
Di lapangan basket SMA Mutiara Cinta. Hampir seluruh siswa SMA MC yang tengah memenuhi kantin untuk menikmati makan siang mereka langsung beralih ke lapangan untuk melihat seseorang yang tengah menjadi pusat perhatian.
Adapun kabar tentang akan dilaksanakan nya pertandingan percobaan yang dilakukan hari ini diantara tim basket Mutiara Cinta dengan tim basket Harapan Bangsa sudah tersebar dari jauh-jauh hari.
"Guys, itu seriusan kapten tim basket mereka?" Ucap anak kelas tiga. Menatap seseorang di lapangan sana dengan mulut menganga.
"Iya sih. Dari ciri-ciri nya memang begitu. Sepertinya dia kapten tim basket dari Harapan Bangsa." Ucap temannya menimpali.
"Oh My God. Oh My God. OH MY GOD!!! Serius?!!!!!!!!" Bunga yang sedari tadi menatap tanpa berkedip pada siswa yang tengah menarik perhatian dari SMA Harapan Bangsa itu pun, berteriak kegirangan.
"Apa sih, Bunga. Selalu saja paling heboh."
"Idihhh, dari pada kamu pura-pura kalem padahal aslinya mau ikutan juga, kan?"
"Haduh, maksudnya tuh biasa dulu nggak sih. Jangan terlalu memperlihatkan kalau kita itu sebenarnya suka sama dia."
"Maksud nya pura-pura cuek biar diperhatikan, begitu? Dan nanti endingnya dibilang misterius dan bikin penasaran, iya?" Ucap Bunga pada Aliya sahabatnya. Aliya pun dengan sigap mengiyakan.
"Dasar mimpi. Halusinasi. Tidur saja sana biar niatnya kesampaian!" Ucap Bunga sembari mendorong bahu Aliya gemas.
"Apa sih. Tidak ada yang tidak mungkin kan jika Tuhan sudah menghendaki. Kenapa kamu yang malah pesimis." Ucap Alya mengusap bahunya yang sedikit sakit karena ulah bar bar Bunga.
"Iya juga ya. Kenapa tidak optimis saja kalau dia bakalan suka sama aku." Ucap Bunga dengan tatapan polos nya.
"Apa?"
__ADS_1
"Iya, kan? Aku lah, masa kamu." Ucap Bunga dengan gaya tengilnya.
"Bener-bener ya, BUNGA!!" Teriak Alya tak terima langsung mengajak Bunga untuk perang fisik. Tapi perang ini bukanlah perang kebencian, melainkan perang persahabatan yang saling gemas satu sama lain. Sementara teman-teman sekelas Bunga dan juga Alya yang lain hanya menggelengkan kepala mereka seolah kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Dan mereka memakluminya tanpa berniat ingin memisahkan.
Disaat seluruh siswa tengah mengerumuni lapangan, Tania dan juga Baby sedang menahan Xavera untuk keluar dari ruang kelas.
"Aku tidak mungkin terus berdiam diri di sini. Menahan Xavera sementara hatiku begitu merindukan dia." Batin Tania berpikir untuk mencari cara.
Sementara Baby yang tengah saling berbalas pesan di group kelas, begitu penasaran dengan sosok yang sedang dibicarakan sampai seluruh temannya dibuat heboh.
"Eumm.. Tan." Ucap Baby menusuk-nusuk pelan bahu Tania dengan jari telunjuknya.
"Apa?" Ucap Tania tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Xavera yang kini tengah membaca sebuah novel.
"Aku ingin pergi ke lapangan."
"Ih kenapa? Di sana orang-orang lagi pada heboh tahu."
"Memang nya heboh kenapa?"
"Kapten tim basket Harapan Bangsa ganteng banget katanya." Bisik Baby. "Aku boleh ke sana, kan? Penasaran banget, Tan. Please.."
"Tidak."
"Tidak apanya?"
__ADS_1
"Iya tidak bolehlah." Tania semakin dibuat panas oleh keadaan dimana banyak orang yang begitu terpesona dengan Rey.
"Tapi kenapa, Tania? Beri aku penjelasan kenapa kita malah di sini sama dia." Ucap Baby menunjuk Xavera dengan tatapan tidak sukanya.
"Kamu masih mau bertanya? Bukankah aku sudah katakan padamu untuk ikuti saja. Kecuali kalau kamu memang tidak ingin berada di dekatku lagi."
"Cih. Menyebalkan. Aku sebenarnya sudah muak denganmu Tania!" Batin Baby.
Sebelum pertandingan dimulai, dan disaat teman-teman satu tim nya sudah berkumpul di lapangan, Aldi masih mengajak Kai berbicara di ruang kelas.
"Aku harap kamu tidak membenci Xavera. Dia butuh pelindung seperti mu di sekolah ini." Ucap Aldi.
"Apa katamu? Pelindung? Perempuan murahan seperti dia tidak harus dilindungi."
"What? Kamu gila, Kai? Jaga ucapan mu, jangan sampai Xavera mendengar nya." Ucap Aldi tak menyangka Kai akan berani mengatakan hal itu.
"Memangnya kenapa jika dia mendengar kata-kata itu. Bukankah kata-kata itu sangat pantas untuknya?"
"Apa kamu sudah mengatakan nya di depan dia?"
"Kalau memang iya kenapa? Kamu mau apa, hah?" Ucap Kai semakin dibuat kesal dengan tingkah Aldi yang terlihat menyukai Xavera.
"Karena apa? Memangnya dia berbuat apa?!" Aldi menarik kerah baju Kaisar. Sesuatu hal yang baru dilakukan nya setelah selama ini tak pernah ingin mencari gara-gara dengan Kaisar.
"Kalau kamu tidak mau melindunginya lagi, biar aku saja yang melakukan nya." Ucap Aldi melepaskan cengkraman nya dengan kasar. Meski terlihat berani, tetap saja Aldi diam-diam menahan ketakutan nya jikalau Kai balik melawannya.
__ADS_1
Sementara Kai sendiri dibuat bingung dengan situasi nya sekarang dimana Aldi terlihat tidak membenci Xavera. Apa Aldi juga memang tidak melihat kejadian itu dimana Xavera mencium Farhan kemarin seperti yang diceritakan Xavera padanya.