yang masih diam di posisinya. Neo menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan.
“Lo harus tenang, Neo. Dia aktris, wajar jika aktingnya realistis banget” pikir Neo dalam hatinya.
Esok harinya, Cia menikmati hari liburnya dengan rebahan dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Sedangkan Neo harus berangkat ke sekolah.
Tiba hari dimana Cia siap untuk beraktivitas lagi. Seperti biasa, pagi sampai petang Cia berubah menjadi nenek-nenek dan malamnya Cia kembali ke wujud aslinya.
“Eh, lo anterin gue syuting sekarang ya” titah Cia yang sudah siap untuk berangkat. Neo terheran-heran dan terkaget-kaget.
“Eh, eh, kok dadakan banget sih?” tanya Neo heran.
“Kan udah gue bilang kemarin, gimana sih lu” cerca Cia.
“Yaudah gue ganti baju dulu, ntar” ucap Neo sambil pergi mengganti bajunya. Selesai mengganti bajunya, Neo mengambil kunci motor dan menyuruh Cia untuk mengambil helm nya. Mereka berdua keluar dari rumah. Neo mengunci pintu depan rumahnya. Neo mengeluarkan motornya dan disusul Cia di belakang Neo. Neo mengunci pintu gerbang dan menghidupkan motornya.
“Ayo naik” suruh Neo. Cia pun naik ke atas motor Neo lalu berpegangan di pinggang Neo.
“Udah” ujar Cia singkat. Neo lalu melajukan motornya dengan kecepatan rendah.
“Dimana lokasi syuting lo?” tanya Neo. Cia mengambil handphone nya dan memberikan rute lokasinya dari google maps.
“Noh, disini” jawab Cia sambil menyodorkan handphone nya. Letaknya berada tiga kilometer dari posisi mereka sekarang.
“Ya trus lo mau gue liatin handphone sambil nyetir? Gila ya lo” sergah Neo.
“Yaudah gua sebutin tempat yang paling deket sama lokasinya” ucap Cia. Cia lalu mencari tempat yang ia maksud.
“Tempatnya deket sama mall Ambarawa, cuma jarak dua ratus meteran. Lo tau mall Ambarawa kan?” lanjut Cia.
“Okay” jawab Neo singkat. Ia lalu menambah kecepatan motornya hingga membuat Cia berpegangan erat di pinggang Neo. Cia sampai mencengkeram erat pinggang Neo.
“Geli anjir, jangan kuat-kuat!” seru Neo.
__ADS_1
“Ya lo juga kalo nyetir kayak mau bawa gue ke alam barzah. Lo mau ngeprank malaikat?!” teriak Cia. Neo tertawa kecil namun Cia tak bisa mendengarnya karena saking kencangnya angin yang menerpa wajahnya.
Mereka sudah sampai di lokasi yang Cia tiujukkan tadi. Neo berhenti di taman dekat lokasi syuting.
“Lo jangan pulang ya. Ikutin di belakang gue tapi jangan deket-deket. Pasti banyak yang curiga sama keberadaan lo di samping gue. Ato lo berkerumun sama fans-fans gue disana” Cia menunjuk ke arah kerumunan fans Cia yang entah jumlahnya ada berapa.
“Lo mau gue teriakin nama lo? Najis tau nggak!” pekik Neo.
“Ya kagak usah teriakin nama gue, tolol. Diem aja disitu, nyatu sama mereka, biar lo nggak dicurigain sama kru film dan temen-temen gue” suruh Cia. Setelah Neo pikir, ucapan Cia ada benanya juga.
“Yaudah gue nyatu sama mereka aja deh. Males gue berurusan sama temen-temen lo. Bye” ujar Neo sambil berlalu menuju kerumunan fans Cia.
Cia sudah mulai melaksanakan syutingnya. Neo melihat dengan seksama bagaimana Cia bermain peran. Neo tersenyum saat melihat bagaimana profesionalnya Cia saat bekerja. Lalu terlintas dibenak Neo, “Untuk apa Cia sebegitu kerasnya dalam bekerja? Aku penasaran, apakah dia tulang punggung keluarga?”
Sesi syuting Cia sudah selesai. Saat itu pukul dua belas lebih lima belas menit. Cia duduk untuk merilekskan badannya yang lelah. Cia melihat kerumunan fans Cia yang jelas jumlahnya berkurang. Ia ingin memastikan kalau Neo masih menemaninya. Neo tersenyum miring saat matanya bertemu dengan mata Cia. Cia menunjukkan jari tengahnya. Neo juga membalasnya dengan acungan jari tengah. Cia tiba-tiba dikagetkan dengan tepukan pundak dari seseorang. Ternyata itu adalah Caesar Gin, pacar Cia. Neo memperhatikan mereka berdua mengobrol dan menganalisis pria yang merupakan pasangan Cia. “Gue kira Cia jomblo” pikir hati Neo.
