Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan

Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan
Bab 2


__ADS_3

Rutinitas harian ibu kota sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Sepagi itu jalanan sudah ricuh dengan suara klakson yang saling bersahutan. Berlomba mencapai tempat tujuan berpacu dengan waktu. Riuh oleh teriakkan pedagang yang menjajakan dagangannya. Ruwet, menambah pikiran para pekerja kantoran yang di buru deadline. Lalu lalang terus mengalir tanpa kenal henti barang sejenak. Terus saja seperti itu sampai hari menggelap. Dan itulah bentuk kehidupan di kota metropolitan.


Seiring beribu larik cahaya matahari yang menerobos sela jendela kamar. Jatuh menimpa lantai dengan begitu syahdunya. Lembut, menampilkan bayang-bayang yang amat mempesona. Menyapa kuncup bebungaan yang sedang bersiap untuk mekar. Menyeka sisa embun yang telah bersua rindu dengan dedaunan. Berbisik, bercerita tentang indahnya hari.


Hari ini, aku Denada Gracia Clarabelle siap menjalani hariku dan meyiapkan ragaku tuk melakoni karirku..


"Baik, jadwal hari ini adalah fan meet lalu pemotretan endorse. Sekarang bersiaplah, acara akan dimulai dalam waktu 45 menit." Mbak Isa membaca agenda di tangannya. Hari ini sedang tidak ada jadwal syuting karena para pemain menghadiri fan meet. Rating sinetron ini melesat dengan cepat, membuat kami sedikit kewalahan. Tawaran endorse semakin menggunung, pemotretan, bahkan undangan acara formal sekalipun. Jadwal ku menjadi semakin padat saja. Tapi ini menyenangkan meskipun sedikit melelahkan untukku.


Aku sudah tak kaget lagi menjalani jadwalku yang padat bak antrean mobil yang macet di jalanan. Mungkin inilah resiko menjadi artis ternama. Bukan aku tak menyukainya akan tetapi aku merasa semua ini luar biasa tanpa pernah ku duga. Tanpa pernah ku duga jika diriku kini nyata telah menjadi artis ternama. Selain aku bisa shooting, aku juga bisa bertemu artis senior. Banyak ilmu dan lingkup pertemanan yang ku dapatkan. Dan aku bersyukur atas semuanya.


Ah iya kembali lagi pada aktivitasku hari ini, Aktivitasku hari ini adalah shooting reality show di studio tv ternama yaitu The One. Aktivisku hari ini ditemani oleh kekasih tercintaku. Ya siapa lagi kalo bukan Caesar Gin. Kemana pun aku shooting maka ia tak akan pernah absen untuk menemaniku. Dan tentu aku sangat bahagia. Aku merasa sangat diperhatikan dan dicintainya. Tentu aku selalu merasa bersyukur akan kehadirannya dalam kehidupanku. Bahkan segala keperluanku saat shooting selalu ia persiapkan. Sungguh manis sikapnya!


Kambali pada kegiatanku hari ini..


Acara hari ini dipandu oleh Rasya Al-Ahmed—host ternama kebanggaan Indonesia—yang dikenal sebagai raja Taktuk. Cukup mengesankan, pembawaannya membuatku terpana serta canda tawanya yang sering membuat acara televisi menjadi menarik. Rasya juga selalu mendapatkan nominasi host terfavorit di dunia entertaiment. Ya, itulah sekilas tentang Rasya yang ku kenal.


Ku berjalan ke podium, Rasya menjabat tanganku dan mengulaskan senyum kepadaku. Ku balas dengan senyuman juga. Rasya mulai memegang mic begitu juga dengan diriku. Rasya menyapaku.


"Denada Gracia, oke, nama kamu mirip banget sama nama aku, jangan-jangan kita jodoh lagi." dia mengedipkan matanya padaku. Bergurau dan sedikit menggodaku.


"Ah, jangan bilang kalau orang tua kita janjian." Balasku yang tak mau kalah dengan sang host. Itu adalah bentuk upayaku agar acara reality show ini menarik perhatian penonton. Tak lupa aku ikut mengedipkan mataku yang sebelah kanan.


Rasya menggangguk, "Lalu dimaksudkan untuk perjodohan kita. Maukah kau jadi imamku?"


"Salah oy, harusnya maukah kau jadi makmumku, bukan maukah kau jadi imamku?" tukasku geli. Aku ikut tertawa akan gurauannya.


