
Semua berlalu dari pertemuan menjadi sebuah kisah yang terbungkus rapi dalam hangatnya kalbu. Membentuk sebuah kata 'Asmara' . Asmara yang kian memuncak dalam kalbu hingga tak terbendung lagi. Ya, Semua itu Kini dirasakan oleh Artis yang kian naik daun Denada Gracia bersama Caesar Gin. Berawal dari sebuah pembelaan yang dilakukan oleh Caesar waktu itu kini semakin hari menjadi kedekatan yang penuh asmara. Teringat pada kala itu, tepat saat acara peresmian film terbaru mereka. Acara yang berlangsung sesuai prosedur dikacaukan oleh Caesar.
"Aku mau ngomong, boleh?" tanyanya, membuat satu studio menoleh padanya. Jujur, ia adalah salah satu orang yang tidak terlalu disorot karena perannya sebagai pemeran pendukung.
Caesar berdeham pelan, ia mulai mengatur nafasnya. Kakinya melangkah pelan ke arah Cia yang jantungnya mulai berdegup kencang. Cia duduk dengan gelisah, ia sesekali melirik Caesar yang semakin mendekat ke arahnya. Blush, pipinya memerah. Beruntunglah hal itu tertutup oleh make up yang di kenakannya. Sibuk menentramkan hatinya.
"Aku akan membuat pengakuan di depan kalian semua. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Aku belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya pada wanita. Dan aku yakin kalau rasa ini adalah cinta. I love you, Denada Gracia Clarabelle. Tak perlu alasan untuk mencintaimu. Aku hanya bisa merasakannya, di sini." senyum terulas di bibir Jonathan saat mengatakan hal itu dengan tangan menunjuk dadanya.
Hening. Cia membeku di tempat duduknya. Ia menatap tak percaya pada Caesar.
Jatuh cinta? Apakah baru saja Caesar mengatakan kalau ia jatuh cinta padanya?
Seolah melihat keraguan di mata Cia, Caesar menggenggam tangan Cia lalu membawanya ke dadanya. Cia menengadah, bertemu dengan tatapan Caesar yang lembut. Ia bisa merasakan detak jantung Caesar, kecepatannya sama seperti miliknya.
"Aku mencintaimu tanpa ada karena. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku? Menapaki hidup bersama, menjalani liku kehidupan dengan cengkerama bersamaku?"
Studio langsung heboh. Mereka menyoraki Caesar, ada yang mendukung tapi ada juga yang terang-terangan tak menyukai. Cia melunglai karena bahagia. Ia terkulai dalam pelukan Caesar. Sepertinya ia tak perlu menjawab pertanyaan Caesar. Semua itu sudah jelas saat Cia menggangguk pelan dalam dekapan Caesar. Sekarang mereka resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Namun Cia tak memperhatikan ekspresi seseorang yang menatap mereka dengan geram. Seolah akan menelan Cia hidup-hidup hanya dengan tatapannya itu. Sayang, itu hanya terlihat sepersekian detik saja. Selebihnya ia terlihat antusias, seperti rekan-rekan kerja lainnya. Menutupi perasaan yang berkecamuk di dadanya. Menumpahkan sumpah serapah dalam otaknya.
"Aku akan mengantarmu pulang, sayang." bisik Caesar di telinga Cia.
Cia menengadah.
Pandangan mereka bertemu.
Dan tanpa mereka sadari, pelukan itu semakin erat seolah tak mau terpisah. Seoenuhnya mengabaikan seisi studio yang heboh menggoda mereka. Cia merasa itu adalah satu-satunya kebahagiaan absolut yang pernah ia rasakan. Hatinya menghangat, dengan Caesar yang akan mengisi hari-harinya. Ia berharap Caesar menjadi pelabuhan terakhir pelayaran cintanya. Ia ingin menetap untuk selamanya. Bukan persinggahan untuk cinta sesaat.
Ping...
Bunyi halus terdengar dari saku Caesar. Ia mengeluarkan handphonenya. Saat ini acara sudah selesai dan ia akan mengantarkan Cia pulang.
By❤ :
Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga! Ku tunggu di tempat biasa sepuluh menit setelah kau baca pesan ini! Jika lewat, jangan harap bisa menemuiku lagi!
Caesar kelabakan. Ia menatap Cia dengan sendu. "Aku sepertinya tidak bisa mengantar mu sayang. Aku lupa ada janji. Maafkan aku, lain kali kita akan jalan merayakan status baru kita." Caesar membelai rambut Cia dengan lembut. Ia menatapnya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Luluh, Cia menggenggam jemari Caesar. "It's okay. Aku bisa pulang dengan mbak Lia."
Caesar mengecup kening Cia pelan. Ia melambaikan tangannya sebelum masuk ke mobilnya. Matanya melirik jam, tinggal delapan menit lagi, semoga saja ia tidak terlambat. Hatinya kacau. Cepat ia memarkirkan mobilnya dengan asal. Ia melihat sebuah sosok yang sedang mengetuk-ngetuk jemarinya sambil menatap jam di dinding.
