
Siswa laki-laki yang berhadapan dengan Xavera itu bernama Kaisar. Kaisar memiliki sikap yang dingin dan tidak mudah disentuh. Ia sangat menjaga privasi dirinya dan juga keluarga. Hingga tidak banyak dari teman-temannya yang tahu dari keluarga mana Kaisar berasal. Terlebih Kaisar juga tidak memainkan sosial media manapun. Ia hanya memiliki nomor ponsel untuk berkirim pesan dan melakukan panggilan telepon.
Keesokan harinya. Kai yang hendak melangkah menuju perpustakaan setelah bel istirahat berbunyi, bertemu dengan Xavera di koridor sekolah. Tengah berjalan sendiri dari arah yang berlawanan dengan nya.
Kaisar berusaha mengalihkan tatapan matanya. Ia tidak ingin siswa perempuan yang kemarin ia temui di perpustakaan itu menyapanya. Namun karena ia Xavera. Meskipun Kaisar terlihat sangat tampan dan dikagumi oleh banyaknya siswa perempuan di sekolah SMA Mutiara Cinta, tidak lantas membuat nya ikut terhanyut, terbawa perasaan dan sama-sama jatuh cinta. Xavera justru tak memfokuskan pandangan ke arah siapapun, ia lebih memilih jalan dengan tatapan sedikit menunduk untuk mengindari bersitatap dengan semua orang.
Disaat Kai dan juga Xavera mulai melangkah saling mendekati, tiba-tiba seorang siswa perempuan yang bernama Tania dan merupakan teman sekelas Xavera menarik lengan Xavera dengan kasar lalu membawanya ke arah toilet bersama dengan Baby yang selalu berada di sampingnya. Kai yang melihat itu langsung menghentikan langkahnya. Terdiam dengan beberapa pertanyaan yang muncul.
"Kenapa aku jadi memikirkannya." Batin Kaisar kesal dengan pikirannya sendiri. Ia kembali melangkah cepat menuju perpustakaan.
Setelah sampai di ruang toilet, Tania langsung menghempaskan tubuh Xavera dengan kasar ke arah tembok. Siswa lain yang tengah berada di toilet pun langsung tergesa-gesa keluar. Mereka tahu bagaimana populer nya Tania yang merupakan anak seorang pengusaha terkenal. Tidak ada yang berani menegurnya selain sama-sama memiliki kekuatan.
"Aw." Ucap Xavera mengaduh kesakitan.
"Kenapa mengaduh? Sakit ya?" Ucap Tania mencengkeram kuat rahang Xavera.
__ADS_1
Xavera sendiri tidak berusaha melawan. Ia hanya terus diam dan menerima setiap perlakuan kasar Tania padanya.
"Baby. Keluarlah. Aku ingin berbicara dengan nya berdua." Ucapnya tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Xavera.
"Baiklah aku pergi. Selesaikan urusanmu dengan dia secepatnya. Aku tunggu di kantin." Baby pun langsung keluar toilet.
Setelah puas mencengkeram kuat rahang Xavera, Tania pun langsung melepaskan nya dengan kasar.
"Aku peringatkan sekali lagi. Jangan berani mengadukan nya atau nasib Ibumu akan hancur!"
"Bagaimana aku tidak khawatir! Bukankah kamu tadi sengaja melakukannya agar semua orang tahu, hah?!"
Permasalahan ini dimulai saat Xavera lupa mengubah nama di lembar jawaban nya. Hingga yang terjadi saat pemeriksaan guru, tertera ada dua nama Xavera. Yaitu yang dibuat oleh Xavera sendiri dan juga Tania.
"Maaf." Ucapnya menghela nafas, "Kali ini aku tidak sengaja melupakannya."
__ADS_1
Mendengar itu Tania pun langsung tertawa terbahak. Ia tidak percaya dengan alasan Xavera.
"Apa kamu pikir aku bodoh? Dasar munafik! Sok polos, sok lugu padahal aslinya pembohong!" Ucapnya lantang sembari mendelik kan mata sangat membenci Xavera. "Aku bisa saja ya sekarang juga hubungi Papah untuk menarik semua--"
"Jangan." Xavera langsung berlutut di hadapan Tania. "Aku mohon jangan lakukan hal itu. Aku minta maaf. Aku benar-benar merasa bersalah. Dan aku akan pastikan hal ini tidak akan terulang lagi." Ucapnya sembari mengatupkan kedua tangan meminta permohonan maaf dari Tania.
Semakin merasa sombong. Tania melipat kedua tangan di dadanya dengan dagu yang diangkat ke atas. Ekspresi wajah nya benar-benar merendahkan posisi Xavera.
"Untuk terakhir kalinya aku pegang kata-kata mu. Tapi jika nantinya hal ini terulang lagi. Jangan salahkan aku kalau Ibumu nanti mati detik itu juga." Ucap Tania berlalu pergi meninggalkan Xavera yang masih berlutut sembari menundukkan wajahnya.
"Aku tidak pernah bersedih. Aku tidak pernah bersedih." Ucap Xavera berulangkali di dalam hatinya berusaha menahan air mata yang terus saja mendesaknya untuk keluar.
"Aku bahagia dan aku tidak pernah bersedih. Aku bahagia dan aku tidak pernah bersedih. Aku bahagia dan aku tidak pernah bersedih." Gumamnya lagi berulangkali kali masih di dalam hatinya. Beranjak dari duduknya untuk kemudian masuk tergesa-gesa ke dalam salah satu kamar toilet.
Luruh sudah air matanya yang berusaha ia tahan habis-habisan. Xavera benar-benar tidak bisa menahannya hingga air matanya terus berderai membasahi kedua pipinya. Namun meski begitu, Xavera masih kuat dan bertahan untuk tidak mengeluarkan suara tangisannya. Dan itu cukup menyayat hatinya yang tidak puas dan merasai dadanya yang semakin sesak oleh kenyataan.
__ADS_1
Xavera malu jika tangisannya terdengar oleh siswa lain. Terlebih mereka tidak akan perduli juga dengan kesedihan yang dialaminya. Daripada mendatangkan hujatan dibanding rengkuhan, Xavera kembali berusaha menahan air matanya dan bergegas untuk keluar dari dalam kamar toilet dan menghapus air mata nya dengan cepat.