“Sayang, mau aku antar pulang ke apart?” tawar Caesar Gin pada Cia.
“Ah nggak usah bebe. Aku bisa pulang bareng mbak Isa. Kamu langsung pulang aja, okay?” tolak Cia secara halus.
“Yahh baiklah kalau begitu. Aku duluan yaa cantik” pamit Caesar Gin sambil mencium kening Cia. Caesar Gin lalu berlalu meninggalkan Cia. Caesar Gin melambaikan tangannya pada Cia
“Okayy. Hati-hati di jalan yaa sayang” ujar Cia sambil melambaikan tangannya. Mbak Isa lalu datang menghampiri Cia.
“Eh, lo jadi pulang sama gue?” tanya mbak Isa sang asisten. Cia menggeleng.
“Gue balik sama temen gue yang disana tuh” tunjuk Cia ke arah Neo yang masih ada dikerumunan fans Cia. Mbak Isa memperhatikan Neo. Neo tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya untuk memberi salam.
“Lu dapet temen model begitu darimana anjir?” tanya mbak Isa penasaran.
“Ntar aja gue kasih tau. Gue balik dulu yaa mbak. Bye!” pamit Cia sambil beranjak dari duduknya dan pergi ke arah Neo.
“Yok kita pulang, gue capek banget” kata Cia sambil melemaskan otot lehernya.
“Iye ayo, capek gua berdiri liatin lo syuting” jawab Neo. Mereka lalu berjalan ke tempat dimana motor Neo diparkirkan. Neo menghidupkan mesin motornya. Cia pun naik motor Neo tanpa disuruh.
“Udah” celetuk Cia. Motor Neo langsung melesat dengan kecepatan sedang.
Baru beberapa detik perjalanan, Cia meminta untuk berhenti sebentar. Neo meminggirkan motornya dan menoleh ke arah Cia.
“Apaan njing?” tanya Neo.
“Dingin bat, tolol. Pinjemin gue jaket lu kek” pinta Cia sambil menggosok lengan atasnya.
“Ogah, gue yg nyetir lebih kedinginan daripada lu yang ada dibelakang” tolak Neo.
“Lu mau gue mati kedinginan?” sewot Cia.
“Udah jangan cerewet, masukin aja tangan lo ke saku jaket gue” suruh Neo. Cia pun menurutinya. Neo kembali melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tangan Cia yang berada di saku jaket Neo, berangsur-angsur menghangat. Posisi tangan Cia itu membuatnya tak sengaja memeluk Neo.
Sampai di rumah, Cia langsung menghapus make up nya dan mengganti bajunya dengan abju yang lebih ringan dan santai. Sedangkan Neo tinggal melepas jaket dan mengganti celananya dengan celana pendek.
“Thanks udah temenin gue syuting” ucap Cia sebelum ia masuk ke dalam kamar.
“Haha, it’s okay lah. Seneng juga, gue jadi bisa liat gimana prosesnya bikin satu scene sinetron” balas Neo.
“Yaudah tidurlah. Besok lo harus sekolah” titah Cia. Neo tiba-tiba menguap sangat lebar.
“Anjir, gue abis liat kuda nil nguap” ejek Cia. Neo kesal, namun ia lebih memilih untuk diam karena ia sudah sangat mengantuk.
“Si anjing emang. Yaudah gue mau tidur, sana masuk ke kamar” ujar Neo mengusir Cia dari hadapannya.
“Okay, sekali lagi, thanks yaa. Lu harus gini terus sampe kutukan gue di cabut sama nenek tua itu” ucap Cia sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.
“Iyeee, udah tidur sana. Lo makin malem makin ilang kewarasan lo” suruh Neo.
BLAM!
Pintu kamar Cia tertutup. Neo merebahkan dirinya di sofa ─yang sekarang menjadi tempat tidurnya─ dan merilekskan otot kakinya.
“Kalo dipikir, Cia emang cantik sih. Gue jadi penasaran sama latar belakangnya dia. Sepertinya dia adalah tulang punggung keluarga, dilihat dari gigihnya dia bekerja” analisis Neo sebelum ia tidur. Neo lalu mengusir pikiran itu dan memejamkan matanya.
__ADS_1