Rambutnya terurai bergelombang, jatuh dengan syahdunya. Malam ini ia mengenakan dress merah menyala dengan belahan sepanjang betis sampai paha. Punggungnya terekspos dengan indahnya. Begitu seksi, lengkap dengan make upnya yang begitu menawan. Membuat pandangan Caesar terfokus padanya. Tanpa sadar ia menelan ludahnya saat melihat belahan dada wanita itu yang kini menatapnya dengan kesal.
"Yolanda, kau pasti menunggu lama. Maafkan aku." Sesal Caesar. Ia mengambil tempat duduk di depan Yola dengan mata yang tak mau terlepas menatap Yola.
"Aku ingin penjelasan!" tekannya. Ia menatap Caesar tajam. Tangannya terlipat di depan, hal itu justru menambah keseksian nya di mata Caesar.
"Hmm, soal apa?"
"Kejadian di studio tadi. Apa maksudmu menembak Cia di hadapan publik? Kau ingin membuatku cemburu atau marah? Kau itu milikku, hatimu itu untukku. Aku tahu kau tergila-gila dengan ku. Aku tahu segala perhatianmu itu untuk memikatku. Aku tahu semua kelakuan mu yang begitu memuja ku." Yola dengan angkuhnya mengatakan hal itu. Ia menatap Caesar dengan tajam, penuh percaya diri saat berkata.
Ia yakin Caesar begitu menyukainya, bukankah ia ada disini setelah membaca pesan bernada ancaman itu? Padahal ia tahu, Caesar sudah berjanji mengantar Cia pulang.
Caesar menunduk, ia memainkan jemari tangannya. Nafasnya terdengar amat kasar, gusar.
"Aku memang tergila-gila padamu. Aku akui itu. Aku mencintaimu,Yolanda Evangeline." Caesar berkata dengan lembut, ia menggenggam jemari lentik Yolanda. Meremasnya pelan.
"Lalu kenapa kau meminta Cia menjadi kekasihmu jika pilihan hatimu adalah aku?"
Yolanda terdiam, ia menatap Caesar tak percaya. Namun tak lama kemudian seulas senyum tercetak di bibirnya. "Maksudmu, kau hanya memanfaatkan kepopuleran Cia?"
"Of course, babe. Cintaku hanya untukmu. Hatiku telah terpatri namamu. Segalanya untuk mu. Cia hanyalah batu loncatan menuju jalan kesuksesan ku selanjutnya. Aku hanya ingin dirimu saja, bukan Cia. Jadi jangan cemburu sayangku, i am yours."
Betapa semesta tahu caranya mempermainkan hati manusia. Menyembunyikan kebenaran dengan begitu apiknya. Menampilkan wajah palsu penuh drama tiap manusia. Penuh teka teki dan juga misteri di baliknya. Menuntun untuk mempelajari segala yang terjadi. Membuka tabir dengan begitu perlahan sehingga ia tak sadar kebenaran sudah terpampang nyata dengan elegannya.
#######
Mbak Yati tersenyum dengan lebarnya saat ia keluar dari studio. Ia telah berphoto bersama dengan idolanya. Bahkan ia memeluknya. Betapa hatinya membuncah karena bahagia. Namun, senyumnya memudar saat melihat pak Kuncrit—kawan sepermainannya dulu di kampung— berkacak pinggang sambil melotot. Mbok Yati melangkah dengan malas ke arahnya. Ia jadi teringat dengan kejadian pagi tadi sebelum ia masuk ke dalam studio.
"Yati, Elingo bojomu ndek kampung. Dekne pasti bingung goleki Awakmu. Awakmu iki ya budal ra jaluk izin hisik ya ngene iki awakmu garai angel aku ae jah paijah*.'' gerutu pak Kuncrit sambil membelai janggutnya yang semalam sudah di cukur habis, menyisakan bulu halus yang menggelitik.
(*Yati, ingat lakimu di kampung. Ia pasti kelabakan cari kau. Kau ini ya, pergi tak minta izin lebih dulu, bikin susah aku saja )
"Ya wis barno toh crit! Dekne wis tuwek lan ra guna gawe aku! Mending aku nonton Ning Cia secara langsung daripada ngurusi dekne."
__ADS_1
"Ya kan, Dekne wis tuo ijah. Greget aku karo koe*.''
(*dia itu sudah tua Ijahh, greget aku sama kau)
"Halah, kowe yo cinta karo bojomu meskipun ra guna. Seharuse nek enek masalah kuwi diomongke ora nyingkrih koyo bocah. Kowe malah nekani acara artis senenganmu sing ra enek gunane ti yati!"
Pak Kuncrit menggaruk kepalanya yang tak gatal. Memang susah menghadapi wanita keras kepala ini. Ada saja alasannya itu, padahal ia sudah berlaku salah.
"Kau ini ya, ku bilang kau pulanglah. Ngapain pula kau dateng ke acara gak berguna kek gini hah? Mereka itu menipu kau dengan akting mereka."
