Cinta Bersemi Di Perpustakaan

Cinta Bersemi Di Perpustakaan
Episode 14 Paperbag Berwarna Putih


__ADS_3

"Permisi. Permisi Kak." Ucap seorang kurir mengetuk pintu rumah Xavera.


Untung saja sore ini Xavera tidak menjenguk Ibunya ke rumah sakit. Seperti yang sudah biasa dilakukan nya jika sedang di dalam rumah sendirian, Xavera selalu menyempatkan diri untuk membaca beberapa buku bacaan di ruang tengah rumahnya.


Jika ditanya darimana Xavera memenuhi kebutuhan sehari-hari nya, jawaban nya ialah dari Kakak Ibunya dan juga bantuan dari yayasan yang dikelola oleh Papah Tania setelah kejadian Ibunya kecelakaan.


Dengan cepat Xavera berjalan ke arah pintu rumahnya untuk membukakan pintu.


"Dengan Kak Xavera?"


"Iya benar. Ada apa ya, Pak? Eumm, Bapak mencari siapa?"


"Saya ditugaskan mengantarkan ini untuk Kak Xavera." Ucap kurir tersebut memberikan paper bag berwarna putih ke hadapan Xavera.


"Dari siapa ya, Pak?"


"Namanya Kaisar, Kak. Katanya jangan lupa dipakai untuk besok. Karena kalau sampai tidak dipakai, dia akan datang ke sini dan menginap di rumah Kakak."


"Apa? Yang benar saja." Ucap Xavera tidak habis pikir dengan jalan pikiran dari Kakak kelasnya itu.


"Baiklah, Kak. Saya mohon diterima ya." Ucap lagi kurir tersebut saat melihat tangan Xavera tak kunjung meraih barang yang ada dalam genggaman nya.


Dengan terpaksa Xavera menerima nya. "Terima kasih Pak sudah mengantarnya."

__ADS_1


"Sama-sama, Kak. Sudah menjadi tanggung jawab saya. Saya pamit permisi."


"Silahkan, Pak."


Setelah melihat kurir itu pergi melajukan motornya, Xavera melirik sekilas ke arah barang yang ada di dalam Paperbag berwarna putih tersebut. Dan begitu terkejut nya Xavera setelah membuka isinya di dalam kamar yang ternyata..


"Kenapa dia memberikan ini untukku. Apa dia melihat pertengkaran diantara aku dan juga Tania kemarin." Batin Xavera menerka-nerka. Merasa sangat malu jika memang benar itu adanya.


"Kenapa kamu memberikan aku ini, Kak. Aku jadi sangat malu menemuimu nanti. Apa aku tidak usah memakainya. Tapi bagaimana kalau sampai dia benar-benar memaksakan diri menginap di rumah ini. Dia kan orangnya aneh dan juga nekat." Ucap Xavera frustasi sendiri.


• • •


Keesokan harinya Xavera masuk ke sekolah dan memakai rok seragam pemberian dari Kaisar yang ukurannya ternyata sangat pas ditubuhnya. Ia berjalan di koridor sekolah menjadi pusat perhatian sesuai dugaannya setelah kejadian pertengkaran diantara teman-teman sekelasnya dan juga Kaisar yang berusaha membelanya. Namun Xavera yang tidak peduli dengan pandangan orang lain hanya memilih menundukkan wajahnya untuk sekedar melindungi diri dari bersitatap dengan siapapun.


"Dapat darimana itu rok, Xa? Kamu tidak sengaja mencuri di salah satu toko, kan?"


"Kemarin rok pemberian Tania ditolak mentah-mentah padahal jelas-jelas miskin tidak sanggup membeli. Eh sekarang tiba-tiba memakainya. Kita jadi curiga."


"Wajar kan jika kita curiga. Secara penyalur donasi paling handal belum turun tangan."


"Siapa memang nya?" Timpal teman-teman nya pura-pura tidak mengerti.


"Siapa lagi kalau bukan dari Papahnya Tania."

__ADS_1


"Wah, Papahnya Tania keren ya. Rela memberikan bantuan pada siswa paling bodoh di sekolah kita." Mereka tertawa puas melihat Xavera yang terdiam tanpa ingin membalasnya. Meski terkejut mendengar Kakak kelasnya bahkan tahu bagaimana kondisinya saat ini, Xavera berusaha tetap tenang.


"Kalian boleh sombong dan tertawa sepuasnya jika berhasil mengalahkan nilaiku. Jika belum bisa. Diamlah dan tahu diri." Kai datang dengan membawa kata-kata nya yang tajam. Cukup membuat teman-teman satu kelasnya itu merasa sangat malu. Terlebih mereka semua diam-diam mencintai dan mengagumi Kaisar.


"Eh ada kamu Kai." Ucap salah satu di antara mereka sembari menggaruk rambut nya yang tidak gatal.


Meski merasa malu sepertinya mereka lebih merasakan senang karena untuk pertama kalinya bisa berinteraksi dengan Kaisar secara intens seperti ini. Karena yang biasanya terjadi di dalam kelas Kai lebih banyak terdiam kecuali jika sedang diminta untuk presentasi.


"Ada apa kamu ke sini, Kai? Mau menemuiku atau salah satu dari teman-temanku?" Ucap siswa perempuan tersebut sembari mengulum senyum nya tiada henti menatap wajah tampan Kaisar dari dekat.


Xavera yang merasa tidak ada keperluan untuk mendengar perkataan siapapun lagi mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun sayang, langkah nya tertahan oleh tangan Kaisar yang tiba-tiba saja meraih tangan nya di depan Kakak kelasnya itu yang merupakan teman-teman satu kelasnya Kaisar.


"Siapapun yang mengganggunya lagi. Akan langsung berhadapan dengan ku." Ucap Kai.


Mendengar hal itu tentu saja Xavera membulatkan matanya tidak percaya. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa Kaisar mengatakan nya selantang itu di depan teman-teman satu kelasnya yang sedari tadi terlihat begitu menyukai Kaisar.


"Maksud Kakak apa ya?" Bisik Xavera tak enak hati setelah melihat ekspresi dari Kakak kelasnya yang kecewa dan tak suka.


"Apa perkataan ku kurang jelas? Apa aku harus mengatakan nya lagi."


"Tidak. Jangan mengulang nya lagi. Aku sudah mendengarnya." Ucap Xavera ketakutan jika sampai Kai akan mengulangnya lagi.


Melihat ekspresi Xavera yang menurutnya menggemaskan itu selalu saja membuat perasaan Kaisar senang, bahagia hingga rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Berbanding terbalik dari sebelum dirinya bertemu dan mengenal Xavera. Dimana Kaisar hanya berteman dengan ekspresi datar dan perasaan dinginnya.

__ADS_1


__ADS_2