
Disaat Bu Intan dan juga Kaisar masuk ke dalam kelas Xavera, mereka melihat Xavera tengah dikerumuni dan dipaksa beranjak dari tempat duduknya. Kaisar yang melihat kejadian itu pun langsung melangkah cepat menghampiri nya dan dengan sigap mendorong beberapa siswa laki-laki di kelas tersebut dengan kasar.
"Kurang ajar!" Kai menonjok salah satu dari siswa laki-laki tersebut hingga terjungkal hebat ke belakang, membentur beberapa meja dan juga kursi. Suara jeritan pun memenuhi seisi ruangan dengan Bu Intan yang berusaha menenangkan Kaisar meski sebenarnya ia pun merasa emosi.
Semua mata kini memandang ke arah Kaisar yang merupakan Kakak kelas mereka. Mereka dibuat terkejut dan tidak menyangka bahwa seorang Kaisar yang terkenal dingin, pendiam dan jarang berinteraksi dengan siapapun mendadak ikut campur. Xavera yang melihat hal itu pun sama-sama tidak menyangka. Ia pikir Kai adalah seseorang yang acuh dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Apa kalian semua sudah gila? Sudah kehilangan akal sehat sampai melakukan hal serendah ini sama-sama." Ucap Kai dengan suara keras yang menggema. Sorot mata tajamnya saat ini pun seolah menyala-nyala.
Bu Intan yang melihatnya pun tak bisa berkata-kata. Ia yang sudah memberikan ancaman tadi pun sengaja dihiraukan.
"Maaf, Kak. Ini urusan kelas sepuluh, Kakak dilarang ikut campur." Ucap Baby.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Saya dilarang ikut campur?" Ucap Kai menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Iya, Kak. Kakak tidak tahu permasalahan nya tapi tiba-tiba menyerang salah satu dari teman kita. Apa itu pantas?"
Kai yang mulai geram sekalipun harus berhadapan dengan perempuan ia rasa tidak masalah jika sikapnya begini.
"Berbicara soal pantas dan tidak pantas, apa kamu tidak tahu malu mengatakannya?" Kai semakin menatap lekat Baby. Membenci perempuan di hadapannya saat ini.
"Kalau saja kamu bukan perempuan. Sudah pasti aku hajar habis-habisan!" Ucap Kai hingga membuat Baby bergidik ngeri. Ia benar-benar takut melihat tatapan dingin Kaisar yang seolah siap menerkam nya habis.
Tak lagi berucap, Kai langsung menghampiri Xavera lalu memberikan Hoodie abu-abu miliknya yang tengah berada dalam genggaman pada Xavera. Xavera yang melihat hal itu hanya terdiam. Merasa tidak pantas mendapat pertolongan dari Kaisar yang kemarin tidak ia perlakukan dengan santai.
__ADS_1
Sementara siswa laki-laki yang tadi dihajar oleh Kaisar tengah menyeka sudut bibirnya yang luka hingga mengeluarkan darah.
"Sial! Pukulannya melukai bibirku." Gumam laki-laki itu pelan sembari menatap kesal ke arah Kaisar.
"Pakai sekarang untuk menutupi nya." Xavera kembali menatap Kaisar. Tangannya belum bergerak untuk meraih Hoodie itu.
"Kenapa diam saja. Ayo pakai, aku antar pulang sekarang." Kali ini Xavera sedikit melebarkan tatapan nya setelah mendengar perkataan Kaisar. Beralih menatap Bu Intan seolah meminta jawaban apa memang ia boleh pulang.
"Ibu ijinkan kamu pulang jika memang kamu menginginkannya. Nanti Ibu yang akan menjelaskan semuanya pada wali kelas kamu." Ucap Bu Intan.
Kai mendekatkan wajahnya pada Xavera untuk kemudian berkata, "Aku rasa kamu harus pulang dan menenangkan diri. Untuk kedepannya tenang saja. Aku akan melindungi mu dari mereka." Ucap Kai dengan nada suaranya yang pelan dan lembut. Cukup menyentuh perasaan Xavera yang kini mulai merasa tenang.
__ADS_1