Mbok Yati menatap tajam pak Kuncrit yang sedari tadi menghalangi langkahnya. Ia curiga temannya ini sudah dipengaruhi oleh suami tak bergunanya yang tahunya mengomel saja. Hatinya kesal ketika mengingat raut wajah suaminya saat ia pergi, begitu tenang. Menyebalkan sekali memang. Suruh siapa ia tak menghalanginya untuk pergi, sekarang ia meminta temannya untuk membujuknya. Cara yang klasik.
"Nang ndi wae aku pengen ya wis lah! Iki ya sikilku ora sikilmu. Napo kok kowe sibuk ngurusi penggaweane omahe uwong. Sebelume kowe ya wis ngomong nek ra pengen ngurusi uripku terus iki opo? Ngomong wae crit nek kowe sik tresno karo aku. Jujuro wae kuncrit si kurus kepang loro." Ujar Mbok yati dengan kecepatan yang tak terukur
Wajah pak Kuncrit merah padam mendengar omongan mbok Yati. Ayolah, ia hanya pusing mendengar ocehan Midun—suami mbok Yati— yang terus menerornya setiap jam makan. Membuat ia mual dan tak nafsu makan saja. Midun tahu kalau mbok Yati pergi ke ibu kota tapi ia hanya bisa memantau saja. Ia tak bisa mendekati mbok Yati sebab ia pasti terkena semburan letupan amarah mbok Yati yang bahkan melebihi letupan gunung merapi yang meletus tiba-tiba. Begitu menakutkan. Oleh karenanya ia mengorbankan pak Kuncrit untuk menghadapi mbok Yati.
"Hei, sembarang kali kau cakap. Badan gemukku ini kau bilang kerempeng. Dan hei, aku ini botak. Sejak kapan aku berkepang dua heh.." pak Kuncrit melotot.
"Halah kowe isin kan ngakoni? Biyen wae kowe kuru krempeng macam tiang listrik versi pendek e. Durung maneh perilakumu sing koyok cah wedok. Kata anak jaman saiki.. Cabe-cabean, Itu iya, durung maneh rambut gondrong ngeluwihi lebate hutan kalimantan, uwis mah kutuan maning. Jijik aku ndeloke biyen." Celatu Mbok Yati perihal Kuncrit pada masa lalu
Frustasi, pak Kuncrit memelas. Ia menatap mbok Yati dengan tatapan sedih. Kuncrit tak bisa berkata-kata lagi di hadapan Mbok Yati. Ia sudah kalah debat dengan mbok yati.
“Kowe kenek opo maneh? Ora pantes ekspresi macem ngono ning raimu. Ora enek abang sing ndelok kowe.” Omel mbok Yati.
“Jah, bantu aku kali ini sajalah. Aku pusing dengar ocehan si Midun, laki lu itu.” Bujuk Kuncrit pada Mbok Yati
“Uwis ora usah pedulikne bocah kuwi. Menengo wae ning ngarepe, ngunu wae kok ribet crit! Uwis ah aku tak melbu ning njero! Kowe minggato kono crit.” Balas Mbok Yati yang sudah tak ingin berurusan dengan kuncrit.
Tanpa memedulikan pak Kuncrit lagi, mbok Ijah melesat dengan cepat. Ia sudah tak sabar bertemu dengan idolanya. Ia begitu mengagumi akting Cia yang begitu profesional saat memerankan peran manula. Begitu mengesankan. Memikat hatinya begitu erat. Ia pengagum berat nomor wahid Denada Gracia.
“Pulang kau, Midun sudah tunggu kau di rumahku.” Tarikan pak Kuncrit mengembalikkan mbok Yati kembali ke masa kini. Ia tersentak. Dengan cepat ia menghempaskan tangan pak Kuncrit.
Mbok Yati berusaha untuk pergi, mengabaikan pak Kuncrit yang sudah bersiap untuk mengomel panjang kali lebar lagi. Ia sudah tak peduli akan segala bujuk rayu pak Kuncrit.
“Kau tahu, idola tak bergunamu itu buat kau seperti ini. Kau melawan pada suami kau, kau pula lah yang akan menderita nanti. Kalau gini caranya, ku temui sajalah idola kau itu. Biar ku hajar anak tak tahu diuntung itu.” Suara pak Kuncrit terdengar menggelegar. Ia menatap pintu masuk dengan tajam. Beranjak melangkah maju, hendak menemui Cia.
Mbok Yati yang melihat itu kelabakan. Cepat ia menghadang pak Kuncrit. Menghalangi nya dari jalan masuk. Beberapa orang yang merasa terganggu melihat mereka dengan sinis. Namun setelah menyadari kalau ini hanyalah sepasang lansia, mereka menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Mbok, kalau mau ribut ya di rumah atuh. Jangan di sini, malu atuh sama anak muda. Udah tua kok masih cemburuan gitu.” Celetuk seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan yang mengenakan blazer berwarna navy blue.
Malu akan suasana, mbok Yati menyeret pak Kuncrit keluar dari studio. Ia sudah menyiapkan teks omelan serta gerutuan dalam otaknya. Siap dimuntahkan layaknya lahar, tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Sungguh, ini adalah hari paling menyenangkan dan paling memalukan untuk mbok Yati.