Cinta Bersemi Di Perpustakaan

Cinta Bersemi Di Perpustakaan
Episode 15 Kaisar Yang Pengecut


__ADS_3

Di halaman taman sekolah, Kai dan juga Xavera berada saat ini. Duduk di salah satu kursi yang tertata di sana. Berbincang sembari menikmati hawa segar di pagi hari.


"Kenapa repot-repot membelikannya untukku?" Ucap Xavera menatap Kaisar yang duduk di sampingnya. "Maaf karena sudah membuat Kakak--"


"Aku menginginkan nya. Apa aku harus memiliki alasan jelas untuk bisa kamu terima." Sela Kaisar.


"Bukan begitu. Hanya saja, aku--"


"Anggaplah itu hadiah dariku untuk ulang tahunmu yang sudah terlewat." Selanya lagi tak ingin mendengar penjelasan Xavera yang menurutnya tak penting.


"Ck. Memangnya Kakak tahu kapan ulang tahunku?"


"Kenapa tidak. Aku sudah mencari tahunya." Jawab Kai seperti biasanya dengan ekspresi datar. Ia memang sudah mengetahui nya disaat Ibu Intan memintanya untuk membantu meningkatkan nilai Xavera dengan cara melatih kemampuan belajar Xavera. Dan Kaisar hanya meminta imbalan pada Bu Intan dengan menginginkan informasi data diri Xavera yang ada di sekolah.


"Apa? Itu pasti bercanda, bukan? Untuk apa Kakak mencari tahu. Seperti sedang jatuh cinta saja padaku." Ucap Xavera dengan bercanda. Namun lain dalam tangkapan Kaisar. Ia justru terkejut dengan pernyataan asal itu.


"Aku tidak mungkin menyukainya. Iya, aku tidak mungkin memiliki perasaan padanya dan pada siapapun itu. Sejauh ini apa yang aku lakukan hanyalah karena kasihan melihatnya." Batin Kaisar meyakinkan perasaannya jika rasa penasaran terhadap Xavera hanyalah karena rasa kasihan.


"Jangan asal bicara. Aku tidak mungkin menyukaimu."


Mendengar hal itu membuat Xavera tertawa, "Aku hanya bercanda. Dan aku cukup tahu diri."


"Ternyata orang sepertimu bisa tertawa juga." Ucap Kai yang merasa kalau baru kali ini melihat Xavera tertawa lepas.

__ADS_1


"Aku juga manusia, Kak."


"Aku baru tahu itu."


"Ck. Menyebalkan sekali. Bagaimana denganmu, Kak. Tersenyum saja rasanya aku tidak pernah melihatnya." Ucap Xavera sengaja menyindir kebiasaan Kaisar.


"Memangnya kamu siapa sampai aku harus tersenyum di depanmu?" Ucap Kai dengan nada ketusnya.


Mendengar hal itu entah mengapa hati Xavera rasanya sakit dan tidak menyangka kalau Kaisar akan dengan mudahnya melemparkan kata-kata itu.


"Iya iya terserah Kakak. Kita memang tidak saling mengenal, kan. Dan pembicaraan ini juga hanya kebetulan." Ucap Xavera tak ingin memperpanjang. "Jadi aku mohon jangan melakukan apapun lagi. Jangan memberi aku sesuatu apapun itu. Dan untuk pemberian Kakak ini, aku akan berusaha membayarnya dalam waktu dekat."


"Aku tidak mau mendengar hal itu."


Kai terdiam menatap wajah Xavera dengan ekspresi dinginnya. Meski terlihat dingin dan tak berperasaan, Kai sejatinya tengah merasakan sakit. Karena ia tidak punya keberanian untuk mengatakan maaf atas ucapan asal nya tadi. Apalagi setelah melihat bagaimana Xavera seolah kecewa dengan kata-kata nya, rasanya Kai ingin memaki dirinya sendiri yang pengecut.


Xavera yang terus ditatap Kaisar tentu saja merasa tidak nyaman dan ingin secepatnya pergi menuju kelas. Namun apalah daya, kedua kakinya mendadak membeku di tempatnya saat ini.


Melihat bagaimana Kaisar terus menatap nya tanpa berbicara semakin membuat Xavera bingung untuk memberikan reaksi yang pas. Namun diam saja jelas bukan solusi.


"Aku rasa pembicaraan kita selesai sampai di sini. Pokoknya Kakak tenang saja aku akan berusaha membayarnya dengan waktu yang cepat. Terima kasih atas bantuannya, aku akan selalu mengingat hal itu." Xavera mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Temui aku di perpustakaan nanti. Kalau kamu tidak ke sana, aku akan menemuimu sekalipun itu di dalam kelas." Ucap Kai lebih dulu pergi meninggalkan Xavera.

__ADS_1


"Sebenarnya apa tujuan dia terus mengajakku berbicara. Bukankah tadi kata-kata nya terdengar tidak menyukaiku." Batin Xavera sembari memperhatikan gerak langkah Kaisar.


Melihat kedatangan Xavera ke dalam kelas cukup membuat Tania naik darah. Kejadian dimana Xavera berani melawannya terus terngiang-ngiang. Dan awal dari pemanasan nya hari ini untuk mengerjai Xavera ialah dengan membeberkan fakta tentang Xavera yang tak mampu untuk membeli rok seragam sekolahnya.


"Lihat, Tan. Kira-kira darimana ya dia bisa membeli rok itu." Ucap Hana menunjuk ke arah rok yang dikenakan Xavera yang kini sudah duduk di kursinya.


"Entahlah. Mungkin dengan mencuri." Ucap Tania dengan tatapan mematikannya pada Xavera. Amarah penuh dendam seolah tengah terpancar dari wajahnya.


"Apa mungkin Papahmu diam-diam membelikan nya?" Ucap Baby menerka kemungkinan.


"Mana mungkin. Papahku tak se-royal itu sama dia."


"Jika memang benar dengan cara mencuri, itu sungguh luar biasa. Karena apa? Karena dia melakukan nya tanpa bisa diketahui sang pemilik toko." Ucap Baby.


"Tetap saja memalukan. Wajah sok polos, lugu, pendiam dan jarang bergaul nyatanya begitu handal jadi kriminal." Kali ini Fina yang angkat bicara.


Xavera berusaha berpura-pura tidak mendengar nya. Malas meladeni omong kosong dari teman-temannya yang berbicara tanpa bukti.


Bel istirahat berbunyi.


"Aku ke sana atau tidak ya. Kenapa jadi malas begini." Batin Xavera sembari membereskan buku-bukunya ke dalam tas.


Tania yang begitu membenci Xavera semenjak kejadian kemarin membuat rasa bencinya itu kian bertambah saja berkali-kali lipat, begitu panas melihat Xavera bisa mendapatkan rok baru tanpa pemberian darinya. Ia pun bergegas melakukan aksi gilanya lagi pada Xavera dengan berjalan cepat menghampiri meja Xavera dan menggebrak nya kasar.

__ADS_1


__ADS_2