
3 bulan telah berlalu. Dimana hari-hari panjang di SMA Mutiara Cinta telah dilalui oleh gadis polos nan lugu bernama Xavera Adelina Putri. Mengapa dikatakan dengan hari-hari yang panjang? Karena untuk mengatakannya sebagai hari-hari yang berat, akan menjadi beban pikiran yang terlalu menyulitkan. Pikir Xavera.
Karena kepribadian nya yang senang menyendiri dan jarang berbicara membuat kebanyakan teman-temannya memilih untuk menjauh, bahkan membenci karakter nya. Dibilang tidak asyik lah, pura-pura pendiam dan pemalu padahal munafik di belakang layar. Dan ada banyak kata-kata lainnya yang menyerang Xavera secara membabi buta.
Kenapa bisa dikatakan separah itu? Karena memang tidak ada satu pun teman-teman di kelasnya yang ingin atau untuk hanya sekedar menyapa Xavera. Mereka bahkan menganggap Xavera seolah tak pernah ada di dalam kelas. Sekalipun mereka menyebutkan nama Xavera, selalu saja dibarengi dengan kata-kata pujian penuh luka.
"Untuk tugas selanjutnya Ibu ingin kalian membentuk sebuah kelompok ya." Ucap Ibu Indira. Seorang guru dari mata kuliah sejarah Indonesia.
Semua bersorak riang dengan teman sebangkunya masing-masing kecuali Xavera yang hanya duduk sendirian.
"Ibu, apa untuk menentukan kelompoknya sesuai dengan keinginan kita?" Ucap seorang siswa perempuan yang duduk di barisan depan. Ia bernama Tania. Ia menyerukan pertanyaannya dengan lantang.
Ibu Indira pun terdiam sejenak untuk kemudian berucap, "Ibu akan mengecek terlebih dahulu data jumlah siswa di kelas ini." Ucapnya sembari membuka lembar absen kelas yang ada di atas mejanya.
"Tapi jika kita ingin memilihnya sendiri, bagaimana Bu?" Ucap siswa perempuan yang lainnya.
"Ibu rasa untuk membuat nya terlihat adil. Ibu saja yang pilihkan pembagian kelompok untuk kalian ya." Ucap Ibu Indira dengan kedua sudut bibirnya yang tak henti mengukir senyuman.
"Boleh saja, Bu. Tapi jangan pilihkan Xaxa untuk sekelompok denganku." Jawab siswa perempuan tersebut yang diikuti oleh hampir seluruh siswa lainnya yang ada di dalam kelas.
Ibu Indira mengerutkan keningnya heran. Ini memang kali pertama dirinya membentuk kelompok di ruang kelas satu ini. Dan untuk di ruang kelas satu yang lain ia sudah mencobanya, namun semua baik-baik saja. Tidak ada yang banyak bertanya, apalagi protes. Mereka semua mengikuti arahan dengan baik. Apa ini yang dikatakan bahwa perbedaan memang selalu ada. Pikir Ibu Indira.
__ADS_1
Sembari kembali mengukir senyuman, Ibu Indira pun berusaha memindai situasi untuk kemudian bertanya, "Jika kalian semua tidak ingin satu kelompok dengan Xavera, lalu siapa yang akan sekelompok dengannya? Jangan memilih pertemanan dalam belajar. Kita harus saling bekerjasama, saling membantu satu sama lain."
"Tapi masalahnya Xavera itu bodoh, Bu. Dia hanya akan menjadi beban kelompok saja. Siapapun juga pasti akan malas jika harus membawanya gabung satu kelompok." Ucap Tania tanpa ingin memfilter kata-katanya yang langsung merendahkan kemampuan Xavera.
Merasa memiliki kapasitas otak yang sama dengan Xavera langsung menimpali nya tak terima, "Hei, Tania! Jangan bersikap terlalu sombong! Karena apa? Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Dan kamu tidak akan pernah bisa menjadi seseorang yang mampu melakukan semua hal."
"Idih, kenapa langsung sewot? Orang kita lagi membicarakan Xavera, kan?" Ucap Tania tak menyangka akan mendapat tatapan tajam dari beberapa temannya.
"Tapi perkataan mu tadi itu cukup menghina banyak orang disini. Jangan karena kamu selalu mendapatkan nilai paling tinggi di kelas kita, bisa seenaknya menilai orang lain dan menganggap nya bodoh."
Tania berusaha mengendalikan diri meski sebenarnya ia merasa ketakutan karena tiba-tiba saja ia yang diserang. Padahal sebelumnya ia hanya ingin Xavera diabaikan oleh semua orang dan mengerjakan tugasnya tanpa bantuan siapapun. Dalam kata lain, ia tidak ingin Xavera masuk ke dalam kelompok manapun dan kembali dikucilkan. Tapi apa yang terjadi sekarang membuat nya sedikit menyesal sudah mengatai Xavera dengan menyebutnya bodoh.
"Aku sama sekali tidak menyebut kalian bodoh. Dan karena memang kalian tidak bodoh, kan?"
