
Nyatanya Tania tengah asyik menahan Xavera di dalam kelas. Ia sengaja melakukan aksinya sampai seluruh teman sekelasnya sudah keluar kelas termasuk Baby yang dimintanya untuk tidak ikut campur.
"Maaf. Aku harus cepat pulang." Ucap Xavera sembari menundukkan wajahnya. Berpaling dari bersitatap dengan Tania yang terus saja menahan langkahnya.
"Maaf. Tapi aku sedang ingin bermain-main denganmu." Ucapnya tanpa melepaskan tatapan dari melihat ekspresi wajah Xavera.
Xavera yang tidak tahan memberanikan diri menatap Tania. "Aku mohon jangan menghalangi langkahku. Aku benar-benar ingin cepat pulang."
"Kalau aku tidak ingin itu. Kamu mau apa?" Ucap Tania sengaja ingin menyulut emosi Xavera dan membuat nya harus mati-matian menahan.
"Baiklah. Aku akan meladenimu. Sampai kamu puas, sampai kamu muak dan sampai kamu menyadari bahwa apa yang selalu kamu lakukan seperti sekarang ini tidak ada gunanya." Ucap Xavera memberanikan diri menatap lekat Tania yang semakin geram dibuatnya.
"Oh ya? Apa benar apa yang ku lakukan ini tidak ada gunanya?" Tania melangkah lebih dekat. Sorot mata tajamnya tak lepas dari menatap Xavera.
Xavera yang tahu tidak ada yang melihatnya saat ini bisa bergerak bebas untuk melawan kata-kata Tania.
"Kamu hanya akan melukai dirimu sendiri." Ucap Xavera.
Tania tertawa mendengarnya, "Bagaimana bisa dikatakan begitu jika selama ini yang aku lihat justru kamu menangisinya. Kamu menderita karenanya, dan itulah kesukaanku Xavera." Ucapnya sembari menyeringai tipis.
"Aku memang menangis. Tapi bukan untuk menangisi perlakuan mu." Mendengar hal itu Tania langsung mencengkeram kuat rahang Xavera.
"Berani-beraninya kamu menatapku dan melawan kata-kata ku. Apa kamu lupa dengan perjanjian kita, hah?!" Ucap Tania memelototi Xavera dengan cengkraman kuatnya.
Xavera yang kini tersadar dengan kesalahan nya karena melawan Tania hanya bisa pasrah tanpa perlawanan. Ia begitu takut jika masalah ini akan mempengaruhi kesehatan Ibunya.
"A-aku.. Aku Min-min.. ta, maaf." Ucapnya terbata karena Tania semakin kuat mencengkram rahangnya.
__ADS_1
"Aarrrggghhh.." Tania menghempaskan cengkraman nya dengan kasar hingga membuat Xavera terdorong ke belakang.
"Ya!!" Suara teriakan dari seseorang yang langsung masuk ke dalam kelas cukup membuat Tania dan juga Xavera terperangah.
"Kak Kaisar." Ucap Tania yang mengenal Kaisar. Walaupun hanya mengenalnya sekilas tapi ia tahu betul bahwa Kakak kelasnya itu jarang terlihat berbaur dengan siapapun. Dan sekarang, dia ada di kelasnya. Sungguh mengejutkan.
Kaisar mendekat ke arah Tania yang berdiri dan Xavera yang duduk tersungkur.
"Maaf, Kak. Ada apa?" Ucap Tania dengan perasaan cemas.
"Ada apa? Ck. Pertanyaan konyol!" Ucap Kai menatap tajam Tania. Xavera sontak berdiri dan merapihkan seragamnya yang kusut.
"Kita hanya sedang bermain. Dan kamu tiba-tiba saja muncul, jelas Tania menanyakan nya." Ucap Xavera setelah melihat raut cemas di wajah Tania.
"Dan perkataan mu itu jauh lebih konyol dan bodoh." Ucap Kaisar menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Aku tidak ingin apapun. Aku hanya salah menempatkan diri. Seharusnya aku tidak ada di sini dan berhadapan dengan kalian." Ucapnya berlalu pergi meninggalkan. Kesal dengan reaksi Xavera yang menurutnya terlalu naif. Bagaimana bisa ia yang sudah melihat perlakuan kasar Tania masih saja mendapat pembelaan dari Xavera.
"Aku membencimu. Aku sangat membencimu Xavera. Kenapa kamu tidak mati saja!" Ucap Tania meninggalkan Xavera yang terpaku, berdiri di tempatnya saat ini.
"Aku minta maaf Tania. Apa kita tidak bisa bersahabat lagi seperti dulu. Apa kamu benar-benar begitu membenciku setelah kejadian itu." Batin Xavera merasai perasaannya yang hancur. Ia begitu merindukan kebersamaannya dulu dimana dirinya sangat akrab dengan Tania.
• • •
Xavera menjadi siswa terakhir yang melewati gerbang sekolah untuk pulang. Dengan langkah gontai iya berjalan menuju jalan raya untuk menunggu kendaraan umum.
Disaat Xavera berjalan dengan wajah yang sedikit menunduk, sebuah sepeda motor tiba-tiba saja berhenti di sampingnya yang sontak menghentikan langkah Xavera.
__ADS_1
Perlahan Xavera mengangkat wajahnya untuk melihat siapa itu. Dan betapa terkejutnya ia karena lagi-lagi Kakak kelasnya itu yang datang menghampiri nya. Kakak kelas yang akhir-akhir ini selalu di lihatnya di ruang perpustakaan.
"Jalanmu sangat lambat, kapan sampai ke rumah."
Xavera memilih diam dan kembali melangkahkan kakinya daripada meladeni ejekan Kaisar. Kaisar pun dengan sigap mengikuti langkah Xavera.
"Ada apa? Kenapa kamu terus mengikuti ku. Bukankah aku sudah tidak lagi menempati tempat dudukmu di ruang perpustakaan."
Kaisar sebenarnya bingung dengan perkataan Xavera yang malah membahas tentang masalah tempat duduk di ruang perpustakaan. Walaupun ya itu juga awal dari pertemuan mereka.
"Aku sudah menunggumu sedari tadi. Dimana rumahmu biar aku antar."
Xavera membulatkan matanya tidak percaya, "Dalam rangka apa Kakak ingin mengantarku?"
"Kasihan." Jawabnya dengan ekspresi datar.
"Apa?" Xavera semakin terkejut dibuatnya. Sangat-sangat natural dan apa adanya. Menyedihkan.
"Ayo. Aku tidak punya banyak waktu."
Dengan tersenyum dipaksakan Xavera menjawab, "Silahkan Kakak pulang dengan cepat dan selamat. Aku biasa menaiki kendaraan umum."
"Ck. Naik tidak?" Xavera menautkan kedua alisnya bingung menatap Kaisar yang seolah memaksanya dengan tatapan dinginnya itu.
"Naik sekarang juga. Aku tidak ingin waktuku menunggumu sia-sia."
"Apa? Aku kan tidak memin--" Tiba-tiba saja Xavera tanpa banyak berkata lagi menaiki motor Kaisar dan memintanya untuk langsung melajukan.
__ADS_1
"Semoga saja dengan ini dia mengerti. Aku tidak ingin ada lagi kisah yang terkenang dan tertinggal." Gumam Xavera dalam hati nya setelah melihat seseorang di tempatnya berbincang tadi dengan Kaisar sebelum akhirnya pulang bersama.