
Disela-sela mereka menikmati hidangan makan siang ikan bakar Nila dengan bumbu pedas manis. Kai kembali memulai pembicaraan. Bak keajaiban dunia, baru kali ini seorang Kaisar Prasetya Utama begitu antusias mengajak orang lain berbicara.
"Nama lengkap kamu siapa?" Tanyanya berbasa-basi, namun memiliki arti tersembunyi.
Xavera hanya diam. Ia lebih memilih menikmati makanan di depannya.
Tok tok tok. Kai sengaja mengetok meja makan menyadarkan Xavera bahwa ia tengah bertanya dan ingin mendapatkan jawaban.
Kini kedua nya saling bersitatap satu sama lain. "Ada apa, Kak?"
"Kenapa tidak dijawab?"
"Memangnya harus ya. Karena menurut aku jawaban untuk pertanyaan itu hanya ditujukan oleh sesama teman baru yang sedang akrab." Ucapnya kembali menyuapkan nasi dibarengi ikan bakar Nila.
"Kita memang bukan teman akrab. Aku Kakak kelas kamu. Jadi biasakan bersikap sopan ketika ditanya." Lagi-lagi Kai ingin menggoda Xavera dengan kata-kata menyebalkan nya.
"Kak.. Bisakah kita selesaikan ini secepatnya. Aku ingin cepat pulang, aku cape. Aku juga malu karena ini." Ucapnya melirik ke arah rok seragam yang dikenakan nya.
"Baiklah, kita selesaikan ini dengan cepat. Aku tidak akan bertanya lagi."
"Maaf.."
"Makanlah.."
Setelah selesai menghabiskan makanan, keduanya pun langsung bergegas pergi. Sampailah di depan rumah Xavera yang sederhana dan terletak di sebuah gang sempit.
"Terima kasih untuk kesekian kalinya. Tapi bagaimana aku membalasnya. Bukankah tadi Kakak ingin aku mentraktir Kakak. Tapi kenapa malah Kakak sudah membayar nya lebih dulu." Ucap Xavera tak mengerti. Ia memang keberatan ketika berbicara tentang mentraktir karena uangnya yang pas-pasan. Namun untuk membalas budi dan Kai menyinggung nya, ia langsung tahu diri.
"Masuklah dan istirahat."
"Hemm.. Baiklah. Aku akan memikirkan nya lagi untuk itu. Tapi jangan pilih yang mahal-mahal ya, Kak." Ucap Xavera tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidurlah. Jangan memikirkan apapun dulu. Tubuhmu benar-benar butuh istirahat."
Xavera menganggukkan kepalanya sembari melihat ke arah Hoodie yang tengah dikenakan untuk menutupi bagian belakangnya. "Maaf aku harus meminjam nya dan mencucinya dulu. Setelah nya baru aku kembalikan."
"Aku katakan sekali lagi. Istirahat lah. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi." Ucap Kai menyalakan mesin motor nya untuk kemudian melaju. Meninggalkan Xavera yang menatap bingung mengapa dirinya bisa dekat dan berurusan dengan Kakak kelasnya itu. Padahal seluruh teman sekelasnya tidak ada satu pun yang mau menemaninya duduk di belakang, bahkan untuk mengajak nya berbincang basa basi pun rasanya mereka tak sudi.
• • •
Keesokan harinya. Kai mulai masuk ke dalam kelas. Ia melihat tempat duduknya tengah dikerumuni. Orang-orang tengah heboh membicarakan sesuatu hal. Kai yang seperti biasanya tak peduli, acuh tak ingin menyimak nya.
"Eh itu Kai sudah datang." Ucap Bagas menunjuk ke arah Kai yang berjalan ke arah tempat duduknya.
Sesampainya Aldi yang merupakan teman satu meja Kaisar langsung menodong Kaisar dengan tatapan antusias nya.
