Cinta Bersemi Di Perpustakaan

Cinta Bersemi Di Perpustakaan
Episode 8 Hoodie


__ADS_3

"Hei, beraninya kamu mendorongku!" Ucap Baby tak terima. Ia pun dibela oleh seluruh teman-teman nya yang lain dengan Fina dan juga Hana yang membalas perbuatan Xavera itu dengan balik menekan dan mendorong bahunya kasar hingga hampir saja terjungkal ke belakang. Sementara Xavera berusaha sekuat tenaga menahan kursinya.


"Sudah cukup. Hana! Fina!" Bu Intan mencoba melerai pertikaian.


"Kenapa Ibu membentak kita. Harusnya Ibu memarahi Xavera yang memulai lebih dulu melukai Baby." Ucap Fina.


Xavera yang tidak kuat lagi menahan air matanya langsung menangis seketika. Jerit suara tangisnya berhasil membuat semua terdiam. Namun bukan karena menyadari kesalahan, melainkan kembali menyerang Xavera dengan kata-kata mereka.


"Dih, cengeng."


"Cari perhatian!"


"Ingin dimanja."


"Haus kasih sayang."


Mendengar hal itu semakin membuat perasaan Xavera hancur.


Setelah memahami apa yang terjadi, Bu Intan pun langsung mendekati Xavera. "Siapa di sini yang membawa jaket. Tolong kasih pinjam Xavera."


"Untung saja aku tidak memakai nya."


"Aku juga tidak pernah mengenakan nya ke sekolah."


"Aku selalu memakainya tapi tidak mau meminjamkan nya pada dia." Ucap Fina


"Kita sama satu hati. Daripada meminjamkan nya pada dia lebih baik dibuang kan." Timpal Hana dengan tawanya.


"Ini kalian semua pada kenapa? Coba jujur dan jelaskan pada Ibu kenapa dan siapa yang sudah tega menjahili Xavera sampai seperti ini? Rok seragam nya rusak parah. Ini keterlaluan!" Ucap Bu Intan geram dibuatnya.


"Aku tidak tahu, Bu."


"Aku juga, Bu."


"Lagipula siapa yang punya banyak waktu untuk melakukan nya. Dia tidak dianggap di kelas ini, Bu."

__ADS_1


"Itu benar, Bu. Kita tidak punya banyak waktu untuk mengurusi Xavera. Dia mungkin kerajinan menempelkan lem nya untuk merusak rok seragamnya sendiri." Lagi-lagi Hana berperan memancing tawa jahat teman-temannya.


"Sudah cukup Hana. Ibu minta kalian semua diam!"


"Baik, Bu." Jawab Hana dengan nada malas.


"Xavera.. Ibu akan ke ruang guru sebentar mencari kain untuk menutupi nya." Xavera menganggukkan kepalanya. "Jika ada temanmu yang kembali bersikap jahil padamu, langsung katakan saja pada Ibu nanti. Biar Ibu yang bertindak tegas sekalipun harus berurusan dengan orang tua mereka!" Ucap Bu Intan untuk kemudian berjalan cepat keluar ruang kelas.


"Cie, ada yang besar kepala karena dibela."


"Iya. Makin tidak tahu diri sih ini."


"Kalau aku jadi dia. Aku pasti lebih memilih keluar dari sekolah ini dan merasa tidak berharga." Ucap siswa lain dengan tawanya yang keras.


"Jangan kalian pikir aku diam karena tidak berani. Dan jangan kalian pikir aku sedang berperan sebagai diriku." Ucap Xavera dengan nada suara dinginnya membuat semua teman satu kelasnya sontak terdiam dan menatap ke arahnya untuk kemudian balas menimpali.


"Hei, anak bodoh! Jangan berbicara melantur begitu. Pikirkan saja nilai-nilai mu yang hancur itu jika tidak ingin kita bully setiap hari."


