Cinta Bersemi Di Perpustakaan

Cinta Bersemi Di Perpustakaan
Episode 6 Haruskah Aku Percaya


__ADS_3

Keesokan harinya setelah kejadian dimana Kai mengajak Xavera untuk pulang bersama. Pagi ini keduanya saling bertemu di koridor sekolah, berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Namun interaksi yang ada tidak lah berbeda dari biasanya. Keduanya terlihat asing seolah tidak pernah saling mengenal dan hari kemarin seolah tidak pernah terjadi. Kai yang memang tidak pernah dekat dengan siapapun termasuk Aldi teman satu mejanya, terbiasa tidak menyapa lagi berbincang banyak hal. Sementara Xavera tengah menjadi dirinya yang lain. Diri yang dikendalikan oleh Tania.


Kai sebenarnya ingin menyapa Xavera. Namun gengsi yang dimilikinya tak bisa mengalahkan keinginan nya itu.


Hari ini Tania tidak hadir dalam kelas dengan alasan sakit.


Xavera masuk ke dalam kelas dan duduk di tempatnya. Baby yang sudah ada di dalam kelas melihat kedatangan Xavera dan langsung menghampiri nya. Namun jika ada Tania, Baby tidak mungkin berani melakukan hal itu.


"Hai, Xa." Xavera jelas menunjukkan keterkejutan nya melihat Baby yang tiba-tiba saja datang menghampirinya dengan sapaan.


"Hai juga." Jawabnya kaku menatap Baby.


"Aku boleh duduk di sebelah mu tidak?" Ucap Baby meminta ijin.

__ADS_1


"Boleh. Tapi--"


"Soal Tania?" Xavera menganggukkan kepalanya. "Dia tidak ada di sini sekarang." Xavera mengedarkan pandangan matanya pada teman-teman satu kelasnya. Memberi isyarat pada Baby jika banyak mata yang sudah melihat.


"Biarlah. Mereka juga sebenarnya tidak menyukai Tania." Ucap Baby dengan entengnya.


"Kenapa?" Tanya Xavera tak mengerti. Bukankah selama ini seluruh teman sekelasnya selalu berada di pihak Tania untuk ikut menindas nya.


Xavera terdiam. Ia tidak ingin tenggelam dalam kebodohan yang mendalam. Tidak mungkin seorang Baby dan juga teman-teman satu kelasnya peduli selain ada sesuatu di balik nya. Xavera pun lebih memilih untuk menjaga jarak dan mencurigainya daripada mempercayai perkataan Baby.


"Kamu pasti tidak percaya." Ucap Baby yang kembali mendapati reaksi diam Xavera. "Aku minta maaf." Ucapnya lagi. Seluruh teman satu kelas Xavera pun tiba-tiba saja datang menghampiri meja Xavera dan sama-sama ikut mengatakan kata permintaan maaf.


"Bukankah ini terlihat sangat aneh. Apa yang sebenarnya tengah mereka rencanakan." Batin Xavera merasai perasaannya yang tidak tenang.

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf ya, Xa. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan perintah Tania untuk ikut menindas kamu. Tapi seperti yang kamu tahu. Orang tua Tania sangat punya kuasa. Dia bisa meminta apapun itu pada Ayahnya. Sementara orang tua kita bukan siapa-siapa." Ucap Baby.


"Untuk itu kita tidak punya pilihan lain. Kita harus mematuhi Tania." Ucap nya lagi dengan ekspresi bersalah nya.


"Apa yang dikatakan Baby benar adanya, Xa. Maafkan kita semua juga ya. Kita sebenarnya ada di pihak kamu kok." Ucap Hana dengan senyum tipisnya.


Entah mengapa meski mendengar semua penuturan dari teman-teman satu kelasnya, Xavera tetap tidak merasakan ketulusan di dalam nya. Ia kembali memilih diam dari pada menimpali nya.


"Aku tahu ini pasti berat untuk kamu terima. Tapi percayalah, kita semua memang tulus ingin berteman sama kamu. Hanya saja terhalang oleh Tania." Ucap Baby sembari menyandarkan kepalanya di bahu Xavera.


Melihat bagaimana Baby berusaha menjelaskan panjang lebar tentang apa yang terjadi, lalu bersandar di bahunya sedikit menyentuh hati Xavera. "Apa mereka semua benar-benar tulus. Haruskah aku bahagia mendengarnya. Bagaimana jika Tania tahu. Dia pasti akan terluka karena teman-temannya sudah berkhianat." Batin Xavera menatap wajah-wajah temannya yang terlihat tersenyum padanya.


"Aku kembali ke tempat dudukku ya. Bahagialah Xavera karena kamu berhak mendapatkan nya." Ucap Baby diikuti oleh teman-temannya yang lain yang langsung membubarkan diri. Duduk di tempat mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2