
Seperti biasanya. Di jam istirahat seperti sekarang ini Xavera tidak pernah makan atau membeli jajanan di kantin, karena ia akan lebih memilih menghabiskan waktu nya di perpustakaan.
Setelah selesai menjelaskan permasalahan yang terjadi di dalam kelas karena masalah penulisan namanya dan Tania, akhirnya Xavera mendapatkan hukuman dan diminta untuk melakukan banyak tugas yang harus di kumpulkan besok juga.
Sebenarnya mudah saja untuk Xavera mengerjakan tugas-tugas itu. Namun peran nya yang diatur oleh Tania membuatnya tak bisa bergerak bebas, melainkan harus melakukan nya dengan asal seolah menghancurkan nya adalah pilihan.
"Aku tidak pernah bersedih. Aku tidak pernah bersedih." Ucapnya meyakinkan hati bahwa semua akan baik-baik saja.
Masuklah Xavera ke dalam perpustakaan. Setelah mengambil salah satu buku bacaan, Xavera langsung duduk di kursi biasanya yang ada di pojok sebelah kiri dari pintu masuk. Matanya yang terlihat sembab menjadi pusat perhatian. Namun Xavera yang tidak menyadari hal itu dan lagi-lagi tidak memperhatikan sekitarnya bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Kenapa dia? Apa yang terjadi dengan nya dan perempuan itu. Mengapa kedua matanya sekarang menjadi sembab?" Kaisar yang tidak pernah memperhatikan sekitar layaknya Xavera tiba-tiba saja tergoda untuk melirik Xavera dan memperhatikan apa yang terjadi. Tatapan matanya yang sebelumnya fokus membaca buku menjadi teralihkan.
Xavera yang saat ini tengah fokus membaca buku tentang ekonomi tidak menyadari jika saat ini banyak pasang mata yang melirik-lirik ke arahnya. Terlebih berita tentang dirinya yang dilabrak dan disiksa oleh Tania sudah tersebar luas di setiap penjuru sekolah SMA MC. Tapi tidak dengan Kaisar yang anti sosial. Ia benar-benar tidak tahu menahu tentang hal itu terkecuali Aldi teman sebangkunya yang menceritakan. Yang ia tahu hanyalah Tania yang menarik lengan Xavera dengan paksa. Sementara kejadian dimana Xavera dihempaskan dengan kasar hingga membentur dinding toilet tentu itulah yang tidak ia ketahui.
Semua siswa satu persatu mulai meninggalkan perpustakaan. Tapi tidak dengan Xavera, begitupun Kaisar yang memilih diam di kursinya sembari melirik-lirik tipis ke arah Xavera. Berhubung bel berakhirnya istirahat belum berbunyi, Xavera masih ingin menenangkan hatinya yang bergejolak.
Xavera mengangkat wajahnya. Ia yang sedari tadi mengabaikan sekitar mengedarkan pandangan nya ke segala arah sampai tatapan matanya bertemu dengan seseorang yang tengah duduk di salah satu kursi tepat di samping jendela. Posisi tempat yang sama seperti yang dilakukannya kemarin.
"Rupanya dia benar-benar selalu menempati tempat itu." Ucapnya sembari menatap ke arah Kaisar. Sementara Kaisar yang melihat Xavera mulai mengangkat wajahnya tadi langsung pura-pura membaca buku nya lagi.
__ADS_1
Tak ingin menambah waktu lagi, Xavera mulai beranjak dari tempat duduknya. Berjalan ke arah Kaisar. Namun saat melewati nya, tiba-tiba saja ada yang menahan lengannya. Siapa lagi kalau bukan Kaisar.
Xavera membalikkan badannya dengan tatapan bingung ke arah Kaisar.
"Ada apa?"
Kaisar yang dibuat kaget oleh tindakannya sendiri yang refleks memegang tangan Xavera sontak melepaskannya.
"Maaf. Aku tidak sengaja."
__ADS_1