"Aku bahkan bisa mendapatkan nilai yang sempurna." Ucapnya pelan dan hanya terdengar olehnya sendiri.


Dan iya. Sebenarnya Tania berpura-pura sakit dan tidak masuk ke sekolah hari ini karena malas bertemu dengan Xavera. Namun ia tidak akan absen dalam menjahilinya. Untuk itu lah , ia meminta Baby menempelkan lem di kursi Xavera.


Xavera kembali memilih diam dan menunggu Bu Intan daripada meladeni teman-temannya.


Di ruang guru berada saat ini, Bu Intan hendak meminjam jaket milik Pak Andri seorang Guru olahraga. Dimana Pak Andri saat ini tengah berbicara dengan Kaisar.


"Bapak harap kamu mau ikut bergabung dalam tim basket sekolah."


"Sekali lagi maaf, Pak. Saya tidak bisa."


"Ayolah, Kai. Pikirkan tawaran Bapak ini baik-baik. Sebentar lagi akan ada pertandingan antar sekolah. Peran kamu ini akan sangat membantu tim basket sekolah kita." Ucap Pak Andri berusaha merayu Kaisar untuk ikut gabung dalam tim.


"Maaf, Pak." Ucap Bu Intan menyela pembicaraan. Hendak menyampaikan keinginannya.


"Iya kenapa, Bu? Bukankah jam pelajaran masih berlangsung?" Tanyanya heran karena Bu Intan sudah kembali ke ruang Guru.

__ADS_1


"Apa saya boleh meminjam jaket milik Bapak?"


"Untuk keperluan apa ya, Bu? Karena tidak mungkin kan Ibu yang sengaja ingin memakainya." Seloroh Pak Andri dengan tawa khas nya.


"Bukan, Pak. Bukan untuk saya. Tapi untuk Xavera."


Deg,


Kaisar yang baru saja mengetahui nama pemilik dari perempuan yang ditemuinya di perpustakaan setelah melerai pertikaian yang terjadi diantara Tania dan juga Xavera, sontak penasaran dengan apa yang terjadi.


"Ada apa dengan Xavera?"


"Dia dijahili oleh teman-temannya. Kursinya diolesi lem sama mereka. Xavera yang tidak menyadari hal itu akhirnya kena jebakan. Rok seragam nya bahkan sampai robek parah, Pak." Ucap Bu Intan tak habis pikir dengan ulah nakal anak didiknya.


"Itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, Bu. Mereka harus tahu kalau apa yang mereka lakukan itu adalah hal yang salah."


"Tentu saja, Pak. Saya sudah memperingati mereka. Jika mereka mengulangi hal yang sama, saya sendiri yang akan bertindak langsung."


Sembari menghela nafasnya Pak Andri berucap, "Kenapa masih saja ada kasus pembullyan seperti ini di sekolah kita. Apa yang membuat mereka melakukan nya?"


"Saya juga tidak tahu, Pak. Jadi apa boleh saya meminjam jaket milik Bapak?" Tanyanya kembali.


"Tentu saja, bo--"


"Biar Hoodie milik saya saja, Bu." Ucap Kai menyela setelah sebelumnya memperhatikan.


"Tidak apa-apa?"


"Saya kan yang menawarinya. Jadi tentu saja tidak masalah."


"Baiklah, Ibu akan pinjam milik kamu. Hoodie kamu ada di dalam kelas ya." Kai menganggukkan kepala dengan ekspresi dinginnya.


"Kita ke sana." Ucap nya kemudian menatap Pak Andri, "ijin membawa Kaisar, Pak. Terima kasih sebelumnya."


"Silahkan, Bu. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi." Bu Intan membalasnya dengan tersenyum tipis pada Pak Andri sembari sedikit menundukkan wajahnya. Menghindar dari bersitatap intens dengan Pak Andri karena takut terjadi fitnah. Mengingat mereka masih tergolong guru muda dan sama-sama masih lajang.

__ADS_1


__ADS_2