"Oh, of course. Aku mau menjadi imammu." Balasnya seraya menyenggol bahuku


Studio langsung heboh. Sial, aku terkena jebakan batman. Rasya mengerlingkan matanya, menggodaku. Sorak penonton amat ricuh. Ku lirik sekilas ke tempat duduk Caesar. Ku liat raut mukanya sinis nan aneh. Apa dia cemburu? But, it's imposible. Ini hanya gurauan semata. Lagi pula Rasya sudah memiliki ekor baru satu, kemungkinan akan bertambah lagi. Mana mungkin Caesar cemburu begitu saja karena gurauan yang Rasya lemparkan kepadaku.

__ADS_1


"Sekarang giliranku." celetuk Caesar yang tiba-tiba menghampiriku ke panggung.


Semua mengalihkan perhatian pada Caesar yang berjalan ke arahku dan Rasya. Ia menatapku dengan amat intens. Membuat pipiku memanas, aku tak yakin perona pipiku mampu menyembunyikan semburat merah yang timbul. Apa yang salah dengan Caesar?


"Aku ingin kamu menerjemahkan setiap kata yang aku ucapkan ke dalam bahasa Inggris, siap?" pintanya lalu bertanya kepadaku.


Aku mengangguk pelan. Baiklah, mari kita ikuti permainannya.


"Bahasa inggrisnya kucing?"


Satu pertanyaan mulai keluar dari bibir Caesar.


"Cat." jawabku


"Kalau pohon?"


"Kalau dasi?"


"Tie."


"Bayi?"


"Baby."


"Iya sayang, kenapa manggil? Kangen ya?"


Wow, ini jebakan lagi.


"Well, sungguh tidak terduga jawaban yang disuguhkan oleh Caesar sang pujaan hati aktris kita." Timpal Rasya di tengah kediamanku karena speechless dan malu. Aku hanya bisa menundukkan wajahku untuk menyembunyikan blushing pipiku.

__ADS_1


Tepuk tangan bergema, suasana begitu heboh. Banyak rekan kami yang menggoda. Memang sudah menjadi rahasia umum jika kami adalah sepasang kekasih. Inilah resiko menjadi aktris, terbukanya privasi. Entah itu baik atau buruk, publik pasti mengetahuinya. Respon mereka urusan belakangan, kalau sudah genting baru turun tangan. Ya, meski banyak yang menyangka kalau kami ini settingan tapi tak apa. Mereka hanya bisa menjudge tanpa tahu kenyataan sebenarnya.


"Sekarang aku akan mengundang seorang  penggemar untuk maju ke depan. Silahkan cek bagian bawah bangku kalian, kalau ada  kartu emas silahkan maju ke depan."


Refleks aku jongkok, meneliti bagian bawah tempat dudukku. Kosong, tidak ada apa-apa. Hanya ada lantai yang bersih sampai-sampai aku bisa bercermin di atasnya.


"Cia, apa yang kamu lakukan?" tanya Rasya saat memergoki tingkahku.


"Memeriksa bawah bangku. Kosong, tidak ada kartu emas."


Rasya dan yang lainnya menepuk dahi mereka. Aku memiringkan kepalaku, bingung dengan tingkah mereka. Apa aku melakukan hal yang salah?


"Ini ditujukan untuk penggemar Rasya, bukan buat kamu." jelas Reno dengan penekanan yang teramat jelas.


Aku terdiam, mangut-mangut. Bilang dong dari tadi, tau gini aku gak usah repot jongkok, mana pegel lagi. Huhhh.


"Siapa yang dapet? Ayo maju ke depan." ucap Rasya kembali fokus pada penggemar.


Riuh, seorang mbok-mbok maju ke depan. Ia melangkah dengan riangnya. Raut wajahnya sumringah, menampilkan kulit keriputnya yang agak bergoyang. Tersenyum penuh keceriaan.


"Siapa namanya nek?" tanya Rasya sejurus kemudian.


"Panggil aja mbok Yati."  ucapnya.


"Mbok Yati kesini pengen ketemu sama siapa?"


"Mbok pengen ketemu kaleh neng Cia."


Aku tersenyum. Rupanya ini salah satu penggemar ku. Ini fantastis dan luar biasa. Tak menyangka ada juga yang mengagumi seni peranku dari kalangan lansia. Aku menatap mbok Yati dengan antusias yang menyala. Tak menyadari bahwa pertemuan kali ini membawaku pada suatu hal di luar nalar yang mampu mengubah sejarah hidupku

__ADS_1


__ADS_2