Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan

Cinta, Kutukan Dan Mas Berondong Tampan
Bab 5


__ADS_3

Kring.. Kring..


Suara alarm berdering dengan kencang. Membangunkan seorang gadis yang tengah tidur lelap di ranjangnya. Cia menguap lalu merentangkan tangannya ke jam backer. Menghentikan bunyi alarmnya. Kemudian ia menoleh ke arah Jam di samping tempat tidurnya. Jam backer menunjukkan pukul 05:15 waktu setempat. Tak ia kira jika waktu berjalan dengan cepat. Ia teringat jika semalam ia pulang pukul sebelas malam.


Cia menyibak selimutnya lalu berjalan keluar dari kamarnya. Seperti biasanya, Ia berjalan ke arah kulkas. Membuka kulkas dua pintu miliknya dan mengambil sebotol air mineral. Menegaknya sebanyak tiga tegukan. Setelah selesai minum ia meletakkan balik ke dalam lalu menutup kembali pintu kulkasnya. Saat ia selesai menutup kulkasnya, sebuah wajah muncul begitu saja di depannya. Ya, wajah itu adalah wajah Mbok Yati – seorang fans yang ia perbolehkan menginap di rumahnya semalam.


‘’Astaghfirullah Mbok Yati! Mengagetkan saya saja!’’ pekikku refleks mengeluskan tanganku di dadaku karena kaget.


‘’Hehe iya neng Cia. Maafkan mbok yang mengagetkan ning ya.’’ Ujarnya


Lagi-lagi mbok Yati mengagetkannya dengan keberadaannya di sekitar apartemen Cia. Sebenarnya tak hanya satu kali tapi sudah tiga kali ini ia kaget melihat kehadiran Mbok Yati yang tiba-tiba muncul begitu saja.


Cia mengulas senyum tipis. Mencoba untuk menyenangkan Mbok yati agar tak merasa tak nyaman padanya. Cia berkata pada Mbok Yati, ‘’Mbok Yati ada apa pagi-pagi gini nyamperin saya? Mbok butuh sesuatu kah?’’ tanya Cia dengan santun dan suara lembut


Mbok Yati menyodorkan sekotak makanan pada Cia, ‘’Ini Neng.’’


Cia menerimanya lalu bertanya pada Mbok Yati, ‘’Apa atuh ini Mbok?’’


‘’Nasi krawu liwetan mbok.’’ Balas Mbok Yati memberikan keterangan pada Cia


‘’Krawu mbok?’’ tanya Cia memastikan


Mbok Yati mengangguk dan tersenyum lebar, ‘’Iya ning hehe, Monggo didahar ning. Mumpung masih anget.’’


Cia tersenyum lalu memberikan kembali sebungkus nasi itu pada mbok yati, ‘’Mbok tak usah repot-repot masak untuk saya. Saya bukannya tak mau menerimanya. Akan tetapi saya tak kebiasaan untuk sarapan mbok.’’


"Neng seharian sibuk syuting atuh? Ning Cia sampai tak sadar kalo belum makan sama sekali. Ning tak boleh gitu atuh. Gimana kalo nanti neng sakit? Nanti kalo neng sakit juga banyak yang repot ngurusin dan mbok patah hati gak bisa liat ning main pilem lagi. Liat badan ning kurus gini mbok jadi sedih. Urus diri sendiri juga penting atuh Ning." Mbok ijah memberikan nasihat panjang kali lebar pada Cia.


Cia tersenyum tipis saat mendengar itu semalam. Sudah lama sekali, kapan ia mendapat omelan seperti itu? Apakah tujuh belas tahun yang lalu? Ia tak ingat benar. Yang pasti ia amat merindukan momen dimana ia diomeli karena menghabiskan selai kacang di meja. Namun, yang ia herankan. Dari mana mbok Yati tahu ia tinggal disini?


Cia mengangkat bahunya. Ia menggeliat. Beranjak bangun dari posisi rebahan yang sialmya begitu enak.

__ADS_1


Dengan malas ia menyibak gorden. Mempersilahkan cahaya mentari masuk, membasuh keseluruhan kamar Cia. Larik cahayanya begitu syahdu jatuh di permukaan lantai. Membuat siluet yang begitu indah.


Cia bergegas menyiapkan dirinya. Ia harus tampil menarik hari ini. Bukan karena ada acara penting yang akan dihadirinya. Bukan pula acara syuting yang memaksa berpenampilan seperti itu. Hanya saja pagi ini Caesar akan menjemputnya. Mungkin terdengar sepele tapi ini berarti baginya.


