
"Murahan."
Deg,
"Mu-ra-han." Kai kembali mengucapkan perkataan nya itu. Sementara Xavera yang mendengar hal itu memilih untuk diam walaupun sebenarnya ingin memaki Kaisar.
"Kenapa diam? Apa memang ada banyak laki-laki lain yang mengatakan nya begitu padamu." Ucap Kai sinis. Ekspresi yang baru pertama kalinya ia tunjukkan pada Xavera.
"Sudah berapa banyak yang kamu cium? Sudah berapa banyak yang bahkan kamu beri segalanya lebih dari hanya berciuman!" Ucap Kai dengan degup jantungnya yang berdebar. Ia yang sebenarnya tak ingin melontarkan kata-kata kasar itu kalah perang dengan egonya sendiri yang membenci perilaku Xavera.
Xavera menghela nafasnya perlahan sebelum akhirnya angkat bicara, "Apa Kak Kaisar sudah selesai berkata-kata? Jika memang sudah, pergilah. Jangan menggangguku lagi. Mengganggu perempuan yang tidak baik sepertiku. Dan yang murahan seperti katamu."
Mendengar hal itu, Kai selangkah mendekati Xavera. "Aku memang tidak ingin mengenalmu lagi." Ucap Kai saling bersitatap dengan Xavera, "Karena aku tidak ingin mempertahankan duri yang sampai kapanpun akan terus menyakiti. Sekalipun aku hanya menyukaimu di dunia ini." Gumam Kai dalam hatinya membalikkan tubuhnya untuk melangkah menjauhi Xavera.
Sementara Xavera yang melihat langkah menjauh Kaisar hanya bisa menahan air matanya. "Menjauhlah, Kak. Aku tidak ingin berharap padamu yang tidak mungkin bisa aku miliki." Lirih Xavera dalam hati nya.
__ADS_1
• • •
Keesokan harinya disaat semua siswa tengah menikmati waktu istirahat. Xavera yang tidak ingin bertemu dengan Kaisar di perpustakaan memilih untuk diam di kelasnya. Tania yang biasanya mengerjai Xavera tengah sibuk menghubungi seseorang.
"Apa kamu bilang? Jadi benar dia ada di kota ini."
"Benar, Nona. Saya sudah memastikan nya sendiri dengan datang ke sekolah itu." Ucap orang suruhan Tania yang merupakan salah satu pegawai di kantor Papah nya.
"Sial!" Tania mengumpat kesal. Ia tidak menyangka orang yang selama ini dihindari nya akan secepat itu menemukan keberadaan nya.
"Apa?! Di-dia tidak gabung dalam tim mereka, kan? Secara dia siswa baru."
"Anda salah, Nona. Dia justru jadi bagian dari tim basket sekolah nya. Bahkan yang saya dengar, dia langsung jadi kapten di tim sekolah nya."
"Apa? Bagaimana bisa?!" Tania semakin tidak habis pikir dengan info yang didengarnya. "Kamu memang tidak pernah gentar untuk mendapatkan nya. Kamu memang se-keren itu Rey. Tapi kenapa harus dia yang selalu kamu cintai? Kenapa bukan aku." Batin Tania menghela nafasnya berat. Mulai mencari cara lain agar keinginannya bisa berjalan lancar.
__ADS_1
Dilain tempat, Kai yang tidak ingin pergi ke perpustakaan dengan alasan yang sama seperti Xavera memilih untuk diam di kelasnya.
"Tumben nongkrong di kelas? Sudah mulai bosen sama perpustakaan?" Tanya Aldi pada Kaisar sembari merapikan penampilan nya yang akan bertanding basket dengan tim sekolah lain.
Kai memang tidak pernah berubah, selalu asyik sendiri mengabaikan pertanyaan Aldi yang menurutnya tidak penting itu.
"Apa kamu tidak ingin bertanya soal Xavera padaku? Kenapa aku bisa ada di kelas yang sama kemarin." Ucap Aldi langsung pada maksud dan tujuannya, yaitu membicarakan Xavera pada Kaisar yang sejak tadi pagi tak menyinggung sedikit pun. Padahal Aldi begitu penasaran dengan kelanjutan hubungan di antara Kai dan juga Xavera.
"Apa itu penting?" Ucap Kai mendelikkan matanya tidak suka dengan ucapan Aldi yang membawa-bawa nama Xavera.
"Memangnya tidak penting ya? Bukankah kalian--"
"Jangan membahasnya lagi. Aku sudah tidak ada hubungannya dengan dia. Dan anggap saja aku tidak pernah mengenalnya." Sela Kai dengan cepat agar Aldi tidak meneruskan kata-katanya.
Aldi yang begitu terkejut mendengar ucapan Kaisar sontak menatap lebih dekat teman satu mejanya itu. "Kenapa bicaramu begitu? Apa kemarin kalian berdua bertengkar?"
__ADS_1
"Pergi sana! Jangan menggangguku, sialan!" Kai yang tidak suka ditanya-tanya pun geram melihat tingkah Aldi yang begitu penasaran dengan kisahnya.