
Akhirnya Kai dan juga Xavera kini tengah berada dalam perjalanan. Namun di sepanjang perjalanan keduanya tidak saling berbicara sampai akhirnya Kai menepikan motornya di pinggir jalan tepat di hadapan sebuah warung makan ikan bakar kaki lima.
Xavera yang tidak mengerti mengapa ia menepi menatap heran, "Kenapa kita turun di sini, Kak?"
"Kemarin manggilnya kamu sekarang Kakak. Kenapa berubah?" Ucap Kai dengan ekspresi datarnya.
"Memang seharusnya Kakak, kan? Maaf karena aku pikir Kakak itu seangkatan sama aku."
"Saat kemarin kamu bertengkar sama teman sekelas mu itu, temanmu memanggilku Kakak. Masa begitu saja tidak mengerti. Masih memanggilku dengan sebutan kamu."
"Iya aku minta maaf. Aku salah. Maaf ya, Kak." Ucap Xavera dengan tulus padahal yang sebenarnya Kai hanya ingin menggodanya. Namun ekspresi nya yang datar jelas membuat Xavera tak enak hati dan merasa bersalah karena bersikap tidak sopan.
"Maaf mu tidak diterima."
Xavera menghela nafasnya pasrah. Hari ini energi nya untuk bersabar benar-benar terkuras habis. Tak ada sisa tenaga untuk hanya sekedar melayani perkataan Kai yang tak suka dengan sikapnya.
"Sekali lagi aku hanya bisa bilang maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Tapi Kakak belum menjawab pertanyaanku Kenapa kita berhenti di sini. Kemarin kan Kakak sudah ke rumahku. Apa Kakak lupa jalannya?"
Dengan ekspresi datarnya Kai menjawab, "Aku tidak lupa. Aku hanya lapar. Jadi kita makan dulu di sini. Setelah itu baru lanjut ke rumah kamu."
__ADS_1
"Aku tidak lapar. Kalau Kakak ingin makan disini silahkan saja. Aku bisa naik ojek online." Saat Xavera mulai melangkahkan kakinya untuk pergi, Kai sigap menahan.
"Aku yang akan mengantarmu pulang. Apa kamu tidak ingin mentraktirku yang sudah membantumu?"
"Jadi Kakak tidak ikhlas melakukan nya. Aku pikir Kakak berbeda sama mereka. Tapi nyatanya Kakak--" Kai berhasil membuat Xavera langsung terdiam dengan tangannya yang tiba-tiba saja merangkul pundak Xavera dan membawa tubuh mungil itu masuk ke dalam warung makan tersebut yang menyediakan berbagai jenis ikan bakar.
"Kamu mau pesan apa?" Bisik Kai ditelinga Xavera.
"Kak..." Xavera menatap jengah dengan ulah Kaisar yang memaksa nya.
"Di sini makanan nya enak-enak. Kamu pasti bakalan ketagihan dan datang ke sini lagi." Xavera terdiam sembari melirik orang-orang yang tengah makan. Niat hati ingin menenangkan diri di dalam kamar, malah ditempatkan di ruang terbuka dengan banyaknya orang. Xavera benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kaisar. Tidak lihat kah Kai bahwa rok nya sedang dalam masalah.
Kai dan juga Xavera sudah memilih tempat duduk. Keduanya pun duduk dengan saling berhadapan.
"Aku sukanya ikan nila bakar pakai bumbu pedas manis." Ucap Xavera cepat karena ingin segera menyelesaikan nya lalu pulang.
"Oke. Sama. Aku juga suka." Ucap Kai sembari mengangguk-angguk.
"Jangan bohong."
__ADS_1
"Siapa yang bohong?" Tanya Kai menautkan kedua alisnya.
"Kakak lah, siapa lagi."
"Bohong apa?"
"Ck. Itu tadi pesan makanan. Harus sesuai dengan keinginan hati."
"Keinginan hati siapa?" Tanyanya lagi dengan ekspresi datar. Pura-pura tidak mengerti dengan arah pembicaraan Xavera.
"Tentu keinginan hati Kakak. Disini aku lagi bahas Kakak tidak ada yang lainnya. Kenapa malah dibuat pusing sih." Ucap Xavera berusaha mengontrol emosi nya. Entah mengapa sejauh Xavera mengenal dan dekat dengan laki-laki baru kali ini bawaannya naik darah. Padahal biasanya memilih diam dan mengabaikan.
"Oh, aku. Kenapa memangnya? Aku tidak boleh pesan nila?"
"Apa sih. Bukan begitu, maksud aku... Ah sudahlah, tidak penting untuk dibahas."
"Aku memang suka nila. Setiap kali ke sini pasti pesannya itu. Bukan karena alasan apapun, apalagi karena kamu." Ucapnya tanpa melepas tatapan dari Xavera.
"Aku juga tidak mengatakannya begitu. Jangan berpikir terlalu berlebihan."
__ADS_1
"Siapa yang sebenarnya berlebihan. Aku atau kamu?" Kai sekilas mengalihkan diri untuk menyembunyikan senyuman tipisnya dan cepat merubahnya kembali ke mode awal dimana dirinya begitu setia dengan wajah tanpa ekspresi.
"Iya terserah Kakak." Mendengar jawaban penuh helaan nafas itu cukup membuat Kai senang. Rasanya ia ingin terus menjahili Xavera agar perasaan nya merasa bahagia. Ia pun beranjak dari tempat duduk untuk memesan makanan.