
Sesampainya di ruang kelas tiga, Xavera melihat Tania dan juga Baby tengah berbincang dengan beberapa siswa laki-laki di dalam kelas itu yang dipastikan merupakan Kakak kelas nya.
Melangkahlah Xavera menghampirinya sembari membawa dua roti rasa coklat keju dan Blueberry kesukaan Tania dan juga Baby.
"Eh akhirnya dia datang juga. Kelayapan kemana dulu sayang. Lama sekali sampai kita kehabisan lima belas menit waktu istirahat." Sindir Tania dengan tatapan matanya yang tajam.
"Maaf tadi aku--"
"Halah banyak alasan! Mana pesananku?" Dengan cepat Xavera menyerahkan nya dan langsung diterima kasar oleh Tania.
"Lain kali jika tidak tepat waktu seperti ini, aku denda kamu." Ancam Tania.
"Maaf, tapi tidak ada lain kali. Karena aku tidak ingin melakukan nya lagi." Ucap Xavera hendak melangkahkan kakinya keluar kelas.
"Kak Farhan!" Teriakan suara Tania yang menyerukan nama seseorang amat menggelegar hingga mampu menghentikan langkah Xavera.
"Apa sih? Aku katakan tidak di ingin ya jangan dipaksa." Ucap Farhan langsung menyahuti dengan ekspresi kesal.
"Haduh, Kak. Aku tidak ingin dengar kata penolakan. Pokoknya Kak Farhan harus mencium Xavera sekarang juga."
Deg,
__ADS_1
Apa? Kenapa membawa-bawa namaku segala. Xavera-
Tania yang tahu betul bagaimana Xavera yang tak pernah berpacaran dengan siapapun apalagi sampai melakukan kontak fisik, pasti akan sangat tertekan mendengar nya.
"Dengarlah Xavera. Kak Farhan ini sangat menyukaimu dan dia sangat ingin menciummu sekarang juga. Ah, pasti kamu senang bukan? Ini yang kamu tunggu-tunggu setelah sekian lama tidak disukai siapapun." Ucap Tania tertawa jahat.
"Sudah cukuplah Tania. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Lebih tepatnya aku tidak mungkin mencium perempuan bodoh seperti dia." Ucap Farhan menatap rendah Xavera.
"Aku memang bodoh. Apa yang kalian katakan memang benar. Aku memang se-bodoh itu sampai rela dijadikan budak oleh Tania." Batin Xavera membenci dirinya sendiri.
"Jangan begitu, Kak. Aku sangat tahu betul bagaimana kamu begitu menyukai kontak fisik. Dan temanku Xavera ini juga begitu menyukainya." Ucap Tania terus berusaha membujuk Farhan.
"Tapi tidak dengan dia juga. Aku punya reputasi yang bagus di sekolah ini soal mantan. Mau ditaruh dimana wajahku kalau sampai mereka tahu." Bisik Farhan kesal dengan ulah Tania yang terus memaksanya.
"Mau kemana kamu? Seenaknya pergi tanpa ijin dari Tania."
"Bukan urusanmu. Jadi minggir lah!" Xavera yang kini berhasil membalikkan tubuhnya ke arah ruang pintu kelas begitu terkejut dengan keberadaan Aldi dan juga kedua temannya di sana.
"Apa mereka sengaja mengikuti ku. Tapi untuk apa?" Batin Xavera menatap ke arah Aldi di sana yang juga tengah menatap ke arah nya.
Tania yang menyadari hal itu pun langsung menarik kasar lengan Xavera. "Mau kemana kamu? Jangan berani beranjak pergi sebelum aku ijinkan."
__ADS_1
"Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan. Jadi jangan melebihi batas untuk menguji kesabaran ku, Tania." Ucap Xavera menatap penuh percaya diri pada Tania diluar dari biasanya yang selalu ia tunjukkan ketika masih di ruang lingkup sekolah.
"Jangan menatapku seperti itu. Lakukanlah sebagaimana seharusnya." Ucap Tania menekan setiap katanya agar Xavera mengerti.
"Aku ingin pergi dari kelas ini. Bisakah kamu tidak menghalangiku?"
"Lakukanlah apa yang ku mau. Setelah itu kamu boleh pergi."
"Maksud kamu?"
"Cium Kak Farhan, lalu pergilah."
"Apa?" Xavera.
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin melakukannya." Farhan.
"Bukan Kakak yang akan melakukan nya tapi Xavera. Jadi Kakak hanya menikmati nya saja."
"Cih. Itu lebih menjijikan." Sahut Farhan dengan kata-kata pedasnya.
"Siapapun yang berani menyentuh Xavera akan langsung berhadapan dengan Kaisar." Ucap Aldi membawa diri ditengah perbincangan panas yang terjadi. Ia masuk ke dalam kelas dan berdiri di tengah-tengah Tania, Xavera dan juga Farhan.
__ADS_1
"Aku ulangi sekali lagi. Siapapun yang berani menyentuh atau mengganggu Xavera akan langsung berhadapan dengan Kaisar. Apa kalian mengerti?"
"Meskipun kamu terkenal bodoh sekarang masih saja ada yang peduli padamu. Bahkan sekelas Kaisar yang tak mudah disentuh sekalipun bisa luluh." Batin Tania menatap ke arah Aldi. "Aku semakin membencimu Xavera." Gumamnya lagi masih dalam hati.