"Seperti yang kita tahu. Xavera itu bodohnya keterlaluan. Hampir di setiap mata pelajaran ia selalu mendapatkan nilai dibawah 3. Udah jauh dari kata setengahnya. Sementara kalian mentok paling diangka enam, itu pun juga jarang kan?" Tania berusaha menggamblangkan kenyataan untuk bisa jadi hasutan pada teman-temannya bahwa Xavera memang jauh lebih rendah posisinya dan pantas untuk dikucilkan.
"Haduh, kalian semua sekarang mengerti kan kemana arah pembicaraan Tania. Yang intinya, kita semua itu tidak selevel dengan Xavera. Kalau ada sistem kelompokkan begini ya Xavera cuma numpang nilai. Terlalu keenakan!" Timpal teman satu meja dengan Tania. Ia bernama Baby.
Ibu Indira yang sedari tadi diam memperhatikan mulai angkat bicara, "Ibu rasa waktu pembelajaran kita di hari ini sudah selesai ya. Ada waktu 15 menit lagi untuk kalian berdiskusi. Silahkan tentukan kelompok kalian masing-masing. Dan untuk Xaxa. Kamu tidak perlu memiliki kelompok. Ibu yakin kamu bisa menyelesaikan tugas yang Ibu berikan sendirian. Sekian, Ibu pamit keluar kelas." Ucap Ibu Indira tanpa meninggalkan jejak senyuman nya lagi.
Mendengar hal itu membuat Tania bersorak kemenangan dalam hati. Tujuannya untuk mengucilkan Xavera kembali berhasil. Apalagi ditambah dengan reaksi teman-temannya yang lain yang mulai kembali memihak padanya. Semakin menambah kesenangan Tania.
__ADS_1
"Sampai kapanpun itu. Aku akan selalu membuat hidupmu menderita. Jangan harap memimpikan kebahagiaan, karena itu tidak akan pernah terjadi." Gumam Tania dalam hati nya sembari melirik sekilas ke arah Xavera yang duduk di kursi paling belakang.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasanya, Xavera tidak membawa bekal dari rumah atau membeli makanan di kantin sekolah. Ia selalu menahan rasa laparnya dengan berdiam diri di ruang perpustakaan.
Jika biasanya ia duduk dipojokkan kursi perpustakaan. Kali ini Xavera lebih memilih duduk di kursi lain yang dekat dengan jendela, memandangi suasana di luarnya dengan tatapan dan pikiran yang tenang. Seolah apa yang terjadi di dalam kelas tadi tidak pernah ada. Ia belum mengambil salah satu buku untuk dibaca. Masih asyik memandangi apa yang dilihatnya saat ini. Tentang sebuah pohon yang bergerak karena hembusan angin dan beberapa daun-daun yang berguguran, menjadi pusat perhatiannya.
Nyatanya tempat itu bukanlah sembarang tempat. Melainkan tempat keramat dari seseorang yang tidak rela jika tempatnya diambil alih. Ia akan selalu menjadi orang pertama yang masuk ke dalam perpustakaan. Tapi kali ini ia datang terlambat karena sesuatu hal yang terjadi di ruang guru.
Xavera yang tidak biasa memperhatikan sekitar yang tidak menjadi objek perhatian nya, tidak mengetahui jika tempat duduk yang ia tempati sekarang adalah tempat yang selalu diduduki oleh seseorang.
Seseorang itu pun masuk ke dalam perpustakaan dan langsung menghampiri Xavera, "Kenapa duduk disini?" Ucap seseorang itu pada Xavera dengan tatapan dinginnya.
Xavera yang sedari tadi memandangi objek yang disukainya langsung teralihkan dengan suara seseorang yang bertanya padanya.
"Maaf. Apa ada yang salah?" Xavera menatap laki-laki tersebut dengan tatapan santainya. Dingin dan tajamnya sorot mata di depannya saat ini sama sekali tidak menggentarkan perasaan Xavera untuk takut.
"Ini tempatku." Ucap laki-laki tersebut sembari menghela nafas panjang.
"Sudah membelinya. Dimana?" Ucap Xavera dengan tatapan polos nya hingga membuat laki-laki di depannya terdiam sembari mengepalkan kedua tangannya erat.
"Bisakah kamu mencari tempat duduk yang lain. Karena masih ada banyak tempat duduk yang kosong."
__ADS_1
"Kenapa tidak kamu saja." Ucap Xavera sembari beranjak dari tempat duduknya, "Aku tidak tertarik untuk memperebutkan hal yang tidak penting. Silahkan duduk dan aku pastikan ini tidak akan terulang." Ucapnya melangkah pergi meninggalkan perpustakaan.
Sementara laki-laki itu yang sempat ingin meluapkan emosi nya, tertahan melihat tingkah seseorang yang baru dilihatnya. Dan iya, sama seperti Xavera. Meski setiap hari mengunjungi perpustakaan, ia baru melihat Xavera. Lebih tepatnya mereka berdua baru memperhatikan keberadaan satu sama lain.