Cinta Bersemi Di Perpustakaan

Cinta Bersemi Di Perpustakaan
Episode 4 Menunggu Di Koridor Sekolah


__ADS_3

Sejenak keduanya saling menatap satu sama lain tanpa kata yang terucap. Xavera yang bingung dengan siswa laki-laki itu. Sementara Kaisar bingung dengan dirinya sendiri.


"Jika tidak ada yang ingin kamu katakan. Aku pergi. Dan bukankah kamu juga harus melakukan nya? Sebentar lagi bel akan berbunyi." Kaisar tidak fokus mendengar kata-kata Xavera. Karena apa yang dilihatnya kini seolah tengah menyayat hatinya begitu saja. Membuat perasaannya resah tak menentu hingga dirinya tak bisa fokus untuk mendengar apa yang dikatakan Xavera.


Kedua mata sembab yang sedari tadi diperhatikan nya dari jauh kini terlihat menyedihkan dari dekat. Hatinya ikut menangis lirih. Seolah luka mendalam di balik air mata itu ikut ia rasakan.


Xavera yang bingung mengapa ia terus ditatap oleh laki-laki di hadapannya hendak melangkah pergi. Namun lagi-lagi langkahnya kembali ditahan.


"Jangan menangis lagi. Wajahmu terlihat semakin jelek saja." Ucap Kai dengan ekspresi datarnya berjalan mendahului Xavera untuk keluar dari ruang perpustakaan.


Sementara Xavera membulatkan matanya tidak mengerti. Namun sedetik kemudian ia mulai menyadari sesuatu hal.


"Ah, inilah yang aku benci setelah menangis. Hanya sebentar tapi bekasnya jelas terlihat." Batinnya menggerutu kesal. Malu karena baru menyadari nya setelah banyak mata melihat keadaan nya.


• • •


Kaisar masuk ke dalam kelas dengan ekspresi datarnya berjalan menuju dimana tempat duduknya. Di samping tempat duduknya sudah ada Aldi yang tengah berbincang dengan kedua teman di hadapannya. Tertawa lepas membicarakan cerita lucu yang hanya mereka ketahui.


"Hai, Kai." Sapa Aldi melambaikan tangannya pada Kaisar.


Sesampainya di dekat Aldi, Kai langsung duduk di tempat duduknya tanpa menimpali sapaan Aldi seperti biasanya.

__ADS_1


"Kenapa? Kelihatan nya berbeda begitu?" Tanya Aldi menatap lekat ke arah Kaisar.


"Biasa saja." Jawab Kai menatap lurus ke depan.


"Beda." Ucap Aldi meyakinkan penglihatan nya.


"Biasa saja."


"Beda, Kai." Aldi teguh pendirian meski perkataannya terdengar mengesalkan untuk Kai yang tidak suka diperhatikan.


"Apa bedanya?" Tanya Kaisar dengan tatapan dinginnya pada Aldi yang kini malah memilih untuk diam dari pada menjawab.


"Dasar es batu! Tidak bisakah mencair seperti yang lainnya. Sungguh mengesalkan. Untung aku menyayangimu sebagai teman. Jika tidak, sudah ku tinggalkan kamu sejak dulu." Batin Aldi tersenyum menatap sekilas ke arah Kaisar yang tiba-tiba saja sedikit menundukkan wajahnya.


• • •


"Aku tahu." Ucap Tania memutar bola matanya malas.


"Semua siswa satu sekolah sedang membicarakan kamu yang kejam sama Xavera. Bahkan mereka bilang--" Baby tidak meneruskan kata-katanya saat melihat Xavera masuk ke dalam kelas. Ia dan juga Tania langsung fokus melihat ke arah Xavera dengan tatapan sinis.


"Baru kali ini aku melihat dia menangis setelah berkali-kali kamu sakiti." Ucap Baby tanpa mengalihkan tatapan matanya pada Xavera.

__ADS_1


"Itu belum seberapa. Aku justru ingin melihatnya menangis darah."


"Tania."


"Apa?"


"Untuk perkataan mu tadi tidak serius bukan?" Tanya Baby menatap lekat Tania.


"Aku tidak pernah ingin bermain-main dengannya." Ucap Tania dengan tatapan penuh kebencian ke arah Xavera.


Baby benar-benar tidak habis pikir dengan Tania yang begitu membenci Xavera. Ia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun karena tidak ingin membuat Tania marah dengan pertanyaan nya, Baby memilih diam dan mengikuti semua kemauan Tania.


Saat bel pulang berbunyi, Kai tidak langsung menuju parkiran untuk kemudian pulang ke rumah. Melainkan berdiri di koridor sekolah seolah tengah menunggu seseorang.


"Tidak seperti biasanya. Sedang menunggu siapa, Kai?" Tanya Aldi.


Kai tidak menjawab perkataan Aldi. Namun ekspresi dingin dan sorot mata tajam tipis-tipis nya berhasil membuat teman satu mejanya itu tak ingin berkutik lagi.


"Aku pulang lebih dulu ya." Lagi-lagi tak ada jawaban. Tapi dari tatapan yang ditampilkan Kaisar seolah mengatakan padanya untuk cepat pergi dan jangan mengganggu nya.


"Lama-lama aku tidak tahan juga. Bukannya membaik malah semakin gila. Aku hanya manusia biasa. Tidak mungkin selalu memahami tatapan misterius mu itu!" Batin Aldi menggerutu kesal. Sembari berjalan pulang meninggalkan Kaisar.

__ADS_1


Kai masih berdiam diri di tempat yang sama. "Seharusnya aku tidak disini. Tapi kenapa kaki ini tidak bisa diajak kerjasama. Aku harus pergi! Tapi sekarang hati dan pikiranku ikut-ikutan." Gumam Kai dalam hatinya sembari melirik-lirik ke arah ruang kelas yang dituju. Ada banyak siswa yang sudah keluar dari dalam sana. Namun perempuan yang ditunggunya tak kunjung menampakkan diri.


__ADS_2