Cinta Bersemi Di Perpustakaan

Cinta Bersemi Di Perpustakaan
Episode 7 Yang Sebenarnya Terjadi


__ADS_3

Bel masuk berbunyi dengan Matematika sebagai jam pelajaran pertama. Xavera yang hendak mengambil buku tulis di dalam tasnya begitu terkejut saat merasakan sesuatu yang aneh. Seolah ada perekat di tempat duduknya hingga membuat rok seragam yang dikenakan nya menempel erat dengan kursi yang tengah diduduki nya.


Deg, Xavera pun menatap wajah-wajah temannya.


Dan benar saja. Mereka lah pelakunya. Terlihat dari raut wajah penuh kesenangan yang terpancar dari mereka yang begitu bahagia melihat ekspresi cemas Xavera. Apalagi Baby yang langsung memutar bola matanya malas menatap Xavera. Seolah mengatakan kalau kata-kata yang dilemparkan nya tadi pada Xavera adalah sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi.


"Aku harus bagaimana. Rok yang aku pakai ini pasti bolong. Aku tidak mungkin berdiri dan berjalan mengenakan nya." Batin Xavera teramat bingung dengan apa yang terjadi. Membenci dirinya sendiri yang tidak bisa mengantisipasi hal ini. "Ibu.. Bolehkah aku menyerah. Aku tidak tahan dengan semua ini." Ucapnya lagi masih bergumam dalam hati. Lirih menyembunyikan tangisan.


"Apa salahku pada kalian semua. Aku tidak pernah menganggu kalian, tapi kenapa? Kenapa kalian begitu tega melakukan nya padaku." Xavera berusaha menahan air matanya. Ia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan di depan teman-temannya yang tidak punya hati.


Untung saja selama jam pelajaran Matematika berlangsung tidak ada kegiatan dirinya harus beranjak dari tempat duduk. Tapi sampai kapan dirinya diam dalam kebingungan. Meminta bantuan pun pada siapa. Siapa yang perduli disaat semua justru ikut bersekongkol menjahilinya.


Xavera begitu frustasi. Ia bingung hingga rasanya ingin mati saja. Jika saja dirinya mengenakan jaket hari ini, pasti akan langsung dikenakan nya dan memilih untuk pergi meluapkan seluruh kekesalan dengan air mata. Bukan menahan nya habis-habisan seperti sekarang ini seolah hidup tanpa hati yang bisa merasakan luka.


Xavera masih berusaha tenang dan bertahan di pelajaran kedua. Hingga pada akhirnya bom waktu pun datang menampar kenyataan. Ia harus maju untuk menyerahkan pekerjaan rumah pada Bu Intan, Guru bahasa Indonesia.

__ADS_1


"Xavera. Mana hasil tugasmu. Apa kamu tidak mengerjakan nya?" Tanya Bu Intan. Seluruh teman-teman sekelas Xavera berusaha menahan tawa mereka.


"Saya mengerjakan nya, Bu."


"Terus. Mengapa kamu tidak memberikan nya pada Ibu?"


"Saya.. Eumm.. Sa--"


"Xaxa bisul kali, Bu." Sela Hana dengan sedikit tawanya.


"Sangat sopan sekali bukan, Bu. Ingin diperlakukan seperti layaknya Tuan Putri. Tapi sayang, tak tahu diri." Kelakarnya lagi membuat semua teman-teman nya tertawa lepas melihat penderitaan Xavera.


"Sudah cukup. Jangan berkata seperti itu pada teman kalian." Pinta Ibu Intan agar murid-murid nya diam dan tertib.


"Dia bukan teman kita." Baby.

__ADS_1


"Iya, Bu. Dia teman Ibu kali." Ucap Fina semakin mengeraskan tawanya.


Bu Intan menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kelakuan dari para murid-murid nya yang tidak memperlakukan teman satu kelasnya dengan baik.


"Xavera. Tolong kumpulkan tugasmu jika memang sudah dikerjakan." Ucap Bu Intan. Xavera lagi-lagi terdiam tanpa ingin memberitahukan keadaan nya pada Bu Intan.


"Xavera. Kamu mendengar Ibu berbicara, kan? Ayo kumpulkan."


"Maaf, Bu. Saya tidak mengerjakan nya."


"Loh. Tadi kamu yang katakan sudah mengerjakan nya, kenapa sekarang bilang tidak?"


Baby yang begitu gemas dengan tingkah Xavera yang tidak ingin beranjak dari tempat duduknya sontak melangkah mendekati Xavera lalu menarik nya untuk terpaksa berdiri hingga terdengar suara robekan yang cukup keras.


Suara tawa pun menggema di setiap sudut ruang keras. Itulah yang sedari tadi ditunggu-tunggu oleh semua siswa di dalam kelas tersebut. Melihat bagaimana Xavera merasa malu.

__ADS_1


Ibu Intan yang tak mengerti dengan apa yang terjadi langsung beranjak dari tempat duduknya untuk kemudian menghampiri Xavera dan melihat apa yang terjadi. Namun saat suara robekan itu terjadi, Xavera langsung mendorong kasar Baby yang hampir saja terjatuh untuk dirinya bisa kembali duduk dan menutupi rok seragam nya yang dipastikan berlubang besar karena caranya yang dipaksakan.


__ADS_2