Ping


Caesar : Aku sudah sampai, keluarlah darl.


Pesan dari Caesar membuat bibir Cia membentuk bulan sabit, melengkung dengan sempurna. Ia bergegas turun, hatinya membuncah bahagia. Namun, langkahnya lagi-lagi terhenti. Mbok Yati rupanya sudah menunggunya.


"Neng, mbok pengen photo bareng, boleh?"


Cia mengangguk cepat. Ia mengambil gawai mbok Yati. Cepat melakukan swa photo bersama. Dia tak mau terganggu lagi.


"Sudah ya mbok. Cia ada urusan," pamit Cia.


Cia hendak melangkah lagi tapi lemgannya ditahan oleh mbok Yati. Dahi Cia mengernyit, apa lagi setelah ini.


Cia menggeleng, ia sedang terburu-buru. Tak ada waktu untuk mendengarkan curhatan nenek tua. Caesar sudah menunggunya.


"Cia gak bisa, sudah ditunggu."


"Sebentar aja neng," muka mbok Yati memelas. Tangannya tak melepaskan lengan Cia.


"Ada apa ini?"


Cia dan mbok Yati menoleh ke arah suara bariton yang menegur mereka. Itu Caesar yang berbalut jas. Terlihat begitu gagah dan angkuh. Dahinya mengernyit saat melihat posisi lengan Cia. Cepat ia membebaskan Cia. Membawanya ke sisinya. Matanya menatap tajam mbok Yati.


"Mbok cuma mau bilang kalau laki-laki ini gak baik buat neng Cia. Dia gak cocok buat disandingkan sama neng Cia. Mending kalian teh putus aja."


Dua manusia di hadapan mbok Yati terperangah mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Mbok gak ada alasan ngatur hidup kami. Mbok bukan siapa-siapa." Tukas Caesar.


"Mbok penggemar neng Cia!"


Caesar mendengus dibuatnya. Ia memandang Cia sambil mengetuk-ngetuk jam di tangannya.


"Maaf ya mbok, tapi ini urusan kami. Mbok gak ada hak buat atur hidup Cia." Ucap Cia.


"Mbok cuma gak mau neng Cia terluka. Neng harus nurut kalau dibilang orang tua tuh. Putus aja sama Caesar. Dia gak baik buat neng Cia."


Caesar menghempaskan tubuh mbok Yati sampai ia tersungkur. Amarahnya sudah tersulut.


"Mbok bukan keluarga Cia jadi gak usah ikut campur."


"Mbok bilang juga apa, Caesar gak baik buat neng Cia. Pokoknya neng Cia harus putus sama Caesar sekarang. Mbok gak mau neng Cia terluka karena dia. Dia jahat. Dia munafik!" jerit mbok Yati.


Caesar berbisik, "Urus dia sayang. Dia sudah gila!"


Cia mengangguk, dia juga terusik oleh sikap mbok Yati yang menurutnya sudah kelewatan.


"Mbok bukan siapa-siapa Cia. Mbok bukan keluarga Cia. Mbok cuma penggemar Cia. Sama sekali gak ada hak buat ikut campur urusan Cia.


Terserah Cia mau berbuat apa, mbok sama sekali gak bisa melarang Cia."


"Denger itu bodoh!" sentak Caesar. Ia kembali mendorong mbok Yati sampai terjungkal lagi. Caesar cepat melewati mbok Yati, membawa Cia. Bergegas hendak pergi dari situasi membingungkan itu.


Mbok Yati bangkit dari jatuhnya. Ia menatap tajam pasangan yang berlalu. Jarak mereka hanya lima langkah. Suara mbok Yati terdengar menggelegar, "Kalian tak bisa mengelak dari takdir. Mbok bersumpah, neng Cia akan merasakan apa yang mbok rasakan. Ini kutukan yang akan menimpa neng Cia. Bersiaplah!"


Deg. Hati Cia bagai tersengat listrik jutaan volt. Ia merasa tak nyaman setelah mendengar hal itu. Sesuatu sepertinya akan menimpanya, dan ini bukan hal yang baik sama sekali.


"Jangan dipikirkan. Dia sudah gila, dia hanya membual soal kutukan itu. Kamu gak usah mikirin hal ini lagi. Lebih baik kita bergegas, ya meski akan terlambat sih." Caesar terkekeh saat melihat jamnya. Ia merangkul Cia.

__ADS_1


Cia tersenyum, mengangguk pelan. Jadwal padat sudah menunggunya. Ia harus segera sampai.


__ADS_2