"Kaisar yang sedang menjadi perbincangan satu sekolah itu beneran kamu?" Tanya Aldi. Kai yang malas menanggapi lebih memilih untuk duduk dan dengan isyarat tangan nya meminta teman-temannya untuk menyingkir.
"Kai, jawab dong? Kita semua penasaran. Apa benar kemarin kamu memukul salah satu dari mereka. Adik kelas kita." Aldi tak gentar. Ia benar-benar penasaran.
"Apa? Jadi benar apa kata orang-orang. Kenapa Kai? Kenapa kamu melakukan nya. Memang dia berbuat apa sama kamu?" Aldi menatap lekat Kaisar.
"Kita kan sudah menjelaskan nya, Al." Ucap temannya yang lain.
"Aku ingin mendengar nya langsung dari dia." Ucap Aldi tak ingin menelan berita cuma-cuma jika ia bisa langsung menanyakan pada sumbernya.
"Memangnya apa yang kalian semua tahu?" Tanya Kai dengan tatapan dinginnya.
Semua terdiam. Tidak ada yang mau menjelaskan termasuk Aldi.
"Aku tanya apa yang kalian dengar?"
"Emm.. Kita.. Kita dengar.." Salah satu dari mereka ingin menjelaskan namun masih saja ragu-ragu.
__ADS_1
Kali ini Kai menatap tajam ke arah Aldi memberi isyarat pada temannya itu kalau ia tak mau menunggu lagi penjelasan.
"Al!"
"Iya, Kai. Kita semua dengar kamu memukul salah satu dari mereka karena membela anak berkebutuhan khusus." Ucapnya cepat mengalihkan tatapan. Takut dengan sorot mata tajam Kai yang seolah menyala-nyala setelah mendengar nya.
"Siapa yang mengatakan nya?"
"Tentu saja teman sekelas dari anak berkebutuhan khusus itu, Kai."
"Dia tidak berkebutuhan khusus!"
"Tapi mereka memang mengatakan nya begitu. Jujur saja aku tidak percaya karena bukankah jika berkebutuhan begitu ada tempat khususnya ya."
"Aku tekankan sekali lagi. Dia tidak berkebutuhan khusus! Apa kamu tidak mendengar perkataan ku?!"
"Aku mendengar nya, Kai." Ucap Aldi mengusap dadanya yang terguncang akibat bentakan Kaisar. Telinga nya pun tentu tak luput dari hantaman suara penuh emosi itu.
"Dia normal seperti kita. Jadi jangan mengatakan hal itu lagi." Ucapnya dengan nada suara yang lebih terkontrol.
"Mungkin memang dia normal seperti kita. Hanya saja IQ nya yang sangat di bawah rata-rata yang membuat semua teman-teman nya berpikir kalau dia itu berkebutuhan khusus."
Kai menatap Aldi meminta penjelasan lebih.
"Dia selalu mendapatkan nilai nol, Kai. Nol. Bahkan jika bertambah pun hanya sampai nilai 2,5. Sangat parah bukan? Tapi anehnya kenapa dia bisa sekolah di sini."
"Dapat darimana kamu informasi itu."
"Semua teman-teman nya berkata begitu. Makanya mereka semua merasa tidak adil jika dia ada di kelas mereka. Semacam membawa pandangan buruk. Dan memang menurutku itu parah sih."
Kai terdiam membayangkan bagaimana Xavera rutin mengunjungi perpustakaan dan membaca buku-buku penuh keilmuan di sana. Akan begitu mustahil jika Xavera mendapatkan nilai setragis itu. Atau mungkin Xavera mengunjunginya hanya sekedar untuk menenangkan diri dan melihat-lihat cover buku beserta isinya tanpa berniat untuk membaca apalagi sampai mendalaminya.
__ADS_1
"Apa mungkin begitu. Tapi dia terlihat seperti seorang pemikir. Iya setidaknya tidak mungkin se minus itu." Batin Kai menerka-nerka.